Dicintai 3 Pangeran

Dicintai 3 Pangeran
Part 41


__ADS_3

Merasa tidak aman membawa Aurora ke istananya, Oceanus lantas membawa Aurora keluar dari kota Madanesa dan melarikan diri dari kejaran pengawal.


Pria itu harus melakukan banyak hal untuk menghentikan dan mengecoh para pengawal itu hingga ia pun resmi ditetapkan oleh istana menjadi buronan yang paling dicari oleh istana. Oceanus juga harus berganti-ganti identitas agar dirinya bisa aman dan dapat melarikan diri.


Oceanus membawa Aurora jauh dari ibu kota. Ia menunju ke suatu desa yang terpencil agar tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka.


Oceanus yang notabennya penuh dengan bergelimangan harta harus rela mencoba kehidupan mewahnya demi kehidupan baru dan tinggal di gubuk-gubuk kumuh. Ia juga tidak dapat terus melarikan diri karena kondisi Aurora yang sangat lemah. Ia harus merawat wanita itu terlebih dahulu.


Aurora menatap ke arah Oceanus yang tengah membuatkannya obat. Oceanus begitu perhatian kepada Aurora. Ia melakukan apa saja demi kesembuhan Aurora. Aurora merasa tidak enak dan sangat bersalah kepada pria itu. Ia menutup matanya.


Selang beberapa menit Oceanus menghampirinya sambil membawa obat yang diraciknya tadi. Aurora membuka mata dan berusaha untuk bangkit.


Oceanus langsung menahan Aurora dan menyuruh wanita itu agar tetap berbaring.


"Jangan bangun dulu, kau belum terlalu sehat," ujar Oceanus dan mengusap kepala Aurora.


Aurora menghela napas dan menatap Oceanus. Ia menganggukkan kepala menurut dengan laki-laki tersebut. Aurora bisa melihat ketulusan di wajah laki-laki itu, namun sayangnya hatinya malah tak tenang dan penuh dengan rasa kegelisahan yang sangat mendalam.


"Pangeran maafkan aku. Kau begitu baik kepada ku, namun aku..." Oceanus menempelkan jari telunjuknya di bibir Aurora. Ia tersenyum tipis dan menggelengkan kepala.


Aurora selalu berucap kata demikian dan merasa bersalah kepada diri sendiri. Namun Oceanus yang sadar dan berpengetahuan luas kini ia mengerti keadaan dan posisi Aurora. Sudah sepatutnya seseorang ingin memerdekakan diri dari statusnya yang sangat tidak adil.


"Tidak usah mengatakan itu lagi. Sudah berapa kali aku katakan aku tak suka mendengarnya. Jika kau tetap ingin mengucapkan itu maka aku benar-benar akan mencium mu."


Deg


Aurora langsung terdiam dan mengatupkan bibirnya. Ia tak berani lagi mengucapakan sepatah kata pun. Ancaman yang diberikan Oceanus sangatlah mengerikan dan membuat ia benar-benar ketakutan.


Oceanus terkekeh. Melihat ketakutan di wajah Aurora. Tidak tahu kenapa ia merasa bahagia. Padahal nyatanya berbahagia di atas penderitaan orang lain adalah sesuatu yang sangat curang.


Aurora menyentuh wajahnya yang memerah setelah mendengar ucapan Oceanus. Ia ingin menyembunyikan wajahnya dari pria itu namun ia tak sempat menyembunyikannya lagi karena Oceanus sudah terlanjur melihatnya.


"Ada apa?" tanya Oceanus seraya menyentuh wajah Aurora yang memerah. Aurora makin tak bisa bergerak bebas. Ia mengepalkan tangannya dan berusaha kuat dari rasa malunya.


"Pangeran....," rutuk Aurora yang memprotes apa yang telah dilakukan laki-laki tersebut kepadanya.


"Kamu cantik kalau lagi malu," jujur Oceanus dan malah membuat Aurora semakin malu.

__ADS_1


Ia menutup wajahnya dan berbalik ke samping memunggungi Oceanus. Oceanus menghembuskan napas dan menyentuh punggung wanita itu.


"Aku sudah meracik kan obat untuk mu, minumlah terlebih dahulu."


Aurora yang sudah tahu perjuangan Oceanus untuk membuatkan dirinya obat lantas berbalik dan membuka mulutnya. Oecanus menyuapkan obat tersebut menggunakan sendok.


"Pelan-pelan."


Aurora mengangguk dan seraya meneguk cairan pahit tersebut. Ia tak ingin meminumnya lagi namun Aurora merasa tidak enak dengan Oceanus apabila ia menolak meminumnya.


"Pahit."


"Tidak apa-apa. Justru rasa pahit itu menyehatkan."


Aurora pun menurut dan tetap menghabiskan obat tersebut meski hatinya menolak dan tak sanggup untuk menegaknya.


Oecanus meletakkan wadah yang sudah kosong dihabiskan oleh Aurora ke dapur. Saat ia kembali ia melihat Aurora yang sedang membenahi pakaiannya.


Ia terkejut melihat apa yang tengah ditatapnya. Sontak Oceanus mengalihkan pandangannya dari Aurora.


"Pangeran," seru Aurora kepada panegran Oecanus yang tengah menahan malu di wajahnya.


Jika tadi ia membuat Aurora malu dan sekarang ia malah dibuat malu oleh perempuan itu. Bukan berarti ia jijik namun karena ia tak bisa menahan godaan dari keindahan Aurora.


Oceanus berusaha menguatkan diri dan menghampiri perempuan tersebut meski hatinya yang menjadi taruhannya.


Oceanus menghela napas dan duduk di samping Aurora. Dadanya masih berdetak sangat kuat dan Oceanus menyentuh kening Aurora dengan tangan sedikit bergetar.


Ia pun bernapas lega ketika merasakan jika Aurora lebih baik dari sebelumnya. Laki-laki tersebut kemudian membantu Aurora merebahkan tubuhnya dan ia juga menaikkan selimut sebatas dada wanita itu.


Aurora hanyut dalam perhatian Oceanus. Setiap hari ia tak bisa mengontrol perasaannya kepada laki-laki tersebut.


Aurora tahu apa yang ia rasakan salah. Ia hanyalah seorang budak dan ditambah seorang pemberontak, rasanya tidak akan cocok jika bersama pangeran yang statusnya sangat terhormat. Aurora juga merindukan Agustus dan juga pangeran Sargon. Aurora ingin sekali mengetahui keadaan mereka.


"Pangeran terimakasih karena kau sudah merawat ku dan melakukan banyak hal untuk ku. Aku benar-benar jahat hingga membuat kau terusir dari istana karena ku."


Oecanus menggeram. Padahal baru saja ia memperingati wanita itu agar tidak mengatakan hal tersebut itu lagi, namun Aurora malah mengulanginya kembali. Sesuai ancaman yang ia berikan. Oceanus mengecup bibir Aurora yang membuat perempuan tersebut syok dan tak berkutik.

__ADS_1


"Pangeran, apa yang kau lakukan."


"Sudah aku katakan jangan mengatakan itu lagi tapi kau malah mengatakannya. Kau tahu kan konsekuensinya?"


Aurora pun baru menyadari kesalahannya. Ia ingat Apa yang akan terjadi jika dirinya mengulangi kata-kata yang serupa seperti tadi. Aurora menyentuh bibirnya yang baru saja dikecup oleh pangeran Oceanus.


__________


Di dalam penjara, Agustus dan Sargon mendapatkan hukuman yang tidak terduga bagi mereka. Ia dikurung dan juga mendapatkan hukuman yang sangat kejam pada kedua pangeran tersebut. Ibu dari pangeran Sargon bahkan sampai harus berlutut di luar istana utama untuk mendapatkan pengampunan dari raja.


Namun, raja sama sekali tak peduli dengan permohonan adik iparnya. Sedangkan Sargon merasa lebih baik jika ia di dalam penjara daripada ia di luar namun dirinya terus merasa bersalah kepada Aurora.


Di dalam penjara ini sargon bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Aurora. Kini ia tahu mengapa Aurora ingin melakukan pemberontakan. Siksaan yang penuh dengan penderitaan membuatnya ingin memerdekakan diri dari seorang budak.


Sargon menyimpulkan seseorang tak akan mengetahui bagaimana kondisi orang lain jika ia tidak merasakan kondisi yang sama seperti orang tersebut. Kini sargon merasa sangat ikhlas dan lebih tenang jika ia di dalam penjara.


Begitu juga dengan Agustus, laki-laki tersebut lebih sering terlihat murung dan juga datar. Ia sama sekali tak peduli jika tubuhnya akan mendapatkan segala macam siksaan yang diberikan agar dirinya bertobat dan memohon ampun kepada kerajaan serta dengan sukarela untuk mengejar pengkhianat Oceanus dan Aurora.


"Kau baik-baik saja?" tanya Sargon kepada Agustus. Setelah sekian lama akhirnya mereka berbicara tanpa ada aura permusuhan.


Agustus menatap kurungan di depannya. Ia tersenyum tipis dan menganggukkan kepala.


"Apa kau pikir jika Aurora akan baik-baik saja di sana?" tanya Oceanus kepada Agustus.


Agustus berpikir sejenak. Pangeran Oceanus cukup cerdik. Mungkin ia bisa melindungi Aurora dengan baik.


"Aku percaya dengan kemampuan Oceanus. Pasti dia akan melindungi Aurora dengan baik."


Sargon menyetujui ucapan Agustus. Ia tahu betapa hebatnya seorang Oceanus. Pasti ia dapat melindungi Aurora. Entah kapan mereka akan bertemu lagi namun keselamatan Aurora lebih penting dan nomor satu.


"Semoga saja Oceanus benar-benar melakukan yang terbaik untuk Aurora."


__________


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA

__ADS_1


__ADS_2