
Perang pun berlangsung lama. Aurora di istana menunggu dengan khawatir. Entah perasaan apa yang tengah dihadapinya tetapi Aurora tidak pernah tenang walau hanya sedetik.
Padahal ia ingin ketiga pangeran tersebut sengsara tetapi Aurora terus memikirkan mereka. Ini tidak benar, Aurora menyentuh kepalanya dan menenangkan dirinya.
"Aurora tenanglah, Semuanya pasti akan baik-baik saja," lirih wanita tersebut sambil mengigit kukunya.
Sudah puluhan kali kalimat tersebut terucap dan Aurora tetap tak bisa menenangkan hatinya. Ia selalu kepikiran hal-hal yang membuatnya selalu gelisah.
Semua pria turun ke tengah-tengah kota untuk menumpas penjahat dan hanya tersisa anak-anak dan wanita yang tak ikut berperang dan bersembunyi di dalam istana.
Sementara para budak dikerahkan menjaga benteng. Aurora tidak enak rasa juga karena masalah ini, bagaimana jika nantinya pasukannya berkurang dan banyak yang mati karena itu.
Aurora tentu tak akan bisa duduk dengan nyaman di istana. Ia pun memutuskan untuk keluar dari istana. Namun ia merasakan ada bulu halus yang tengah mendusel-dusel di antara kakinya.
Aurora berhenti berjalan dan melihat kucing tersebut. Ia mengangkat Maira ke dalam pelukannya. Kemudian wanita itu tersenyum lembut kepada Maira kucing imut tersebut.
"Cantik banget sih."
"Meow."
Aurora yang semula cemas pun akhirnya teralihkan pikirannya kepada kucing tersebut. Ia mengusap bulu halus milik Maira.
"Sayang ada apa? Lapar yah?" tanya Aurora kepada kucingnya yang sangat menggemaskan tersebut.
"Meow."
Aurora pun terharu mendengar curhatan Maira. Lantas Aurora membawa kucing tersebut ke dapur dan memberikan makan untuk Maira.
Ia menunggu Maira hingga lahirnya kucing imut tersebut selesai menyantap makanannya.
"Cantik sekali sih kamu Maira."
Aurora akhirnya sedikit tentang. Ia pun sejenak melupakan kekhawatiran dirinya.
Aurora termenung. Kenapa dia selalu merasakan hal yang berbeda dengan pangeran-pangeran tersebut? Apakah benar Aurora menyukai mereka? Jika benar sungguh konyol. Tidak mungkin ia jatuh cinta kepada seorang pria sebanyak tiga orang.
Hatinya hanya untuk satu pria dan bohong jika dirinya bisa mencintai 3 orang sekaligus.
"Aku sungguh bodoh," ucap Aurora yang tak mengerti dengan perasaannya sendiri.
______________
__ADS_1
Setelah bertempur di medan perang selama tiga hari tiga malam akhirnya kota Madanesa akhirnya bisa direbut kembali oleh ketiga pangeran tersebut.
Kemenangan telak pun diraih oleh kerajaan Engrasia. Tidak dapat dipungkiri strategi dari Sargon berhasil memporak-porandakan formasi milik kerajaan Euthoria.
Sargon terkenal dengan strategi perangnya yang sangat baik. Tidak ada satupun yang bisa mengalahkan startegi perang yang dimiliki oleh Sargon. Ia terkenal dengan kehebatan dan kepintarannya.
Sementara Panegran Oceanus terkenal dengan kehebatan sastra miliknya. Sudah banyak buku karangan milik pangeran Oceanus, salah satunya ia juga menuliskan strategi yang digunakan oleh Sargon setiap mereka berperang.
Tujuan dari hal itu adalah untuk meninggalkan sejarah di masa depan dan juga bisa digunakan anak cucu mereka untuk pedoman berperang.
Ia juga akhir-akhir ini sering menuliskan sosok Aurora. Tidak luput dari satupun yang tertinggal di kisah yang ditulis Oceanus mengenai Aurora.
Bahkan pada saat berperang ia sempat menulis banyak hal yang terjadi dalam peperangan itu. Oceanus menatap ke arah depan di mana para jendral berkumpul di barisan paling depan untuk menerima hadiah mereka.
"Kau menulis lagi?" tanya Sargon kepada pangeran Oceanus.
"Taktik perang mu sangat bagus kenapa aku harus melawatkan untuk menulisnya?"
"Kau tidak takut jika taktik perang ku bocor? Jika benar itu terjadi maka kau yang akan aku salahkan!"
Pangeran Oceanus tersenyum miring. Ia pasti bisa menjaga amanah tersebut. Lagi pula tidak sembarang orang yang bisa mendapatkan tulisan sastra miliknya.
Mereka pun menatap raja yang berdiri di depan mereka. Raja menghadiahkan masing-masing prajurit maupun jenderal dengan sebuah hadiah yang sangat besar. Sementara bagi pangeran Sargon, pangeran Oceanus, dan pangeran Agustus itu adalah hal yang sepele.
___________
Wanita tersebut menatap pangeran Agustus yang berjalan ke arahnya dengan sebuah senyuman. Aurora berlari dan memeluk tubuh panegran Agustus.
"Pangeran kau baik-baik saja?" tanya Aurora sambil memperhatikan tubuh panegran Agustus.
Agustus mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun Aurora mengetahui jika hal itu adalah sebuah kebohongan. Agustus tidak baik-baik saja, laki-laki tersebut terluka.
Terbukti dari wajah pucat panegran Agustus dan juga terdapat bercak darah di bajunya.
Aurora membuka paksa jubah pangeran Agustus dan ia terkejut melihat luka goresan pedang yang sangat dalam.
Agustus terdiam dan menutupi kembali lukanya tersebut.
"Aurora apa yang kau lakukan?!"
"Panegran kau terluka," lirih Aurora dan langsung membuka kembali jubah milik Agustus. "Panegran sebentar, saya kan mencarikan obatnya."
__ADS_1
Agustus menarik tangan Aurora. Pria itu tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa ini pasti baik-baik saja."
Aurora menggelengkan kepalanya. Agustus tidak baik-baik saja. Ia tahu hal itu.
"Pangeran cukup, jangan menyangkal diri sendiri. Kau tidak sedang baik-baik saja."
Panegran Agustus lantas membiarkan Aurora melakukan banyak hal. Aurora membersihkan luka milik Agustus.
Ia mengusapkan obat yang diraciknya sendiri. Dan meniup-niup luka tersebut.
"Akh..."
"Pangeran maaf," ujar Aurora yang terkejut mendengar erangan pria tersebut.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja."
Aurora menganggukkan kepala. Ia membalut luka tersebut dan Agustus memperhatikan Aurora yang dengan apik membersihkan luka miliknya.
Tak melihat Aurora berhari-hari membuat ia tak bisa menahan perasaannya. Pria itu menarik tangan Aurora hingga Aurora berada dalam posisi yang sangat dekat dengan Agustus.
Tangannya menyentuh dada pria itu. Pria itu mendekatkan wajahnya. Mata Aurora mrngedip beberapa kali. Ia mencium Aurora dan Aurora teridam sambil mencengkram baju Agustus.
Ciuman mereka begitu dalam hingga Aurora akhirnya tersadar dan berusaha melepaskan ciuman itu.
Ia menyentuh bibirnya yang membengkak dan masih tertinggal saliva milik Agustus.
"Kenapa?" Agustus mengusap bibir Aurora yang memerah dan membengkak karena dirinya.
Wajah Aurora memerah seperti tomat. Ia tak bisa menyembunyikan rasa malu miliknya.
"Ingat kau hanyalah milik ku."
Aurora mengangguk kepala.
"Pangeran bagaimana suatu hari saya juga bersama orang lain?"
"Maka aku akan membunuh orangnya."
____________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA