Dicintai 3 Pangeran

Dicintai 3 Pangeran
Part 40


__ADS_3

Aurora dibawa paksa oleh para pengawal dan ia terus dibentak untuk berjalan. Semua orang menyorakinya. Di wajah wanita itu sama sekali tidak terdapat kehidupan. Mungkin semua orang akan sepakat jika Aurora adalah orang yang sangat menyedihkan.


Ia diarak menuju ke tiang gantung dan masyarakat pun melempari Aurora dengan sayur-sayuran dan telur busuk. Agustus, Oceanus, dan Sargon sudah menunggu Aurora di tempat eksekusi.


Agustus memejamkan mata ketika melihat Aurora datang dengan kondisi yang sangat menggenaskan, penuh dengan darah, terlur busuk, dan sayuran busuk.


Rakyat menyoraki dirinya dan wanita tersebut dihinakan sehina-hina nya. Isabella dan ratu Sofia tidak pernah menyangka jika Aurora lah orang di belakang semua ini. Selain itu mereka juga sedikit terkejut saat mengetahui bahwa para budak sangat ahli dalam berperang dan juga mampu menciptakan senjata perang yang sangat langka dan senjata mematikan.


Tentunya keahlian Aurora ini perlu menjadi tanda tanya bagi semua orang. Tidak ada yang mengetahui dari mana keahlian itu berasal. Hanya Aurora sendiri yang mengetahui jawabannya.


Ia berhenti berjalan dan semua mata mengarah padanya. Ratu Sofia tersenyum puas melihat Aurora. Inilah yang ia tunggu, nyatanya tak perlu ia melakukan kejahatan namun Aurora seolah-olah datang dengan baik dan menyerahkan diri. Mungkin meracuni Aurora ia telah gagal, namun eksekusi ini pasti tidak akan pernah gagal.


"AURORA AKUELA SEORANG BUDAK DARI ENGRASIA YANG MELAKUKAN PEMBERONTAKAN DAN KEJAHATAN PERANG YANG SANGAT LUAR BIASA. SELAIN ITU BERNIAT MERACUNI PELAYAN PRIBADI MILIK PUTRI ISABELLA! KEJAHATAN YANG SANGAT TAK BISA DIMAAFKAN HINGGA DIJATUHI HUKUMAN TEMBAKAN RIBUAN PANAH DAN AKAN DIGANTUNG DI TIANG GANTUNG DAN AKAN DITELANJANGI DI DEPAN UMUM." Aurora terkejut dengan hukuman terakhir. Ia mengangkat kepalanya dan tak menyangka akan mendapatkan hukuman tersebut. Wanita itu mengepalkan tangannya dan tertawa pedih.


Sebegitu hinanya nasibnya. Aurora memandang ke arah Agustus, Oceanus, dan Sargon seolah tak peduli lagi padanya. Kini Aurora sadar betapa jahatnya dirinya.


Wanita itu pun dibawa ke tiang gantung dan akan dieksekusi. Tubuhnya penuh dengan bau busuk. Sejujurnya dari hati ketiga pangeran tersebut tidak tega melihat Aurora.


Lagipula Aurora melakukan pemberontakan akibat tingkat status mereka yang sangat tidak adil. Sementara itu raja memantau eksekusi tersebut.


"Huh, budak yang tidak tahu terimakasih. Para pangeran sudah berbaik hati selalu membela mu, tapi kau malah mengkhianati para pangeran dengan cara yang sangat kejam. Hukuman ini pantas untuk mu," ujar Isabella sambil menatap remeh Aurora.


Aurora menatap ke arah Isabella. Wanita itu sangat luar biasa jahatnya. Tidak hanya sifatnya namun ucapannya penuh dengan kata-kata yang sangat menyakitkan. Ia bukan bermaksud ingin meracuni pelayan pribadi Isabella, namun jika tidak begitu dirinya sudah lama menelan racun yang diberikan oleh Isabella kepadanya.


Isabella diuntungkan dengan posisinya seorang anak perdana Menteri. Padahal kejahatan yang ia lakukan begitu luar biasa namun tak pernah mendapatkan hukuman. Tidak di dunia modern maupun dunia klasik hukum di tempat itu sama, sama-sama tajam di atasi tumpul di bawah.


Aurora berjalan mendekati tiang gantung. Wanita itu siap dieksekusi. Sorak sorai dari para rakyat pun menggema menghinakan Aurora.


Aurora memejamkan mata dan ketika tangannya diikat dan pakaiannya hendak dilucuti dari tubuhnya. Aurora telah menyiapkan mental untuk dipermalukan.


"Hukum!"


"Bunuh!"

__ADS_1


"Lucuti saja pakaiannya!!"


"Dicambuk!! Pengkhianat keji seperti dia tidak pantas mendapatkan belas kasihan!"


Aurora menahan napas ketika satu persatu kain tersebut terlepas dari tubuhnya. Hingga Aurora merasakan dingin yang luar biasa dan ia tahu bahwa dirinya sudah tidak lagi mengenakan pakaian lengkap.


Agustus, Oceanus dan Sargon tak bisa melepaskan pandangannya dari tubuh Aurora malah seluruh rakyat terdiam melihat tubuh indah yang dimiliki oleh Aurora. Seakan mereka tersihir. Tangan Agustus mengepal tak terima melihat Aurora dinikmati di depan umum.


