
Situasi darurat yang sedang dihadapi Aurora dan Oceanus membuat mereka tak bisa duduk tenang walau hanya sebentar. Keberadaan mereka terendus oleh pasukan istana hal itulah yang membuat mereka dikejar oleh rasa takut.
Oceanus dengan berbekal pedang membawa Ana kabur dari gubuk tersebut. Bagaimanapun juga mereka pasti akan menemukan gubuk tersebut. Ternyata pelariannya ke pelosok tetap masih dapat dikejar oleh prajurit istana.
Logika saja bahkan pada saat Oceanus masih bekerja di istana di manapun musuh bersembunyi baik itu di lubang buaya ataupun lubang semut pasti akan diketahui oleh pihak istana. Untungnya Oceanus sedikit hapal dengan taktik yang digunakan oleh para pasukan tersebut.
Meskipun tak menutupi kemungkinan jika taktik yang digunakan mereka sekarang juga berbeda dengan taktik yang ada. Oceanus berharap mereka tidak bisa menemukan Aurora.
Jika mereka menemukan dirinya tidak masalah. Oecanus tidak akan takut dengan hal itu. Namun jika ia tak lagi mengawal Aurora bagaimana dengan Aurora nantinya? Siapa yang akan menjaga Aurora?
Oceanus menatap wajah Aurora yang pucat pasi sedang tertidur di pundaknya. Sementara mereka tengah bersembunyi di dalam gua untuk melarikan diri.
Seharian Aurora tak punya waktu untuk beristirahat apalagi ia sedang dalam terluka parah. Oceanus tak mungkin membawa Aurora terus kabur dalam kondisi wanita tersebut yang seperti itu. Maka dari itu ia berhenti di sini dan menunggu wanita itu sedikit lumayan membaik.
"Berkat ketidak adilan yang kau dapatkan hingga kau harus menanggung semua ini. Kini aku sadar apa yang aku lakukan selama ini membawa bencana buat orang lain. Aku memang jahat, dan kau adalah wanita yang berhati mulia dan tak mungkin kau bisa menerima hinaan ini selamanya. Aku cukup salut bagaimana kau berusaha untuk bebas," kagum Oceanus yang tak pernah berhenti untuk memuji Aurora. Lagipula tidak ada yang salah dengan pujiannya. Apa yang dilakukan oleh Aurora mungkin sangat mulia bagi mereka yang berada di posisi yang sama dengan Aurora.
Oecanus tersenyum lebar dan menatap wajah damai Aurora. Wanita yang sangat cantik dan tak akan pernah terpikirkan oleh Oceanus bahwa ia akan jatuh cinta kepada budak cantik tersebut.
Kedekatan dan kebersamaan mereka dalam melarikan diri sudah membuat Oceanus benar-benar tak sanggup menahan perasaannya. Perasaan sayang dan cinta itu tumbuh begitu saja di hatinya dan makin berkembang biak.
Namun jika ia ingin bersama Aurora maka Oceanus harus menentang kerajaan dan juga kakak-kakaknya. Ia tahu jika kakaknya juga memiliki perasaan yang sama kepada Aurora.
Oceanus tidak akan tinggal diam jika Aurora direbut oleh Agustus maupun Sargon. Maka dari itu cukup sulit untuk bersama Aurora.
Aurora membuka matanya setalah ia tertidur cukup lama. Wajah pucat Aurora sedikit memerah karena rasa panas yang tengah dialaminya. Aurora sedang sakit dan wanita itu benar-benar sangat memprihatikan dan sangat berbahaya bagi nyawanya jika mereka terus melarikan diri.
"Pangeran."
Oceanus menatap ke arah Aurora dan senyuman di wajahnya terbit. Ia mengusap kepala Aurora dan membantu wanita itu bangun.
"Pelan-pelan."
"Pangeran haus." Dengan cepat Oceanus bergegas mencarikan air untuk Aurora.
Ia kembali dengan membawa sedikit air yang sudah payah ditampungnya dari tetesan di dinding gua. Laki-laki tersebut menuntun agar Aurora meminumnya dengan pelan-pelan.
"Uhuk!! Uhuk!!"
"Pelan-pelan." Aurora menganggukkan kepala dan meminumnya lebih apik.
Aurora menghela napas dan merasa lebih baik setelahnya.
"Pangeran aku baik-baik saja."
"Aku tahu. Kau pasti kuat. Luka mu sedikit terbuka, tadi aku mengobati mu. Maafkan aku sudah lancang membuka baju mu."
Sejujurnya Aurora merasa malu dan hina ketika mengingat bagaimana kejinya hukuman yang ia dapatkan, mereka menelanjangi Aurora dan mungkin Oceanus sudah melihat bagaimana tubuhnya, jadi untuk apa ia malu kepada pria ini lagi? Wanita itu tersenyum tipis dan mengepal tangannya.
"Tidak apa-apa."
__ADS_1
"Aku tahu sebenernya kau marah kepadaku. Tapi tak apa jika kau marah. Aku juga mengerti."
Aurora menggelengkan kepala. Oceanus sudah salah persepsi tentang dirinya.
"Tidak apa-apa Pange..."
Brakk
Mata Oceanus melebar ketika segerombolan orang berseragam kaos tentara istana Engrasia tengah mengelilingi mereka lengkap dengan senjata.
Oecanus langsung berdiri dan menyambar pedangnya. Ia berusaha untuk melindungi Aurora agar wanita itu tidak kenapa-kenapa dan tak diganggu oleh pasukan istana tersebut.
"Siapapun yang berani menyakiti dia maka aku akan membunuh kalian."
"Pangeran sebaiknya Anda menyerah."
"Dia bukan lagi pangeran. Raja sudah resmi mencopot gelarnya."
Aurora terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pengawal tersebut. Tidak jauh berbeda dengan Oceanus, pria itu terkejut dengan kenyataan yang tengah ia alami. Bahkan ayahnya dengan rela menurunkan tahtanya. Ia bukan lagi orang terhormat di Engrasia.
"Kau tidak perlu kaget seperti itu. Menyerahlah, kau pasti akan diampuni dan akan diberikan status baru oleh raja."
"Aku tidak akan pernah menyerah. Lagipula aku tidak peduli dengan status ku."
"Kau telah dicap pengkhianat oleh kerajaan dan rakyat Engrasia."
"Aku tidak peduli. Lagipula apa yang dilakukan oleh Aurora untuk menegakkan keadilan."
Aurora terpekik ketika Oceanus hampir saja dibunuh oleh pasukan tersebut. Lagipula pasukan itu sangat banyak dan Oecanus hanya sendiri.
Sehebat apapun Oceanus pasti ia akan kalah dengan mereka yang jumlahnya tidak sebanding. Aurora mengepalkan tangan dan ia berusaha menyuruh agar Oceanus menyerah dan ia ikut dengan Pengawal tersebut.
"Pangeran!! Berhenti.. aku akan menyerah. Kau tidak perlu melakukan ini demi aku. Aku tidak akan bisa tenang jika seseorang menderita karena ku!!"
"Tidak Aurora. Jangan biarkan perjuangan kita berhenti sampai di sini. Aku akan berusaha untuk melawan mereka demi melindungi kau!!"
Oecanus benar-benar tersudut. Pasukan tersebut berhasil memberikan luka yang cukup dalam di punggung Oecanus. Aurora menutup mulutnya dan menghampiri Oceanus dengan tangis yang kencang.
"Pangeran!!" teriak Aurora dan berlari ke arah Oceanus. Ia berdiri di samping pria itu dan memeluk tubuh Oceanus.
"Pangeran Oceanus hiks."
"Aurora berhentilah mengatakan Pangeran. Aku bukan lagi seorang pangeran, aku sama seperti mu."
Aurora menggelengkan kepala. Wanita itu mencengkram tangan Oecanus dengan erat.
"Tak masalah, kau akan selalu menjadi seorang pangeran bagi ku."
"Aurora terimakasih kau sudah mau bersama ku."
__ADS_1
Aurora menganggukkan kepala. Sudah menjadi kewajiban bagi dirinya untuk selalu ada buat Oceanus.
"Pangeran hentikan mengatakan itu. Aku selalu ada untuk kamu."
Semua mata pedang mengarah ke leher Aurora. Aurora menghela napas panjang dan mendongak. Tiba-tiba ada sebilah pedang tepat di depan matanya tengah menghunus dirinya.
_________
Pasukan berziarah hitam yang tengah mengepung Aurora dan Oceanus kembali ke istana.
Agustus dan Sargon merasa tak bisa tenang. Ia takut sesuatu telah terjadi kepada Oceanus dan juga Aurora.
"Ada apa dengan mereka? Apakah mereka sudah berhasil menangkap Aurora?"
"Jika mereka sudah pulang dengan senyuman di wajah mereka tentunya misi mereka sudah selesai."
"Berarti Aurora dan Oceanus dalam bahaya." Agustus mengangguk membenarkan ucapan Sargon.
Sargon menghela napas panjang dan tangannya mengepal. Jika benar seperti itu benar-benar keji mereka semua karena sudah melakukan hal yangs sangat tidak manusiawi kepada seorang pangeran di Engrasia.
"Aku tidak akan membiarkan mereka."
"Kau pikir aku juga membiarkannya?" Sargon menatap Agustus dengan seringaian di wajahnya.
Pandangan yang dilontarkan oleh Sargon seolah tengah meremehkan Agustus. Pria itu sedikit tertawa kecil.
"Apa yang sudah kau lakukan? Kau seorang putra mahkota namun tidak ada yang bisa kau lakukan. Bahkan untuk menyelamatkan Aurora pun tak bisa."
"Kau pikir Ayah akan membiarkan aku bertindak."
"Kau pengecut!!"
"Kau!!" marah Agustus tak terima dengan apa yang sudah dihinakan Sargon. "Kau pikir kau akan lebih baik dari aku?"
"Setidaknya aku tidak pengecut. Huh, katanya kau sangat mencintai Aurora, tapi apa? Kau bahkan membuatnya ditangkap dan melukainya. Kau pikir perbuatan mu bisa dimaafkan?"
"Lapor!! Kami sudah berhasil membunuh pengkhianat!!"
Kalimat yang diucapkan oleh pasukan tersebut mampu membuat Agustus dan Sargon berhenti bertengkar. Mereka terkejut dengan dada yang berdetak sangat nyaring. Seketika tubuh mereka lemas saat orang-orang tersebut menyerahkan dua peti yang diduga oleh Agustus adalah peti yang berisi kepala Oceanus dan Aurora.
"Sialan... Tidak mungkin... Aurora tidak mati."
Sargon sungguh sangat sakit hati. Ia menatap sepupunya yang merupakan putra mahkota namun sama sekali tidak berguna.
"Ini semua salah mu yang tak berani melawan raja."
____________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA