Dicintai 3 Pangeran

Dicintai 3 Pangeran
Part 24


__ADS_3

Barkk


Tumpukan buku diletakkan di atas meja Aurora. Aurora terkejut melihat buku-buku tersebut dan langsung menatap Agustus yang memberikan dirinya buku.


"Pangeran apa maksudnya?"


Agustus menatapnya sebentar dan tersenyum miring. Aurora masih bisa bersyukur pria itu bisa tersenyum walau senyum yang ditunjukkan sangat mengerikan.


Agustus mengambil salah satu huku dari banyaknya buku yang bertumpuk-tumpuk tersebut. Kemudian Agustus membuka buku tersebut dan menutupnya saat sudah membacanya. Pria itu kemudian meletakkan buku tersebut di atas kepala Aurora.


Aurora tersentak dan mengambil buku tersebut. Ia menatap buku itu, semuanya tentang pelajaran yang Aurora tidak paham baik di dunia klasik maupun dunia modern.


"Kenapa Pangeran memberikan saya buku? Apa Pangeran meminta saya menyusun semua buku ini?" tanya Aurora dan hendak mengangkat tumpukan buku tersebut.


Ia baru saja sembuh dari luka-lukanya dan kini pangeran kejam itu malah menyuruhnya langsung bekerja. Jika tahu begini Aurora akan menderita lebih baik ia tadi mati saja.

__ADS_1


"Berhenti di situ," ujar Agustus yang menghalangi Aurora dengan pedangnya. Aurora terkejut dan menatap heran Agustus.


"Ada apa Pangeran? Apakah ada buku mu yang penting di sini?" tanya Aurora sembari memperhatikan pria itu dengan serius.


"Buku itu untuk mu semua, kau baca, pahami dan hapalkan lalu salin semuanya dalam waktu sepuluh hari."


"HAH? Pangeran aku tidak bisa membaca dan menulis bagaimana mungkin aku bisa melakukannya." Aurora berdoa kencang di dalam hati agar identitas dirinya yang asli tidak terungkap.


"Pembohong. Kau ingin aku menambah tumpukan nya lagi," tanya Agustus sambil menyeringai menatap wanita itu.


"Pangeran! Apa yang aku katakan benar sungguh-sungguh. Aku hanyalah seorang anak dari kalangan miskin yang tidak memiliki pendidikan. Mana mungkin aku bisa mempelajarinya, membacanya, dan menulisnya."


"Kau pikir aku tak tahu?"


Deg

__ADS_1


Lantas jantung Aurora berdetak dari batas normal. Ia tak bisa membayangkan jika Agustus sudah benar-benar mengetahui siapa dirinya.


Apakah mungkin ia akan berada di dalam penjara seumur hidupnya atau ia tidak akan pernah kembali baik ke dunia klasik maupun dunia modern alias meninggal.


"Pangeran, kau masih tidak percaya denganku? Aku sungguh mengatakan yang sebenarnya."


"Tapi kok sering menyelinap ke perpustakaanku, membaca buku-buku, dan bahkan kau bisa menulis. Kau pikir aku tak tahu semua itu? Kami bertiga juga sudah tahu bahwa kaulah penari balet di malam perjamuan tersebut," ucap Agustus yang mematahkan pertahanan Aurora.


Rahasianya selama ini akhirnya terbongkar dengan sia-sia. Aurora tidak menyangka bahwa umurnya sependek ini. Laki-laki kejam di depannya adalah orang yang akan merenggut nyawanya. Malaikat pencabut nyawa yang sesungguhnya.


"Pangeran... Ah itu... Eum maafkan aku," cicit Aurora dengan suara bergetar dan gugup.


"Kerjakan apa yang aku perintahkan. Dan jika kau melakukan kesalahan dan penolakan maka dirimu tidak akan pernah mendapatkan sebuah hukuman, Aurora asem yang bernapas dengan langkah bahwa ia tidak akan mati konyol di dalam novel ini"


Aurora terpaksa menuruti perintah pria itu. Ia kemudian membuka buku-buku membosankan tersebut dan mempelajarinya yang penuh dengan angka-angka. Aurora memang sudah sangat kecil jika otaknya lemah tidak seperti teman-temannya yang memiliki kecerdasan bahkan di saat ia kecil.

__ADS_1


__ADS_2