Dicintai 3 Pangeran

Dicintai 3 Pangeran
Part 31


__ADS_3

Daniel, bawahan Agustus membawa sebuah barang bukti yang dikumpulkan olehnya atas perintah laki-laki tersebut. Agustus mengambil lembaran kertas tersebut dan membacanya dengan teliti.


Tangan Agustus mengepal. Benar dugaannya bahwa pembunuh putri Grace adalah orang dalam. Tapi entah siapa yang sudah melakukan ini, apakah mungkin putri Isabella?


Mungkin saja benar dugaan Agustus. Secara ia sudah memiliki banyak bukti kejahatan Putri Isabella terhadap Putri Grace. Hanya saja ia belum punya waktu untuk membawa semua bukti itu ke pengadilan. Ditambah Isabella bukan orang yang dapat diremehkan, ia memiliki segala rencana licik yang ada di otaknya.


Ayah dari Putri Grace adalah seorang perdana menteri di kerajaan ini. Memang Ia adalah putra mahkota dan tentunya Isabella mereka juga banyak mendapatkan dukungan dari para pihak menteri. Selain itu Agustus juga yakin bahwa ayahnya pasti akan membela Isabella.


Apalagi ibunya wanita itu adalah salah satu orang yang menanti-nantikan momen ini. Mungkin saja di salah satu antara mereka ada yang telah membunuh Putri Grace.


Agustus harus menyusun rencana ulang. Jika memang benar mereka yang melakukan ini semua Agustus harus melawan kerajaan. Ia tak peduli bagaimana statusnya ke depannya.


Agustus melempar semua barang bukti itu ke atas meja. Ia mencengkram tangannya dengan kuat. Laki-laki itu sudah berjanji kepada Grace akan membalaskan dendam wanita itu.


"Apakah raja kira-kira membela putri Garce nanti?!" tanya Agustus kepada bawahannya tersebut.


Pria itu sejenak berpikir. Pangeran Agustus juga merupakan putra kesayangan raja. Pasti akan mempertimbangkan ucapan Pangeran Agustus.


"Saya yakin pangeran pasti mendapatkan keadilan. Anda seorang putra mahkota Anda berhak dengan kerajaan di sini," ucap Daniel kepada laki-laki itu.


"Aku harap juga begitu, tetapi selama ini ayah tidak pernah peduli kepadaku. Mungkin ia akan lebih memilih permaisuri," ucap pangeran Agustus seraya menatap kosong ke depan.


"Pangeran kau tidak boleh berputus asa."


"Aku tidak sedang berputus asa," ucap pangeran Agustus lalu menarik napas panjang.


Agustus tidak senang dinilai seperti itu. Ia menatap bawahannya tersebut dengan tajam. Daniel seakan-akan tengah merendahkan dirinya.


"Maafkan saya Pangeran, saya pantas mendapatkan hukuman Anda karena sudah lancang kepada Anda," ujar bawahan Agustus yang baru menyadari ucapannya menyinggung perasaan putra mahkota.


Agustus menghela napas panjang. Ia menggigit jarinya sambil berpikir panjang. Namun saking sibuknya dengan pikirannya tiba-tiba sosok riang Aurora yang tengah tertawa bahagia melintas di kepalanya.


Agustus mendesis panjang. Kenapa wanita itu lagi yang melintas di kepalanya. Agustus tidak mengetahui akhir-akhir ini hal ini sering terjadi padanya.


"Aurora, Aurora," gumam Agustus. Pria itu memejamkan mata dan mengusap wajahnya. Kenapa ia ingin cepat-cepat pulang ke istana dan bertemu dengan wanita itu.


Agustus pun keluar dari ruangan pribadinya dan berjalan menuju ke istananya. Ia tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk bertemu dengan budak kesayangannya.

__ADS_1


Di tengah jalan Agustus bertemu dengan Sargon. Mata mereka saling bertatapan membuat Agustus geram dengan pria ini. Ia masih menyimpan dendam kepada Sargon.


"Kau masih sama tidak mau mengalah."


"Kenapa aku harus mengalah kepada mu?" tanya Sargon.


Pangeran Agustus tersenyum miring. Ia tahu hendak ke mana pangeran Sargon sekarang. Pasti pria ini hendak ke istananya dan menemui Aurora.


"Kau tahu sendiri jika Aurora adalah budakku," ucap Agustus penuh dengan percaya diri. Seolah-olah Aurora hanya miliknya dan tak boleh ada pria lain yang juga memiliki Aurora.


"Kau hanya beruntung saja, bukankah kesepakatan di awal jika Aurora akan menjadi budak kita bersama?"


"Tapi sayangnya aku tidak pernah setuju. Aku yang menentukan semuanya." Agustus memasang wajah angkuhnya kepada pangeran Sargon.


Sargon berdesis sambil mengepalkan tangannya di bawah. Agustus memancing amarahnya jika tidak ada banyak orang di sini maka Sargon sudah menentang Agustus untuk bertarung.


"Kau dasar Pangeran sialan," ucap pangeran Sargon.


"Sadar diri lebih baik."


Agustus berlalu begitu saja. Sementara Sargon hanya terdiam sambil menahan amarah di sana.


Sesampainya di dalam istana miliknya, Agustus langsung disambut oleh pemandangan Aurora yang tengah membersihkan tempat tidurnya.


Senyum di wajah Agustus terbit melihat wanita itu. Ia mendekati Aurora dan mengambil tangan Aurora.


Ia memperhatikan tangan milik wanita itu yang cukup kasar karena sering melakukan tugas berat. Sedangkan Aurora masih terkejut dengan kehadapan pria itu yang tiba-tiba.


"Pangeran, apa yang kau lakukan?" tanya Aurora terkejut dan langsung menarik tangannya.


Pangeran Agustus menatap tajam Aurora. Ia tak suka wanita itu membantah dan menarik tangannya seperti itu. Sontak saja Agustus meraih tangan wanita itu lagi.


"Siapa yang mengizinkan kau menarik tangan ini?" tanya Agustus dengan suara datar miliknya.


Aurora mengedipkan mata beberapa kali. Wanita itu membiarkan pangeran Agustus melakukan sesuatu di tangannya.


Tatapannya terus memperhatikan pangeran Agustus. Agustus mengusap tangannya lalu menggenggamnya.

__ADS_1


"Tangan mu kasar. Kau pasti sangat lelah, berhentilah bekerja dulu."


"Tapi kan saya harus bekerja. Pangeran kau tidak marah?"


"Aku yang menyuruhmu. Jika kau melawan ucapan ku baru aku akan marah kepadamu," ucap Agustus dengan tegas.


Aurora mengangguk dan membiarkan Agustus menarik tangannya. Agustus duduk di meja kerja dan mengangkat tubuh Aurora di pangkuannya.


Aurora terkejut. Ini adalah kali pertamanya diperlakukan oleh seorang pria. Terlebih lagi pria ini adalah pangeran Agustus.


"Pangeran," cicit Aurora yang tidak menyangka.


Agustus tersenyum padanya dan meletakkan rahangnya di pundak Aurora.


"Biarkan seperti ini. Aku ingin terus seperti ini." Aurora terharu mendengar ucapan Agustus. Ia membiarkan pangeran tersebut meminjam pundaknya.


Sementara tangan pangeran Agustus melingkar di pinggang Aurora. Aurora tersentak dan dadanya berdegup kencang.


"Oh Tuhan ada apa dengan ku? Kenapa rasanya sangat gugup?" tanya Aurora kepada dirinya sendiri.


Ia sama sekali tidak mengerti ada apa dengannya. Ia berharap tidak ada sesuatu yang membuat dirinya merasakan sakit hati.


Aurora mengusap belakang pangeran Agustus. Tampaknya pangeran itu sangat kelelahan dan tertidur nyaman. Aurora meneguk ludahnya kasar. Ia memberanikan diri untuk mengusap punggung pangeran Agustus.


"Pangeran, maafkan aku." Rasa bersalah yang begitu besar di hatinya kembali membucah. Ia tersenyum tipis dan terus mengusap punggung laki-laki tersebut.


"Apakah kau akan kecewa dengan apa yang aku lakukan?" tanya Aurora dalam hati. Cepat atau lambat ia akan menyerang Engrasia dan pangeran yang bersamanya ini akan menjadi lawannya.


Aurora tersenyum tipis dan menghela napas panjang. Perasaan yang begitu aneh menyelinap diam-diam ke dalam hatinya.


Agustus mencari posisi nyaman dari Aurora. Ia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Aurora. Bersama Aurora Agustus merasa aman.


Aurora menghembuskan napas dan mengeratkan pelukannya pada pangeran Agustus. Ia menjatuhkan rahangnya di dada pria itu dan ikut tertidur bersama dengan pangeran Agustus. Pemandangan ini tentunya tidak lazim untuk hubungan seorang budak dan pangeran.


Entah kapan rasa nyaman itu menyelinap di hati kedua insan tersebut. Yang pasti mereka berdua tidak menyadari apa yang sudah terjadi pada mereka. Hanya waktu yang akan menunjukkan segalanya, tidak hanya perasaan nyaman tetapi akan ada perasaan lebih. Namun sayangnya mereka tertutupi oleh ambisi besar.


___________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2