Dicintai 3 Pangeran

Dicintai 3 Pangeran
Part 47


__ADS_3

Isabella menampar pria yang berjubah hitam itu dengan keras. Napasnya berderu dan tangannya mengepal karena menahan amarah yang sangat dalam.


Wanita itu menatap ke arah pria tersebut dengan amarahnya yang tak bisa lagi dibendung. Laki-laki berjubah hitam tersebut sudah membangkitkan amarah di dalam lubuk hati Isabella.


"Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa kita bisa ketahuan? Kau tahu, jika Pangeran Agustus mengetahui ini perbuatanku mungkin kepalaku sudah ada di tiang gantung. Oh kau bukannya tidak pernah peduli ya kepada putri kerajaanmu sendiri!"


Mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Isabella membuat pria itu menciut dan menggelengkan kepalanya. Ya sudah berjanji kepada raja dan ratu untuk menjaga Putri mereka dan tidak menyakitinya. Iya juga nggak kan setia kepada kerajaan Shapirra.


"Putri, bukan itu maksud saya. Demi apapun saya tidak ingin Anda kenapa-napa Putri. Saya akan lebih teliti lagi. Jika sampai kita ketahuan oleh pangeran Agustus maka aku akan membawa kepala Agustus ke hadapanmu."


Mata Isabella sontak membulat. Ia tak suka mendengar ucapan pria itu. Isabella pun lantas menghembuskan pedang di depan pria itu. Laki-laki tersebut terkejut dan menatap Isabella tidak percaya.


"Berani kau melakukan itu, maka kepalamu selanjutnya akan terpisah dari tubuhmu. Kau hanya boleh menghentikannya tetapi tidak boleh membunuhnya. Jika kamu membunuhnya maka aku juga akan membunuhmu," ucap Isabella dengan lantang.


Orang tersebut yang merupakan bawahan Isabella pun bersujud di hadapan Isabella memohon ampun kepada wanita tersebut. Menarik nafas panjang dan kemudian memejamkan matanya. Dengan cara begini ia bisa dapat mengontrol perasaannya.


"Akhirnya kau tahu juga caranya meminta maaf, ingatlah kata-kataku. Kau boleh membunuh siapa saja asalkan jangan Agustus."


"Baik Putri," hormat orang tersebut lantas pergi dari hadapan Isabella.


Isabella pun berjalan memasuki rumah reot di depannya. Ia melihat seorang anak kecil yang tengah meringkuk di atas ranjang.


Senyum di wajah Isabella pun terbit. Ia menghampiri anak itu dan mengusap kepalanya penuh dengan kasih sayang.


Saat ia dirundung masalah hanya dengan melihat putranya ia bisa tenang. Isabella menahan tangis karena Branard harus menjadi anak yang dirahasiakannya.


"Ibu sangat menyayangi mu. Jika suatu hari kau membenciku aku tidak masalah. Yang penting aku bisa mendapatkan kepercayaan mu," ujar Isabella sambil mengusap rambut anaknya.


Senyum di wajahnya tak henti-hentinya hilang. Hanya di tempat ini ia bisa menenangkan dirinya. Isabella berharap pihak kerajaan tidak akan pernah mengetahui tempat ini. Inilah salah satu markasnya tempat persembunyiannya.


"Kau tahu, aku sangat mencintai kakakmu. Aku berharap dia akan menjadi ayah untuk mu bukan kakak untuk mu," ucap Isabella seraya berangan-angan Agustus bisa menjadi miliknya.


_____________


Merasa situasi sudah aman, Oceanus dan Aurora pun keluar dari persembunyian mereka. Oceanis menghirup udara segar dengan rakus.


Akhirnya mereka sudah dapat menikmati suasana. Sebelumnya keadaan begitu sangat mencengkam. Bagaimana tidak, Oceanus dihantui oleh rasa ketakutannya jika ia diketahui oleh Agustus dan Sargon.


"Tidak apa-apa. Semuanya aman," ucap Oceanus menenangkan Aurora.


Aurora menghela napas dan tersenyum ke arah Oceanus. Meskipun ia tak bisa menyembunyikan perasaannya yang sangat merindukan para pangeran tersebut.


"Aurora maafkan aku. Bagaimana pun aku tahu jika kau sangat merindukan mereka. Tapi tidak bisa kah kau menghilangkan salah satu perasaan mu dari mereka. Aku ingin kau hanya mencintai ku."


