
Aurora memandang Agustus yang berdiri di depannya. Orang yang ia rindukan kini telah berada di dekatnya. Aurora sangat ingin memeluk tubuh Agustus dan menceritakan segalanya kepada pria itu. Namun Aurora hany mampu untuk menundukkan kepala sembari menahan rasa di dadanya.
Lagipula tak mungkin jika Agustus menyukainya. Apalagi pria itu tahu bahwa Aurora adalah kekasih dari adiknya. Aurora mengenal Agustus. Laki-laki tersebut sangat menyayangi adiknya.
Ia bahkan rela berbagi kepada adiknya dan merelakan sesuatu yang sangat ia sayangi pada adiknya. Aurora jika dihadapkan pada pilihan antara Oceanus dan Agustus sejujurnya ia tak bisa menjawab karena Aurora merasakan mereka sama-sama penting untuk Aurora.
Di mana Agustus dan Oceanus sudah melakukan banyak untuk Aurora. Karena itu pula lah Aurora jatuh cinta kepada pangeran tersebut.
"Pangeran."
"Aurora," ujar Agustus lirih dan secara tak terduga ia menarik tubuh kecil Aurora dan mendekapnya dengan sangat erat hingga membuat Aurora terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Agustus.
Agustus mendekat tubuh Aurora dengan sangat erat tanpa sedikitpun membiarkan Aurora lepas darinya. 2 tahun berlalu, selama itu pulalah ia menahan rindu. Lihat orang yang selalu memenuhi pikirannya ada di depannya sontak Agustus tak mampu mengontrol perasaannya.
Iya secara refleks memeluk Aurora. Bahkan Aurora terdiam di dalam pelukan pria itu. Aurora mengepalkan tangan dan memejamkan mata. Ia menikmati pelukan tersebut. Aurora juga sangat seperti Agustus, ia sangat merindukan Agustus.
Keduanya pun hanyut dalam pelukan mesra. Hingga waktu berlalu dan Agustus pun memberikan jarak dengan Aurora. Ia memandang wanita itu yang sangat baik tanpa ada terluka sama sekali.
Tiba-tiba Agustus menyentuh perut Aurora. Aurora membulatkan mata dan menahan Agustus.
"Pangeran apa yang kau lakukan?"
"Aurora. Aku pernah melukai mu. Aku tak ingin kau kenapa-napa, apakah luka mu sudah sembuh. Jika belum aku akan membawa mu ke tabib."
Aurora terkekeh melihat wajah khawatir Agustus. Ia menyentuh tangan Agustus dan menatap pria itu sangat dalam. Aurora menggelengkan kepala jika ia baik-baik saja.
Agustus pun menghela napas lega dan tersenyum lebar. "Aku lega jika kau baik-baik saja."
"Pangeran terimakasih."
"Buat?"
"Kau sudah mengkhawatirkan ku."
Agustus menatap mata Aurora dengan seksama. Wanita ini bahkan tak tahu jika Agustus tiap malam selalu merindukan Aurora.
"Aku selalu mengkhawatirkan mu. Aku merindukanmu."
Aurora meneteskan air mata penuh haru. Perempuan tersebut tak menyangka jika Agustus merasakan hal yang sama sepertinya. Jadi harapan Aurora secara tidak langsung sudah terkabul.
"Pangeran hiks."
Agustus kebingungan dan menghapus air mata Aurora.
__ADS_1
"Ada apa dengan mu? Kenapa kau menangis? Apakah aku sudah melakukan hal yang salah?" tanya Agustus panik dan berusaha untuk menenangkan Aurora.
Aurora menggelengkan kepala. Ia menatap Agustus dengan matanya yang penuh air mata tersebut. Tanpa terduga, Aurora menarik tangan Agustus agar pria itu menundukkan kepalanya.
Kemudian ia pun menempelkan bibirnya di bibir Agustus. Agustus terkejut dengan aksi nekat Aurora. Namun ia menikmati ciuman Aurora yang sangat lembut.
Mereka berdua hanyut dalam suasana yang mereka ciptakan sendiri. Aurora mendorong tubuh Agustus ke tembok dan kemudian mendalamkan ******* di bibir pria itu.
Aurora melepaskan tautan bibir mereka. Ia menatap Agustus dengan perasaan bersalah dan juga sangat hina karena sudah melakukan hal yang memalukan.
"Maafkan aku pangeran. Aku lepas kendali."
Agustus menggelengkan kepala. Pria tersebut tak bisa menjauhkan tatapannya dari Aurora barang sebentar. Agustus menyentuh pipi Aurora dan tersenyum lebar.
"Aurora..... Aku mencintaimu."
Aurora terkejut dan sekaligus tersentak dengan pengakuan Agustus.
"Pangeran...."
"Apakah kau bersedia menjadi kekasihku...."
"Tapi Pangeran...."
"Tapi?"
"Aku akan melawan siapapun itu meksipun itu Oceanus. Aku tidak peduli. Aurora, apapun jawaban mu aku tidak mau tahu kau harus menjadi kekasihku." Putusan Agustus final tanpa bantahan.
________
Aurora menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. Aurora pun keluar dari persembunyiannya dan terus mengikuti Isabella yang gerak-geriknya sangat mencurigakan.
Semakin dalam ia mengikuti wanita itu semakin Aurora benar-benar tak percaya dengan pemandangan yang disuguhkan. Isabella melakukan hal yang sama seperti dirinya dulu. Aurora juga banyak melihat para budak yang ia didik ditahan oleh wanita itu.
Aurora dapat pastikan jika Isabella menggunakan mereka untuk membuat senjata yang sama seperti pernah dibuatnya. Aurora tahu apa tujuan Isabella melakukan hal itu, untuk melakukan pemberontakan.
Lutut Aurora rasanya lemas dan kakinya hampir tak mampu menopang berat badannya. Aurora menyentuh dinding di sekitar dan berusaha untuk tenang.
Bagaimana tidak orang yang tidak ingin bersekutu dengan Isabella akan disiksa dengan sangat tidak manusiawi. Sebegitu rendahnya Isabella melakukan seorang manusia yang hakikatnya memiliki hak untuk dilindungi.
Aurora mengepalkan tangannya dan berusaha untuk sabar agar emosinya bisa terkontrol dengan baik. Aurora menarik napas panjang dan berencana pergi.
Namun sebuah suara yang sangat familiar di telinga Aurora membuat wanita itu berhenti dan menoleh ke tempat Isabella.
__ADS_1
Aurora menahan napas. Ia menyentuh dadanya yang berdetak sangat kencang.
"Mareta," ujar Aurora putus asa saat melihat sahabatnya ada di sana.
Isabella tengah menyiksa Mareta tanpa ampun. Ia memukul tubuh kecil Mareta menggunakan cambuk yang sangat panas. Mareta benar-benar diujung maut, wanita itu tampak tak berdaya, terkulai lemas dengan tubuh dirantai.
Aurora meneteskan air mata. Ia tak bisa meninggalkan tempat ini begitu saja di saat teman-temannya tersiksa.
"Isabella terkutuk kau," lirih Aurora dan kemudahan maju mendekati Isabella dan merebut cambuk yang digunakan Isabella yang ingin memukul Mareta.
Aurora menatap nyalang wanita itu. Sama sekali ia tak ketakutan melihat Isabella di depannya seolah tengah menunjukkan taringnya.
"Wow," ujar Isabella menyeringai dan bertepuk tangan.
Ia memperhatikan Aurora dengan seksama. Aurora mencengkram tangannya berusaha menahan dirinya agar tidak menyerang Isabella.
"Kau tahu perlakuan mu sangat menjijikan." Aurora menatap ke arah Mareta yang menatap dirinya dengan pandangan lemah.
Dari mata Mareta Aurora bisa melihat jika wanita itu tengah melarang dirinya agar tidak bermacam-macam dengan Isabella.
Aurora menggelengkan kepala. Wanita itu tersenyum tipis dan yakin dengan apa yang ia lakukan. Meksi di wajah Mareta sangat mengkhawatirkan dirinya. Tetapi, Aurora berusaha untuk membuat Mareta juga bisa mempercayai dirinya.
"Pahlawan kesiangan," ujar Isabella mencibir. Aurora muak dengan semua ucapan Isabella yang sok paling berkuasa.
"Apakah aku peduli? Apa yang telah kau Kaka benar-benar sangat menjijikkan, kau tak tahu malu menculik mereka semua dan kau memerintahkan mereka untuk membuat senjata yang pernah aku buat. Kau tak tahu malu? Siapa orang yang paling keras menentang pemberontakan dan meneriakkan agar aku dihukum mati karena telah menciptakan senjata pembunuh. Dan sekarang kita lihat, ada orang yang sedang menelan ludahnya sendiri. Benar-benar menjijikkan dan tak tahu malu."
Tangan Isabella mengepal dan mata wanita itu menggelap. Ia hendak menampar Aurora namun beruntungnya Aurora sudah membaca pergerakan wanita itu.
"Kau!! Kau tidak bisa menghina ku."
"Kau pikir hanya diri mu saja yang bisa melakukan itu kepada orang lain? Kau adalah penjahat yang sesungguhnya. Aku tahu kau adalah putri dari kerajaan Saphira yang dicari-cari. Untungnya tidak ada yang mengetahui mu, jika ada yang mengetahui kau adalah seorang putri raja dari Saphira mungkin kau sudah tak ada lagi di dunia. Kau sadar sendiri betapa kejamnya dunia hingga kau merencanakan pemberontakan. Aku tahu kau sudah melakukan ini sangat lama. Ah, iya jangan lupakan aku mengetahui rahasia mu. Kau memiliki anak dengan raja. Jangan kau pikir aku tidak tahu."
Isabella terkejut bukan main saat Aurora membongkar rahasianya di depan wajahnya sendiri.
"Apa yang kau tahu?"
"Bahkan bukan hanya aku. Tetapi pangeran Agustus juga mengetahuinya."
____________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMAKASIH SEMUANYA.
__ADS_1