
Aurora tertawa bahagia ketika memainkan alat-alat tradisional di zaman pertengahan tersebut, ia bagaikan baru saja menemukan permainan langka. Wanita itu memamerkan barangnya kepada pangeran Sargon yang tengah menatapnya dengan kagum.
Wanita itu sangat cantik apabila tertawa seperti itu. Sargon tak bisa memungkiri kecantikan yang dimiliki oleh Aurora sangatlah alami. Anugerah Tuhan terindah yang dihadiahkan kepada Aurora.
"Pangeran bukan kah kita terlalu santai? Di luar sana sedang diserang, lantas kenapa kita masih berkeliaran di sini?"
"Terlalu tegang juga tidak baik." Dengan entengnya Sargon mengatakan kalimat tersebut. Aurora menghela napas dan mengercutkan wajahnya.
Sebegitu hebatnya kah mereka hingga pada saat jantung kerajaan diserang Pangeran di depannya ini pun tetap santai.
"Kau tidak takut jika disalahkan tidak ada dalam barisan perang?"
Sargon menatap Aurora serius. Pria itu mendekati Aurora dan meletakkan tangannya di atas kepala wanita itu. Ia tersenyum lebar dan Aurora menatap dengan susah payah karena pria itu yang lebih tinggi darinya.
"Aku katakan sekali lagi, untuk apa takut? Dia bukanlah musuh yang berbahaya, palingan itu adalah taktik bibi ku, dengan pangeran Agustus pasti teratasi.
Aurora terdiam. Bahkan kerjaan Euthoria dianggap enteng oleh kerajaan Engrasia. Lantas bagaimana pasukannya nanti? Aurora menggigit bibir. Ia harus lebih waspada dan mempersiapkan ini dengan baik.
Aurora memang mendekati para pangeran tersebut untuk menjalankan rencana miliknya. Namun ia tak menyadari jika para pangeran tersebut telah jatuh hati kepadanya.
Begitu juga Aurora yang tidak menyadari perasaannya sendiri. Wanita itu menghembuskan napas kasar dan menatap Sargon.
"Pangeran, kau benar-benar tidak takut?"
"Aku sudah bertahun-tahun mengikuti perang, kenapa aku harus takut? Ini adalah peperangan yang santai."
"Bagaimana jika mereka sudah melakukan persiapan yang sangat matang? Kau tidak takut?"
"Aurora kau sangat naif, kau tidak tahu siapa orang dibalik ini. Sudah menjadi rahasia kami bersama jika orang yang ada di belakang kerajaan Euthoria adalah ratu sendirian, bibi ku."
Aurora menutup mulutnya. Begitu mudahnya mereka menebak siapa yang sudah melakukan penyerangan tersebut. Apalagi dirinya, apakah pangeran juga akan mengetahui apa yang ia lakukan selama ini dengan cepat dari perkiraannya?
Aurora menatap pangeran Sargon dengan was-was. Namun Aurora malah terpesona dengan ketampanan pangeran Sargon. Pria itu sedang membenahi rambutnya itu saja sudah memporak porandakan hati Aurora.
"Pangeran biar aku saja."
Sargon memandang Aurora. Pria itu sedikit terkejut mendengar ucapan Aurora. Ia mempersilakan Aurora dan menundukkan kepalanya.
Aurora dengan gugup membenarkan rambut Sargon. Mata mereka saling memandang, Aurora tidak habis pikir dengan jantungnya yang tidak dapat bekerja sama.
Begitu pula Sargon yang tengah terpukau melihat wanita cantik dengan jarak sedekat ini.
"Kamu sangat cantik," ucap Pangeran Sargon hingga membuat Aurora tersentak dan langsung memberi jarak.
"Pangeran," ucapnya sambil menyentuh dadanya yang berdetak.
"Kenapa Aurora? Kau takut kepada ku?"
"Bukan begitu Pangeran. Tapi jantung ku berdebar dan sangga sakit, aku tidak mengerti kenapa aku seperti ini," ucap Aurora dengan bodohnya. Saking tidak pernah jatuh cinta Aurora tidak tahu arti jatuh cinta itu sendiri.
__ADS_1
Sargon juga mengalami hal yang sama. Bedanya ia tahu apa yang sebenernya terjadi, sedangkan Aurora dengan polosnya tidak mengetahui hal itu.
Sargon tak bisa menyimpulkan begitu saja. Pria itu tersenyum tipis dan mengusap kepala Aurora.
"Tidak apa-apa, kau tenang saja," ujar Sargon dan memeluk Aurora.
Bukannya lebih tenang Aurora malah makin berdebar diperlakukan seperti itu.
"Pangeran..." Aurora mendorong tubuh Sargon dan menyentuh dadanya.