"Oecanus, maafkan aku. Aku akan berusaha untuk itu, aku terlalu pengecut dan tak berani untuk mencoba mencintai hanya satu orang. Lagipula ini sangat menjijikan," ujar Aurora dan tersenyum pedih karena keadaannya yang benar-benar sangat memalukan.


"Aku tahu." Oceanus memeluk Ana. Mereka berdua asik menikmati suasana hingga Agustus dan Sargon yang sedari tadi hanya berpura-pura pun keluar dari persembunyian mereka.


Aurora dan Oceanus terkejut dan hendak melarikan diri. Oceanus menarik tangan Aurora dan kemudian mengajak wanita itu segera berlari meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Namun Agustus langsung melemparkan pedang di depan Oceanus hingga Oceanus terkejut dan menoleh kepada saudaranya.


"Ada apa gerangan Pangeran mengusik kami?"


"Oceanus!! Kau benar-benar masih hidup? Aku sudah lama menyelidiki kematian kalian, semua barang bukti seakan dipalsukan aku tahu kau masih hidup," ujar Agustus dengan perasaan senang. Ia melirik wanita yang ada pada Oceanus.


Agustus tersenyum terharu kepada wanita itu. Namun Oceanus yang mengerti tatapan Agustus menarik wanita tersebut dan mendekapnya sangat erat.


"Kau tak berhak untuk menatapnya seperti itu, dia kekasihku."


Sargon dan Agustus teridam. Mereka juga sudah mendengar semuanya dari semak-semak.


"Aku tahu, jika kau dan dia adalah pasangan kekasih."


Aurora menundukkan kepala dengan perasaan tidak enak. Mata Aurora berkaca-kaca melihat Agustus dan Sargon. Aurora merindukan mereka.


"Pangeran," lirih Aurora.


"Aurora," ucap Sargon. "Kau sangat cantik."


"Kalian tidak berhak untuk menatap suka kepada kekasihku. Lagian status kalian adalah buronan, aku dan Aurora sebanding."


Agustus memutar bola matanya malas ke arah adiknya. Ternyata jika adiknya sudah jatuh cinta maka laki-laki itu sangat posesif.


Sargon berusaha untuk menahan tawa. Beginikah Oceanus yang terkenal sangat pemberani dan anti wanita tetapi saat bertemu dengn orang yang berhasil menaklukkan hatinya ia berubah menjadi pria yang sangat imut dan menggemaskan.


"Aku tahu. Tapi aku semakin tidak bisa menahan tawa ku saat melihat mu," ujar Sargon meledek Oceanus.


"Apa maksudmu?"


"Sudahlah. Oceanus kenapa kau tak ingin ke istana?"


"Kau tahu istana sangat kejam, untuk apa aku hidup di dalam lingkaran kekejaman raja yang tak punya hati bahkan tak mengenal anaknya sendiri."


Jika hal itu Agustus pun setuju dengan adiknya. Ayahnya bak binatang yang memang tak punya hati dan tak bisa mengenali orang. Ia menganggap anaknya sama seperti binatang dan berdalih karena keadilan. Nyatanya jika pun ayahnya menginginkan keadilan seharusnya ia bisa memberikan rasa adil untuk orang-orang yang memiliki status rendah.


"Aku tahu itu Oceanus. Aku juga membencinya. Aku ingin melakukan pemberontakan."


Mata Aurora membuka lebar seketika. Ia memandang Agustus dengan tidak percaya. Hal yang tengah direncanakan Agustus membuatnya terkejut setengah mati. Ia tak ingin Agustus bernasib sama sepertinya.


Aurora sudah pernah melakukan pemberontakan dan semuanya berakhir gagal. Alhasil ia harus hidup dengan penuh gunjingan.


"Aku tidak setuju. Bagaimana......"


Aurora terdiam saat Agustus memandangnya dengan sangat dalam. Laki-laki tersebut menyentuh kepala Aurora dan mengusapnya dengan lembut. Aurora teringat saat ia bekerja untuk Agustus dan pria itu juga kerap kali melakukan hal yang sama.


"Kau dan aku berbeda Aurora, aku memiliki cukup kekuatan dan aku juga masih memiliki Sargon dan sekarang aku ingin mengajak Oceanus bekerjasama. Melengserkan raja dari tahtanya. Apakah orang seperti ayah ku pantas untuk berkuasa di negeri ini? Apakah kau ingin selamanya kita hidup dalam kekangan ayah ku? Tidak hanya kau yang merasakan dampaknya aku anak-anaknya pun merasakan hal yang sama." Agustus menatap ke arah Oceanus yang memasang wajah masam. Agustus tersenyum ke arah adiknya. "Oceanus, ku harap kau mengerti. Kembalikanlah ke kerajaan."


Oceanus memalingkan wajah. Ia paling malas untuk ke istana kembali. Lagipula ia pernah berkata tak akan kembali ke tempat itu lagi.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku bisa ke sana. Jika aku dan Aurora pulang ke istana maka kami akan dieksekusi."


"Aku bisa menjamin kalian. Meksipun paman membenci kau Oceanus, tapi aku sering mendengarnya dia menangis setiap malam merindukan kalian."


Aurora dan Oceanus teridam. Mereka dipaksa untuk bersama kembali dan pulang ke istana. Sebenarnya Aurora juga ingin kembali ke istana jauh di dalam lubuk hatinya.


"Terserah mu. Jika terjadi sesuatu pada kami aku tidak akan memaafkan mu."


"Apa ini bukan jebakan? Kalian sengaja kan mencari kami dan berpura-pura baik kepada kami dan kalian berdua pun membawa kamu kepada raja," duga Aurora penuh dengan waspada kepada pria di depannya.


Oceanus yang mendengar dugaan Aurora pun bersikap siaga. Ia tak ingin sesuatu yang buruk menimpa Aurora.


"Kau...."


"Seburuk itu kah kami di mata kalian?" tanya Sargon sembari duduk di batang pohon besar. "Kau bisa melarikan diri pun karena kamu membantu menghadang para pengawal. Mana mungkin aku bisa menyerahkan orang yang aku cintai kepada raja begitu saja."


Spontan semua orang menatap ke arah Sargon. Sargon terdiam dan menatap Aurora dengan mata tajamnya. Aurora meremas tangannya ketakutan.


"Kau takut pada Sargon?" tanya Oceanus.


Aurora menggelengkan kepala. Ia bukan takut karena Sargon namun ia terkejut dengan pernyataan pria itu. Apakah benar Sargon mencintainya?


"Kau tahu kami bertiga sangat mencintai mu."


Aurora tak mampu menahan keterkejutannya. Ini bagaikan boomerang bagi Aurora. Tak mungkin ia menerima ketiga pangeran itu. Terlebih ketiganya sama-sama keras kepala dan tak ada yang mau mengalah. Juga sangat posesif.


"Tapi hanya aku yang akan memiliki mu." Aurora menatap ke arah Oceanus yang berucap. Memang ia dan Oceanus sudah menjalin hubungan. Aurora juga sangat mencintai pria itu.


Agustus dan Sargon menundukkan kepala. Oceanus pantas untuk mendapatkan Aurora karena hanya pria itu yang berani maju menyelamatkan Aurora pada hari itu.


"Jika kau hanya mencintai Oceanus, kami tidak apa. Lagipula Oceanus pantas bersama mu. Karena Oceanus kau bisa selamat."


"Aku tidak menginginkan itu. Tapi bagaimana dengan para budak yang ikut memberontak bersama ku?"


"Sebagian sudah dieksekusi dan sebagian masih di penjara menunggu giliran."


Jantung Aurora berdetak dua kali lipat. Fares? Bagaimana dengan laki-laki tersebut, tubuh Aurora bergetar jika ia mengingat laki-laki tersebut. Fares termasuk pimpinan, pasti ia akan mendapatkan hukuman yang sangat berat.


"Bagaimana dengan Fares?"


Agustus menghela napas tipis, "dia baik-baik saja. Teman mu itu berhasil kabur bersama Mareta. Mungkin dia belajar taktik kabur dari mu."


Aurora pun dapat bernapas dengan lega.


"Aku sangat senang dia masih hidup. Mungkin aku akan bertemu dengannya nanti dan meminta maaf."


"Kemampuan perang Fares sangat bagus, ia cocok untuk masuk dalam pasukan kita nanti."


_________

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa untuk like dan komen setelah membaca.


__ADS_2