Ia hendak berlari menutupi tubuh Aurora namun Agustus didahului oleh adiknya, Oecanus. Oecanus berlari ke arah Aurora dan menutup tubuh Aurora menggunakan jubahnya.


"OECANUS!" bentak raja. Namun Oceanus tak peduli dan mengangkat tubuh Aurora dan tersenyum berani kepada semua rakyat, ia tak takut untuk menentang.


Kemudian wanita itu dibawa oleh Oecanus meninggalkan tempat tersebut.


"Tangkap dia!!" perintah raja kepada pengawalnya untuk menghentikan Oceanus yang sudah secara terang-terangan memberontak.


Agustus dan Sargon tentu tak tinggal diam. Ia pun mengeluarkan pedangnya dan menghentikan para pengawal yang hendak menyerang Oceanus.


Oceanus dengan penuh wibawa membawa Aurora keluar dari keramaian. Ia bahkan tak peduli dengan ayahnya yang menentang perbuatannya. Tidak hanya raja, namun seluruh anggota kerajaan tidak ada yang setuju dengan sikap para pangeran tersebut.


"PENGKHIANAT!!!"


"PENGKHIANAT!!!"


Aurora membuka matanya. Wajahnya yang pucat itu memandang wajah Oceanus dari bawah. Air matanya mengalir ke pipi melihat Oceanus menyelamatkan dirinya tanpa peduli dengan peraturan kerajaan.


Ia hanyalah seorang budak yang beruntung mendapat kasih sayang dari para panegran. Namun sayangnya, kasih sayang dibalas dengan sebuah pengkhianatan.


"Pangeran," cicit Aurora dengan suara rendah seraya menatap terharu Oceanus.


Oceanus mendudukkan kepalanya. Laki-laki tersebut tersenyum. Setelah sekian lama para panegran itu selalu menatapnya dengan sadis dan penuh dengan amarah dan baru kali ini Aurora melihat senyuman di wajah mereka.


"Kenapa kau menyelematkan aku? Aku adalah seorang pengkhianat. Kau tak berhak menyelamatkan penjahat seperti ku."

__ADS_1


"Diamlah," tutur Oceanus. "Apa kau rela diri mu dipermalukan. Mungkin bagi orang-orang sikap mu adalah sebuah kejahatan, namun sekarang aku sadar jika apa yang kau lakukan demi kebaikan dan untuk keadilan."


Aurora tersenyum bahagia. Ia benar-benar tak menyangka jika Oceanus mengerti dengan pikirannya. Air matanya menetes saking bahagianya.


"Pangeran," ujar Aurora dan menghirup udara dengan rakus.


Oceanus mendekap Aurora dengan erat. Wanita yang sangat dicintainya kini penuh dengan luka. Wajahnya yang dulu penuh dengan keriangan kini harus tertutupi dengan penderitaan.


Oceanus melangkah menuju ke istananya. Tidak ada yang dapat menghentikan perbuatannya bahkan itu raja sendiri. Agustus dan Sargon menghadang pengawal yang ingin menghentikan Oceanus.


Mungkin tadi kedua pangeran tersebut pengecut tak berani menentang raja, namun sekarang ia yakin untuk menyelamatkan wanita itu. Lagipula tidak ada orang yang sanggup melihat orang dicintainya tersakiti dengan penuh luka yang sangat luar biasa.


Rasa ingin menyelamatkan dan menjaga sang pujaan hati mengalir begitu saja. Meskipun Agustus harus menelan kekecewaan karena adiknya terlebih dahulu yang menyelamatkan Aurora, ia terlambat dan sangat merasa bersalah.


Agustus tersenyum dari kejauhan melihat punggung Oceanus yang dapat membawa Aurora kabur.


Sarkkk


Agustus yang tak fokus hingga musuh berhasil menyabet pedang di punggung Agustus. Agustus pun memuntahkan darah dan langsung jatuh ke tanah ketika mendapatkan luka yang sangat dalam.


Laki-laki tersebut menatap para pengawal yang menangkapnya dan Agustus sudah dibelenggu tak mampu melawan. Ia dibawa ke hadapan raja untuk berlutut.


Sementara Sargon yang mengetahui bahwa Agustus sudah kalah dan ia pun tak sanggup melawan para pengawal dan jendral sendirian hingga membuatnya terpojok. Sargon pun berhasil dilukai dan dilumpuhkan.


Ia lantas di bawa ke hadapan raja dan disuruh berlutut. Wajah ibu dari Sargon merah padam melihat perbuatan anakannya.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN, HAH?!" teriak raja dan menampar Sargon dan Agustus di depan orang banyak. Raja menatap para prajuritnya, "KEJAR MEREKA SAMPAI DAPAT!! JIKA PERLU BAWA JASADNYA!" teriak raja yang sontak membuat publik terdiam.


Bagaimana mungkin seorang raja rela membunuh anaknya sendiri. Agustus menatap ayahnya dengan pandangan tak percaya. Ayahnya sudah dikendalikan ibunya, bahkan pria itu sama sekali tak mengenali anaknya sendiri hingga rela memerintahkan jendral nya untuk membunuh anaknya sendiri.


"KAU!!" teriak Agustus dan mengepalkan tangannya. Namun ia tak dapat berbuat banyak karena tubuhnya yang lemah.


____________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2