
Aurora disekap di suatu gudang yang sangat pengap tanpa udara. Bahkan Aurora mungkin akan berpikir seribu kali untuk melarikan diri dari tepat ini karena memang tidak ada celah bagi dirinya untuk kabur.
Semua akses ditutup. Ia mendengar Isabella akan menjadikan dirinya ancaman bagi Agustus. Ia tahu pangeran Agustus sangat menyukai dengan Aurora, dan maka dari itu ia menggunakan Aurora sebagai kelemahan Agustus.
"Aku tidak mungkin membiarkan Engrasia hancur karena diri ku."
Aurora pun mencari akal untuk kabur. Biasanya otaknya bekerja dengan lancar tapi kenapa hari ini otaknya buntu.
"Ayo Aurora pikirkan cara kaburnya gimana. Gak mungkin kamu di sini terus."
Hingga tiba-tiba pintu ruangan itu didobrak dan Aurora sangat terkejut saat tahu sang pelaku adalah Fares. Ia pun mendekati Fares dan memeluk pria itu.
"Fares."
Fares terdiam dengan wajah sembab. Ia telah kehilangan Mareta dan Ki ini Fares tidak ingin membiarkan Aurora juga sama bernasib seperti Mareta.
"Aku datang ke sini untuk menyelamatkan mu."
"Aku tahu kau akan datang. Tapi...." Wajah Aurora pun berubah sendu. Mengingat kembali bagaimana Mareta meninggal karena dirinya.
"Aku tahu kejadian itu. Aku juga bersedih. Mungkin sudah saatnya Mareta tak lagi mengalami penderitaan."
Aurora menatap wajah Fares dengan sedih. Ternyata Fares juga sudah mengetahui hal itu. Aurora teringat dengan gelang yang diberikan oleh Mareta untuk Fares.
Ia pun mengeluarkan gelang tersebut dan menyerahkan kepada Fares. Namun belum sempat ia memberikan gelang tersebut Fares menarik tangannya.
"Kita harus pergi dari sini secepatnya. Mereka ada di sini dan banyak. Mungkin kita akan kalah jumlah."
Aurora pun tak kalah panik dan ia melupakan niatnya menyerahkan gelang yang diamanahkan oleh Mareta. Mereka pun kabur bersamaan sebelum keberadaan ia dan Fares diketahui.
Aurora berhasil keluar dari ruang penyekapan tersebut. Ia pun naik ke atas kuda Fares dan Fares pun juga ikut naik.
Mereka menunggang kuda bersama namun karena sudah ketahuan mereka pun dikepung oleh banyak prajurit.
"Mereka ngejar kita."
Ribuan panah pun ditembakkan. Fares berusaha keras untuk melindungi Aurora. Aurora juga berusaha untuk menumpas semua panah tersebut dengan pedang Fares.
"Aurora pergilah. Aku akan berhenti di sini dan bawa kuda ku. Aku tidak ingin kau tertangkap, biar aku yang mengalihkan perhatian mereka."
__ADS_1
"Apa yang kau katakan Fares? Kau ingin cari mati? Aku tidak akan pernah membiarkan kau melakukan itu!!" marah Aurora dan tak membiarkan Fares turun dari kuda
Satu bidak panah berhasil menembus punggung Fares. Seketika Aurora menegang dan menoleh ke belakang. Tubuh wanita itu bergetar saat tahu jika Fares dalam kondisi lemah dan banyak kehabisan darah.
"Fares."
"Aurora maafkan aku tidak bisa melindungi mu."
"Tapi... Hiks, kamu tidak boleh pergi," lirih Aurora. Tubuhnya meremang saat darah Fares menetes ke tubuhnya. "Mareta menyerahkan ini kepadamu. Katanya dia mencintaimu."
Fares sangat terkejut dan mengambil gelang itu. Ia memperhatikan gelang tersebut yang pernah dikatakan Mareta akan menyerahkan kepada orang yang dicintainya.
Fares juga ingin menyampaikan perasannya kepada Aurora sebelum ia tiada.
"Aurora. Aku.... Akh!!" teriak Fares saat puluhan panah menembus dirinya. Aurora terdiam dan air matanya keluar.
Ia mengambil pedang Fares dan turun dari kudanya. Ia pun melawan semua pasukan itu dengan trik kecilnya hingga mereka terkecoh. Setelah itu barulah ia membawa kuda Fares sembari membawa mayat laki-laki itu.
Hari ini adalah hari yang paling menyakitkan bagi Aurora. Wanita itu bahkan menangis tanpa suara.
"Aku berjanji akan hidup dengan baik. Kalian berdua bahkan merelakan nyawa demi aku. Aku merasa berhutang dengan kalian."
Peperangan kemarin yang paling banyak memakan korban dan membunuh perwira tinggi akhirnya berhenti dengan dimenangkan oleh kerajaan Engrasia.
Banyak hal yang telah terjadi setelah itu. Rakyat meminta agar raja turun tahta dan perdana menteri dicopot. Sementara Isabella dipenggal dan digantung kepalanya di jalan-jalan.
Bahkan ratu Sofia bunuh diri. Euthoria yang bersekutu dengan Saphira berhasil ditaklukkan dam sekarang menjadi bagian dari Engrasia.
Agustus naik tahta sebagai raja. Kini tidak ada yang bisa membantah dirinya. Sistem budak telah dihapuskan meski mendapatkan pertentangan keras dari banyak mentri dan juga rakyat.
Selain itu Aurora dijadikan wanita favorit raja. Ia bahkan dilamar oleh raja dan Oceanus serta Sargon yang tak terima pun protes.
Setelah banyak melakukan sidang mereka pun memutuskan untuk menikahi Aurora. Aurora tak pernah berpikir bahwa ia akan memiliki tiga suami. Tapi itu nyatanya jika Aurora saat ini bahkan memiliki suami tiga dan ketiganya orang penting di Engrasia.
Aurora tak bisa bersikap adil karena semuanya begitu posesif dan juga saling rebut dirinya.
"Raja," lirih Aurora dan hendak beranjak dari pangkuan Agustus.
"Hm, ada apa ratu ku?"
__ADS_1
Aurora paling benci jika Agustus seperti itu. "Pangeran kau sudah besar. Apa kau tidak malu?"
"Malu? Tidak."
Tiba-tiba datang Sargon yang sebagai jendral melapor bahwa raja dari Maganda Kingdom akan berkunjung. Namun wajahnya masam saat melihat sikap Agustus kepada Aurora.
Aurora pun turun dari pangkuan Agustus dan menghampiri Sargon. Ia memeluk Sargon pasalnya Sargon pergi berperang dan baru saja pulang.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Aurora khawatir dan memperhatikan seluruh tubuh Sargon yang tampak baik-baik saja.
Sargon tersenyum dan mengusap kepala Aurora. Selama ini hanya wanita itu yang ia rindukan di medan perang. Sargon mencium kening Aurora.
Namun Agustus langsung menarik tangan Aurora dan memeluknya.
"Cukup," perintahnya dengan wajah muram.
"Agustus," tegur Aurora.
"Hm." Agustus menatap nyalang Sargon. "Ada apa?"
"Raja Maganda Kingdom, akan datang berkunj..."
Belum sempat Sargon menyelesaikan ucapannya tiba-tiba ruangan terbuka dan masuklah Oceanus dan langsung merebut Aurora dari Agustus. Aurora memerhatikan suaminya itu dengan baik.
Ternyata Oceanus lah yang datang berkunjung sebagai raja dari Maganda Kingdom, sebuah wilayah dari Engrasia dan dijadikan kerajaan untuk Oceanus menjabat.
"Kau makin cantik."
"Kau juga tampan."
"Lebay," ucap Sargon dan Agustus bersamaan.
Bagi Aurora memiliki suami tiga itu adalah bencana. Apalagi dengan sikap mereka yang benar-benar posesif dan tidak ada yang mau mengalah. Aurora hanya bisa mendesah kecil dan menerima nasibnya sebagai istri dari ketiga pangeran.
___________
End
Entar bakal ada bonus Chapter ya teman-teman yang akan menceritakan bagaimana dengan Aurora di zaman modern, meskipun gak tau kapan aku rilis, entar deh kalau gak sibuk. Makasih semua udah ngikutin aku.
__ADS_1