
~Ajeng POV~
Namaku Ajeng Maharani perempuan berkerudung berusia 22 tahun, aku hidup bersama paman dan bibiku yang sudah ku anggap seperti orang tuaku sendiri. Mereka adalah Ayah dan Bundaku, mereka membesarkan ku sejak aku masih sangat kecil karena orang tuaku yang pergi meninggalkanku menuju rumah Tuhan.
Satu minggu yang lalu Ayah dan Bunda menjodohkan ku dengan anak dari saudara dekat mereka, dia adalah Dimas, lelaki yang mencintai perempuan lain. Dia menerimaku karena keterpaksaan, keluarga dari Ayah memiliki hubungan yang erat dengan keluarganya.
Mereka membuat hubungan sejak lama dan telah lama berniat menjodohkan kami.
Dan keadaan Ibu Dimas yang sedang sakit menambah alasan untuk kami menerimanya, Dimas adalah lelaki yang bertanggung jawab dan memberikan kasih sayang penuh kepada orangtuanya. Aku melihatnya dari sikapnya yang begitu tulus menyayangi orang tuanya. Dia tampan, tapi sayangnya hatinya sudah menjadi milik perempuan lain.
Hari ini kami menikah, Dimas telah mengucapkan ijab kabul dan aku sah menjadi istrinya. Bunda memelukku dan memberikan beberapa nasehat dia memintaku untuk tetap sabar mendapatkan hati suamiku, dia mengatakannya karena kami menikah dijodohkan bukan karena mengetahui suamiku yang sudah memberikan hati sepenuhnya kepada perempuan lain. Acara pernikahan telah selesai dan sekarang aku pulang ke rumah milik suamiku.
__ADS_1
Meski ragu aku harus tetap pergi dengannya. Aku adalah perempuan mandiri dan telah menikah,
aku harus melaksanakan tanggung jawab sebagai seorang istri.
Aku tidur dikasur milikku sendiri karena ini adalah rumah Mas Dimas jadi kami tidur berpisah. Rumah yang mungkin akan ku tempati seumur hidupku.
Tapi, aku tidak tau. Selama beberapa hari ini aku hanya tiduran dikasur ku tidak tau ingin melakukan apa, karena Mas Dimas bahkan tidak berbicara denganku.
tok.. tok.. suara ketukan pintu dari pintu kamarku,
"Aku akan menikahi Sarah" Sarah adalah perempuan yang dicintai Dimas, mereka telah memulai hubungan sejak remaja dan bertemu di sekolah. Sarah menemui ku sebelum pernikahan dan menceritakan semuanya padaku. Dia adalah perempuan yang baik, dia mengikhlaskan Mas Dimas menikah dengan ku meski pasti sangat menyakitkan untuknya. Dimadu memang menyakitkan, tapi Sarah pasti merasakan sakit yang lebih menyakitkan dari yang aku rasakan.
__ADS_1
Aku hanya menganggukkan kepalaku mengiyakan.
"Kau tau aku tetap akan melakukannya meski tidak menikah denganmu bukan" tentu saja aku mengetahuinya dia tidak bertanya! Dia hanya menyatakan kalimat seperti menyadarkan keberadaan ku.
Aku kembali ke kasur, tidak ada hal yang ingin kulakukan karena aku juga tidak tau ingin melakukan apa. Selama beberapa hari ini aku hanya berada dikamar, ada sesuatu perasaan yang membuatku ingin memikirkan tentang Sarah dia adalah gadis tinggi yang begitu cantik, manis, anggun dengan rambut hitam terurai lurus.
Aku membuka kerudung dan melihat rambut bergelombang ku, tidak sebagus rambutnya tapi aku merawatnya dengan baik. Aku menyadari wajahku yang sedikit berminyak memutuskan untuk berkaca,
kulihat wajahku dengan rambut terurai, sesuatu yang jarang terlihat bahkan oleh diriku sendiri. Aku jarang melihat diriku dengan bentuk seperti itu karena aku selalu menggunakan kerudungku meski saat melakukan sesuatu yang mengharuskan ku melepaskannya, aku tidak terlalu peduli.
Setelah selesai dengan penampilanku di kaca aku segera pergi kekamar mandi untuk mencuci wajahku dan lanjut melaksanakan salat Maghrib menunggu adzan yang sebentar lagi akan berkumandang.
__ADS_1
Setelah salat aku mencoba keluar karena bosan dikamar, bahkan aku belum tau bagaimana bentuk rumah ini. Aku turun ke bawah tidak ada siapa-siapa disini, aku mencoba keluar rumah sebentar, ada penjual mie ayam keliling diluar, aku segera menemui penjual tersebut karena lapar.
Bersambung..