
Aku tidak ingin membuat hubungan buruk dengan Sarah, aku tidak mau melakukannya. Aku tidak ingin menyakitinya atau membuatnya merasa tercurangi dengan melakukan hal-hal seperti ini dibelakangnya.
Aku adalah seorang wanita dan aku tau betul perasaan seorang wanita ketika mereka dicurangi tanpa sepengetahuan mereka oleh orang yang mereka benar-benar cintai, bukankah hal seperti itu akan membuat seseorang merasa tertekan dan juga tersiksa.
Aku tentu menginginkan Mas Dimas, sangat-sangat menginginkannya, kami berdua akan memiliki lelaki di depanku ini bersama-sama. Bagaimanapun juga Sarah-lah yang lebih pantas atas Mas Dimas, meski aku adalah istri pertama Mas Dimas tetapi aku tidak bisa bertindak sesuka hatiku, aku juga tidak akan tahan jika disakiti.
"Ayo Mas" aku menggenggam tangan Mas Dimas dan membawanya turun ke dapur untuk makan malam, aku harus menjaganya tetap sehat, jika tidak Sarah bisa marah padaku haha.
"Sayang" panggilan itu benar-benar membuat jantungku berdegup kencang tidak karuan.
"Iya Mas" aku mencoba untuk tidak terlihat gugup.
"Kamu suka warna apa?" pertanyaan itu terdengar aneh tetapi aku juga ingin memberitahukannya kepada Mas Dimas.
"Aku, aku suka warna merah muda Mas, Mas suka warna apa?" sangat aneh saat dia menatap mataku dalam seperti itu meski aku juga begitu terbuai dan menyukainya.
"Menurut Mas itu nggak terlalu penting" sekarang dia terdengar seperti Mas Dimas yang biasa aku dengar, jika tidak ingin membicarakannya kenapa dia bertanya? Aku jadi sedikit kehilangan semangat setelah mendengar jawabannya, sebenarnya bukan jawabannya tapi lebih ke cara bicaranya yang acuh tak acuh, mungkin aku yang terlalu emosional dan membawanya begitu dalam, Mas Dimas kan memang seperti itu.
Aku sedang memasak, aku menyesal membawanya turun bersamaku, sekarang ini terasa sangat canggung. Aku sangat sering bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu, apakah aku harus membiarkan Mas Dimas duduk diam tanpa mengajaknya bicara? Aku tidak enak membiarkannya sendiri tetapi kami memang hanya berdua di rumah ini, jika dia naik pun dia akan tetap sendiri, apa aku terdengar jahat? haha.
__ADS_1
"Apa hubunganmu dengan laki-laki hari itu?" aku mendengar Mas Dimas membuka suaranya tapi aku benar-benar terkejut dengan apa yang dia tanyakan, kapan Sarah akan pulang?
"Yang mana Mas?"
"Kayaknya Kamu nggak mau jawab pertanyaan Mas, Ajeng orangnya ternyata kayak gini yah?" apakah dia menyindirku? Ya, itu benar-benar terdengar seperti sindiran, apa aku salah?
"Maksudnya Mas?" aku segera berbalik menatapnya mencari jawaban, ah! tatapannya, aku tidak bisa mengikuti bahasa tubuh itu lagi, ini seperti hal baru untukku meski Mas Dimas biasanya juga menatap ku seperti itu, sebenarnya selalu terasa aneh saat dia menatapku seperti itu, aku benar-benar menyukainya di setiap saat dia melakukannya.
"Apakah Mas Dimas melihat semua perempuan dengan tatapan seperti itu?"
"Kenapa?"
"Aku tidak menatap wanita lain selain Sarah" aku tidak seharusnya cemburu, aku yang memulai pembicaraan ini.
"Mas Dimas pasti sangat mencintai Sarah, Sarah sangat beruntung mendapatkan cinta Mas Dimas" aku tidak terdengar malang bukan, aku tidak bisa berkata lantang mungkin Mas Dimas mendengar ku sedikit lirih, aku tidak ingin dia berpikir demikian.
