
1 tahun kemudian
Aurora bermain di pinggir sungai. Wanita itu penuh dengan suara riang sembari memainkan air sungai dan sementara pangeran Agustus berada di dalam sungai tersebut.
Untuk misi yang direncanakan Aurora bersama para budak, Aurora memang belum melakukan penyerangan kepada kerajaan. Karena Aurora berpikir belum waktunya untuk melakukan penyerangan tersebut sebab mereka masih kekurangan persenjataan. Aurora juga terus menerus mengrekrut anggota baru untuk menambah pasukan.
Untuk kejahatan yang sudah dilakukan oleh Aurora sama sekali tidak ada yang terungkap oleh istana. Perempuan tersebut memang berbakat menyembunyikan hal-hal yang sudah sepatutnya ia jauhkan dari publik.
Aurora tersenyum melihat Pangeran Agustus mendekat padanya. Selama satu tahun ini Aurora semakin dekat dengan Agustus dan hubungan mereka cukup terbilang intim.
Tidak hanya kepada pangeran Agustus, Aurora juga semakin dekat dengan pameran Oceanus maupun Sargon. Ia sering bermain dengan pangeran tersebut dan pergi ke tempat mereka.
Agustus sering menegur dan mengancam Aurora jika mendekati adik-adiknya, namun wanita itu tidak pernah jera dan terus berteman dengan pangeran Oceanus serta pangeran Sargon tanpa perduli kecemburuan pangeran Agustus.
Selama ini Agustus sudah menyadari perasaannya kepada Aurora. Hanya saja Aurora yang tidak pernah sadar dengan perasaan pangeran Agustus. Ia berpikir Agustus tidak pernah bisa melupakan putri Grace. Karena setahu Aurora tokoh Agustus sangat mencintai Grace. Sementara ia hanyalah figuran sebagai pemanis cerita.
"Aurora kemarilah." Wanita itu berhenti mencipratkan air dan menatap Agustus yang baru saja menyeru dirinya.
Aurora sedang melakukan keliling hutan bersama panegran Agustus. Mereka melakukan perjalanan itu berkuda dengan kuda yang sama. Agustus sengaja mengajak Aurora agar wanita itu bisa menikmati pemandangan indah di Engrasia bukan hanya terpenjara di istana.
Mereka mencari sungai untuk beristirahat. Ketika menemukan sungai yang sangat jernih keudanya sepakat untuk singgah di sungai tersebut.
"Pangeran, sudah aku katakan jika aku tidak ingin mandi," ucap Aurora menolak dan langsung menjauh.
Agustus tersenyum lebar dan hendak keluar dari sungai. Namum Aurora langsung mencegahnya. Ia tak ingin pangeran tersebut keluar dan memperlihatkan tanda kelakiannya.
Aurora hapal dengan kebiasaan pangeran itu. Aurora saja yang tidak tahu jika Agustus sekarang mengenakan pakaian dalam.
"Pangeran tetaplah di sana."
"Ada apa dengan mu? Kenapa wajah mu memerah," goda Agustus membuat Aurora tak bisa menahan rasa malunya.
Aurora pun berani menatap Agustus. Namun lagi-lagi ia harus memalingkan wajahnya karena melihat perut kotak-kotak milik Agustus. Meskipun ia sudah sering mengusap dan menyabuni perut tersebut tapi Aurora tetap saja tak bisa menatap keindahan perut tersebut.
Mengetahui arah pandangan Aurora, Agustus pun lantas tertawa kecil. Ia merentangkan tangan yang berarti Aurora harus masuk ke dalam sungai dan berada dalam pelukannya.
Tapi Aurora sama sekali tidak akan melakukan itu. Wanita itu menggelengkan kepala dengan kuat.
"Tidak Pangeran."
"Ayolah Aurora Akuela."
Mengetahui bujukannya tersebut tidak akan berhasil, lantas Agustus pun merancang strategi.
