Dicintai 3 Pangeran

Dicintai 3 Pangeran
Part 37


__ADS_3

Semua mata memandang ke arah datangnya pangeran Oceanus. Bukan sang pangeran yang menjadi perhatian melainkan wanita yang digandengnya.


Wanita yang sangat cantik dan memiliki aura yang sangat luar biasa. Bahkan tidak bisa dipungkiri banyak mata terpaku dengan kecantikan yang dimiliki oleh wanita itu.


Penampilan yang sangat memukau bahkan paling mencolok di perjamuan tersebut. Ia sangat cocok bersanding dengan pangeran Oceanus. Wanita itu merasakan gugup yang luar biasa ketika semua mata mengarah padanya.


"Pangeran," cicit Aurora sambil menundukkan kepalanya.


Pangeran Oceanus berhenti berjalan dan melirik wanita yang tengah digandengnya itu. Ia mengangkat satu alisnya seolah tengah bertanya kepada wanita tersebut.


"Ada apa Aurora?"


Aurora mengangkat kepalanya. Wanita itu menelan ludah dengan susah payah. Matanya dan mata pangeran Oceanus sangat dekat dan sulit untuk dielak rasa terpesonanya.


"Aku takut."


Pangeran Oceanus mengerutkan kening dan menatap ke sekitar. Benar, memang semua orang tengah memperhatikan Aurora dan Aurora merasakan sesuatu yang sangat luar biasa. Padahal dirinya sebelumnya di kehidupan modern ia sudah terbiasa tampil di depan umum, namun hanya saja kondisi saat ini berbeda. Seluruh orang yang ada di ruangan ini adalah orang-orang penting.


"Aku gugup," lirihnya.


"Tenang saja. Kau akan aman bersama ku." Melihat Oceanus yang terus meyakinkan dirinya membuat Aurora sedikit tenang.


Aurora pun melangkah bersama pangeran Oceanus. Kehadiran keudanya menjadi perhatian banyak orang.


Tidak banyak yang mengenali Aurora. Mereka mengira Aurora adalah anak dari seorang raja dan akan menjadi calon istri pangeran Oceanus. Hanya Agustus dan Sargon yang dapat mengenali jika wanita itu adalah Aurora.


Sargon dan Agustus gelisah di tempat. Melihat Aurora masuk ke arena bersama Oceanus sudah membangkitkan amarah keuda pangeran tersebut.


"Bajingan," lirih Agustus yang tak terima melihat kedekatan pangeran Oceanus adiknya dengan budaknya.


Saat panegran Oceanus mendekat pangeran Agustus sama sekali tidak melepaskan tatapan intimidasinya kepada sang adik.


Aurora malah tersenyum lebar kepada sang pangeran yang makin membuat panas hati Agustus. Pria tersebut memperhatikan Aurora yang duduk di samping pangeran Oceanus.


"Pangeran," sapa Aurora kepada Sargon dan Agustus.


Dan mereka berdua kompak tidak menjawab dan hanya menatap datar Aurora. Aurora teridam di tempat tak mengerti kenapa mereka mendiamkan dirinya.


Oceanus yang tahu penyebab kedua kakaknya seperti itu hanya diam saja dan malah memamerkan kemenangan di hadapan Agustus maupun Sargon.


"Apa maksud mu membawa Aurora ke sini?" desis Agustus seraya menatap tajam sang adik.


"Kenapa? Apakah tidak boleh? Itung-itung memperkenalkan calon istri ku." Mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Oceanus sontak Agustus dan Sargon mengepalkan tangannya.


"Tutup mulut mu Oceanus."

__ADS_1


"Kenapa? Kalian tidak terima? Apa aku tidak boleh bermain dengan budak mu?"


"Tanpa seizin ku tidak boleh."


"Apakah aku peduli padamu, Kakak?"


"Kau Oceanus!!"


Agustus menarik napasnya menahan emosi. Ia menatap Aurora yang tengah memperhatikan mereka. Tidak mungkin ia bertengkar dengan saudaranya di depan Aurora.


"Aurora, duduk di sini." Ucapan Agustus bak perintah bagi wanita itu.


Aurora teridam bengong. Ia hendak beranjak dan duduk di samping pangeran Agustus namun tangannya ditahan oleh pangeran Oceanus.


"Aku yang membawa mu ke sini dan siapa yang mengizinkan kau duduk di sampingnya!!"


Sargon memutar bola matanya. Ia menatap dua panegran itu tak suka lalu melirik Aurora.


"Aurora duduklah di samping ku."


Aurora mengangguk dan hendak duduk di samping pangeran Sargon namun sontak Agustus dan Oceanus kompak menghalangi.


"Tidak boleh."


"Pangeran...," cicit Aurora yang terlampau lelah kepada mereka bertiga. "Jadi saya harus duduk di mana?"


"Aurora!!" geram pangeran Agustus dan memaksa Aurora agar duduk di sampingnya.


Aurora terdiam dan tak mampu untuk berkata-kata. Akhirnya ia pun mencari tempat duduknya sendiri dan sedikit menjauh dati ketiga pangeran itu.


