Dicintai 3 Pangeran

Dicintai 3 Pangeran
Part 30


__ADS_3

Ctarrr


Cambukan kuat diterima salah satu pengawal yang sudah lalai bertugas. Napas Agustus memburu. Pangeran tersebut menyentuh keningnya yang berdenyut.


Tak puas mencambuk pengawal tersebut hanya beberapa kali. Ia pun menambah cambukan pada pria itu hingga sang pria berteriak kesakitan.


"Akhhh.."


Nyatanya Agustus sama sekali tidak terpengaruhi dengan teriakan pria itu. Ia semakin berhasrat ingin membunuh si pria dengan membabi buta. Tidak hanya satu prajurit saja tetapi banyak prajurit yang dieksekusi langsung oleh pangeran Agustus.


Di sana juga ada pangeran Sargon dan Oceanus. Meksipun Sargon dan Agustus masih berselisih paham, tapi pria itu selalu kompak dalam menjaga negara.


"Katakan siapa yang sudah mencuri persenjataan kerajaan? Kenapa setiap bulannya selalu saja banyak senjata yang hilang?"


Oceanus mencengkram rahang pria itu dengan kuat hingga mulut pria itu maju ke depan. Warna merah juga terukir di wajah pria itu karena rasa perih yang ia terima.


"Pangeran, saya sungguh-sungguh tidak tahu dengan itu. Kami sudah menjaganya dengan baik, tidak ada yang mencurinya."


Mata pangeran Sargon menggelap mendengar pernyataan yang baru saja keluar dari mulut pengawal itu. Ia pun mengambil pedangnya dan langsung menusuk perut pria itu dengan pedang tersebut hingga mengeluarkan darah yang begitu banyak.


"Kau pikir kami percaya? Kami adalah pangeran yang sangat terkenal dan tidak adakan mudah percaya dengan ucapan murahan kalian, jika tidak ada yang mencurinya kenapa banyak yang hilang? Kau pikir bodoh, meskipun kau tidak tahu tapi kau akan mendapatkan balasan karena sudah lalai dalam bertugas," ujar pangeran Sargon lalu memutar pedangnya hingga sang prajurit itu berteriak nyaring memenuhi ruangan. "KATAKAN!!!"


"SAYA BENAR-BENAR TIDAK TAHU PANG..ERAN... AKHH!!!"


Pangeran Agustus menarik pedang Sargon. Sargon gelap mata dan tidak terima. Ia memandang Agustus dengan mata memicing dan memindahkan ujung pedangnya ke leher Agustus.


"Apa yang kau lakukan, hah? Kau ingin menghalangi ku? Kau pikir bisa?!"


"Kau akan membunuhnya."


Oecanus menghela napas panjang. Mungkin sebentar lagi akan terjadi peperangan persaudaraan.


"Kalian di sini bukan untuk bertengkar tetapi untuk mengintrogasi dia. Dasar kekanak-kanakan."


Pangeran Oceanus menatap pengawal yang lain. Ia mencekik laki-laki tersebut hingga si pria mengeluh kesakitan.


"Katakan, apa yang sebenernya terjadi, kenapa sebagian senjata milik kerjaan menghilang?"


"Kami benar-benar tidka mengetahuinya. Terakhir kami mengeceknya semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang hilang. Namun ketika kami mengantarkan ke tempat militer sebagian persenjataan sudah hilang."

__ADS_1


Agustus menghela napas. Meksipun ia percaya dengan apa yang diucapkan oleh para pengawalnya tersebut, tetapi ia masih tak tenang pasti ada orang dalam yang berkhianat dan merencanakan pemberontakan.


"Siapa pun yang sudah memasok senjata kepada penghianat maka tidak ada kata ampun untuk mereka," peringat pangeran Agustus dan langsung bergegas pergi dari penjara bawah tanah.


Pangeran Sargon mengembuskan napas kasar dan juga pergi dari sana. Hanya tersisa pangeran Oceanus yang hanya terdiam usai kedua kakaknya telah pergi ia pun tersenyum tipis.


"Jika memang ada pengkhianat tidak akan ku biarkan, dia pasti akan mati di ujung pedang ku."


Oecanus pun pergi dari penjara bawah tanah tersebut. Ketika semua pangeran sudah pergi, seorang wanita keluar dari persembunyiannya.


Ia tak menyangka orang yang tidak bersalah menjadi korbannya. Aurora tahu pasti cepat atau lambat para pangeran akan menyadari masalah ini.


"Sepertinya aku harus menyusun strategi baru."


Aurora menghembuskan napas pelan dan kemudian pergi dari penjara bawah tanah tersebut dengan perasaan tak nyaman. Ia tahu jika dirinya ingin memberontak maka Aurora harus menyampingkan perasaan tak teganya.


Jika perasaan itu yang terus menjadi kelemahannya, Aurora yakin ia pasti tidak akan pernah berhasil menaklukkan kerajaan Engrasia.


"Aku harap semuanya akan berjalan dengan baik."


_______________


Aurora sedang melakukan musyawarah dengan budak-budak yang lainnya. Ia tak mungkin memikirkan ini sendirian.


"Kita harus lebih waspada dan bersikap normal agar tidak dicurigai oleh para pangeran."


"Tapi akan sampai kapan kita terus begini?" tanya salah satu budak yang ikut dalam musyawarah tersebut.


"Sampai kita benar-benar sudah berhasil menguasai semua teknik perang kerajaan Engrasia. Selain itu kita membutuhkan uang yang cukup banyak untuk membeli kuda."


"Kau tahu Aurora kita hanyalah seorang budak dan tak mungkin memiliki banyak uang untuk membeli kuda."


Aurora tersenyum miring mendengar pernyataan putus asa budak itu. Meskipun ulah mereka sudah hampir ketahuan, nyatanya Aurora tidak akan pernah jera. Ia akan mencuri uang kerajaan dan juga membelikannya kuda secara diam-diam.


"Seperti biasa, tidak ada cara lain selain kita mencuri uang milik kerajaan."


Mereka yang ada di sana terkejut dengan rencana Aurora. Hari ini saja mereka hampir ketahuan, bagaimana jika mereka ketahuan kembali telah melakukan kejahatan besar.


"Kau tidak takut Aurora? Bagaimana jika kita ketahuan kembali. Apakah kau ingin tertangkap dan dipenggal lalu kepala kita digantung di alun-alun kota."

__ADS_1


"Kenapa kau tidak percaya diri sama sekali? Serahkan semuanya kepadaku. Aku yang akan bertanggung jawab."


Fares merasa khawatir dengan keselamatan Aurora. Pria itu menggelengkan kepalanya keras. Ia tak mungkin membiarkan Aurora melakukannya sendirian.


"Aku tidak setuju." Semua orang menatap ke arah Fares.


"Fares apa yang kau katakan? Kau ingin kita berhenti di tengah jalan?"


"Aku tidak setuju kau yang melakukan semuanya. Aku akan membantu mu."


"Kau yakin ingin membantu ku?"


"Kenapa tidak? Sudah sepatutnya aku membantu mu Aurora."


Aurora tersenyum lebar. Ia memang tidak bisa berperang. Namun semua rencana Aurora lah yang menyutradarainya. Perempuan itu juga sudah mencuri peta topografi rahasia milik istana.


Tidak tanggung-tanggung ia juga menggambar peta strategi mereka. Aurora yakin kali ini ia akan membawa keberhasilan.


Aurora menganggukkan kepala. Wanita itu menarik napasnya panjang. Ia yakin bisa menusuk para pangeran yang sudah membelanya mati-matian di depan raja dari belakang.


Aurora menatap ke tangannya. Di salah satu pergelangan tangannya terdapat gelang yang melingkar di mana gelang itu diberikan oleh pangeran Oceanus.


Aurora benar-benar sangat tidak yakin jika pangeran sudah berbaik hati kepadanya. Apakah mungkin juga ada maksud tersembunyi dari para pangeran tersebut.


"Pangeran sudah berbaik hati kepada ku, ini lebih memudahkan jalan kita."


Aurora akhirnya mendapatkan solusinya untuk mengatasi masalah ini. Jika benar-benar ia ketahuan mungkin tidak ada pilihan lain secepatnya untuk menyerang.


"Jika kita benar-benar ketahuan kita akan melakukan peperangan dengan kerajaan. Tidak ada cara lain, kita harus secepatnya meninjau kerajaan mencari celah untuk mendobrak kerajaan."


Aurora pun membagi tugas mereka. Cukup lama diskusi itu berlangsung hingga akhirnya mereka setuju dan sepakat jalan apa yang akan mereka tempuh.


Aurora menghela napas panjang dan tersenyum miring. Kini ia harus bisa menyelamatkan diri agar tidak mudah direndahkan oleh orang-orang yang katanya berstatus tinggi dan berpendidikan tapi nyatanya tidak lebih seperti orang yang tidak pernah bersekolah.


Selain itu rencana Aurora hampir dikatakan sempurna karena wanita itu berhasil membawa para budak yang sebelumnya bodoh dengan pendidikan menjadi cerdas dan berpendidikan. Mereka tidak kalah hebat dari para bangsawan. Namun kehebatan mereka belum dicium oleh kerajaan. Itu lebih baik agar tidak ada yang mencurigai.


_____________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2