
Agustus memandang wajah Isabella dengan dingin. Tatapan mata pria itu mampu membuat Isabella yang semula sangat berani menatap Aurora dan kini menciut dengan nyali yang tidak seberapa.
Bahkan ia menundukkan pandangannya dan tidak berani bertatapan langsung dengan manik hitam Agustus.
Plak
Tidak hanya sampai di situ, Agustus pun kembali menampar wajah Isabella untuk kedua kalinya dan lebih kuat dari tamparan sebelumnya.
Plakk
"Auu... Pangeran? Apa yang kau lakukan kepada ku? Kau telah menampar aku? Aku adalah anak dari perdana menteri dan berani-beraninya kau menampar wajah ku! Apa kau tidak takut mendapatkan hukuman tambahan?"
"Hanya anak angkat dai perdana Mentri. Kau adalah orang yang sangat beruntung dan menjadi anak bangsawan," ucap Agustus yang membuat Isabella tertohok dan mengeraskan rahangnya mendengar ucapan Agustus yang menghina martabat dirinya.
"Tapi aku lebih baik darinya!!"
"Dan Grace lebih baik dari diri mu," timpal Agustus. Meskipun Grace hanyalah anak bangsawan yang memiliki tingkat paling rendah tetapi ia beretika dan juga sangat baik serta telah menjadi kekasih Agustus.
"Tetap saja aku lebih baik. Dia hanyalah anak bangsawan rendahan tidak seperti ku."
"Kau sangat keras kepala Isabella! Kau ingin mendapatkan tamparan ku kembali?" tanya Agustus dengan nada yang sedikit tinggi.
Isabella meneguk ludahnya dan menatap Aurora yang terbaring di lantai dalam kondisi yang sangat menggenaskan. Agustus ikut memandang tubuh Aurora dan ia terdiam tak mampu berbicara sepatah kata pun.
"Kau wanita sialan!! Apa yang sudah kau lakukan kepada pangeran Agustus hingga membuat dirinya seperti ini?"
"Dia tidak melakukan apapun," sahut Agustus menanggapi ucapan Isabella.
"Pangeran kau dari tadi terus membelanya? Dia hanyalah seorang budak, kenapa kau peduli padanya? Bahkan demi membela dirinya kau sampai rela merendahkan diri mu di hadapan semua penjabat dan sekarang kau menghina ku karena dia," tunjuk Isabella kepada Aurora.
Aurora menatap Agustus dengan pandangan sayu. Hal itu membuat Agustus terdiam dan tak mampu berbicara melihat kelembutan di tatapan wanita tersebut.
"Kau tidak pantas untuk bertanya. Pergilah dari sini sebelum aku akan menggantung mu di alun-alun jalanan."
"Kau berani melakukannya?" Agustus memutar bola matanya mendengar pertanyaan Isabella. Bahkan ia sangat berani menggantung kepala tanpa tubuh Isabella di sana.
"Aku Agustus tidak akan pernah takut. Pergilah Isabella sebelum aku membunuh mu!"
"Tidak mau. Kau tidak memikirkan perasaan Grace jika kau menolong Aurora seperti ini?"
__ADS_1
"ISABELLA!! PERGILAH!" bentak Agustus dan menatap tajam wanita tersebut.
Isabella menarik napas panjang dan kemudian menelan ludahnya dengan gugup. Lalu wanita itu pergi dengan perasaan marah serta diikuti oleh para pelayannya di belakang.
Agustus menatap Aurora. Pria itu berdiri di dekat wanita tersebut. Ia menyentuh pundak Aurora yang bergetar hebat dan penuh dengan darah. Entah kenapa hati Agustus sangat sakit melihat kondisi Aurora yang sangat terpuruk.
Ia pun lantas mengusap darah di wajah Aurora dan sedikit tersenyum tipis.
"Kau tenang saja. Jangan pernah rasakan sakitnya, semua akan merasa baik-baik saja jika kau terus optimis dan kuat. Aku tahu kau bisa bertahan," ujar Agustus dan kemudian mengangkat tubuh ringkih Aurora.
Aurora terdiam dan tak mampu untuk membuka suara. Ia hanya bisa menatap dengan pandangan buram. Namun ia mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Agustus. Untuk pertama kalinya Aurora tersentuh dengan ucapan pria itu.
Pria itu selalu mengeluarkan kata umpatan dan amarah kepadanya. Dan hari ini Aurora dikejutkan dengan kelembutan pangeran Agustus. Mulai dari membelanya di pengadilan dan kemudian menolongnya dari Isabella.
Aurora tersenyum lebar dan menatap wajah tegas sang pria yang terlihat samar di matanya. Aurora menghela napas berusaha membuka mulut dan ingin melontarkan kata-kata.
