Dicintai 3 Pangeran

Dicintai 3 Pangeran
Part 39


__ADS_3

Jantung Agustus bak hendak copot saat mengetahui jika orang yang menjadi musuh dan juga dalang dari penyerangan istana adalah seorang wanita.


Terlebih lagi wanita itu sangat dekat dengannya, dan telah menaklukkan hatinya. Ia benar-benar tak menyangka dan Agustus tak bisa menahan rasa sakit yang juga menggerogoti hatinya saat mengetahui kebenaran itu. Perutnya mengeluarkan darah dan ia berlutut di depan Aurora. Air matanya mengalir di wajahnya. Agustus terkahir kali menangis di saat kepergian Grace dan sekarang ia kembali menangis.


Perasaan Agustus saat ini bercampur aduk. Antara kecewa dan sakit hati kepada dirinya sendiri telah menusuk orang yang sangat dicintainya. Agustus menelan ludahnya dengan perasaan tak tentu dan merebut tubuh Aurora dari Fares.


"Apa yang kau lakukan." Fares hendak mengacungkan pedang di leher Agustus namun Aurora yang masih mendapatkan kesadaran pun menghentikan pria itu.


Agustus tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Aurora. Pria itu mengusap kepala Aurora dan menatap ke seluruh tubuh wanita itu yang penuh dengan darah.


"Kenapa kau melakukan ini Aurora?Kenapa?" tanya Agustus dengan perasaan kacau.


Aurora menitikkan air matanya. Tangannya yang lemah menyentuh wajah laki-laki tersebut. Senyum mengembang di pipi Aurora.


"Maafkan aku, aku bersalah dan aku siap dihukum. Tetapi satu permintaan ku, ampuni mereka. Mereka hanya mencari keadilan dan ingin merdeka dar status i budak. Bukan keinginan mereka terlahir sebagai budak," ucap Aurora dengan nada sedikit terbata-bata. Ia mendesis merasakan sakit yang luar biasa di luka yang semakin terkoyak lebar dan mengeluarkan banyak darah.


Agustus meraih tangan Aurora yang menyentuh wajahnya. Ia menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Aurora. Ternyata mereka menentang sistem budak yang merugikan mereka, pantas saja Agustus rasanya tidak asing dengan prajurit-prajurit itu.


"Maafkan aku. Aku... Aku sudah mengecewakan mu, aku sudah membuat mu seperti ini."


"Aku tidak perlu diberi rasa kasihan mu pangeran. Aku hanyalah seorang pengkhianat kerajaan Engrasia, kau seorang pangeran kerajaan Engrasia dan kau tak pantas mengkhawatirkan aku."


Agustus menggelengkan kepala. Mereka menangis bersama. Aurora terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Agustus menahan napas dan meratapi Aurora yang sudah menutup matanya. Pria itu menangis dengan sangat kencang dan ia memberikan kode untuk menghentikan peperangan.


Sontak Sargon dan Oceanus menatap ke arah Agustus. Mereka menghampiri Agustus. Namun apa yang mereka lihat di sana sangat membuat mereka syok dan terdiam. Sargon gelap mata dan langsung turun dari kudanya. Begitu juga dengan Oceanus. Mereka menatap tubuh Aurora yang sudah tak sadarkan diri.


"Apa yang sedang terjadi?" tanya Oceanus dan bersimpuh di samping Aurora.


Sargon terdiam saat melihat pakaian Aurora. Jelas wanita itu adalah seorang pemimpin dari pasukan yang tengah mereka hadapi. Kehebatan Aurora tentunya telah menjadi tanda tanya dari Sargon. Apakah benar wanita ini yang memimpin peperangan ini? Atau Aurora hanya dijebak?


Ia pun teringat kebersamaannya bersama Aurora. Aurora kerap bertanya mengenai strategi perang dan ia baru sadar jika strategi perang yang digunakan pernah ia katakan kepada Aurora meksipun itu hanyalah sebuah keisengan dirinya waktu itu. Namun ia tak menyangka strategi itu telah memakan banyak korban dari pihaknya.

__ADS_1


"Aurora," lirih Sargon dan menatap luka tusukan di tubuh Aurora. "Siapa yang sudah menusuknya." Sargon menatap ke arah Agustus. Napasnya berderu dan langsung menghunuskan pedang di depan Agustus.


"Sargon! Hentikan, Agustus mungkin tidak tahu jika itu Aurora, jika pun kau berada di posisi yang sama mungkin kau juga akan melakukan apa yang dilakukan oleh Agustus."


Sargon menitikkan air matanya dan menjatuhkan pedangnya. Sargon bersimpuh di samping tubuh Aurora.


"Kenapa kau harus menjadi pengkhianat? Apakah kau selama ini tidak melihat perhatian kami?" tanya Sargon dan tertawa sakit.


Perang pun berhenti dengan pihak Aurora yang kalah. Melihat pemimpin mereka sudah dibunuh tentunya membuat formasi itu kacau balau. Kesalahan mereka karena tidak bisa menjaga pemimpin dengan baik.


Aurora seorang budak sekaligus pengkhianat besar di kerajaan Engrasia namun ia nyatanya mendapatkan simpati besar dari ketiga pangeran sekaligus.


Agustus mengangkat tubuh Aurora dan membawa wanita itu dalam gendongannya melewati semua pasukan yang menyoraki Aurora.


"SIAPAPUN YANG BERANI MENGHINA DIA MAKA SIAPKAN DIRI KEPALA KALIAN AKAN TERPISAH DENGAN TUBUH KALIAN!!" teriak Oceanus sambil mengacungkan pedang di tengah-tengah pasukan tersebut.


___________


Aurora pun sadar jika ia belum pergi dari dunia ini. Ia menatap dirinya yang dirantai dengan kencang namun tetap berusaha untuk tetap tegar menahan rasa sakit di setiap tubuhnya.


Terlihat jelas kekecewaan yang sangat mendalam di mata Agustus. Dan Aurora tahu apa penyebabnya.


"Apa yang sudah kau lakukan benar-benar sangat memalukan!"


Para pengawal pun membuka penjara yang telah mengurung Aurora. Aurora dibawa secara paksa. Sudah hampir satu Minggu ia tak sadarkan diri namun berkat rasa simpati para pangeran ia pun mendapatkan perawatan di penjara.


Aurora didudukkan di kursi untuk diintrogasi. Wanita itu melirik Agustus, Oceanus dan panegran Sargon yang tampak sangat kecewa padanya.


"Katakan apa motif mu melakukan pemberontakan?" tanya Oceanus seraya memandang Aurora dengan pandangan marah.


Aurora menundukkan kepalanya. Ia mendongak kembali dan menatap para pangeran tersebut. Air mata mengalir di wajahnya.

__ADS_1


"KATAKAN!!" bentak Agustus dengan tangan terkepal. Ia mengambil cambuk yang dipegang oleh pengawal dan memukulkannya ke tubuh Aurora.


Aurora terkejut hingga memuntahkan darah yang begitu banyak. Ia memandang Agustus penuh rasa sakit.


"Sebenarnya aku tidak pernah menyesal. Aku melakukan ini untuk para budak. APAKAH KALIAN SADAR!! SIKAP KALIAN SANGAT SEMENA-MENA KEPADA KAMI YANG HANYA SEORANG BUDAK! KALIAN MENGANGGAP KAMI REMEH DAN MENGHINAKAN KAMI! LANTAS KAMI TERIMA BEGITU SAJA?" teriak Aurora dan menangis sambil mengatakannya.


Seluruh panegran tersebut terdiam mendengar teriakan Aurora. Mereka sama-sama tak menyangka jika karena hal itulah Aurora melakukan penyerangan.


Sementara itu raja sangat marah kepada Aurora saat mengetahui bahwa budak tersebutlah yang melakukan pemberontakan. Eksekusi Aurora sebentar lagi akan dilakukan. Ia mendapatkan hukuman mati dan dihukum dengan cara yang sangat keji.


Untungnya para pangeran meminta raja agar menunda hukuman tersebut. Para budak yang ikut memberontak sudah sebagain dieksekusi. Namun mereka tidak pernah menyesal telah memberontak. Mereka mati penuh dengan kepuasan.


"Aurora, apakah di hati mu sama sekali tidak pernah merasakan sesuatu kepada kami?" tanya Sargon dengan nada putus asa.


Aurora terdiam. Perasaan itu baru disadarinya, namun ia tak ingin para pangeran mengetahuinya. Pastinya ia akan digunjingkan dan ditertawakan oleh panegran tersebut.


"Aku tidak pernah merasakan sesuatu selain perasaan membenci kalian semua!!" teriak Aurora dengan penuh kebohongan. Nyatanya ia bahkan tega tertusuk pedang patah milik Agustus hingga membuatnya mendapatkan luka yang sangat parah.


Pada saat itu ketiga pangeran tersebut mendapatkan patah hati mereka yang sangat luar biasa. Agustus mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang bodoh karena sudah mencintai seorang budak dan telah melakukan pengkhianatan.


Ia pun sadar Aurora mendekati mereka untuk melakukan pemberontakan dan bukan karena rasa kasih sayang. Agustus tersenyum tipis.


"Baiklah jika itu maumu. Besok kau akan mendapatkan hukuman mati dan dieksekusi di tiang alun-alun kota!" Memang kedengarannya hukum itu sangatlah tidak manusiawi. Namun hal itu memang benar adanya.


Dan pada akhirnya Aurora akan mati di dalam novel ini di tangan orang yang sangat dicintainya. Namun Aurora merasa puas akan hal itu. Di dalam novel ini ia mengetahui kebahagiaan dan di dalam novel ini pula ia mengerti dengan penderitaan.


__________


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA

__ADS_1


__ADS_2