Dicintai 3 Pangeran

Dicintai 3 Pangeran
Part 52


__ADS_3

Kekecewaan tak bisa dibendung oleh raja. Ia pun memutuskan untuk mengambil hukuman untuk orang dicintainya. Pada akhirnya ia pun melakukan langkah itu meski sangat berat.


Raja memejamkan mata. Ia sudah berbicara berdua dengan Isabella. Dan Isabella mengakui semuanya. Wanita itu mengatakan hal yang sejujurnya yang membuat kecewa raja.


Sementara ratu Sofia yang sudah mengetahui perselingkuhan raja terus mengurung di dalam kamarnya. Berita jika Euthoria sudah berhasil ditaklukkan oleh pangeran Sargon juga turut membuat ia depresi.


Semua orang juga sudah mengetahui jika ia terlibat dalam pemberontak yang dilakukan oleh kerajaan Euthoria. Rakyat berbondong-bondong memenuhi halaman istana melakukan demo serentak memprotes raja agar melakukan hal yang adil untuk menjatuhkan hukuman kepada ratu Sofia dan juga putri Isabella.


Berita pemberontakan yang akan dilakukan oleh putri Isabella menyebar dengan cepat. Perdana menteri bahakan tak bisa berkata-kata dan jatuh sakit saat mengetahui kebenarannya.


Aurora hanya bisa menatap drama itu dengan wajah tak percaya. Pada akhirnya hidup Isabella sangat menggenaskan. Yang dikhawatirkan oleh Aurora adalah Branard.


Anak itu belum mengetahui apa-apa. Pada saat pertama kali ia memasuki istana semua orang keheranan dengan dirinya dan Branard.


Untungnya pangeran Agustus dapat menerima Branard dengan baik. Branard tinggal bersama Aurora. Wanita itu sudah menganggap Branard seperti anaknya sendiri.


Isabella menatap Aurora yang berdiri di depannya. Dulu Aurora yang berada di tempat tiang gantung itu. Sekarang Isabella dengan tidak terhormat berada di tiang gantung tersebut.


Para rakyat menghujat Isabella dengan habis-habisan.


"Kau harus menerima semua ini. Kau sudah membuat ku seperti ini, maka aku tidak akan pernah membiarkan kau hidup dengan tenang. Meksipun aku sudah tidak ada, aku tidak akan pernah membiarkan kau menikmati hidup mu walau hanya sedetik," ucap Isabella seraya mengeluarkan air mata.


Tangannya terkepal sangat geram kepada Aurora. Aurora menundukkan kepala dan tersenyum tipis ke arah wanita itu.


Ia tahu jika saat ini emosi Isabella tidak stabil.


"Aku tahu dan mengerti apa maksud mu. Itulah yang aku rasakan ketika aku berada di sana. Kau menghina ku, tapi aku tetap diam saja. Dan saat ini aku berbaik hati untuk mu, aku tidak akan menghina mu."


"Putri Saphira adalah putri yang terkutuk. Dia tidak pantas hidup di istana, dia sudah jelas pengkhianat dan ingin membangun lagi kerjaan Saphira. Kami rakyat Engrasia tidak akan pernah membiarkan putri dari kerjaan Saphira hidup!!" Tidak hanya Isabella yang merasa terkejut dengan ucapan rakyat tersebut.


Namun Aurora lah yang paling syok. Ia tak menyangka betapa kejinya hukuman seperti itu. Aurora masih menoleransi jika Isabella adalah putri dari kerajaan Saphira, karena kita tidak bisa memilih untuk lahir di rahim siapa. Mungkin itu sudah takdir Isabella. Tapi untuk kejahatan yang dilakukan Isabella benar-benar tak bisa dimaafkan.


Sudah banyak ia membunuh orang dengan tangannya sendiri tanpa mengenal rasa takut dan penyesalan.


"Kau dengar sendiri bukan? Itulah kata-kata yang semua orang ucapakan ketika aku berada di posisi mu. Semoga ini menjadi pelajaran mu dan tidak akan mengulanginya lagi."


Wajah Isabella tersenyum miring. Pangeran Oceanus siap mengeksekusi Isabella dengan ribuan panah yang ditembakkan ke arah wanita itu.

__ADS_1


"Ya!!" teriak Pangeran Agustus yang bertanda jika eksekusi akan dilakukan.


Raja mengalihkan wajahnya. Namun para penembak tersebut malah dihujani panah oleh ribuan musuh yang sudah siap siaga.


Isabella tersenyum puas. Pasukannya sudah menyerang kerajaan Engrasia dengan tepat.


Semua rakyat berlari tak tentu arah melihat hujan panah yang sangat mengerikan. Banyak orang yang meninggal dalam tragedi itu. Pangeran Agustus dan pangeran Oceanus berusaha untuk melindungi Aurora.


Pasukan Engrasia makin terdesak saat melihat betapa mengerikannya pasukan Isabella. Bahkan ia juga membuat senjata yang sama yang pernah diciptakan Aurora.


Aurora terdiam. Jika ia dulu bisa membuatnya karena ia memiliki keahlian kimia, dan sekarang Aurora pun tahu cara menghentikan kerja senjata tersebut.


Aurora berusaha keluar dari arena perang dan mencari akal untuk menghentikan meriam tersebut.


Perang berlangsung sengit hingga banyak orang yang terbunuh dalam peperangan tersebut. Tembakan meriam begitu mengerikan melahap habis pasukan Engrasia.


Aurora sangat khawatir dengan hal itu. Ia tak mungkin membiarkan hal tersebut berlangsung lama, jika begitu kerajaan Engrasia benar-benar akan luluh lantah.


Aurora pun berusaha untuk mendekati tempat meriam itu. Namun ia tak mungkin melakukannya secara terang-terangan, apalagi tempat meriam tersebut dijaga dengan ketat.


"Aku harus bagaimana," ucap Aurora pelan dan mengepalkan tangannya.


"Mareta, apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak boleh berada di sini. Di sini sangat berbahaya."


"Aurora, Apa bedanya dengan dirimu? Kau juga tidak boleh berada di sini, di sini sangat berbahaya."


Aurora pun kalah telak dengan Mareta. Ia lantas membiarkan wanita itu namun tetap memperhatikan kesehatan Mareta.


"Di sini begitu mengerikan. Banyak darah yang bercucuran."


"Aku tahu, aku masih ingat saat kita juga berada di dalam posisi yang sama seperti pasukan Isabella."


Duarr


Ledakan meriam pun turut mengejutkan Mareta. Ia tercekat saat melihat senjata tersebut dan langsung melirik Aurora tak percaya.


"Mereka juga memiliki senjata yang sama? Bagaimana Isabella bisa membuatnya."

__ADS_1


"Kau tahu sendiri berapa liciknya Isabella. Wanita itu menculik budak-budak yang pernah ikut dalam peperangan kita kemarin untuk membuat meriam. Sekarang aku memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa menghentikan kerja meriam tersebut."


"Tidak mungkin kau ke sana Aurora. Tunggu saja Pangeran Agustus untuk menghentikannya. Jika kemarin Agustus bisa menghentikannya kemungkinan ia juga bisa menghentikan kerja meriam itu sekarang."


Aurora menghela nafas panjang. Ia menatap ke arah Pangeran Agustus yang sibuk dalam peperangan.


"Pasukan Isabella sangat mengerikan. Berbeda dengan pasukan kita. Bahkan prajuritnya setara dengan para jenderal. Bagaimana mungkin bisa Pangeran menghadapinya dengan baik. Jika terus dibiarkan maka kerajaan Engrasia akan hancur sehancur hancurnya. Oleh karena itu, untuk menebus semua dosa yang pernah kita lakukan terhadap Engrasia aku akan membantu peperangan ini meski nyawa ku taruhannya."


Aurora berlari ke tengah lapangan dan menuju tempat meriam itu berada. Mareta terkejut bukan main dan menyusul Aurora. Iya tak mungkin membiarkan wanita itu melakukannya sendiri dan berada dalam bahaya sendirian.


"Apa yang sudah kau lakukan Aurora," lirih Mareta.


Aurora merebut pedang dari para pasukan yang sudah tiada. Ia pun menebas semua orang yang menjaga meriam tersebut. Aurora menghadapinya dengan penuh tantangan.


Di mana semua orang mengejar dirinya dan mengincar nyawanya. Satu sabetan pedang berhasil melukai Aurora.


Mareta lantas menusuk orang tersebut yang telah melukai Aurora.


"Mareta apa yang kau lakukan! Kembalilah, kau belum baik-baik saja."


"Tidak apa-apa. Aku tidak bisa membiarkan kau sendiri di sini."


Aurora menghela nafas panjang. Dengan penuh luka di tubuhnya Ia pun membuat konslet meriam itu hingga meriam tersebut pun tak berfungsi.


Tentunya pasukan Isabella tidak tinggal diam begitu saja. Ia mengajar Aurora dan ingin membunuh wanita itu. Akan tetapi Mareta menghalanginya.


Aurora sangat terkejut saat melihat pedang menembus perut Mareta. Aurora menghampiri Mareta dan memeluk wanita itu dengan kuat.


"Mareta, hiks. Apa yang sudah kau lakukan? Kau benar-benar keterlaluan sudah melakukan ini. Kau tidak boleh terluka."


"Aurora." Mareta tersenyum lebar dengan darah mengalir di pipinya. "Maafkan aku. Jagalah Fares untukku. Sebelum aku tiada aku ingin mengatakan jika aku mencintainya. Berikan ini padanya." Mareta menyerahkan sebuah gelang besi kepada Aurora.


Aurora mengambil gelang itu dan tak lama Mareta menutup matanya. Aurora histeris dan ia tak peduli lagi dengan semua mata pedang yang mengarah ke arah dirinya.


__________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2