Dicintai 3 Pangeran

Dicintai 3 Pangeran
Part 25


__ADS_3

Aurora melempar semua buku yang ada di tangannya hingga berserakan. Dari tadi ia disuruh belajar mengenai menghitung dengan cara menghitung di zaman tersebut yang berbeda dengan di zaman moderen. Aurora menarik napas panjang sejenak terdiam meratapi nasibnya yang entah kapan akan berakhir dengan baik dan kembali ke kehidupan semula lalu hidup dengan tenang tanpa ada peperangan dan ancaman dari pangeran tersebut.


Wanita itu memajukan bibirnya sambil menggeram marah. Suara gertakan gigi terdengar nyaring dari mulut wanita tersebut sementara di bawah sana tangannya mengepal.


"Pangeran sialan," maki Aurora sambil meniup poni kecil miliknya. Wanita itu mendengus dan menyembunyikan kepalanya di antara kedua kaki. "Kapan aku kembali lagi, kapan Oh Tuhan."


Aurora memejamkan mata dan tiba-tiba ada gumpalan kertas yang dilemparkan kepadanya. Aurora menatap ke atas dan melihat wajah dingin Agustus tengah mengamati dirinya.


Baru saja menjadi trending topik di dalam hati Aurora dan tiba-tiba pria itu datang dan tengah berdiri di depannya. Wanita itu menyengir agar Agustus tidak memberikan hukuman padanya dan mau mengampuni dosa-dosa yang Aurora perbuat.


"Eh Pangeran," ujar Aurora lalu sedikit tertawa kecil.


Agustus mendengus dan memandang semua tumpukan buku yang berserakan di lantai. Aurora ikut menatap ke arah pandangan pria itu dan melotot melihat apa yang telah ia lakukan kepada buku-buku tersebut.


"Habislah aku. Mungkin sudah saatnya aku pergi dari dunia ini," ujar Aurora dalam hati sambil menggigit bibir dengan kuat.


Wanita itu bimbang dan cemas. Ia tak tahu nasib seperti apa ke depannya yang akan menimpa dirinya. Semoga saja pangeran ini memiliki hati yang lembut walau itu mustahil.


"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Agustus dengan nada datar. Aurora meringis mendengarnya, tidak bisakah pria ini sedikit ramah dan bersahabat bukannya malah membuat dirinya ketakutan.


"Pangeran, ini tidak seperti apa yang kau kira. Tadi buku-buku ini jatuh dan aku berniat ingin mengambilnya, demi apapun ini tidak seperti yang kau pikirkan."


"Lalu samakah seperti yang aku lihat?" tanya Agustus lagi dan mematahkan ucapan Aurora.


"Pangeran aku tidak berbohong."


"Jika kau berbohong kira-kira hukuman seperti apa yang kau dapatkan?" Pertanyaan Agustus membuat Aurora terdiam dan tak tahu hendak berkata apa.


"Kan belum tentu Pangeran," keras Aurora padahal jelas-jelas dirinya bersalah dan masih sempat-sempatnya mencari pembelaan diri.


Agustus tertawa dan tersenyum miring cukup mengerikan. Aurora yang melihat itu bergidik ngeri. Dari tatapan tajam Agustus saja sudah membuat Aurora kalah telak.


"Baiklah, jika kau benar-benar berbohong maka kau seharian penuh harus melayani aku."


"Bukannya saya memang budak Anda Pangeran?"


"Tidur bersama ku."

__ADS_1


"Hah?" tanya Aurora bengong.


Agustus menghela nafas panjang kemudian memejamkan matanya lalu membukanya kembali sambil menatap wanita itu pasrah. Ia mendekati Aurora dan lantas Aurora pun berjalan mundur hingga punggungnya terbentur oleh dinding.


Wanita itu terkesiap karena tidak ada akses untuk dirinya kabur dikarenakan Aurora sudah terperangkap dalam kurungan tangan Agustus. Aurora menahan napasnya sambil menatap pria itu minta dilepaskan olehnya.


Namun Agustus seakan mengabaikan Aurora dan tak menganggap ketakutan wanita itu. Agustus menghela napas dengan banyak dan tersenyum tipis.


"Apa yang kau pikirkan." Ternyata dugaan Aurora salah. Pria itu malah menyentil keningnya dengan kuat hingga membuat merah di kening Aurora.


Aurora menahan sebal dan mengepalkan tangannya dengan kuat. Mata wanita itu membulat namun seketika pandangannya meredup melihat Agustus membesarkan matanya.


"Kau!! Lepaskan aku Pangeran!"


"Aku benar, bukan?"


"Ya, kali ini kau benar Pangeran," ujar Aurora kesal dan kemudian memaksa Agustus melepaskan dirinya.


Wanita itu menatap marah Agustus. Dan akhirnya ia pun bisa keluar dari kukungan pria keji tersebut.


"Maaf Pangeran, sepertinya ingkar janji lebih baik. Ingat kau tidak boleh keluar dari kamar maka tetaplah di sini dan jangan mengejar ku." Aurora menjulurkan lidahnya mengejek Agustus. Kali ini ia memanfaatkan kesempatan dengan baik.


Agustus mengangguk-anggukkan kepala sambil bertopang dagu. Seringaian terbit di wajahnya. Ia dihukum dan dikurung di kamar ini bukan berarti dirinya tidak bisa mengontrol Aurora di luar.


"Kau akan tahu setelah kau pulang ke sini."


Agustus memejamkan mata lalu berbalik.


____________


"Kau tahu, pangeran Agustus sangatlah menyebalkan. Aku tak senang dengannya, seolah dia saja yang paling hebat," ujar Aurora mendumel kesal.


Bayangkan saja dirinya disuruh membaca dan menyalin buku-buku kuno dan tidak ada sama sekali komputer untuk dirinya mengcopy tulisan tersebut.


Aurora membenci ketertinggalan di zaman ini yang berdampak pada dirinya. Benar-benar tertinggal. Ditambah di sini tidak ada sama sekali listrik dan alat elektronik, padahal Aurora sangat ingin bermain ponsel dan melupakan semua masalahnya dan berseluncur di media sosial sambil melihat komentar dari para penggemarnya yang terkadang sangat asyik dan juga menyebalkan.


"Huh, aku harap bisa lepas dari dia secepatnya, aku sangat lelah Fares." Aurora kabur ke tempat perkumpulan para budak yang dibuatnya dan sangat rahasia.

__ADS_1


Fares memandang wanita cantik di depannya. Ia tersenyum tipis memandang keindahan perempuan itu. Fares menundukkan kepala lalu mengangkatnya.


"Kau tahu siapa yang kau bicarakan Aurora? Dia adalah pangeran kita, dan kita tidak boleh mengucapkan itu."


Aurora memandang Fares tidak percaya. Wanita itu menunjuk wajah Fares. "Apa yang kau katakan? Dia adalah pangeran kita? Aku tak sudi menjadi bawahannya, sampai kapanpun aku tidak akan perang tunduk kepadanya. Huh, menyebalkan kenapa orang seperti pangeran Agustus dan Pangeran Oceanus sama si Sargon itu harus hidup? Dan kau Fares bukannya aku meminta kau mempelajari ilmu bela diri dan semua buku yang aku berikan kepadamu, ingat kita harus melakukan pemberontakan kepada mereka. Kita tidak boleh tinggal diam ketika harga diri kita diinjak-injak oleh mereka," ujar Aurora tegas.


Fares tersenyum lebar. "Aku sudah mempelajarinya dengan benar, dan aku juga sudah belajar sendiri. Tapi tidak ada guru yang mengajari, aku sedikit kesusahan karena itu. Maafkan aku belum bisa sepenuhnya memenuhi keinginan kamu," ujar Fares penuh dengan penyesalan.


"Heh apa yang kau katakan, itu sudah termasuk sangat hebat Fares. Kau jangan minder kau keren."


"Tetap saja aku belum bisa sepenuhnya melakukannya."


"Kan masih ada waktu lain." Aurora menatap Cuaca yang cukup mendung dan gelap.


Aurora mengercutkan bibirnya tak senang. Jika hari mendung itu artinya ia harus pulang ke istana, karena banyak tugas yang belum diselesaikan oleh Aurora.


"Teman-teman semua! Aku pulang dulu ya, terima kasih kalian sudah mau mengikuti pembelajaran hari ini dan datang ke sini."


"Sama-sama Aurora, jika kau punya kesempatan untuk kabur datanglah ke sini. Aku sangat ingin belajar sepertimu, jujur aku sangat lelah menjadi budak," ujar salah satu teman budaknya.


"Pasti."


Aurora pun keluar dari tempat rahasia itu dan berjalan menuju ke arah istana Agustus. Di pertengahan jalan Aurora bertemu dengan Oceanus yang memiliki tujuan sama.


"Pangeran!"


"Aurora, kau tidak apa-apa? Aku dengar kau diserang oleh Isabella."


"Ah iya aku ingat, kemarin Grace memanggil mu, bukan? Untung sudah ada Agustus yang menolongku."


Oceanus memandang Aurora dengan seksama. Tidak tahu karena apa setiap dia mendengar nama pria lain dari mulut Aurora hatinya bagaikan ditekan.


"Ada apa denganku? Apakah aku menyukai Aurora?"


______________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


MAAF YAH JARANG UPDATE KARENA SIBUK DENGAN PERSIAPAN 17 AGUSTUS DAN SAYA TERLIBAT DALAM. UPACARA TERSEBUT MAKANYA GAK PUNYA WAKTU UNTUK NULIS


__ADS_2