
Agustus dan Sargon menatap hamparan padang rumput yang terbentang indah di hadapan mereka. Agustus dan Sargon baru saja melakukan kunjungan ke negara tetangga.
Setelah melakukan rapat politik keduanya pun diajak oleh pemerintahan di sana untuk menikmati keindahan alam di negara mereka.
Agustus dan Sargon dengan senang hati melakukan itu. Lagipula sudah sangat lama mereka tidak liburan akibatnya banyaknya masalah di kerajaan. Terutama Agustus yang tak punya waktu sama sekali untuk beristirahat.
Siang dan malam ia menyelidiki kasus pembunuhan Grace dan juga menyelidiki kematian Aurora. Meksipun orang-orang mengatakan jika Aurora sudah tidak ada namun Agustus sama sekali tak peduli dan mencari kebenaran kematian Aurora.
Entah kenapa ia merasa jika kematian Aurora dan adiknya sangat janggal. Apalagi Agustus menemukan fakta baru bahwa kepala yang diberikan kepada raja tampak seperti sebuah ukiran dan bukan kepala asli.
Mulai saat itu Agustus yakin jika mereka masih hidup. Ia sudah berdiskusi dengan Sargon dan Sargon juga sudha sepakat untuk menyelidiki keganjalan itu berdua.
"Padang rumput adalah hal yang paling disukai Aurora. Dia pernah mengatakan jika ia ingin pergi ke Padang rumput. Andai dia masih ada di sini."
Sargon melirik Agustus yang masih berlarut dengan masalah Aurora. Ia menghela napas panjang, ia juga mengharapkan hal yang sama seperti Agustus.
"Kau benar, dia juga pernah mengatakan itu pada ku." Agustus menatap Sargon dengan senyuman tipis di wajahnya. Bahkan Aurora juga menceritakan hal itu pada Sargon.
Meksipun sulit diterima namun Agustus tak punya hak untuk melarang Aurora menceritakan kesenangannya tersebut kepada siapapun.
"Tampaknya kau sangat menyayangi Aurora."
Sargon menyunggingkan bibirnya saat ditanya seperti itu. Jika dikatakan ia sangat menyayangi Aurora tentu saja ia sangat mencintai Aurora dan menyayanginya lebih dari dirinya sendiri.
"Tentu saja aku sangat menyayanginya. Mungkin lebih dari kau. Aku tidak seperti mu, kau bahkan tega menusuk orang yang sudah menyelamatkan mu. kau memang tidak salah dijuluki pangeran berhati dingin dan sangat kejam. Tapi sayang kau dikendalikan oleh raja, kau sama saja pengecut."
Agustus menatap Sargon dengan tangan mengepal. Sargon terus saja menyalahkan dirinya. Hal itulah yang terus menghantui Agustus. Ia dibendung dengan rasa bersalah yang sangat dalam kepada Aurora juga adiknya.
"Kau tidak perlu mengungkit itu."
"Bagaimana mungkin aku tidak mengungkitnya. Aku juga akan merasa sangat sakit hati jika aku berada di posisi Aurora."
"Aku menyesal sudah menceritakan itu padamu."
Agustus menghela napas panjang dan menikmati padang rumput itu. Ia dengar-dengar juga ada pertunjukan di seberang sana. Agustus pun memacu kudanya untuk memasuki pasar.
Sargon menatap Agustus yang sudah pergi lantas mengikuti pria tersebut. Ia pun ikut memasuki pasar. Yang ia dengar dari raja di negara ini bahwa ada pesta rakyat. Sargon ingin melihat bagaimana pesta rakyat di tempat ini.
Ia melihat Agustus di depannya.
__ADS_1
"Kau bisa membawa kuda mu pelan-pelan saja."
"Kau yang lambat."
Agustus pun memasuki pasar itu semakin dalam. Ia meletakkan kudanya dan ikut berbaur dengan masyarakat.
Pertunjukan hingga penampilan sangat memukau begitu menghibur masyarakat. Sargon menghampiri Agustus, saat ia menatap ke panggung ia terkejut tatkala melihat seorang wanita bercadar tengah menari balet.
Perempuan itu mengingatkannya akan Aurora. Tidak hanya Sargon yang merasakan hal tersebut. Namun Agustus juga merasakan hal yang sama.
"Kenapa sangat mirip."
"Kau merasakannya juga?"
Agustus menganggukkan kepala. Semula ia tak tertarik dengan pertunjukan tersebut, hingga akhirnya mereka pun memutuskan untuk melihat pertunjukan itu saat melihat orang yang sangat familiar membawakan sebuah tarian yang juga tidak asing dipandangan Agustus dan Sargon.
Wanita itu menari sangat memukau di atas panggung tersebut hingga menghipnotis setiap pasang mata hanya menatap dirinya.
Keindahan tarian dan juga keunikan yang dibawa oleh wanita itu hingga membuatnya diberikan tepuk tangan.
Oecanus tersenyum melihat tampilan Aurora yang sangat memukau. Ia menuliskan segala hal yang ia lihat tersebut ke dalam sebuah buku. Bagaimana di dalam buku tersebut ia menceritakan setiap hal yang sudah ia lewati bersama Aurora dan kisah hidup Aurora serta penampilan tarian baletnya yang sangat menakjubkan.
Oecanus lantas langsung menutup wajahnya dan sedikit menjauh. Ia menatap Aurora yang berada di atas panggung. Ia tak ingin Agustus dan juga Sargon menemukan Aurora.
Sontak Oceanus langsung berlari dan menyamar agar dirinya tak diketahui oleh kakaknya. Ia menghampiri Aurora dan menarik tangan Aurora dengan panik.
"Ada apa?"
"Di sini ada pangeran Agustus dan pangeran Sargon. Kau harus menjauh dari sini."
Aurora sangat panik dan langsung berlari meninggalkan kerumunan. Para fans yang sangat menanti-nantikan dirinya pun seketika heboh melihat Aurora melarikan diri.
"Ada apa?" tanya Sargon sambil mengerutkan keningnya.
"Wanita itu kabur," jawab Agustus.
"Kita harus mengejarnya untuk memastikan itu benar Aurora atau bukan."
Kedua pangeran itu langsung menunggangi kuda miliknya dan mengejar wanita tersebut.
__ADS_1
___________
Oceanus berusaha bersembunyi dan berganti identitas agar tidak diketahui oleh Agustus maupun Sargon. Ia tak ingin bertemu lagi dengan orang istana. Cukup masa lalu menjadi sebuah pembelajaran.
"Kenapa pangeran Agustus dan pangeran Sargon juga ada di sini?" tanya wanita itu panik.
"Aku tidak tahu. Sepertinya ada kunjungan. Bodohnya aku tidak menyelidikinya dahulu."
"Kau tidak bodoh. Mungkin kita berdua sudah kecolongan."
Aurora menatap dirinya sendiri. Sebenarnya ia ingin sekali bertemu dengan pangeran tersebut. Dadanya sangat sesak ketika mengetahui mereka ada di sana, terlebih lagi pangeran Agustus. Aurora sangat merindukan putra mahkota tersebut.
Namun ia sudah berjanji kepada Oceanus dan dirinya sendiri agar tidak terlibat dengan orang kerajaan lagi.
Oecanus bisa melihat raut sedih di wajah Aurora. Oceanus merasa bersalah karena telah menjauhkan Aurora dan mereka.
"Maafkan aku melarang mu Aurora."
Aurora melirik Oceanus dan menggelengkan kepalanya. Oecanus sama sekali tidak ada salah.
"Kau tidak memiliki salah sama sekali, buat apa kau meminta maaf."
"Tapi aku..."
"Aku tahu. Tapi aku berusaha hanya mencintai satu orang. Aku sudah ikhlas." Sargon terdiam. Ia tahu Aurora sangat mencintainya tetapi Aurora juga mencintai orang lain selain dirinya.
"Aku ingin egois Aurora. Aku ingin yang memiliki diri mu hanya kau."
"Semua orang juga seperti itu. Hanya aku yang benar-benar konyol."
"Aku mengerti dengan perasan mu," ucap Oecanus dan memeluk tubuh Aurora.
Suara tapak kuda mengangetkan mereka berdua. Oceanus langsung membekap mulut Aurora agar wanita itu tak mengeluarkan suara.
"Mereka ada di sini," bisik Oceanus dan Aurora mencengkram baju Oceanus dengan erat.
__________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA