
Hai perkenalkan namaku Nadin Sasmita Handiko dan aku memiliki seorang kakak laki-laki yang bernama Kevin Pratama Handoko. Ayah ku bernama Andre Handoko dan Bundaku bernama Lia Sasmita.
Orang tua ku berkerja di bidang kuliner sudah banyak restoran yang di bangun oleh Ayah dan Bundaku. Karena mereka sama sama suka di bidang kuliner.
oke kita skip
Aku masih bersekolah di bangku menenga atas atau masi anak SMA tepatnya masih kelas 1 SMA, sedangkan kakak ku sudah kuliah semester tiga hanya berbeda beberapa tahun dari ku.
Mentari pagi suda terbit aku bersiap siap memakai seragam sekolah ku karena ini adalah hari pertama aku masuk sekolah aku merasa senang, takut, atau sedih perasaan yang bercampur aduk karena aku khawatir tidak ada yang suka denganku. "Apa aku sudah menarik, apa ya yang kurang, bedak sudah, lipstik tipis, apa lagi ya." Berlama aku di depan cermin sambil miring kanan miring kiri.
Kakak ku yang melihat aku hanya menggelengkan kepalanya saja. "Apa yang di lakukan adik ku itu?, miring kanan miring kiri."
Cukup lama ia memandangi adik nya yang tidak habis nya memandang ke arah cermin, seakan-akan cermin itu bisa berbicara. Ia memutuskan memanggil adiknya.
"Nadin ayo turun dek kita suda di tunggu ayah dan bunda dibawah untuk sarapan." Kata kak Kevin. "Adek kenapa, kok dari tadi kakak perhatiin miring kanan, miring kiri, pusing kakak liatnya. Sampai kakak panggil kamu jugak tidak mendengarnya." Goda kakak ku.
"Tadi Nadin dengar kok, ni Nadin mau turun tetapi kakak uda keburu manggil Nadin." Kata Nadin kepada kakak nya .
Nadin malu Karena nanti pada tidak akan ada habisnya di buli sama Kakaknya.
"Kamu enggak biasanya, kamu tidak bisa membohongi kakak. Ayo kenapa, coba cerita sama kakak, apa yang kamu pikir kan, ini hari pertama mu masuk sekolah apa kamu tidak senang." Kata Kakak ku bertanya kepadaku.
"Bukan Nadin tidak senang kak, Nadin hanya berpikir apa nanti ada yang suka dengan Nadin, apa penampilan Nadin sudah menarik. Karena Nadin merasa Nadin itu biasa saja kak, apa nanti Nadin punya teman." Jawabku panjang lebar.
"Apa yang kau khawatirkan, jangan mencari teman hanya penampilan nya, cari teman yang terima kamu apa adanya bukan karena ada apanya." Jelas kayak Kevin. "Bukannya sahabat mu akan sekolah denganmu, jadi apa yang perlu di khawatirkan." Kevin
"Kakak ini kayak enggak pernah sekolah aja. Pastikan semua siswa/siswi itu di acak kak, enggak peka banget si, apa mereka satu kelas sama Nadin kak kalau tidak bagaimana kak." jawab ku dengan wajah yang cemberut
"Sudah jangan cemberut lagi sekarang mendingan kita kebawah kasian ayah dengan bunda sudah menunggu dibawah." Kata kak Kelvin untuk mengalihkan pembicaraan
"Yasudah la ayo." Aku segera mengambil tas sekolah ku yang berada di dalam kamarku.
__ADS_1
Kami berjalan menuruni anak tangga karna kamarku dan kakak ku itu ada di lantai atas.
Nadin dan kakak nya selalu bercanda kalau sedang menuruni anak tangga.
Setibanya kami di bawah ternyata ayah dan bunda suda bersiap siap untuk sarapan bersama.
"Pagi ayah, bunda." Sapa ku kepada orang tuaku.
"Pagi princes ayah sama bunda, wah cantik ya yang uda besar ini ternyata uda SMA." Menggoda Nadin itu sudah ciri khas ayah nya Nadin.
"Jadi adek aja ni yang di puji cantik kakak nya gak di puji jugak. Entah makin ganteng gitu." Sindir kakak ku dengan nada iri.
"kak Kevin iri aja sama Nadin." Elak Nadin yang enggak mau kalah.
"Oh kakak mau dipuji jugak kayak adek, boleh kok." Usul ayah. "Kevin makin tua ya, tapi jodohnya belum ada." Bukan makin di puji ayah mereka mangkin menghina Kevin.
"Itu bukan pujian yah, itu sindiran umur sama jodoh." Omel nya.
"Tapi katanya mau di puji." Tanya ayah.
Nadin dan ayah saling pandang "Ngarep." Kata mereka kompak.
"Sudah sudah jangan bertengkar." Kata bunda.
"Cepat sarapan nanti pada telat." Kata bunda
untuk melerai pertengkaran kami di pagi hari.
Setelah sarapan aku, ayah,dan kak Kevin berpamita dengan ibuku.
"belajar yang rajin ya,jangan bandel atau pun bolos di sekolah ya Nadin." Kata bunda
__ADS_1
"Siap komandan." Kata ku dengan penuh semangat.
"Bun kakak pergi dulu ya Bun." kakak ku ikut berpamitan dengan bundaku.
"ia Vin hati hati bawa motornya ya jangan ngebut-ngebut nanti enggak kelihatan ada cewek cantik pinggir pasar." Pesan bunda ku pada kakak ku antara memperingati sama mengejek, kakak ku langsung menjawab "Siap bos."
Kami pun berangkat, Nadin di antar ayah ku naik mobil sedangkan kakak ku naik motor kesayangan nya.
Nadin tidak di izinkan oleh ayah nya membawa kendaraan sendiri. Dikarenakan belum mencukupi umur.
"Ayah, aku kapan si bisa pakai kendaraan sendiri. Teman-teman Nadin sudah pakai kendaraan sendiri, masa Nadin enggak boleh." Rengek Nadin.
"Ayah tidak memberi kendaraan untuk Nadin bukan ayah tidak memiliki uang. Ayah enggak mau kalau Nadin pakai mobil sendiri ada razia di tilang polisi dan di tanya sama polisi siapa nama orang tua kamu kamu jawab Andre Handoko pak, apa eggak membuat jelek nama ayah." penjelasan dan nasehat di berikan ayah.
"Tapi kan Nadin kalau nunggu supir lama yah, Uda gitu panas. Hitam nanti Nadin yah." Rengek Nadin.
"Jodoh, rezeki, maut ada yang mengatur nak. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha." Senyum ayah.
Setelah beberapa menit aku dan ayah sudah sampai kesekolah.
Aku berpamitan kepada ayah ku" Nadin masuk duluh ya yah" kataku sembari mencium tangan ayah ku.
"Ia nak belajar yang rajin yah, belajar yang bener, semangat. Kalau kamu uda cukup umurnya kamu mau mobil apa nanti ayah beliin. Makanya belajar yang rajin, jangan cabut oke" kata ayah dengan mengelus rambut ku.Aku Langsung menjawa "oke yah" dengan membentuk jari benbentuk oke. "Ayah jaga mata ya sama orang kantor, jangan genit enggak boleh." Nadin mengingatkan. "Ayah hati hati kerjanya jangan belok kerumah janda, karena kantornya bukan disitu." Senyum nya.
"Kamu itu ada aja, mana mungkin ayah berani sama bunda kamu." Ayah membayangkan.
"Oke-oke deh, ayah hati hati ya yah." dengan melambaikan tangan ku kearah mobil ayah ku.
Assalammualaikum gays.
Ini cerita pertama ku semoga kalian suka. Jangan lupa kalau ada yang kurang enak di dengar atau mengganjal tulis aja di kolom comentar ya.
__ADS_1
semoga kalian suka.
Amin.