Dicintai 3 Pangeran

Dicintai 3 Pangeran
Part 26


__ADS_3

Melewati masa hukuman yang hanya benar Minggu rasanya bertahun-tahun tidak pernah merasakan udara bebas bagi kedua pangeran tersebut.


Semenjak kejadian tersebut baik Sargon maupun Agustus tidak pernah lagi bertegur sapa. Hanya ada ketegangan di antara keduanya yang semakin memburuk.


Seringkali mereka terlibat pertengkaran baik di meja rapat maupun dalam keadaan santai.


Oceanus sebagai penengah di Anatar keduanya meskipun Agustus masih tidak terima dengan sikap Oceanus yang sempat membela Sargon.


Namun rasa marahnya kepada pria itu tidak berlangsung lama. Sementara Aurora yang menjadi objek kemarahan mereka hanya bisa pasrah dan terkadang membunuh kedua pangeran tersebut untuk berbaikan.


Meskipun mereka menurut tetapi Aurora tahu bahwa mereka terpaksa melakukan itu. Anehnya lagi Aurora bisa mengendalikan dua pangeran tersebut tanpa dimengerti oleh Aurora.


Aurora menghela napas panjang dan kemudian menatap kucing yang ada di pelukannya. Kucing tersebut adalah milik pangeran Agustus dan diberikan kepadanya.


Aurora memang sangat menyukai hewan lucu tersebut dan ketika Agustus memberikan kucing tersebut sebagai hadiah kepadanya Aurora dengan senang hati menerimanya.


Wanita tersebut menghela napas panjang dan mengusap bulu halus kucing tersebut.


"Maira kau sangat cantik, kenapa kau harus begitu cantik dan malah lebih cantik kau dari pada aku," dumel Aurora sambil menatap kucingnya dengan kesal.


Apa yang dikatakan oleh Aurora adalah benar. Kucing tersebut sangat cantik dengan bulunya yang tebal dan lembut serta memiliki warna yang cerah dan bersih. Aurora merasa minder dengan seekor kucing.


"Untung aku adalah pemilik mu, jika kau terus berada di tangan dia mungkin kau tidak akan aman," ujar Aurora sangat yakin dengan ucapannya. Ia tahu Agustus bukanlah orang baik, dia sama seperti pisikopat dan suka membunuh.


Bahkan jika Aurora tidak mematuhi perintahnya maka ia akan diancam dibunuh dan disiksa. Sama seperti ketika dirinya mengerjai pangeran Agustus dan pulang ke istana tersebut malah bersama dengan pangeran Oceanus. Padahal waktu itu Agustus tengah menjalani masa hukuman yang diberikan raja untuknya.


Pada saat itu Aurora melihat kemarahan yang sangat besar pada Agustus. Pria itu seperti tidak ingin memaafkan dirinya dan tak mendengarkan permohonan yang dikirimkan Aurora.


Dan mulai saat itu pula Aurora tahu bahwa Agustus bukan tandingannya. Meskipun seperti itu kenyataannya, tapi Aurora tidak pernah gentar untuk melakukan rencana besar di belakangan Agustus.


Ia sudah mengumpulkan pasukan bersama Fares. Kemampuan pedang dan berperang Fares pun semakin meningkat. Hal itu membuat bangga Aurora.


Aurora juga sudah memiliki pasukan rahasia yang ia latih bersama Fares. Hebatnya Aurora lagi rencana penghianatannya sama sekali tidak terendus oleh pangeran dan raja.


Jika suatu hari ia ketahuan mungkin Aurora sudah siap bahwa kepalanya akan terpisah dari tubuhnya. Tapi, Aurora berharap ia takkan pernah tunduk dari sang raja maupun Pangeran bengis tersebut.


Salah satu alasan Aurora tetap bertahan menjadi budak Agustus adalah karena dengan begitu ia lebih mudah mengetahui kelemahan Agustus dan juga kerajaan serta dapat mencuri buku-buku perang milik kerajaan.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Aurora tersentak dan langsung melihat orang yang baru saja duduk di sampingnya. Itu adalah pangeran Sargon. Aurora terdiam sambil tangannya mengelus huruf kecil miliknya.


"Pangeran Sargon," sontak Aurora menundukkan kepala.

__ADS_1


"Kenapa kau sendiri di sini? Apakah Agustus menyiksa mu lagi?" Aurora menggelengkan kepala. Ia duduk di tempat ini hanya untuk mencari ketenangan.


"Aku hanya mencari udara segar."


"Wow. Kau akan bersama Agustus."


Aurora menggigit bibirnya, jika dikatakan aman Aurora rasa selama ini ia bersama Agustus penuh dengan penderitaan. Dan jika dikatakan tidak aman Aurora rasa selama ini juga dirinya dipenuhi dengan kenangan yang cukup indah bersama pangeran Agustus.


Tentunya hanya mereka berdua yang tahu itu, bahkan Grace pun tidak mengetahui kedekatan mereka yang tidak disadari oleh keduanya.


Sargon melihat luka lebam di sisi bibir Aurora. Ia menyentuh luka tersebut dan menggenggam tangannya marah.


"Apa yang sudah dia lakukan pada mu? Kenapa bisa kau lebam seperti ini? Pangeran sialan itu, tidak ada sama sekali lembutnya dengan wanita."


"Pangeran, bukan seperti itu. Saya mohon pangeran tidak menyalahkan pangeran Agustus. Ini salah saya karena saya lalai dalam pekerjaan."


"Tapi tetap saja Aurora dia tidak boleh memukulmu."


"Pangeran, aku seorang budak, jika aku melakukan kesalahan dan dipukul itu adalah sesuatu yang biasa. Bukankah kau juga begitu kepada para budak mu."


Sargon terdiam dan menghela napas panjang. Perkataan Aurora ada benarnya, Sargon menyadari satu hal jika selama ini ia sudah jatuh hati kepada budak cantik di dekatnya ini.


"Kau benar Aurora. Mungkin itu kesalahan ku, jadilah budak ku, maka aku tidak akan pernah menyakiti mu dan akan memberikan kau kenyamanan. Aku akan menjaga mu, kau tenang saja dan tak boleh takut. Jika kau terus bersamanya aku tidak tenang," ujar pangeran Sargon yang mengejutkan Aurora.


"Pangeran apa maksud mu?"


"Pangeran, saya sudah terbiasa di tempat pangeran Agustus saya di sini saja."


"Kau!! Kau sudah masuk ke dalam perangkap Agustus. Kau tahu Agustus bukanlah orang baik," ujar pangeran Sargon dengan nada marah.


"Lalu bagaimana dengan pangeran sendiri, apakah pangeran sudah merasa lebih baik dari pangeran Agustus." Pertanyaan tersebut mematikan pendapat Sargon.


Pria itu mengepalkan tangannya marah dan mencengkram tangan Aurora dengan kuat hingga membuat Aurora terkejut dan refleks menarik tangannya.


"Pangeran apa yang kau lakukan?" tanya Aurora dengan nada bergetar.


"Kau sama saja Pangeran. Di antara kalian berdua tidak ada yang lebih baik, kalian sama-sama kejam."


Setelah mengatakan itu Aurora pun langsung pergi sambil membawa Maira dalam pelukannya.


"Budak sialan, kau ingin aku selamatkan malah lebih senang masuk dalam kandang harimau."


___________

__ADS_1


Burung berkicauan di atas istana. Seorang wanita lengkap dengan jubah kebesaran miliknya berdiri di depan jendela.


Tangannya ia letakkan di belakang. Kemudian terdengar pintu dibuka. Dan orang pemilik kamar tersebut terkejut melihat ada orang lain di kamarnya.


Sontak saja ia maju dan mendekati wanita itu. Ia menyentuh punggung wanita tersebut hingga sang wanita berbalik dan memberikan telinga yang di wajahnya.


"Akhirnya kau datang," ujar wanita tersebut.


"Siapa kau? Kenapa kau ada di kamar ku?" tanya Grace terkejut melihat wanita tersebut yang menggunakan jubah dengan wajah tertutup.


"Aku enggan menyembunyikan wajah ku. Tetapi akan lebih baik jika aku menyembunyikannya."


Ia kemudian mengambil nampan yang berisi makanan serta secangkir gelas.


"Aku membawakan ini untuk mu," ujarnya lalu menyuruh Grace memakan sup buatannya. "Ku dengar kau sedang sakit makannya aku membawakan ini untuk mu."


"Kenapa aku harus meminumnya? Kau bukan orang baik, tunjukan diri mu."


"Nanti saja jika kau sudah meminumnya," ujar wanita tersebut lalu menyerahkan paksa minuman itu kepada Grace.


"AKU TIDAK MAU!!" tolak keras Grace.


Kemarahan wanita itu pun tersulut dan kemudian mencengkram rahang Grace dan memaksa wanita itu memakan sup buatannya. Perempuan tersebut menyuapkan sup itu dengan paksa dan menyuruh Grace menelannya.


Selain itu iya juga memasukkan minuman tersebut dengan paksa ke rongga mulut Grace.


Hingga tak berapa lama Grace merasakan reaksi aneh pada tubuhnya. Dress menyentuh kepalanya Grace menyentuh kepalanya yang berdenyut hebat dan kemudian tak lama wanita itu merasakan sakit yang amat mendalam hingga membuatnya menyemburkan darah dan kemudian terjatuh ke lantai.


Grace menatap mata wanita itu dengan rasa sakit yang luar biasa. Grace berusaha berjuang melawan rasa sakit tersebut dari tubuhnya.


Sementara itu sang wanita tertawa gelak melihat tubuh tak berdaya Grace.


"Kau," tunjuk Grace, "si...siapa... Kau?"


"Aku? Sesuai janji ku, aku akan menunjukkan diri ku jika kau sudah meminumnya." Wanita itu menepati janjinya dan membuka penutup wajah yang menyembunyikan kebenaran tersebut.


Betapa terkejutnya Grace melihat wanita itu. Orang yang tidak disangka-sangka oleh Grace. Ia mengira selama ini orang itu adalah orang yang berada di pihaknya.


"Jadi kau bukan Isablla?"


"Aku tidak sama seperti Isabella, dan aku adalah pembunuh mu," ujarnya dan kemudian menikam Grace di dadanya sebelum Grace mati dengan rasa pengkhianatan yang sangat besar.


____________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2