
Seorang anak kecil meringkuk di atas ranjang yang tampak reot dan kumuh. Terlihat wajahnya memerah karena rasa dingin di musim salju hingga membuat tubuhnya sensitif dan dapat membuat tubuhnya yang kekurangan gizi itu memerah seperti itu.
Ia berusaha mencari kain tebal dan menutupkan ke area tubuhnya. Tetapi anak kecil tersebut harus menelan kekecewaan tatkala tubuhnya terasa sangat sakit dan kain itu tak cukup untuk melindunginya.
Badai salju tengah menghantam wilayah Engrasia. Tidak terbentuk lagi bagaimana kota ini yang menjadi jantung dari kerajaan Engrasia.
Ia menghela napas dan keluar dari selimutnya untuk mengintip keadaan di luar dari jendela. Setiap hari ia melakukan itu menunggu ibunya pulang bekerja. Sementara ia tak pernah mendapatkan kasih sayang yang pantas untuknya.
"Ibu kenapa kau belum pulang."
Senyum di wajah Branard mengembang mendengar pintu reyot gubuk tersebut dibuka. Ia langsung berlari ke arah pintu tersebut dan melihat jika ibunya sudah pulang.
"Ibu aku merindukan mu." Tubuh kecilnya langsung menghambur ke dalam pelukan sang ibu.
Tapi, wanita itu mendorong tubuh Branard dan masuk tanpa memedulikan Branard yang dari tadi sudah menunggu kepulangannya. ia menundukkan kepalanya. Selalu saja seperti itu, Branard sudah lelah mencari cara bagaimana ia bisa menarik perhatian orangtunya.
"Kenapa Ibu tidak pernah melihat ku?" tanya Branard ke dirinya sendiri. "Ibu! Aku kedinginan."
Brakk
Semua barang yang dibawa ibunya langsung dihempaskan ke lantai. Branard terkejut dan menatap ibunya dengan takut-takut.
"Ibu...."
"Kau bisa tidak berisik? Aku kelelahan dan kau berteriak-teriak membuat telinga ku sakit. Sudah aku katakan jangan memanggil ku ibu, aku sudah lelah dipanggil seperti itu dan sementara kau bukan anak ku!!" marahnya membuat Branard terdiam sambil mencengkram tangannya.
Ia bukan anak ibunya? Lantas ia anak siapa. Branard menundukkan wajahnya melihat lantai dengan pandangan sedih. Ia tak percaya, sementara sudah dari kecil ia bersama sang ibu.
"Aku anak Ibu."
"Kau bukan anak ku."
Pelayan itu terlampau emosi dan tidak bisa mengontrol sikapnya dengan baik dan akhirnya rahasia selama ini yang ia jaga terbongkar sudah.
"Kau tidak boleh mengatakan ini kepada siapa-siapa. Hanya kau yang boleh tahu jika kau bukan anak ku," ujarnya yang membuat Branard tidak mengerti.
Anak kecil yang sekitaran 5 tahunan itu berusaha untuk mencerna apa yang dikatakan oleh ibunya. Sementara pintu kembali bergoyang yang tandanya jika ada orang lain datang ke kediaman mereka.
Jantung wanita itu bak ingin copot. Tubuhnya gemetaran ketakutan jika yang datang adalah orang dari istana. Ia erusaha tampil dengan semaksimal mungkin dan menenangkan dirinya.
Ketika orang itu sudah masuk jantung wanita itu makin berdebar dan tak dapat dikontrol. Ia langsung berlutut di depan orang tersebut.
"Tuan Putri. Selamat Anda sudah bebas."
Wanita itu menarik napas panjang dan menatap ke arah anak laki-laki yang terlihat sangat tampan.
"Kau lelah bekerja pada ku? Kau ingin nyawa mu segera mungkin terlepas dari diri mu?"
__ADS_1
"Putri maafkan saya."
Plakk
Tamparan keras didapatkan oleh wanita tersebut. Sudah terlambat meminta maaf, ternyata selama ini perlakuan pelayannya kepada Branard sangat buruk.
"Aku menyuruh mu merawatnya bukan memarahinya!!"
Isabella menarik tubuh wanita tersebut dan mencengkram rahangnya. Ia mengambil pedang yang dibawa oleh salah satu pengawal pribadinya.
Kemudian Isabella menusuk tubuh wanita itu dengan kencang hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Mata Branard ditutup sehingga ia tidak melihat peristiwa tersebut. Isabella melirik anak itu dan wajahnya kembali berubah datar.
"Kau tidak apa-apa?"
Anak itu membuka matanya dan pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah tubuh ibunya yang sudah tergeletak dalam kondisi tak bernyawa serta matanya yang melotot. Anak tersebut menutup mulutnya tidak percaya apa yang sudah terjadi kepada sang ibunda.
"Ibu, ada apa dengan Ibu ku!" Ia terus menangis dan berteriak histeris melihat darah tersebut.
Isabella tak dapat menenangkan anak itu. Ia hanya terdiam sambil memperhatikan anak tersebut. Merasa tangan anak itu semakin kencang membuat Isabella iba dan menjauhkan tubuhnya dari pelayannya.
"Ibu!!! Kenapa kau membunuh ibu ku!!"
"Dia layak mati karena sudah melakukan kesalahan."
"Siapa kau? Aku akan membenci mu!!" Anak itu terus memukuli tubuh Isabella membabi buta. Meskipun ibunya sering marah-marah kepadanya tetapi Branard tidak akan pernah melupakan sang ibu.
Branard yang semula menangis keras langsung terdiam dan menatap Isabella dengan mata bulatnya. Ia berusaha untuk mengerti, jika Isabella adalah ibunya lantas ibu Marina adalah siapanya? Yang ia tahu selama ini dan mengurus dirinya adalah ibu Marina.
"Kau bukan ibu ku. Kau siapa? Kau telah membunuh ibu ku," ucapnya sambil mengusap air matanya.
"Aku adalah ibu mu. Mulai sekarang kau harus melupakan dia. Kau sudah memiliki ibu mu yang baru. Panggil aku Ibu."
"Aku tidak ingin memanggil orang jahat pembunuh ibu ku seperti mu dengan sebutan ibu. Hanya ibu Marina ibu ku bukan kau!!"
Isabella terdiam sambil melamun. Anak ini nyatanya susah ditaklukkan. Jika ia tak penting dalam hidupnya sudah lama Isabella menyingkirkan anak tersebut.
Ia menatap wajah anak itu yang sangat mirip seseorang. Namun, Isabella harus menyembunyikan kebenaran itu dan tak akan membiarkan siapapun tahu.
"Kau di sini akan bersama pelayan ku. Jika kau membutuhkan sesuatu katakan saja kepada mereka."
Kemudian Isabella pergi begitu saja dan meninggalkan pelayannya untuk anak tersebut.
____________
Kemenangan yang dicapai oleh rakyat Engrasia dirayakan dengan meriah. Aurora terdiam di tepian memandang keindahan pertunjukan yang mereka tampilkan di malam perayaan tersebut.
__ADS_1
Para pangeran sempat mengajaknya menonton bersama hanya saja Aurora tak pantas akan hal itu.
"Kenapa kau tidak ingin ikut melihat ke sana? Bukannya para budak dibebaskan untuk bisa melihat ke sana?" Aurora terdiam dan menatap ke arah depan di sana.
"Aku tidak ingin ke sana." Aurora pergi begitu saja meninggalkan tempat tersebut dan ingin pulang ke istana.
"Aurora tunggu aku!!"
Mareta memanggil Aurora dan berlari mengejar wanita tersebut. Ia menghela napas panjang dan tersenyum tipis menepuk pundak Aurora.
"Bagaimana bekerja di tempat pangeran? Apakah enak."
Aurora terdiam dengan senyum tipis di wajahnya. Apakah ia nyaman bekerja di tempat para pangeran? tentu saja sangat menyenangkan karena nyatanya mereka sangat baik kepada Aurora.
"Cukup menyenangkan walau juga melelahkan."
"Tetapi kau cukup bahagia bekerja di sana."
"Lumayan, Mareta."
"Aku jadi penasaran dan ingin bekerja di tempat mereka."
Aurora menarik napas panjang dan menatap bintang-bintang di langit. Malam ini tergolong cukup cerah dengan pemandangan langit yang menakjubkan dan sangat cocok untuk beristirahat.
"Mareta!"
"Ya? Ada apa?"
"Kau tahu apa yang terjadi ketika hati mu akan berdetak sangat kencang saat berdekatan dengan seorang pria?" Mareta menutup mulutnya tidak percaya. Wanita itu berhenti berjalan dan Aurora mengerutkan keningnya melihat sikap Mareta. "Ada apa Mareta?"
"Kau tahu itu tandanya kau jatuh cinta kepada pria yang kau maksud itu."
Deg
Jatuh cinta? Aurora tak mungkin jatuh cinta kepada seorang yang sangat dibencinya dan kepada ketiga panegran pula.
"Apa yang kau katakan? Tidak mungkin." Perempuan itu berusaha untuk menyangkalnya.
Aurora semakin terkejut ketika melihat pangeran Oceanus menghampirinya dan menyerahkan sebuah benda yang terbungkus kepada pangeran.
"Panegran apa ini?"
"Ini adalah pakaian pesta. Pakailah, aku ingin kau memakai ini untuk ku dan pergi ke pesta bersama ku."
"Pangeran maksud mu?" Aurora terkejut mendengar hal itu dan melirik Mareta yang juga sama tak percaya pada pangeran dan dirinya.
_________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA