
Gerbang utama kerajaan didobrak oleh pihak musuh yang berbendera kan lambang bulan sabit dan matahari menggunakan kayu besar hingga menghancurkan pertahanan istana. Agustus di dalam sudah menyiapkan pasukan perang dengan persenjataan lengkap.
Sementara para wanita dan anak-anak menjauh dari tempat tersebut mencari tempat perlindungan yang aman. Isabella berlari menghampiri ratu dan raut wajah ratu Sofia serta para kerabat kerajaan tampak bertanya-tanya dengan apa yang telah terjadi terhadap kerajaan Engrasia. Baru saja akan merayakan kemenangan yang diperoleh namun kebahagiaan itu lenyap saat penyerang mendadak dilancarkan.
"Ratu, ada apa ini? Apakah ini semua ulah mu?" Ratu Sofia yang tak kalah panik tersebut lantas menggelengkan kepalanya.
Napasnya tersengal-sengal menahan rasa takut yang terus menggerogoti jiwanya. Ratu Sofia sedikit kesulitan menelan ludah kemudian meraih tangan Isabella.
"Aku benar-benar tidak tahu Isabella apa yang sedang terjadi, apakah kerjaan Euthoria merancang ini sangat baik hingga aku tidak diberitahu? Tapi tidak mungkin. Tidak mungkin itu terjadi, mereka pasti akan memberitahu ku jika ingin menyerang kerajaan," ujar ratu Sofia seraya menahan napasnya.
Isabella pun tak kalah panik saat mendengar ucapan ratu Sofia, semula ia sedikit tenang dan mengira itu adalah perbuatan ratu Sofia, namun nyatanya dugaannya salah besar. Mereka bersembunyi di tempat khusus yang disediakan istana untuk keluarga kerajaan berlindung.
"Ratu, bagaimana ini? Apakah Engrasia memiliki musuh lain selain Euthoria?"
"Kita belum tahu pemberontak yang mana."
Tak lama datang beberapa pengawal yang memakai baju zirah untuk melindungi tahta dan juga ratu Engrasia.
"Apa yang terjadi? Siapa yang telah berani menyerang kerajaan Engrasia?" tanya ratu Sofia dengan marah.
Pengawal itu memberi hormat kepada ratu Sofia. Ia mengangkat kepalanya dan mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sekelompok orang berseragam Putih telah menyerang pertahanan dan menghancurkan pangkalan militer Engrasia. Kerugian tidak bisa ditaksir dan gudang persenjataan hancur lebur. Sekarang Engrasia mengalami huru hara dan peluang untuk melawan mereka sangat kecil, mereka juga memiliki persenjataan lengkap dan senjata yang cukup langka."
Ratu Sofia melirik Isabella yang seluruh tubuhnya bergetar. Wanita itu menggigit bibirnya dan berlalu lalang dengan gelisah.
"Siapa yang telah berani melakukan ini? Apakah dari orang istana? Tapi siapa yang berani memberontak? Tidak mungkin." Isabella bertanya-tanya.
"Apakah dari salah satu menteri? Apakah ini ada hubungannya atas kehilangan senjata dan uang kas negara?"
Pertanyaan yang terlontar dari ratu Sofia pun menerangkan pikiran Isabella. Ia menatap sang ratu dan tersenyum hambar.
"Apa yang kau katakan bisa dikatakan benar."
"Lalu siapa?"
Di sisi lain, Aurora yang dari tadi mendengarkan kekhawatiran para anggota kerajaan yang penuh keangkuhan tersebut pun meninggalkan tempat persembunyian keluarga kerajaan dengan wajah datar. Wanita itu diam-diam ikut menyelinap di dalam sana untuk mendapatkan informasi.
Wajahnya yang tak memiliki ekspresi itu pun sedikit menyeringai dan berjalan menuju ke suatu ruangan lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian perang.
Baju yang mereka kenakan identik dengan warna putih. Di mana warna tersebut untuk melambangkan kebebasan yang bermakna mereka bisa bebas dari kukungan yang selama ini membelenggu mereka hingga membatasi ruang gerak para budak dan orang-orang berstatus sosial rendah.
Aurora menuju ke lapangan melalui jalan rahasia agak dirinya tidak diketahui oleh siapapun. Selain itu Aurora juga mengenakan penutup wajah. Mungkin mereka akan mengira jika Aurora adalah seorang pria.
Selain itu pasukan Aurora juga banyak anggotanya yang merupakan perempuan. Bagi Aurora perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang sama. Mereka juga bisa ikut dalam membela kemerdekaan pada diri seorang budak.
Aurora maju ke barisan paling depan dan menjadi pemimpin di pasukan tersebut yang membawa bendera bulan sabit dan juga matahari.
Aurora melihat jika Agustus tengah menelaah formasi dan strategi yang digunakan olehnya. Mereka tidak tahu siapa yang telah memimpin pemberontakan. Selain itu selama ini Aurora mendekati Sargon yang notabennya memiliki keahlian menyusun rencana perang agar ia bisa belajar dari pria tersebut.
Aurora juga sedikit belajar bela diri meskipun belum sempurna. Jendral perang yang dipilih oleh Aurora adalah Fares, ia percaya dengan sahabatnya tersebut.
Semua pasukannya menggunakan penutup wajah sehingga tak ada yang tahu siapakah mereka.
"Huh, apakah kalian pengecut?! Hanya diam di barisan?" teriak Fares ke arah dalam istana.
Gerbang sudah berhasil dibuka namun pertahanan terakhir pada gerbang tersebut belum diruntuhkan hingga mereka belum bisa menerobos masuk.
Pihak dari Engrasia tidak menjawab teriakan Fares. Mereka menatap seolah meremehkan.
Aurora mengangkat tangannya memberikan kode untuk melakukan penyerangan. Hal yang tak disangka-sangka oleh Agustus, mereka memiliki persenjataan yang sangat mematikan yaitu peledak yang jarang dimiliki oleh sebuah kerajaan dan musuhnya tersebut memiliki senjata berbahaya itu.
Agustus sontak membubarkan mereka dan mengubah formasi. Ia tahu sangat jika senjata itu diledakkan maka seluruh istana Engrasia akan hancur lebur.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka bisa membuat persenjataan tersebut?"
"Ini benar-benar berbahaya, kita tidak dapat meremehkan musuh. Aku pernah mendengarnya jika senjata itu bisa menghancurkan seluruh kerjaan Engrasia."
"Bajingan," umpat Agustus dan mulai membawa pasukan mereka mundur dan menyusun strategi.
Sementara sebagian membendung pihak musuh agar mengulur waktu penerobosan.
"Kita tidak bisa menghadapi mereka dengan persenjataan ini. Kita harus menggunakan taktik yang bisa menyerang mereka."
Para panegran tersebut sontak saling berdiskusi. Aurora yang mengetahui siasat mereka pun terdiam.
Kenapa rasanya air mata dari pelupuk indahnya ingin terjatuh. Entah apa yang sudah terjadi pada Aurora, namun rasa sakitnya begitu dalam. Seolah ia tak rela melakukan ini.
"Maafkan aku," rintih Aurora dengan suara bergetar.
Fares melirik Aurora.
"Kau tidak apa-apa?"
"SERANG!!!!" teriak para prajurit Engrasia yang mulai menyerang mereka.
"LINDUNGI KETUA!!" teriak Fares agar sebagian prajurit melindungi Aurora.
Aurora terdiam dan mengepalkan tangannya. Sebentar lagi darah akan jatuh tepat di matanya dan Aurora melihat sendiri betapa kejamnya peperangan.
Ratusan ribu manusia yang terlibat pada peperangan itu terlihat bagaikan semut. Suara tembakan dari meriam buatannya dan juga dentingan pedang memenuhi lapangan.
Simbahan darah dan juga mayat tak terhitung jumlahnya. Namun sejauh ini pihak Aurora masih unggul.
Wanita itu tersenyum. Namun wajahnya langsung berubah pucat ketika tiba-tiba Agustus maju ke tengah peperangan dan menumpas prajurit miliknya.
Tentunya Aurora tidak akan tinggal diam. Ia tak ingin orang-orang tak bersalah itu mati dengan sia-sia.
Aurora lantas mengubah formasi. Ia mengibarkan bendera yang merupakan bendera untuk memberikan sinyal ke pasukannya. Aurora juga memerintahkan untuk menembak meriam.
Kebetulan Aurora pernah mempelajari merakit senjata tersebut, dan Aurora sendiri tak pernah menyangka jika ia bisa membuat meriam. Akibat dari ledakan merian tersebut pihak Agustus tak terhitung jumlahnya yang mati dalam peperangan tersebut.
Tiada yang selamat dan juga kekhawatiran jelas terlihat di wajah Agustus bersama dua pangeran lainnya.
Namun sepertinya Agustus tak mudah menyerah begitu saja. Berkat kepintaran mereka bertiga, rencana licik pun berjalan. Diam-diam mereka menyamar menjadi anggota prajurit Aurora lalu menumpas orang yang mengendalikan senjata tersebut dan hingga membuat konslet senjata itu.
Aurora terdiam dan langsung menyerang mereka yang ingin merusak senjata buatan nya.
Namun Agustus sudah berada di sana dan menumpas habis prajurit yang bertugas di tempat itu. Aurora memberikan sandi melalui matanya agar mereka menghentikan dan menembak Agustus menggunakan panah.
Namun saat panah itu hampir mengenai tubuh Agustus tiba-tiba pikiran Aurora memutar memori kebersamaannya dengan pangeran tersebut. Bagaimana ia tertawa dan bagaimana ia bahagia bersamanya.
"Pangeran," lirih Aurora dan menarik tangan Agustus agar tidak terkena senjata itu. Nyatanya perasaan yang terselip di dadanya mampu mengalahkan perasaan egois.
Agustus terkejut melihat musuh melindunginya. Pria itu mengerutkan kening dan ketika Aurora hendak menjauh ia langsung menusuk perut Aurora. Begitulah perang, ketika rasa tak sebanding dengan ego.
