Dicintai 3 Pangeran

Dicintai 3 Pangeran
Part 27


__ADS_3

Mata Agustus menggelap melihat darah bersimbah di dekat kekasihnya. Sementara sang kekasih tergeletak tak sadarkan diri. Agustus menatap tubuh yang sudah menjadi mayat tersebut.


Dengan perasaan tak menyangka ia duduk di samping jasad Grace lalu menyentuh wanita itu penuh dengan kasih sayang.


Air mata keluar dari pupil indah sang pangeran. Hanya satu tetes dan setelahnya tidak ada lagi air mata yang keluar dari netra indahnya.


Agustus sudah digelapi oleh perasaan hancur sehancur-hancurnya. Wanita yang sangat dicintainya kini telah pergi mendahului dirinya dan mengingkari janji mereka bahwa tetap terus bersama-sama hingga hari tua.


Agustus mengusap surai indah milik wanita itu. Susah memang mengikhlaskan seseorang yang sudah bersarang di hatinya. Namun anehnya Agustus tidak menangis lebih dari menitikkan satu tetes air mata.


Darah yang bersimbah mengenai jubah kebesaran Agustus. Pria itu mengambil satu tetes darah milik Grace lalu mengamatinya dengan penuh ketelitian.


Agustus mencium darah tersebut dan kemudian ia menarik napas cukup panjang. Itu adalah darah yang sudah bercampur racun. Setahu Agustus wanita itu memang dalam kondisi lemah, namun Agustus tak pernah tahu bahwa selama ini Grace telah mengonsumsi racun.


Sedangkan Grace sendiri tahu apa yang dikonsumsinya setiap hari, tapi ia tetap tidak mau menghentikan meminum teh buatan milik Isabella.


"Apakah aku datang terlambat kekasihku? Kau membenciku karena ini?" tanya Agustus sambil memeluk kepala wanita tersebut.


Kebetulan tadi Ia hanya berniat ingin berkunjung ke kamar wanita itu, namun Agustus disambut oleh tubuh tak bernyawa milik kekasihnya.


"Kau boleh membenciku dan marah pada ku. Aku juga akan membalaskan dendam kepada wanita itu."


Setelah ini Agustus akan memastikan siapapun yang telah membunuh Grace akan dijatuhi hukuman yang sangat berat.


Pria itu mengangkat tubuh Grace lalu meletakkannya di atas kasur. Ia menganggap seolah-olah Grace masih hidup dan tengah tertidur nyaman.


Lalu kemudian Agustus keluar dari kamar itu dengan raut wajah datar. Jubahnya yang terkena darah milik Grace menyapu lantai hingga meninggalkan jejak darah di lantai yang ia lintasi tersebut.


Para pengawal yang berjaga di sana terkejut melihat darah tersebut. Namun tak ada di antara mereka yang memiliki nyali untuk mengutarakan pertanyaannya.


Agustus terus berjalan dengan wajah datar hingga ia akhirnya bertemu dengan sang adik, Oceanus. Oceanus berdetak dua kali lipat melihat darah yang terdapat di jubah Agustus.


"Apa yang telah terjadi? Kenapa bisa ada darah di bajumu?"


"Grace sudah dibunuh oleh seseorang. Aku akan memastikan siapapun orang itu yang telah membunuhnya aku akan membalaskan dendam Grace dan tidak akan perang membiarkan siapapun yang berhubungan dengan dirinya juga hidup," ujar Agustus dengan mata menggelap.

__ADS_1


Oceanus yang mendengar berita tersebut langsung berlari ke kamar Grace. Namun tiba-tiba sebuah pedang mengacung di lehernya menghentikan jalannya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Biarkan Grace beristirahat. Mungkin selama ini ia lelah, siapapun tidak boleh masuk ke kamarnya. Aku tidak akan pernah memberikan izin, termasuk itu kau."


"Agustus apa yang kau lakukan?" tanya Oceanus marah. "Kau sendiri mengatakan jika Grace sudah tidak ada. Aku hanya ingin memastikan keadaannya, kenapa kau menghentikan ku. Kau bersikap seolah-olah dia masih hidup."


"TUTUP MULUT MU, OCEANUS!! DIA MEMANG SANGAT LELAH, KARENA ITU DIA BERISTIRAHAT.... dan pergi dari dunia ini," ucap Agustus dengan perasaan putus asa.


Agustus memang tidak menangis tersedu-sedu, tetapi pria itu menjadi semakin gila.


"Kau pernah mengatakan pada ku jika kau tidak pernah mencintainya dan ia hanya kau jadikan tameng mu," ujar Oceanus yang mampu membuat api besar pada Agustus.


"Jangan pernah ingatkan itu!!"


"Sadarlah Kak, dia sudah tidak ada. Bukan hanya kau yang tidak terima, aku juga tidak pernah menerima kematiannya, biarkan aku melihat jasadnya. Aku juga akan membunuh siapapun yang sudah menyakiti Grace," ujar Oceanus dan kemudian menjatuhkan pedang Agustus.


Agustus menutup mulutnya rapat lalu pedang yang berada di tangannya terjatuh. Oceanus tak tega melihat keadaan Agustus yang dalam keadaan terpuruk. Pria itu berlari ke kamar Agustus ingin melihat jasad Grace.


"UMUMKAN KEPADA SIAPAPUN JIKA HARI INI KEKASIH KU SUDAH TIDAK ADA!!" terbaik Agustus kepada para pengawal. Apa yang ia katakan merupakan perintah yang wajib untuk ditaati.


__________


Agustus membawa papan nama tersebut dan berjalan paling depan memimpin para pengawal yang membawa peti jenazah Grace. Wajahnya datar dan juga pucat. Antara rela dan tidak rela sang pujaan hati akan memasuki rumah barunya.


Aurora menatap Agustus dari barisan para anggota keluarga kerajaan yang tengah berkabung atas kematian Grace. Aurora menahan napas dan tak sanggup melihat peti mayat tersebut. Di dalam sana adalah Grace yang merupakan tokoh utama dari novel Tears' dan Aurora menyangka jika novel berakhir dengan ending yang sangat menyedihkan dan tak tahu jika kisah terus berlanjut. Sayangnya Aurora hanya membacanya setengah jadi ia hanya mengetahui isi dari novel tersebut hanya beberapa bagian saja.


"Aku tidak menyangka jika akan memiliki ending yang memilukan, jika aku tahu endingnya akan seperti ini lebih baik aku tidak membacanya dari awal," ujar Aurora lirih sambil menatap sedih ke arah peti mati yang diarak tersebut. "Putri Grace yang malang, aku tak menyangka kisah cinta mu akan berakhir dengan cara yang tragis."


Orang yang di samping Aurora dan mendengar celotehan wanita itu pun terheran-heran. Apa yang sudah dikatakan oleh Aurora membuatnya tidak mengerti.


"Apa yang kau bicarakan? Kau tak tahu tidak baik membicarakan anggota keluarga kerajaan," tegur seorang bangsawan muda kepadanya.


"Memangnya Grace adalah anggota kerajaan? Dia hanyalah orang asing yang beruntung menjadi tunangan pangeran Agustus," sahut temannya yang tidak setuju dengan ucapan sang teman.

__ADS_1


Aurora merasa tidak terima. Grace sudah tidak ada tetapi masih ada orang yang tega membicarakannya seperti ini dan pada saat ia baru saja meninggalkan dunia.


"Apa yang kau katakan? Garce sudah menjadi tunangan pangeran Agustus dan tentunya dia juga secara tidak langsung sudah menjadi bagian dari anggota keluarga kerajaan. Kau mengatakan tentang Grace seperti itu apa kau tidak takut jika pangeran Agustus mendengarnya dan memancung kepala mu?" Aurora benar-benar tidak terima dengan orang yang menghina Grace.


"Kau hanya seorang budak tak pantas menegur ku. Kau tahu kau juga akan dipancung jika aku melaporkan kepada pangeran Agustus kau sudah berani menghina bangsawan seperti ku."


Aurora mencibir dalam hati. Wanita di depannya ini adalah sosok wanita yang kepedean. Aurora menghela napas panjang lalu mengamati wanita yang katanya dari keturunan bangsawan namun sikapnya tidak mencerminkan statusnya yang tinggi dan terhormat.


"Lakukan saja jika kau berani, kau tahu jika kau mengatakan itu kepada pangeran sama saja dengan kau memberitahukan kejahatan mu terhadap Putri Grace."


"KAU!!" ujar orang itu geram dan ingin memukul wajah Aurora.


"Sudahlah, apa yang dia katakan benar. Kau tak ingin dihukum dan dipenjara, bukan? Maka tutuplah mulut mu," ujar temannya dan membawa wanita tersebut menjauh.


Aurora menghela napas panjang dan menyampirkan rambutnya. Ia mendecih sambil mengejek wanita itu dari belakang wanita tersebut.


"Dasar bangsawan sok-sokan."


Aurora menatap ke arah depan dan ia melihat sahabat Grace yang ada di barisan keluarga Grace dan tengah merasakan kesedihan serta wajah yang lesu. Wanita itu pasti sangat sedih jika sahabat baiknya sudah tidak ada. Namun, Aurora tidak akan pernah melupakan apa yang dilakukan oleh wanita tersebut kepadanya.


"Aku memang salut kepada mu yang selalu ada untuk putri Grace, tetapi aku juga tidak akan pernah melupakan kau pernah ingin membunuh ku."


Aurora menatap rombongan pangeran Oceanus dan Sargon yang juga mengikuti peti mati tersebut. Sargon melihat ke arah Aurora. Tatapan mereka bertemu pandang. Sejenak Aurora terdiam sambil meneguk ludahnya kasar.


Senyum tipis di wajah pangeran Sargon untuknya membuat Aurora salah tingkah. Sementara wanita yang berada di sampingnya heboh bukan main.


"Apa kau tak lihat, pangeran Sargon tersenyum ke arah ku," ujar wanita yang di samping Aurora.


"Jelas-jelas dia tersenyum ke arah ku."


Aurora lantas langsung menatap ke arah para wanita tersebut yang saling rebut. Seketika Aurora sadar jika bukan dirinya satu-satunya yang berada di sini. Dan sudah pastinya senyuman itu bukanlah untuknya.


"Kenapa dengan ku? Kenapa rasanya tidak ikhlas?"


____________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2