
Aurora tak bisa berhenti berpikir walau hanya sedetik saja. Di pikirannya terpenuhi dengan nama Isabella. Ia sangat penasaran hubungan Branard dengan Isabella apakah sepasang anak kandung dan ibu kandung?
Ataukah itu hanyalah akal-akalan Isabella? Namun jika hanya akal-akalan wanita itu, apa sebenarnya tujuan Isabella melakukan itu. Aurora berhenti mencoba untuk berpikir.
Ia menenangkan otaknya yang terus berproses. Perempuan tersebut sedikit menarik napas kecil dan mencoba untuk tidak memikirkan Isabella.
"Apa yang sebenarnya direncanakan oleh wanita ular itu?" tanya Aurora pada dirinya sendiri dan berusaha untuk mencari jawaban yang ia buat sendiri.
Aurora menghela napas panjang dan menyentuh keningnya. Wanita itu sedikit mengurut keningnya tersebut. Aurora pun menatap ke arah tangannya yang terdapat gelang pemberian Agustus.
Memikirkan Agustus, Aurora sangat merindukan pria itu. Ia ingin bertemu dengan Agustus, ia belum sempat berbicara berdua dengan Agustus sejak pertama kali ia melihat laki-laki tersebut.
Aurora mengakui jika Agustus adalah cinta pertamanya. Di antara tiga rasa hanya Agustus yang lebih di hatinya. Mungkin jika diketahui oleh Oceanus pria itu akan sakit hati jika mengetahui kebenarannya.
Namun Aurora tak bisa menyangkal hatinya sendiri. Memang itulah yang saat ini wanita itu rasakan. Ia merindukan Agustus lebih dari segalanya.
Aurora berdiri dari duduknya. Ia menghampiri Maira yang sedang mendengkur nyaman di kasurnya. Aurora diberikan kamar khusus di istana, ia pun dijaga dengan sangat ketat oleh pengawal.
Aurora, meksipun dicap sebagai pengkhianat nyatanya ia tetap mendapatkan perlindungan dari kerajaan. Itu berkat Agustus yang berusaha membuat citranya kembali. Selain itu Aurora sangat bahagia saat tahu bahwa Agustus juga melindungi hak para budak dan memperjuangkan apa yang pernah ia perjuangkan.
"Aurora," sapa seorang dan mencoba masuk ke dalam kamarnya.
Aurora menoleh ke arah jendela dan ia langsung menutup mulutnya tak menyangka jika Fares tengah memanjat gedung tinggi istana mengingat kamarnya berada di tingkat paling atas di istana.
Aurora langsung menghampiri Fares dan membantu pria itu masuk ke dalam kamarnya. Aurora memperhatikan Fares yang sangat tampan dan lebih terawat. Namun Aurora melihat ada kekhawatiran di wajah Fares, apakah pria ini hidup dalam ketidak tenangan?
"Ada apa Fares? Kenapa kau terlihat sangat panik?" tanya Aurora dan berjalan ke arah jendela. Ia pun langsung menutup jendela agar tidak ada yang mengetahui bahwa Fares masuk ke kamarnya.
Aurora juga melakukan hal yang sama pada pintu kamarnya. Ia pun bernapas lega saat ia sudah benar-benar memastikan jika istana aman dan tidak ada yang mengintip.
"Kenapa kau bisa ke sini?"
"Aku mendengar kau dibawa pulang oleh pangeran Agustus. Aku mengira kau akan ditangkap dan dibunuh ternyata kau diselamatkan olehnya. Oh iya, aku pun tak menyangka jika kau masih hidup. Saat mengetahui bahwa kau sudah tidak ada aku benar-benar sakit hati dan tak punya tujuan hidup. Aku merasa bersalah karena tidak bisa melindungi mu," sesal Fares dan menatap sedih ke arah Aurora. Terbukti dengan mata pria itu berkaca-kaca saat menatap dirinya.
"Fares apa yang kau katakan? Kau tak melihat ku di sini? Aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir pada ku, yang aku khawatirkan adalah diri mu."
Fares berdecak dan menatap Aurora penuh dengan tatapan hangat. Di wajah Fares jelas tergambar kerinduan yang sangat mendalam di netra indahnya. Ia menundukkan kepala dan cukup lama ia pun mengangkatnya kembali sembari tersenyum tipis.
"Kau juga, lihat aku baik-baik saja. Tak perlu kau khawatirkan aku."
__ADS_1
"Tapi kau kabur dan menjadi buronan."
"Apa bedanya dengan mu."
"Berbeda, aku diselamatkan oleh para pangeran tetapi kau sama sekali tidak ada yang melindungi mu. Oh iya kau dengar Mareta juga bersama mu?" tanya Aurora memastikan jika memang saat ini Mareta tengah bersama Fares.