Setelah aku mengucapkan kata-kata itu Mas Dimas berhenti berbicara, aku lanjut menyiapkan masakan ku. Aku tidak ingin berlama-lama lagi, aku harap Sarah segera pulang. Biasanya aku senang saat hanya berdua dengan Mas Dimas, tapi saat ini aku berpikir keras agar tidak berlama-lama membuatnya merasa tidak enak dengan keberadaan ku, Mas Dimas tidak menunjukkan gelagat yang membuat ku berpikir demikian, aku sendiri-lah yang merasa seperti itu.
Aku punya banyak pertanyaan di kepalaku, apakah mungkin lelaki ini juga memiliki perasaan yang sama terhadap ku, aku menginginkannya begitu dalam apakah dia juga merasakan hal yang sama? Apa mungkin dia hanya menyayangiku sebagai seorang adik? Ah aku tidak menginginkan semua perasaan itu! Apakah aku terdengar serakah? Aku tidak tau seperti apa rasa sayang yang dia katakan hari itu.
__ADS_1
Sudahlah, yang penting dia sudah tidak membenciku seperti awal kami menikah dulu, apakah dia membenciku saat itu? Aku bertanya-tanya lagi, banyak pertanyaan yang muncul di benakku saat ini, aku tidak merasa dia begitu membenciku saat itu mungkin dia hanya tidak menyukai ku, tapi bukankah itu sama saja?
Apa Mas Dimas suka saat hanya berdua denganku? Apa dia merindukan Sarah saat dia hanya berdua dengan ku? Jika memang begitu aku benar-benar akan sangat sedih, aku tidak tau akan merasakan perasaan seperti apa jika itu benar.
Kami menyelesaikan makan malam seperti biasanya, apakah Mas Dimas tidak menyukai pernyataan ku tadi? Dia masih tetap diam, kadang aku merasa Mas Dimas tidak pernah peduli padaku hanya karena sedikit perubahan sikapnya yang menjadi acuh, tapi aku kemudian menjadi sangat terbuai saat dia bersikap begitu baik padaku.
Aku tau jika aku-lah yang memulai pernyataan bodoh itu, Mas Dimas tidak berbicara itu tadi, apakah aku bodoh? Apakah dengan hanya dengan kata-kata itu Mas Dimas jadi marah dan tidak menyukai ku lagi? Aku jadi sedih memikirkannya, apakah aku akan sendirian lagi.
Aku tau jika aku seharusnya tidak berpikir demikian, tapi aku takut jika perasaan-perasaan buruk itu kembali lagi, aku sudah mulai berhubungan baik dengan Mas Dimas tidak mungkin jika ini rusak begitu saja bukan? Apakah ini akan dirusak hanya dengan kata-kata ku yang sama sekali tidak ada maksud apa-apa tadi?
Aku sebaiknya bersiap-siap untuk yang terburuk, aku tidak ingin berpikir tenang untuk semua kemungkinan yang akan terjadi, aku tidak boleh berpikir jika ini hanyalah perasaan ku, aku tidak ingin jika nanti semua itu tidak sesuai ekspektasi ku.
~Author POV~
Dimas terdiam dengan kata-kata Ajeng, dia tidak tau jika perempuan itu akan berpikir demikian selama ini. Tentu dia tau jika perempuan itu mengetahui tentang dirinya dan Sarah, tapi dia tidak menyangka jika Ajeng mengatakannya sendiri padanya. Dia jadi merasa buruk membuat perempuan itu berpikir demikian sejak di awal pernikahan dia tidak pernah menunjukkan sambutan yang baik terhadap Ajeng.
Dan bahkan sekarang perempuan itu berpikir jika Dimas kembali tidak suka kepadanya karena kata-kata yang sebenarnya remeh. Dimas tidak pernah berpikir tentang kemungkinan jika Ajeng selalu berpikir akan terjadi hal buruk disaat dia bersikap acuh seperti ini.
Bersambung...
__ADS_1