"Kenapa setiap bersama pangeran Sargon, pangeran Agustus, dan pangeran Oceanus jantung ku berdebar."
Deg
Sargon tak menyangka jika Aurora mengalami hal yang sama dengan dua saudaranya. Suasana hatinya langsung memburuk.
_______________
Aurora dan Sargon pun memutuskan pulang. Keudanya berkuda bersama dan tertawa bersama-sama. Aurora bahagia ketika dekat dengan Sargon. Namun Sargon sejak pengakuan jujur Aurora hatinya menjadi tidak tenang dan ia terus memikirkan hal itu.
Apakah mungkin Aurora jatuh cinta kepada tiga pangeran sekaligus? Jika benar begitu apakah suatu saat nanti jika mereka sama-sama tidak ingin mengalah di antara ia dan kedua saudaranya dan mereka harus berbagi Aurora bersama?
Jujur Sargon tidak bisa membayangkan hal itu. Ia ingin Aurora hanyalah miliknya meskipun pertumpahan darah bakal terjadi. Maupun itu perang saudara.
Aurora harus benar-benar menyadari hatinya sendiri. Sementara wanita itu tidak pernah sadar dan berpikir kedekatannya adalah sebagai balas dendam dan untuk memerdekakan diri dari budak.
"Pangeran, kenapa mereka di sana berlari semua?" Sargon pun buyar dengan lamunannya. Ia menatap ke arah para rakyat yang kabur melarikan diri dari rumah-rumah mereka.
Aurora menghela napas panjang. Benar apa yang dikatakannya tadi, pangeran tersebut saja yang terlalu sombong dan menatapnya enteng.
"Pangeran sudah aku katakan, bukan?"
"Kau pikir aku menyesali perkataan ku? Tenang saja, ini akan mudah dan aku juga tidak akan menyesali ucapan ku."
Aurora menghela napas panjang. Lagi-lagi Sargon tidak mau mengalah.
"Pangeran lalu kita bagaimana?" tanya Aurora was-was.
"Menghadapinya, apalagi?"
"Tapi Pangeran?"
"Kenapa? Kau takut?" tanya Sargon.
Aurora terdiam. Ia sama sekali tidak takut, pasti dirinya akan maju.
"Siapa bilang takut?"
"Makanya kau diam saja. Aku akan menumpas mereka."
__ADS_1
Aurora terdiam dan membiarkan Sargon membawa dirinya ke tengah-tengah musuh.
Sementara ia disuruh memeluk tubuh Sargon dengan erat. Aurora mengubah posisinya menghadap Sargon dan menyembunyikan kepalanya di dada Sargon.
Sargon dengan penuh wibawa mengeluarkan pedangnya dan menumpas semua musuh tanpa ampun. Darah berciptatan dan mengenai tubuh Aurora.
Tubuh Aurora bergetar. Sudah lama dirinya dalam posisi tersebut dan Sargon juga melindungi dirinya dengan baik.
Pertumpahan darah begitu hebat tak dapat terelakkan. Sementara Aurora pasrah di dalam pelukan Sargon menunggu kemenangan terdengar.
Sargon menebas setiap musuh yang ia lintasi. Darah memabashi jalanan dan anggota tubuh yang terlepas dari tubuh utamanya tergeletakan di tanah.
Aurora mengintip sedikit dan ia hampir berteriak kencang melihat hal itu. Dada Aurora berdetak dengan hebat tak bisa membayangkan betapa mengerikannya hal itu.
"Pangeran, aku takut."
"AURORA TENTANG LAH!!"
Sargon membawa kudanya ke tengah lapangan dan masuk ke dalam barisan pasukannya. Sementara Oceanus maupun Agustus terkejut melihat ada Aurora bersama Sargon.
Mata Oceanus dan Agustus tak bisa dibohongi jika mereka tengah menahan amarah.
"Apa yang kau lakukan Sargon?" Agustus menatap ke arah Aurora dan matanya menggelap melihat wanita itu. "Kenapa kau membawanya!!"
"Sargon apa kau sudah gila membawa Aurora berperang?"
Sargon menghela napas. Ia tahu kali ini langkahnya salah.
Aurora yang mendengar suara Agustus dan pangeran Oecanus langsung membalikkan tubuhnya.
"Pangeran."
"Aurora kenapa kau bersama dia."
Agustus tanpa pikir panjang langsung merebut Aurora dari Sargon dan meletakkan di atas kudanya.
Wajah laki-laki tersebut tak dapat dibohongi jika ia sedang marah besar.
"Aurora kenapa kau bisa bersama dia..."
"Maafkan saya Pangeran."
Agustus mengehela napas dan langsung membawa Aurora keluar dari are lapangan. Ia akan mengantar Aurora terlebih dahulu ke istana.
"Jika kau kenapa-kenapa aku tidak akan memaafkan siapapun."
__________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA