Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Pengalaman baru


__ADS_3

"Kamu sudah pulang Nak?"


"Iya Bi, ini baru saja ak..."


"Kamu cepat yah pulangnya,, Bibi dan Ajeng menunggumu" Bibi menjawab cepat tanpa menghiraukan jawaban Dimas seperti sudah mengetahui tindakan yang keponakannya akan lakukan.


Dimas tidak tau ingin berbuat apa dia tidak mungkin membuat Bibinya marah karena tidak mematuhi perintahnya dia merasa tidak enak jika harus mengacuhkan perintah Bibinya terlepas dari sifat Bibinya yang sebenarnya tidaklah begitu pemarah tapi dia juga ingin bertemu Sarah.


Akhirnya setelah berdebat dengan pikirannya sendiri Dimas pun memutuskan untuk pulang ke rumah saja dan memberi kabar kepada Sarah jika dia tidak akan datang menemuinya hari ini. Dimas kemudian menyalakan dan melajukan mobilnya berbalik kearah jalur menuju kediamannya.


Matahari masih terang meski sudah petang. Dimas tiba di rumah dan Bibi segera menyambut keponakannya itu. Bibi terlihat tenang menghampiri Dimas dan menutup pintu pelan dan mereka sekarang berdua di garasi. Dimas sedikit bingung tapi kemudian dia tau jika Bibinya ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.


"Sudah pulang?" Bibi bertanya dan Dimas menjawabnya dengan anggukan.


"Bibi ingin berbicara sama kamu Nak" Bibi memegang kedua pundak keponakannya itu memperlihatkan hubungan yang begitu erat.


"Bibi melihat kamu tidak berbicara dengan istrimu apakah hubungan kalian tidak baik?"


"Kami baik-baik saja Bi"


"Cobalah mulai berbicara padanya berinteraksi lah dengannya bagaimanapun juga dia adalah istrimu kalian harus terlihat lebih akrab kamu adalah suami disini, Seharusnya kamu yang memulai. Jangan menunggunya karena dia hanya akan diam kau lihat dia tidak banyak bicara, bagaimanapun kau yang harus memulainya. Bibi berharap kau mau, yah??" Bibi meminta kepada Dimas dengan penuh harap.


"Aku akan coba Bi" Dimas menjawab sedikit tidak yakin akan bisa melakukannya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita masuk istrimu sendirian didalam"


Bibi dan Dimas masuk ke rumah bersama sedangkan Ajeng terlihat sedang menyiapkan meja makan.


~Ajeng POV~


Bibi pergi ke luar rumah menyambut Mas Dimas yang sudah pulang aku tetap didalam dan memutuskan untuk menyiapkan meja makan. Setelah Bibi tinggal di rumah aku tidak tau mengapa tapi aku merasa lebih senang mungkin karena sekarang aku tidak sendirian aku merasa tidak kesepian lagi.


Tadi Putri mengirim pesan padaku soal lowongan pekerjaan tapi aku jadi ragu karena Bibi sepertinya akan tinggal cukup lama disini aku tidak ingin menambah masalah dengan melakukannya. Bisa-bisa Bibi benar-benar menganggap ku tidak betah dalam pernikahan ini meski kenyataannya memang begitu tapi aku tidak ingin membuat dia khawatir. Aku memutuskan untuk menundanya hingga Bibi pergi.


Bibi dan Mas Dimas sudah terlihat masuk dan aku juga sudah selesai dengan meja makan. Kami makan bersama tidak tau apakah hal ini akan terus terjadi aku tidak berharap banyak apalagi jika Bibi sudah pergi nanti sebaiknya aku menikmati yang sudah ada saja.


"Ajeng kenapa melamun?" Bibi mengagetkanku ternyata aku sedang melamun. Mas Dimas melihat ke arahku membuatku malu.


"Apakah Dimas menyakitimu?" Bibi bertanya padaku, tentu saja dia tidak. Dia bahkan tidak berbicara padaku. Aku hanya bisa menatap heran dan menggelengkan kepalaku cepat menjawab pertanyaan Bibi untuk menyatakan tidak.


"Setelah ini tidurlah, apakah kalian akan memberikan kami cucu? Kalian jangan saling mendiami satu sama lain, itu sama sekali tidak baik. Ajeng? yah?" Aku begitu kaget mendengarnya semua kata-kata Bibi adalah sesuatu yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Aku tidak pernah berpikir akan menerima pernyataan dan pertanyaan itu meski sepertinya Bibi tidak benar-benar serius saat menanyakan mengenai cucu.


Aku pergi kekamar untuk tidur setelah makan malam. Aku berjalan pelan menaiki anak tangga. Aku melambat, merasa ada sesuatu yang salah atau mungkin merasa takut. Aku hanya bisa menggenggam pegangan disampingku. Aku memberanikan diri berjalan menuju kamar. Setelah menunggu beberapa saat hanya memegangi pegangan pintu. Aku berusaha berani membukanya.


Pintu terbuka, aku merasa ada mata yang menatapku. Aku hanya bisa menundukkan kepala dan pelan menutup pintu kembali. Ini benar-benar adalah suasana yang baru untukku aku masih saja salah tingkah. Aku merasa tidak sopan jika tidak membalas pandangannya jadi aku memberanikan diri untuk memandang ke arahnya. Ternyata dia benar-benar melihat ke arahku aku sempat berharap semua itu hanyalah salah lihat saja.


"Naiklah ke ranjang" mendengar Mas Dimas membuatku cepat-cepat berjalan menuju ranjang. Aku mencoba untuk duduk saja karena Mas Dimas juga belum berbaring. Tapi sepertinya aku tidak punya hak untuk melakukan sesuatu seperti yang dia lakukan lagipula aku juga sudah mengantuk sepertinya aku tidur terlebih dahulu saja.

__ADS_1


Aku membaringkan tubuhku di ranjang dan menghadap membelakangi Mas Dimas. Aku mencoba menarik selimut tanpa melihat dimana itu karena aku tau dimana posisinya.


Aku kaget saat merasakan kehangatan menyentuh tanganku juga seluruh tubuhku.


Ternyata Mas Dimas sudah terlebih dahulu menarik selimutnya dan kulit hangat tangannya sekarang sedang berada ditanganku. Aku cepat-cepat melepaskannya dan mencoba untuk tidur dengan damai.


Setelah beberapa saat sepertinya aku benar-benar mengantuk dan tertidur. Atmosfer di ranjang sekarang terasa lebih hangat karena ada Mas Dimas disana. Ada tubuh hangat yang berbaring disampingku meski kami sepertinya berjarak sekitar lima puluh sentimeter tapi tetap saja terasa hangat.


Saat aku terbangun posisi kami masih sama seperti tidur. Mas Dimas terlihat sangat pulas sepertinya ini saatnya aku untuk pergi mandi dan mengambil wudhu. Aku harus cepat sebelum Mas Dimas terbangun.


Setelah selesai mandi dan mengambil wudhu aku lanjut melaksanakan salat wajib dua rakaat. Rasa segar setelah mandi ditambah angin pagi meski hanya hembusan kecil karena jendela kaca yang hanya memperlihatkan warna pagi dari luar membuat perasaan sejuk di hati.


Selesai melaksanakan salat aku kemudian melipat sajadah meletakkannya di lemari kemudian aku lanjut membuka mukena ku melipat dan meletakkannya di lemari. Aku merasa ada angin hangat kulit menyentuh leherku dengan lembut aku seketika terdiam dan berbalik pelan. Aku menatap dua bola mata dengan terkejut nafasku memburu tidak karuan ketika tangan itu mulai menyentuh kulit leherku bagian belakang juga merangkul perutku dengan kuat.


Mas Dimas menarik tubuhku mendekat dengan tubuhnya. Saat ini aku sedang tidak menggunakan kerudung aku mendengar tarikan dan hembusan nafas di sela-sela rambut tebal bergelombang ku. Aku benar-benar tidak berkutik saat ini kami hanya dibatasi oleh kain yang kami kenakan. Suasana ini benar-benar membuatku menjadi gagap aku ingin melepaskan diri tapi aku hanya bisa diam aku seperti lumpuh.


"Mas" Setelah menyadarkan diri sendiri aku kemudian mencoba menyadarkan Mas Dimas yang sepertinya sedang bergairah.


Aku mencoba melepaskan tangan yang sedang menggenggami bagian tubuhku. Aku melepaskan tangan di leherku bukannya lepas tangan itu mulai menyentuh wajahku aku semakin sesak dan ikut bergairah saat jari-jari tangan itu mulai menyentuhi bibirku lembut. Mulutku seketika terbuka aku merasakan nafas memasukinya dengan lembut bibir itu menyentuh bibirku.


Ini merupakan hal baru untukku aku tidak punya pengalaman aku hanya diam dengan mulut terbuka karena gairah. Ciuman yang begitu dalam hingga lidah kami menyatu lidahnya memasuki mulut berli**ku dan menghantamnya setelah beberapa saat bibir dan mulut itu sudah menciumi wajahku tubuhku benar-benar lemas sepertinya aku akan terjatuh jika Mas Dimas melepaskan rangkulan di perutku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2