"Pa...Pa...nger...an te...ter..terima..kasih," ujar Aurora terbata-bata.
Agustus berhenti berjalan dan menatap Aurora yang baru saja mengusahakan rasa terimakasihnya. Ia tersenyum tipis dan mengusap kening Aurora.
"Ya," jawabnya namun tetap saja kaku.
Oceanus merasakan dadanya sakit melihat Aurora dan Agustus yang bersama. Sementara tidak hanya Oceanus di sana yang merasakan hal yang sama.
Grace juga merasakan hal yang sama seperti Oceanus. Ia menggenggam kedua telapak tangannya. Hatinya sangat sakit tahu bahwa perlakuan Agustus sangat berbeda kepada Aurora.
"Aurora jika aku sudah pergi dari kehidupan ini, tampaknya hanya kau kandidat yang pantas untuk menggantikan diri ku. Pangeran bahkan membela mu begitu gigih dan menentang peraturan hanya demi kamu. Aku yakin hanya kau yang pantas mendampingi dirinya," ucap batin Grace yang merasa memang dirinya tidak akan lama berada di dunia lagi. Ia tahu bahwa nyawanya hanya tinggal sebentar. Racun yang berada di tubuhnya menyebar dengan sangat kuat hingga membuat Grace merasakan jantungnya dihancurkan tiap malam.
"Grace... Kau tidak apa-apa?"
Grace menatap pangeran Oceanus. Ia sadar ada kekecewaan di mata Oceanus. Apakah Oceanus juga mencintai Aurora? Grace terdiam tidak bisa membayangkan jika Oceanus juga menyukai Aurora. Mungkin untuk kedua kalinya Oceanus akan patah hati setelah sebelumnya ia juga mencintai dirinya dan ternyata Agustus yang mendapatkan dirinya. Atau akankah Oceanus kali ini akan mendapatkan cinta dari Aurora.
_______________
Sesampainya di dalam istana pribadi Agustus, pria itu memberikan obat untuk Aurora. Ia dihukum dikurung di dalam istana dengan rentang waktu yang sangat lama.
Untung saja Agustus tadi belum dikurung dan sempat melihat Aurora yang ditindas oleh Isabella. Pangeran tersebut mengobati Aurora.
Tiap malam ia menjaga Aurora dan mengobati wanita itu. Hanya hal tersebut yang ia lakukan di dalam istana yang super duper megah namun ia terpenjara di sana dan hanya diberikan makanan.
__ADS_1
Aurora adalah pelayan pribadinya jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan jika wanita itu terus berada di dalam istananya, bahkan berada di dalam kamarnya.
Agustus memperhatikan wajah Aurora yang sangat cantik dan bagaikan Dewi kecantikan yang diturunkan dari langit.
Wajah khas Aurora yang begitu kental. Tampak ia bukan dari keturunan Engrasia dan itu memang benar, ia adalah wanita keturunan Yunani dan dari kerajaan yang ada di Yunani dan dibawanya kemari.
Ia mengingat kembali tatapan tajam Aurora di tengah perang sambil menatap jasad orangtunya dan dengan teganya Agustus bersama Sargon dan Oceanus membawa Aurora yang bahkan belum sempat mengucapkan selama tinggal kepada sang keluarga.
Aurora membuka matanya. Sudah sangat lama ia berada di kamar pribadi Agustus dan Agustus pula yang merawat dirinya. Aurora melihat Agustus yang tertidur di dekatnya. Hati Aurora tersentuh.
Ia menyentuh pelan wajah damai Agustus. Pangeran itu sangat tampan layaknya bayi. Tidak ada lagi wajah datar dan hanya ada wajah yang menggemaskan.
Agustus lebih baik saat ia tertidur daripada membuka mata. Tanpa sadar Aurora tersenyum dan mengelus wajah selembut kapas tersebut.
Berada di dalam kamar ini bersama perhatian Agustus membuat Aurora merasakan ada perbedaan yang sangat mendalam pada dirinya.
Tiba-tiba mata Agustus terbuka dan Aurora terkejut dan langsung menarik tangannya. Wanita itu meneguk ludahnya dengan kasar.
"Pa... Pangeran!!"
"Kau sudah sadar?" Agustus membuka matanya dan menatap manik indah milik wanita itu.
Aurora terhipnotis dengan tatapan tersebut. Agustus menarik napas panjang dan menyentuh kening Aurora. Sementara Aurora terkejut merasakan tangan pria itu yang menyentuh keningnya.
"Pangeran..," cicit Aurora.
"Kau sudah lumayan baik."
Agustus mengambil makanan milik dirinya dan membantu Aurora bangun.
"Makanlah dulu."
"Pangeran," ujar Aurora sambil menahan tangan Agustus. "Terimakasih."
"Hm."
______________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH