Dicintai 3 Pangeran

Dicintai 3 Pangeran
Part 22


__ADS_3

Aurora akhirnya bisa bernapas laga setelah keluar dari dalam persidangan. Ia pikir dirinya akan mati konyol di dalam novel ini nyatanya ia masih diberikan umur panjang dan Pangeran tersebut diberikan hidayah untuk menyelamatkannya dari maut. Meski ia masih bertanya-tanya gerangan apa yang telah mendorong pangeran tersebut membantunya. Namun di balik itu Aurora sangat bersyukur.


"Kali ini aku berterimakasih sekali dengan pangeran itu." Ketiga pangeran yang terkenal di Engrasia kompak membelanya. Mungkin banyak orang yang akan iri padanya telah berhasil membuat para pangeran tersebut menentang raja hanya karena budak rendahan sepertinya.


Aurora menarik napas panjang dan kemudian berjalan santai ke istana Pangeran Agustus. Ia bersyukur pria itu mendapatkan karma dari perbuatannya. Padahal sebelumnya pangeran itu telah membelanya di persidangan hingga ia pun lepas dari hukuman mati.


Aurora ingin tertawa gelak melihat wajah Pangeran Agustus yang penuh dengan penolakan saat raja menjatuhinya hukuman dikurung di dalam istana.


"Biar dia juga merasakan apa yang aku rasakan selama ini," ujar Aurora sambil tertawa terbahak-bahak.


Wanita itu seolah tanpa beban mengatakannya. Mungkin dirinya tadi masih bisa berbaik hati namun mendengar sang pangeran mendapatkan hukuman entah kenapa ia berbahagia atas itu, mungkin sifat kejam yang mendarah daging dalam dirinya sudah kambuh kembali.


Wanita itu menggelengkan kepala lalu menarik napas panjang sembari memperhatikan desain istana yang cukup megah dengan taburan berlian murni.


Aurora tidak pernah bisa berhenti mengagumi keindahan dari istana tersebut. Jarang-jarang Aurora bisa memasuki istana dan ini kesempatan emas baginya untuk menikmati tempat mewah penuh dengan orang-orang kalangan atas. Biarkan dirinya mengeksplor semua yang ada di tempat ini.


"Sekali-kali liatin dan nikmatin, nanti saja ke tempat Pangeran." Aurora sudah lelah terus bekerja. Ia juga ingin memiliki kesempatan bersantai dan menikmati keindahan istana.


Tiba-tiba ada Isabella dengan beberapa pelayan di belakangnya menghampiri dirinya. Wajah Isabella sangat kentara dengan peran antagonisnya. Sepertinya memang cocok ia berperan sebagai wanita penjahat.


Aurora menatap Isabella dengan pandangan yang tak dapat dimengerti oleh Isabella. Sementara wanita tersebut seolah tengah mencoba mendominasi dirinya.


"Ada apa Putri?" tanya Aurora ramah kepada wanita tersebut.


Wajah muram Isabella yang tak senang mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Aurora. Nada yang diutarakan oleh Aurora seolah menunjukkan persahabatan di antara mereka. Dan hal itu pula lah yang membuat Isabella tak senang dan merendahkan dirinya.


"Kau tahu apa kesalahan mu?" Aurora mengerutkan keningnya. Ia memang memiliki banyak kesalahan di dalam novel ini, tetapi ia tak tahu apa masalah dirinya dengan Isabella.


"Maaf Putri jika saya pernah membuat salah dengan Anda."


Aurora melangkah pelan bermaksud ingin pergi dari tempat tersebut. Tapi Isabella memerintahkan pelayannya untuk menghentikan Aurora.


Aurora terkejut ketika tangannya ditarik kasar oleh pelayan Isabella. Aurora menatap protes ke arah Isabella.


"Putri apa yang kau lakukan?" Isabella menatap intens wanita yang berprofesi budak di depannya itu.


Wajahnya datar tanpa menunjukkan senyum sama sekali. Ia mendekati Aurora seakan-akan memberikan intimidasi kepada wanita itu. Kemudian, Isabella mencengkram rahang Aurora dengan kencang.


Lalu ia mengangkat rahang itu hingga wajah Aurora terangkat dan terpaksa menatap bola mata hitam Isabella.


"Dasar ***.*** kecil!!" ucap Isabella sembari menyentak rahang Aurora dan kemudian menampar wajah wanita itu.


Yang paling disesalkan oleh Isabella adalah Aurora memiliki wajah yang sangat cantik. Hal itu membuatnya sebal dan membenci Aurora. Isabella takut jika suatu hari nanti Aurora bisa merebut hati Agustus dan menjadi pesaingnya.


"Putri. Apakah kau pernah diajarkan sopan santun? Kau seorang bangsawan dan kau tidak tahu cara menghargai seseorang bahkan seorang budak. Putri tolong lepaskan saya."

__ADS_1


"Diam kau si.alan!!" maki keras Isabella lalu kemudian kembali menampar wajah Aurora. Wanita itu seketika meledak mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Aurora yang menyindir dirinya. "KAU YANG HARUSNYA BELAJAR LAGI!! AKU LUPA KAU SEORANG BUDAK DAN TIDAK PERNAH BELAJAR ETIKA," kekeh Isabella menertawakan Aurora.


Aurora menahan napasnya. Sementara perasaannya sangat gundah. Di dalam hati Aurora, wanita itu tengah mengumpati Isabella. Bahkan Aurora dapat bertaruh jika lebih terpelajar dirinya ketimbang Isabella.


"Putri saya tau jika diri saya bukanlah anak seorang bangsawan dan saya hanya seorang budak. Tetapi apakah putri tidak pernah berpikir sifat yang putri keluarkan tak mencerminkan gelar Anda."


"Dari tadi kau melawan pembicaraan ku budak!! Eksekusi dia!"


Para pelayan tersebut mengangguk mematuhi ucapan Isabella. Ia kemudian menarik tangan Aurora dan membawa wanita itu ke tempat yang lebih sepi dan jauh dari jangkauan orang.


Aurora maronta-ronta dan berusaha melepaskan tangan para pelayan tersebut yang mencengkram dirinya. Namun Aurora yang hanya memiliki tenaga sedikit tak mampu melawan mereka dan akhirnya hanya bisa meratapi dirinya yang sebentar lagi akan mendapatkan kejahatan dari Isabella.


Aurora tahu betul betapa jahatnya Isabella. Bahkan jika ia menyiksa seseorang Isabella tak mengenal kata maaf dan ampun. Dan sebentar lagi Aurora akan menjadi korban selanjutnya.


"Putri!!" ronta Aurora memohon-mohon kepada Isabella. Aurora menjatuhkan harga dirinya sendiri, ia tak memiliki jalan lain selain memohon kepada wanita itu.


Isabella menutup telinganya dan sama sekali tidak mendengarkan permohonan dari Aurora. Ia menatap datar sang pelayan yang mendorong tubuh ringkih dan kurus Aurora ke lantai.


Sementara itu para pelayan mengambil balok dan kayu. Kemudian tanpa berprasaan memukuli Aurora. Tidak hanya sampai di situ, mereka juga menyiram tubuh Aurora.


Aurora merasakan napasnya yang terputus-putus. Wanita itu menggenggam kedua tangannya erat. Ia berharap dirinya masih kuat.


"Tolong maafkan aku Putri. Putri katakan kesalahan ku setidaknya aku bisa memperbaikinya."


"Tetapi mereka adalah tuan saya."


"Kau!!" Isabella menatap pelayannya, "rusak wajahnya. Wajah sialan itu..." geram Isabella dan tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi.


Pelayannya tersebut pun mengangguk patuh kepada Isabella. Kemudian, mereka pun siap mengiris wajah Aurora. Aurora terpekik nyaring sembari menutup wajahnya.


"PUTRI!! KAU TIDAK BERHAK MELAKUKAN INI KEPADAKU!!"


"KAU SEORANG BUDAK YANG MELAKUKAN KESALAHAN DAN DAN KAU MEMANG PANTAS MENDAPATKAN INI. APALAGI KAU BAHKAN BERANI MENGGODA PANGERAN!"


Aurora menggerutu dalam hati. Ia berharap ada yang bisa menyelamatkan dirinya. dan seperti Tuhan mengijabah doa-doanya, Grace datang dengan terburu-buru.


Plakk


"APA YANG KAU LAKUKAN ISABELLA?" Isabella memandang remeh ke arah Grace.


"Jala.ng yang satu lagi sudah datang ingin menyelamatkan teman ja.langnya," ujar Isabella. "Tetapi bagus, sepertinya kau ingin mendapatkan hukuman sama seperti dia, kan? Ingat tidak ada Agustus yang bisa menyelamatkan mu."


Isyarat mata dari Isabella meminta pelayannya untuk melakukan hal yang sama dialami Aurora kepada Grace. Pelayan tersebut pun menarik tubuh Grace hingga Grace tersungkur di samping Aurora.


Aurora terhenyak melihat wanita itu yang mendapatkan perlakuan kasar dari Isabella.

__ADS_1


"Putri apa yang kau lakukan kepada Putri Grace?"


"Kalian memang kompak."


Aurora mendengar Grace terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah. Bahkan wanita itu belum dieksekusi tetapi sudah banyak mengeluarkan darah.


"Putri apa yang terjadi kepadamu?" khawatir Aurora dan menatap Grace dengan perasaan gelisah.


"Dia terkena racun ku. Setiap hari ia meminum racun kiriman ku." Aurora terkejut mendengar ucapan Isabella.


Dengan tubuh tak berdaya ia menggapai tangan Grace.


"Putri sudah berapa lama kau diracun? Dan kenapa kau tidak pernah mau mengatakannya? Atau kau tidak tahu kau diracun?"


"Aku tahu, selama ini aku tahu minuman ku terdapat racun."


"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya?" Grace menatap Isabella. Ia hanya tersenyum tipis. "Aku tidak bisa mengatakan alasannya."


"Kau dengar, bukan? Kau ingin hal yang sama terjadi kepada mu?" Aurora mengepalkan tangannya.


"Putri Isabella Anda sungguh tidak pernah belajar etika. Kau tidak pantas mendapatkan julukan bangsawan."


"Kau tidak berhak mengatakan itu budak sialan!"


Mata Aurora tidak sengaja melihat Oceanus yang melintas. Sontak saja Aurora langsung berteriak nyaring.


"PANGERAN OCEANUS!!!"


Tubuh Isabella pun menegang dan ia membalikan badannya. Lantas Aurora langsung mengambil kayu yang dipakai mereka tadi untuk memukuli dirinya. Aurora melemparkan kayu tersebut ke tengkuk Isabella.


"Putri Grace cepatlah pergi dan cari bantuan."


"Lalu kau?"


"Kau tenang saja Putri. Cepat pergi!!"


Grace pun berlari cepat sementara Isabella menggeram marah.


"KAU!!"


__________


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA

__ADS_1


__ADS_2