Pertengkaran tersebut tak luput dari perhatian Isabella dan juga ratu Sofia. Keduanya sama-sama tidak bisa menerima apa yang dilakukan oleh Aurora hingga membuat ketiga pangeran yang semula rukun kini saling bertengkar.


__________


Kehadiran Aurora yang merupakan seorang budak di tengah-tengah orang-orang penting tentunya menjadi perdebatan. Aurora menahan napas ketika menatap banyak pandangan jahat yang dilontarkan oleh orang-orang tersebut kepadanya.


Aurora merasa tidak nyaman namun ketiga panegran itu berusaha menenangkan dirinya. Yang membuat Aurora merasa tidak enak adalah ketiga panegran itu sangat perhatian kepadanya. Sementara Aurora memiliki pemikiran yang sangat jahat dan mengkhianati kepercayaan mereka.


Lagipula dengan begitu Aurora bisa menyangkal perasannya sendiri. Ia tak mengaku jika dirinya sudah jatuh cinta kepada para panegran tersebut. Untuk membuktikannya Aurora harus berani berkhianat.


"Pangeran. Saya ingin keluar sebentar."


"Ada apa Aurora? Kau sangat beruntung dibawa oleh panegran Oceanus dan dibela mereka bertiga. Dan kau ingin keluar? Kau ingin mempermalukan panegran Oceanus?"


Aurora teridam usai mendengar kalimat yang diucapkan oleh putri Isabella. Memang sangat menyakitkan.

__ADS_1


Ia menatap ke depan dan menikmati perjamuan tersebut tanpa memikirkan ucapan yang diutarakan putri Isabella untuk menyindirnya. Niatnya ingin keluar dari perjamuan pun menghilang.


Pangeran Agustus menatap Isabella dengan pandangan tajam. Wanita itu tadi datang bersamanya dan hanya saja Agustus lebih menjaga jarak agar semua orang tahu bahwa ia tak ingin bersama Isabella.


"Apakah kita harus menikmati pertunjukan ini tanpa melakukan apapun. Sementara di luar sana mungkin dalang dari penyerangan ini sedang bersantai," ucapan dari panegran Sargon menarik perhatian banyak orang.


Aurora terdiam dan mengernyitkan keningnya. Sementara ratu Sofia terdiam tak nayaman di tempatnya.


Ibu Sargon yang kebetulan hadir di sana tersenyum miring. Ia berpikir anaknya akan merebut tahta dari sepupunya dan akan menyingkirkan ratu. Sudah menjadi rahasia keluarga jika ratu Sofia terlibat.


"Raja, apa yang dikatakan oleh anak saya ada benarnya. Kita tidak mungkin duduk santai di sini sementara penjahatnya berkeliaran di luar sana." Ia melirik ratu Sofia yang tercekat. Tangannya mengepal.


"Maaf Raja, ini adalah perayaan kita untuk merayakan kemenangan. Urusan mengusut tuntas bisa diselesaikan di ruang rapat." Isabella berlutut di depan raja memohon agar raja tidak memikirkan hal tersebut.


"Apa yang dikatakan oleh Bibi ada benarnya, apa kita harus berpesta sementara dalang dari penyerangan ini dan juga mungkin pembunuhan putri Grace berkeliaran di luar sana."


Raja melirik panegran Oceanus yang baru saja mengutarakan pendapatnya.


"Kasus putri Grace sudah lama dihentikan. Tidak ada hubungannya antara penyerangan ini dan kasus pembunuhan putri Grace."


"Saya yakin jika mereka adalah orang yang sama," ujar Agustus sambil menatap ke depan dengan pandangan lurus.


Ratu Sofia menghela napas. Sedari tadi ia belum mengeluarkan suaranya. Selain takut salah bicara ia juga takut rahasianya terbongkar.


"Masalah ini bisa dibicarakan nanti."


"Ada apa? Apakah ada yang Ratu khawatirkan?" tanya panegran Sargon sambil menyeringai.


Brakk


Tiba-tiba ada prajurit yang berlari ke tengah aula dan seluruh tubuhnya penuh dengan darah yang bersimbah. Aurora mencengkram tangannya di tempat.


"Ini saatnya."


"Lapor!! Raja Alirik, sekelompok orang berpakaian hitam berhasil menyusup ke istana dan menyerang benteng utama. Banyak prajurit kita yang terbunuh. Tidak diketahui dari kerajaan mana yang menyerang, tetapi kita sepertinya sudah kalah telak karena gudang senjata kerajaan terbakar dan lumbung kerjaan diledakkan. Musuh sebentar lagi memasuki aula, kami sudah tidak sanggup menahan mereka."


Laporan yang begitu panjang sontak membuat khawatir para pangeran dan membuat para undangan di aula itu cemas dan panik luar biasa. Mereka berlari mencari tempat berlindung. Penyerangan itu juga menggunakan formasi yang tidak terbaca, tentunya orang di balik penyerangan ini sangat hebat.


Agustus, Sargon, dan Oceanus mengambil pedang mereka bersiap untuk mempertahankan posisi kerajaan.


Aurora tersenyum tipis dan memejamkan matanya lalu menarik napas panjang.


_____


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2