
Aurora pulang ke istana Agustus. Wanita itu berjalan santai di taman belakang istana Agustus. Di sana adalah jalan aman bagi Aurora agar bisa pulang tanpa ketahuan oleh Agustus.
Namun sayangnya nasib sial sedang menimpa Aurora. Ia bertemu dengan Isabella yang baru saja datang ke taman tersebut. Isabella mengerutkan kening melihat Aurora yang juga ada di taman tersebut. Ia memperhatikan penampilan Aurora dengan seksama dan tiba-tiba senyum licik terbit di wajahnya.
"Aurora," ujar Isabella lalu mendekati Aurora. Wanita itu memperhatikan Aurora dari atas hingga ujung kakinya.
Aurora meneguk ludahnya kasar. Ia mencengkram sisi pakaiannya. Di dalam hati Aurora memanjatkan harapan bahwa Isabella tidak akan curiga padanya.
"Putri." Aurora memberi hormat untuk Isabella. Ia mendudukkan kepala dan Isabella mengangkat wajahnya sambil tersenyum lebar.
"Dari mana kau? Dari wajah mu aku dapat menebaknya jika kau baru saja kabur dari istana, bukan?" tanya Isabella penuh dengan keyakinan sembari tersenyum miring menatap wajah Aurora yang menciut.
Aurora dengan berani mengangkat kepalanya. Ini tidak benar, ia tak boleh tunduk dari sosok licik Isablla, di pikiran Aurora ia mengira bahwa yang sudah membunuh putri Grace adalah Isabella.
Wanita itu menarik napas dengan rakus. Membayangkan tertekannya Grace selama ini membuat Aurora tidak bisa memaafkan Isabella.
Grace adalah tokoh favoritnya dan juga Grace sangat baik sesuai dengan apa yang digambarkan di dalam novel.
"Kau sudah tahu apa yang aku lakukan Putri, jika kau ingin memberitahukan kepada Pangeran aku tidak masalah." Isabella mengangkat satu alisnya. Jadi Aurora tengah menantang dirinya?
"Kau tidak takut?"
"Kenapa aku harus takut, aku memang melakukan kesalahan. Sudah sepatutnya aku dihukum," ujar Aurora dengan nada pelan namun tersirat penuh keberanian.
Isabella menganggukan kepalanya. Selama ini Aurora sudah semakin berani, jika terus dibiarkan mungkin wanita ini akan menjadi masalah untuk kerajaan Engrasia.
"Kau, kau hanya seorang budak, kenapa kau sangat percaya diri sekali?"
"Saya tahu saya seorang budak. Tapi saya lebih tahu etika dari pada Anda Putri."
"Sialan kau!!" Isabella terpancing amarah. Wanita itu mengamuk dan ingin mencakar wajah Aurora.
Namun belum sempat tangannya mencakar wajah indah milik wanita tersebut tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang menahan pergerakan tangannya.
"Isabella, jangan membuat masalah di tempat ku jika kau tidak ingin kehilangan salah satu anggota tubuh mu," ucap dingin Agustus sambil menghentakkan tangan Isabella.
Isabella terkejut. Wanita itu menatap tangannya lalu beralih dengan menatap Agustus.
"Pangeran apa yang kau lakukan? Kau membela budak ini lagi? Memangnya apa hebatnya dia sampai kau selalu membela dia!!" Isabella menunjuk kesal wajah Aurora.
Aurora terdiam karena baru menyadari hal itu. Selama ini para pangeran selalu membela dirinya, tidak hanya pangeran Agustus saja, tetapi pangeran Oceanus dan pangeran Sargon juga sering membelanya.
Aurora sama sekali tidak mengerti karena selama ini yang ia tahu pangeran tersebut sangat membenci dirinya. Aurora juga tidak akan melupakan bagaimana ia disiksa dengan sadis oleh para pangeran tersebut.
"Tidak semua hal perlu kau ketahui, pergilah dari sini, aku tidak memberikan kau izin ke taman ku. Siapa yang sudah mengizinkan kau masuk ke sini?"
"Kau Pangeran, setelah putri Grace sekarang dia yang membuat mu seperti ini, apakah aku tidak pernah membuat mu menjadi seperti ini? Kenapa hanya aku yang tidak bisa, kenapa budak rendahan ini bisa mendapatkan perhatian mu!!"
Agustus tertarik dengan pertanyaan Isabella. Pria tersebut mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke bola mata indah milik wanita itu.
Isabella tak bisa menyembunyikan kegugupannya. Meksipun ini yang sudah sangat lama ia inginkan, bertatapan dengan sang pangeran. Tetapi Isabella tidak akan pernah bisa melihat tatapan tajam milik sang Pangeran bak ia diintimidasi.
__ADS_1
"Pangeran, kau benar-benar sudah dibutakan oleh mereka. Sadarlah!"
"Seharusnya kau yang sadar," cela Aurora.
Agustus menatap wanita itu yang sudah mendahului ucapannya. Ia tersenyum tipis dan menarik tangan Aurora agar berdiri lebih dekat dengannya.
"Kau dengar apa yang dia katakan, bukan? Maka pergilah dari sini secepatnya!"
Isabella mengangguk sambil tersenyum lirih. Penolakan yang sangat jelas dilakukan oleh Agustus membuat hatinya terguncang dan langsung pergi begitu saja setelah Agustus dengan cara tak terhormat mengusir dirinya.
"Pangeran," ucap Aurora lalu memberi hormat kepada Pangeran Agustus.
Agustus tersenyum tipis nyaris tak dapat dilihat oleh siapapun. Laki-laki tersebut mengangkat wajah Aurora yang terus menunduk.
"Jika Isabella menganggu mu kembali maka katakanlah kepadaku."
"Pangeran..." Agustus menetap serius wanita yang baru saja memanggil dirinya, "terimakasih."
Agustus terpaku mendengar ucapan wanita itu. Ia tak menyangka jika Aurora mengucapkan kalimat tersebut. Entah kenapa tiba-tiba hati Agustus menjadi sangat bahagia.
"Ya sama-sama."
______________
"Sialan," umpat Isabella yang tak mampu menahan rasa kesalnya kepada Aurora. Grace sudah tidak ada ia pikir semuanya akan berjalan dengan lancar tapi ternyata masih ada orang yang tidak kalah menyebalkan dengan Grace. "Kenapa gadis budak itu bisa menarik perhatian para pangeran? Apa hebatnya dia? Dia hanyalah budak rendahan yang tidak memiliki status sosial," kesal Isabella dengan napas menggebu-gebu.
"Putri, tenanglah, aku siap menerima perintah mu dan membantu Putri," Aurora menatap ke arah pelayan yang baru saja mengucapkan kalimat tersebut.
"Kau berikan racun ke setiap makanan yang ia makan, kau diam-diam menyamar menjadi pekerja di tempat Pangeran Agustus. Ingat jangan sampai ketahuan, jika kau merusak rencana ku, tidak hanya kau yang akan dipenggal tetapi keluarga mu," ancam Isabella kepada pelayannya.
Pelayan pribadi milik Isabella pun mengangguk memegang setiap ucapannya. Ia pasti akan melakukan yang terbaik dan tak akan mengecewakan tuannya.
"Saya pasti bisa melakukan itu," ujar sang pelayan dengan percaya diri.
"HAHAHAHA!!" tawa gelak milik Isabella pun menggema di udara wanita itu sangat bahagia dan tidak sabar ingin melihat wajah sengsara Aurora. Berani-beraninya sudah melawan dirinya, wanita itu pasti tidak akan menyangka bagaimana nasib yang akan ia terima.
Isabella penuh dengan percaya diri bisa menyingkirkan Aurora. Meskipun bukan Isabella yang membunuh Grace tetapi selama ini Isabella yakin orang yang membunuh Grace adalah untuk menyelamatkan dirinya.
"Menjadi kambing hitam juga tidak buruk." Entah apa maksud dari seringaian di wajah wanita tersebut.
Ia menghela napas panjang dan berjalan ke arah jendela. Tidak sabar ingin mendengar berita berpulangnya Aurora dan kemudian tidak ada lagi orang yang menghalangi jalannya.
"Aurora Akuela, entah apa yang kau lakukan hingga Pangeran selalu membela mu. Kau pikir kau sangat cantik dari ku? Meskipun kau lebih cantik tapi aku lebih baik dan lebih memiliki status tinggi dari mu," gumam Isabella. Ia muak menerima kenyataan jika Aurora sangat cantik dan tidak ada yang bisa menandingin kecantikan yang dimiliki oleh wanita itu.
Meskipun ia seorang budak pesona yang dimiliki olehnya begitu berharga. Entah kenapa Aurora membenci kenyataan tersebut.
"Wajah sialan itu." Isabella menatap ke arah pelayanannya, "jangan lupa berikan bubuk ini ke makanannya, aku ingin melihat wajahnya hancur dan penuh dengan ulat," ujar Isabella sambil mengeluarkan bubuk beracun yang mengandung zat berbahaya.
Isabella tersenyum miring dan menatap ke depan. Siapa yang bisa menyingkirkan dirinya? Tidak ada seorang pun, bahkan kerajaan di sini tunduk kepadanya.
Tiba-tiba pintu dibuka dan Isabella terkejut dan langsung bersikap normal. Isabella menghembuskan napas lega melihat siapa yang baru saja datang ke kamarnya. Ternyata adalah Ratu Sofia.
__ADS_1
"Ratu, ada hal apa hingga Anda sudi datang ke tempat ku?" tanya Isabella sambil menunduk hormat.
Ratu Sofia langsung mengangkat kepala Isabella yang menunduk. Wanita tersebut menghela napas panjang dan kemudian menatap seksama Isabella.
"Grace sudah tidak ada apa yang akan kau lakukan? Kenapa kau belum mendekati pangeran Agustus?"
Mungkin ini saatnya untuk putri Isabella mengatakan semuanya. Ia akan mengadu kepada Ratu Sofia agar rencanannya ini mendapatkan dukungan penuh dari salah satu orang penting di kerajaan.
"Ratu, maafkan aku. Aku belum bisa menuruti keinginan mu, Pangeran sudah dibutakan oleh budaknya yang bernama Aurora. Gara-gara Aurora budak sialan itu, aku diabaikan oleh Pangeran Agustus. Mohon bantuannya Ratu, aku tidak mungkin melakukannya sendiri."
Ratu Sofia berpikir sejenak. Jika benar apa yang dikatakan oleh Isabella sungguh keterlaluan budak yang bernama Aurora tersebut.
"Tenang saja aku pasti akan membantumu, apa yang tidak untuk mu," ujar ratu Sofia sambil mengusap wajah mulus Isabella. "Hanya Isabella yang berhak menjadi ratu Engrasia selanjutnya. Kau adalah sekutu ku."
Isabella tersenyum dalam hati. Tidak sia-sia usahanya selama ini. Sudah mengorbankan banyak hal dan Isabella yakin pasti ia akan mewujudkan impiannya.
"Terimakasih Ratu."
"Kau jangan sungkan Isabella. Apa yang ingin kau lakukan? Katakan saja kepada ku aku pasti akan membantu mu."
"Aku ingin membunuhnya perlahan dan merusak wajah sialan itu. Aku ingin kau membantu ku menutupi kasus ini. Dan bujuk pangeran Agustus agar bisa melihat ku."
Ratu Sofia menganggukkan kepala. Jika itu yang diinginkan oleh Isabella ia sanggup memenuhinya. Sebenernya sudah sangat lama juga Ratu Sofia membenci Aurora.
Semenjak Aurora memasuki istana dan telah menguasai anak-anaknya ratu Sofia tak bisa menahan amarah dan ingin Aurora mati dan tak membuat rencana yang sudah ia buat hancur berantakan.
"Tidak hanya kau yang ingin membunuhnya, aku juga sudah sangat lama ingin membunuh budak sialan itu."
"Kita memiliki tujuan yang sama Ratu." Keudanya saling tatap dan tersenyum misterius.
"Aku harap kau dapat menjalankan rencana ini dengan baik."
"Aku harap Ratu juga begitu."
Ratu Sofia menatap pelayan Isabella. Ia mendekati wanita tersebut dan memperhatikan pelayan Isabella. Ia menilai apakah wanita ini bisa menjalankan tugasnya dengan baik.
Ratu Sofia mendekatkan bibirnya ke telinga pelayan itu.
"Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau melakukan kesalahan? Tidak hanya kau yang akan terancam tetapi keluarga mu."
Wanita pelayan itu menganggukkan kepala. Ia tahu apa yang akan terjadi jika ia melakukan kesalahan.
"Saya pasti akan menjalankan tugas saya dengan baik."
Senyum miring di wajah ratu Sofia membuat mereka yakin rencana yang kali ini dijalankan dapat mencapai keberhasilan.
______________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1