"Ya. Dia ada di rumah, kami bersembunyi bersama selama ini. Aku harap dia di sana aman, dia tidak tahu jika aku ke sini. Aku ke sini hanya untuk memastikan kau memang ada di tempat ini."
"Apa yang kau pikirkan? Aku ada di sini, tidak perlu kau mencariku."
"Sudah aku katakan, aku merindukanmu dan secara langsung ingin meminta maaf atas semua kelalaian ku menjaga mu," ujar Fares dan Aurora menggaruk kepalanya dengan pasrah. Padahal sudah ia katakan di awal tidak perlu lagi meminta maaf.
"Seharusnya aku yang meminta maaf dan memaksa kalian untuk memberontak, alhasil banyak para budak yang mati menggenaskan karena aku," ujar Aurora yang juga sama tidak bisa menutupi rasa bersalahnya selama ini. Ia selalu dihantu-hantui akan hal itu.
"Apa yang kita khawatirkan sama, jadi alangkah baiknya jika kita saling memaafkan."
Aurora mengangguk setuju. Mereka pun berpelukan melepas rasa rindu karena sudah lama tidak bertemu.
____________
"Apa kau yakin Aurora? Tidak mungkin putri Isabella melakukan hal tersebut."
"Aku juga tidak percaya Fares, maka dari itu aku ingin melihatnya secara langsung. Aku hanya menduga saja karena aku juga baru menyadari jika hubungan Isabella dan raja sangatlah dekat."
"Jika kau ketahuan kau akan dipenjara."
"Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Kita terus saja ikuti mereka, jika kita ketahuan itu takdir kita."
Tanpa rasa takut sama sekali Aurora mengikuti Isabella yang tengah berjalan di lorong istana sendirian. Tampak wanita itu sangat terburu-buru dan gerak-gerik Isabella membuat Aurora curiga besar.
"Aurora, kau memang tidak pernah memikirkan keselamatan mu."
Aurora menatap Fares dengan sengiran di wilayahnya. Apa yang dikatakan oleh Fares benar adanya, Aurora tanpa mengenal kata jera. Padahal ia sudah berapa kali mendapatkan hukuman dan wanita itu dengan beraninya melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kali.
Isabella yang berjalan sendirian itu pun merasa tidak nyaman. Ia merasa jika dirinya seperti tengah diikuti. Sontak Isabella berhenti dan menoleh ke belakang. Aurora yang sadar jika Isabella akan menoleh ke belakang, lantas menarik Fares untuk bersembunyi.
Aurora membekap mulut Fares agar pria itu tidak mengeluarkan suara. Fares terdiam dengan posisi seperti itu, ia menatap ke wajah Aurora dan dadanya berdetak sangat kencang.
Fares sudah lama menahan perasaan kepada Aurora. Berada dengan posisi yang sangat dekat membuat Fares makin tak bisa mengontrol perasaannya sendiri.
__ADS_1
"Hampir saja kita ketahuan."
Fares pun tersadar dari lamunannya dan menjauh dari Aurora. Seketika suasana menjadi canggung saat Aurora juga menyadari bahwa ia melakukan hal yang tak pantas kepada Fares.
"Maaf," cicit Aurora dengan napas tertahan.
Fares yang masih memerah menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berusaha untuk tetap tenang dan menatap mata Aurora dengan berani.
"Tidak apa-apa."
Aurora pun berjalan mengikuti Isabella kembali. Saat mereka melihat ke depan dengan teliti sontak pemandangan yang ada di depan membuat ia dan Fares sangat terkejut.
Di mana Isabella tengah bermesraan dengan raja. Fares kontan menutup mata Aurora agar tak melihat pemandangan dewasa tersebut.
Aurora tidak terima dan menarik tangan Fares.
"Aku sudah dewasa."
"Aku tahu, tapi tetap saja tak pantas kau lihat."
"Aku baru menyadari bahwa raja memiliki hubungan dengan Isabella."
Tiba-tiba Agustus pun bergabung dengan mereka. Aurora terkejut dan memandang pria itu. Ia hampir terpekik namun Agustus menutup mulut Aurora.
"Hyust!!" Aurora meneguk ludahnya dengan susah payah.
"Pangeran.." Aurora menatap ke arah Isabella dan raja, "kau mengetahuinya?"
"Sudah sangat lama."
"Hah? Mereka sudah berhubungan sangat lama."
"Hm."
Deg
Jadi Branard bisa jadi adalah anak dari raja dan Isabella. Oh Tuhan kenyataan apalagi ini?
___________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. Terimakasih