Ia pun menatap bajunya dan meminta Aurora untuk mengantarkan bajunya tersebut kepadanya.
"Aurora, ambilkan pakaianku."
Aurora yang notabenenya adalah budak dari Agustus lantas mengangguk dan mengambilkan pakaian milik pangeran itu.
Namun alih-alih menerima pakaian tersebut, Agustus malah menarik tangan Aurora hingga sang wanita tercebur ke dalam kolam.
Aurora tertawa nyaring dan langsung melingkarkan tangannya di leher Agustus. Wanita itu mengusap wajahnya yang penuh dengan linangan air dan menatap Agustus di depannya.
Aurora terdiam. Mereka saling tatap dan sama-sama saling mengagumi. Sementara Agustus tersihir dengan kecantikan Aurora, sedangkan Aurora tersihir dengan ketampanan Agustus.
__ADS_1
Agustus mengusap wajah Aurora yang penuh dengan tetesan air tersebut. Pangeran itu menyampirkan rambut Aurora yang menghalangi wajah perempuan itu.
Agustus tersenyum kepada Aurora, Sedangkan Aurora semakin dibuat terpaku oleh senyuman Agustus. Ia merasakan dadanya berdegup lebih cepat.
Tubuh Aurora bergetar ketika Agustus mendekatkan wajahnya. Ia mencengkram tangannya dan sama sekali tidak melawan dengan sikap Agustus.
Agustus yang merasa jika telah mendapatkan lampu hijau dari Aurora lantas menempelkan bibirnya di atas bibir Aurora. Aurora terkesiap dan merasa gugup. Pangeran tersebut menciumnya dari pelan menuju kasar.
"Pangeran," lirih Aurora. Ia memukul dada Agustus karena sudah kehabisan pasokan udara.
Agustus yang tersadar dengan perbuatannya lantas langsung melepaskan tautan bibir mereka. Pria itu mengusap bibirnya dan juga bibir Aurora.
"Bibir ini hanyalah milik ku."
Aurora menganggukkan kepala. Entah apa yang sudah merasuki Aurora hingga wanita itu sampai hilang akal.
Padahal dirinya pernah berjanji tidak akan pernah takluk pada Agustus, namun hari ini adalah pengingkaran ucapannya sendiri. Ternyata dia hanya mampu mengucapkan di mulut tidak di hati.
________________
Agustus dan Aurora baru saja pulang dari hutan dan menggunakan kuda yang sama. Agustus menggendong tubuh kecil Aurora dan wanita itu tertawa kecil ketika tubuhnya yang rapuh tersebut diangkat dengan enteng oleh laki-laki tersebut.
"Pangeran terimakasih."
"Ya."
Mereka berdua pun berjalan bersama-sama menuju ke istana. Namun di tengah jalan seorang pengawal menghentikan Agustus. Agustus melihat pengawalnya itu hendak melaporkan sesuatu kontan berhenti dan menatap pengawalnya itu.
"Pangeran, Ada hal darurat. Raja memerintahkan agar Panegran segera ke aula istana. Pasukan dari kerjaan Euthoria sudah menyerang kota terang-terangan."
"Sudah sampai di mana serangan mereka?"
Pengawal itu pun menjelaskan kepada Agustus. Serangan mendadak baru saja diluncurkan oleh kerajaan Euthoria dan sudah hampir menghancurkan benteng pertahanan istana dan kota. Mungkin ini adalah balasan bagi mereka.
"Mereka sudah memasuki alun-alun kota. Banyak rakyat kita dibunuh."
Agustus mengepalkan tangannya dan langsung pergi ke aula istana. Sementara Aurora yang juga ikut terkejut hanya terdiam dan melihat kepergian sang pangeran. Apakah ia bisa memanfaatkan kesempatan ini?
Aurora berlari ke tempat rahasianya bersama para budak. Wanita itu menyuruh agar para budak berkumpul.
"Aurora ada apa? Kenapa kau sangat cemas?"
"Kau tahu apa saja yang baru saja terjadi? Kerajaan Euthoria menyerang kerajaan kita."
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya salah satu budak wanita kepada Aurora. "Apakah kita ikut berpartisipasi dalam peperangan itu?"
Aurora menggelengkan kepala. Ia harus memanfaatkan keadaan ini. "Bukan seperti itu maksudku. Kita bisa memanfaatkan mereka. Biarkan mereka berperang, dan kita bisa melihat taktik dan strategi dari kedua kerajaan. Jika salah satunya menang. Itulah yang akan menjadi musuh kita selanjutnya. Yang penting kita sudah dapat mengetahui strategi mereka. Tidak usah membuang-buang tenaga dan mengorbankan diri sendiri dalam peperangan ini. Maka biarkan saja mereka."
Ucapan Aurora lantas disetujui oleh semua pihak. Aurora juga mengantisipasi jika ada mata-mata di sini.
"Aku setuju dengan ide mu Aurora," ujar Fares kepada Aurora. Wanita itu mengangguk-anggukkan kepala.
"Fares kau amati peperangan itu. Lihat formasi yang digunakan mereka, jangan sampai kita kecolongan."
"Baik Tuan Putri," canda Fares membuat Aurora tertawa renyah.
__ADS_1
"Aku harus kembali ke tempat ku. Aku tak ingin mereka akan curiga kepadaku."
Aurora lantas pergi dari tempat tersebut. Ia menutup wajahnya agar tidak ada yang mengenali dirinya.
Aurora berhenti berjalan menatap Pangeran Sargon yang baru saja keluar dari istana. Wanita itu langsung berubah ceria dan melambaikan tangannya.
"Pangeran!!" Sargon menghampiri Aurora dan heran dengan melihat Aurora menutup wajahnya dengan cadar.
"Kenapa kau menggunakan cadar?" Pangeran Sargon melepaskan cadar di wajahnya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya menyukainya."
"Apakah yang diucapkan mu ini benar Aurora?" tanya pangeran Sargon kepadanya.
"Tentu saja." Pangeran Sargon menjentikkan jarinya di kening Aurora.
"Kau sangat menggemaskan sekali."
"Pangeran....," cicit Aurora.
"Kapan kau akan ke tempat ku?"
"Jika aku tidak memiliki banyak tugas."
Sargon terdiam. Ia teringat jika Aurora adalah budak Agustus. Ia harus mencari banyak cara untuk membawa Aurora berjalan-jalan.
"Jika peperangan sudah selesai aku akan mengajak mu mengelilingi kota di saat malam karnaval nanti."
Aurora langsung bersemangat. Wanita itu menjadi sangat ceria mendengar hal tersebut.
"Apakah itu benar Pangeran? Tapi..." Aurora baru ingat jika tuannya adalah pangeran Agustus. Pangeran tersebut pasti tidak akan membiarkan dirinya pergi bersama pangeran Sargon. Mengingat jika Pangeran Sargon dan pangeran Agustus masih dalam suasana tegang. Dua bersaudara tersebut tidak berhenti berselisih.
"Kau tenang saja. Aku bisa mengatasi itu."
Aurora menganggukkan kepala. Senyum di wajah Sargon mengembang melihat wanita di depannya. Ketiga pangeran yang terkenal datar kini telah berhasil dibuat oleh Aurora selalu tersenyum jika bersama dirinya.
"Bagaimana jika kita berjalan-jalan terlebih dahulu."
Aurora pun menganggukkan kepala.
"Boleh. Pangeran Agustus juga pasti lagi sibuk. Apa benar kerjaan kita diserang."
"Apa yang kau ucapkan benar Aurora."
"Lantas kenapa pangeran mengajak saya berjalan-jalan?" heran Aurora.
"Persiapan untuk melakukan perang."
Pangeran Sargon dan Aurora lantas tertawa bersama-sama.
__________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1