Aurora terkejut mendapatkan tusukan tersebut. Darah mengucur dari lobang bekas tusukan di perutnya. Wanita itu mengangkat kepala menatap Agustus tidak percaya.
Sementara darah juga mengalir dari mulutnya. Fares yang tengah sibuk berperang dan hampir memenangkan peperangan terkejut melihat Aurora yang terluka parah.
"AURORA!!" teriaknya dan langsung mengabaikan peperangan dan menghampiri Aurora.
Ia pun menarik pedang Agustus yang masih menghunus di perut Aurora dan menyerang Agustus dengan membabi buta. Agustus yang masih terkejut dengan apa yang dilakukannya tidak fokus hingga ia pun mendapatkan tusukan dari Fares.
Mata Aurora terbelalak. Kenyataannya hatinya lebih sakit ketika Agustus mendapatkan tusukan ketimbang rasa sakit luka yang tengah dirasakannya.
Ia mendorong tubuh Fares dan menggelengkan kepala. Aurora lantas memberikan pertolongan untuk Agustus. Bagi Agustus tusukan itu memang tidak seberapa. Namun ia juga manusia dan sedikit merasakan sakit yang luar baisa.
__ADS_1
Dari tadi ia dibingungkan oleh musuhnya. Siapakah musuh yang tengah dihadapinya? Kenapa sangat peduli padanya.
Agustus mencoba agar tidak terkecoh dan mendorong Aurora dan lantas mengacungkan pedang di leher wanita itu.
"Menyerah atau dia akan mati," ancam Agustus pada Fares.
Fares tak memiliki pilihan lain. Sementara Aurora terdiam sambil menahan rasa sakit di perutnya. Ia tak menyangka peperangan ini akan menjadi seperti ini.
Pasukan Aurora yang diberi nama pasukan Elang tersebut pun sudah tak terkendali saat mengetahui pimpinan mereka terluka.
"Kau!!" geram Fares dan ingin menyerang namun ia tak bisa membiarkan Aurora mati.
Aurora menatap ke arah lapangan dan merasa sedih saat pasukannya yang semula hampir mencapai kemenangan namun berbalik mendapatkan serangan.
Peperangan berlangsung lama, namun tidak sempat sehari Engrasia hampir mencapai kemenangan mereka. Aurora ingin egois namun ia tak ingin perjuangan yang dilakukan para budak berakhir sia-sia.
Mungkin ia akan menyingkirkan perasannya.
Tanpa disadari oleh Fares dan Agustus, Aurora memotong pedang kesayangan Agustus dengan pedangnya hingga pedang itu patah menjadi dua bagian.
Agustus terkejut dan ia pun tak terima. Aurora menatap Fares dengan mata yang basah.
"Pergilah, jangan biarkan perjuangan kita berakhir dengan sia-sia. Aku tidak ingin mereka mendapatkan hukuman karena aku," ujar Aurora seraya tersenyum tipis.
"Tapi kau..."
"Fares," mohon Aurora dak tak dapat membendung air matanya lagi.
"Aurora, aku tak bisa membiarkan kau mati di sini!!"
"Aku baik-baik saja, pergilah."
Percakapan itu tidak terdengar oleh Agustus karena jarak mereka yang cukup jauh. Fares pun meninggalkan Aurora dengan berat hati.
Sedangkan Aurora dengan tenaga masih tersisa mencoba untuk menyerang Agustus. Pria itu tentunya menahan emosi yang luar biasa dan akan mengajak beradu bela diri.
Aurora lebih ikhlas mati di peperangan ini untuk mendapatkan keadilan dan mati di tangan orang yang dikhianatinya, namun pula ia mencintainya. Di lapangan penuh darah ini Aurora baru menyadari dengan perasannya sendiri.
Agustus bersiap-siap dengan ancang-ancangnya. Ia menggunakan pedangnya yang patah dan mulai menyerang Aurora.
Tetapi Aurora sama sekali tidak melawan. Wanita itu membiarkan Agustus menusuk perutnya dengan ujung pedang yang tumpul.
Agustus membulatkan mata. Kenapa hatinya rasanya sangat sakit.
Agustus menatap tubuh Aurora yang terjatuh ke tanah dengan darah yang tak bisa dibayangkan banyaknya.
"AURORA!!" pekik Fares dan langsung memeluk tubuh wanita itu.
Agustus mendengar nama itu terkejut dan langsung menatap ke arah orang yang sudah ditusuknya. Ketika Fares membuka penutup wajah Aurora, Agustus tersentak bukan main. Seketika ia berjalan mundur dan tidak percaya.
Wajah Aurora penuh dengan darah yang keluar dari mulutnya. Wanita itu masih sadar namun sekarat.
Agustus mendekati Aurora. Hatinya hancur berkeping-keping dan tangannya mengepal.
Aurora yang menyadari jika Agustus sudah mengetahui dirinya siapa tersenyum tipis penuh dengan perasaan sakit.
"Maafkan aku sudah mengkhianati engkau Pangeran. Semoga kematian ku bisa menebus semuanya."
__________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1