
Ajeng bangun dari tidurnya, dia merasakan ada tubuh yang sedang merangkulnya seperti seorang anak kecil. Dia mengumpulkan jiwanya yang belum sepenuhnya sadar, melihat siapa orang tersebut, dia tau jika dia tidur di ranjang yang sama dengan Dimas tapi dia tidak punya pikiran sama sekali jika itu adalah rangkulan Dimas, dia sempat berpikir apakah dia sedang berada di rumah dan sekarang sedang bersama Bundanya.
Dia melihat sosok itu, matanya sudah mulai terbuka normal, kagetnya dia saat melihat sosok itu yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Dia bingung dan bertanya-tanya tapi dia kemudian kembali ke dalam pelukan itu, membalasnya, menempelkan kepalanya di dada kekar lelaki itu. Ajeng memeluk Dimas erat dengan ekspresi terenyuh, dia tidak akan mau melepaskan lelaki itu.
Dimas terbangun, dia melihat Ajeng yang masih ada di pelukannya dan bingungnya sekarang perempuan itu juga memeluknya. Dia berpikir mungkin perempuan itu sedang tidak sadar dengan apa yang dia lakukan, Dimas mencoba melepaskan genggaman Ajeng. Dia pelan-pelan menarik tangan Ajeng dari punggung dan dadanya.
Tetapi perempuan itu kembali mengeratkan pelukannya, dia kaget dan sempat terdiam dengan pergerakan istrinya, apakah mungkin istrinya itu sudah bangun? Dia mencoba memeriksa wajah didanya tapi dia tidak bisa sama sekali melihat apapun karena wajah itu menempel kuat di dadanya. Dimas kembali mencoba melepaskan tangan-tangan yang menggenggam tubuhnya.
"Jangan dilepas" tapi kemudian suara manja Ajeng terdengar membuat Dimas sontak terdiam tidak percaya.
"Kamu udah bangun?" Ajeng mengangguk masih di dada kekar Dimas, dia kembali mengeratkan pelukannya membuat Dimas semakin bingung tidak percaya. Dimas mencoba menarik kedua tangan Ajeng yang masih erat menggenggaminya.
"Lepas" Dimas berbicara serius setelah melihat Ajeng yang kekanak-kanakan tidak mau melepaskan genggamannya, dia butuh penjelasan.
"Kenapa Mas? Mas nggak mau aku peluk? Terus Mas boleh peluk aku gitu? Mas cuma cinta sama Sarah hiks" Dimas terdiam, dia sudah tidak berusaha melepaskan pelukan Ajeng lagi sedang Ajeng mulai melepaskan genggamannya tapi masih bersembunyi di dada kekar Dimas sambil menutup wajahnya menangis.
"Mas cuma mau dipeluk sama Sarah kan? hiks hiks, Mas jahat!" Ajeng mulai membalikkan tubuhnya membelakangi Dimas masih menutup wajahnya menangis.
"Ajeng" Dimas mencoba menenangkan Ajeng dengan mencoba merangkul perempuan itu dari baliknya tapi perempuan itu langsung bangun melepaskan genggamannya dan pergi.
"Ajeng! Kamu mau kemana?" Dimas berdiri cepat menarik Ajeng yang hampir keluar dari kamar, dia takut jika Ajeng akan membuat orang-orang dirumah khawatir.
"Kamu kenapa?" Dimas memegangi kedua pundak perempuan itu, dia menginginkan penjelasan. Namun Ajeng malah melepaskan pegangan kasar dan berlalu meninggalkan Dimas, Ajeng pergi ke kamar mandi, Dimas tentu tidak membiarkannya begitu saja. Dia menarik Ajeng dengan kasar juga karena merasa sedikit geram.
__ADS_1
"Apa maksud kamu?" Dimas menggenggam lengan Ajeng kuat membuat perempuan itu merasakan sakit.
"Mas lepasin!" Ajeng setengah berteriak, dengan ekspresi sendunya membuat Dimas tidak tega setelah melihatnya, Dimas akhirnya melonggarkan genggamannya, lalu menatap Ajeng hangat.
"Kamu sebenarnya kenapa?"
"Aku nggak mau bicara Mas!" Ajeng menjawab ketus lalu pergi menuju kamar mandi. Dimas bingung dengan sikap istrinya yang berubah-ubah, dia masih belum melupakan kata-kata yang Ajeng ucapkan hari itu, meski sangat sakit tapi dia tetap tidak bisa melupakan perempuan yang baru masuk ke dalam hatinya itu.
Dimas bingung kenapa Ajeng masih membandingkan dirinya dengan Sarah sedang dia mencintai lelaki lain. Ada banyak pertanyaan di pikirannya, dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya, apa yang sebenarnya perempuan itu rasakan untuknya. Apa mungkin hanya dia yang terbawa perasaan? Tidak mungkin jika perempuan itu tidak merasakan apa-apa, dia akan meminta jawabannya tidak peduli meski harus memaksanya.
*****
Setelah makan malam Dimas dan Ajeng pamit untuk pulang, Bibi terus berbicara soal cucu hingga Ibu ikut memintanya. Ajeng hanya tersenyum mendengar semua ucapan dari mertuanya itu, hingga Bibi meminta waktu selama dua bulan agar Ajeng segera hamil. Ajeng kehilangan senyumnya seketika, mulutnya jadi kaku, dia hanya bisa menundukkan kepalanya merasa bersalah melihat semua harapan dari mata orang-orang yang begitu menyayanginya.
"Kamu sebenarnya mau apa? Hmm?" pandangannya masih lurus menghadap jalan. Ajeng hanya diam tidak menjawab apa-apa.
"Kamu mau buat aku gila?" Dimas masih bicara tenang, tapi berhasil membuat Ajeng bimbang, dia tidak tau apakah dia harus menjawab atau tetap diam saja.
"Masih nggak mau jawab?"
"Mas berhenti!" Dimas tidak menghiraukan perintah Ajeng.
"Mas! berhenti Mas!" Dimas akhirnya menghentikan mobilnya. Ajeng bangun dari duduknya membuka pintu lalu pergi duduk di kursi belakang, Dimas semakin geram tidak tau dia ingin apakan perempuan itu, Dimas keluar dari kursi kemudi lalu pergi masuk ke kursi belakang, Dimas mengunci semua pintu agar Ajeng tidak bertingkah lagi.
__ADS_1
Melihat Dimas duduk di sebelahnya, Ajeng mencoba keluar tapi pintu tidak bisa dibuka, dia berusaha keras membukanya hingga dia menyerah. Dimas menarik tangan Ajeng keras menatapnya tajam.
"Kamu mau apa sebenarnya?" Ajeng mulai menundukkan kepalanya tidak tau ingin menjawab apa.
"Hmm? Kamu jawab pertanyaan Mas, kamu masih istri Mas. Harusnya kamu menjawab bukan jadi nggak patuh kayak gini. Kamu jelaskan sama Mas, biar nggak ada lagi kesalahpahaman" Dimas mulai melonggarkan genggamannya.
"Mas nggak tau apa yang sedang kamu pikirkan atau rasakan, Mas masih sangat ingat sama ucapan kamu malam itu, kamu katakan kalau kamu cinta dengan lelaki lain dan..."
"Nggak, Nggak Mas hiks hiks" Ajeng mulai menangis.
"Sini" Dimas menarik Ajeng ke pelukannya, Ajeng segera memeluk Dimas sangat erat, keduanya merasakan perasaan yang tidak tergambarkan.
"Mas, Ajeng sayang sama Mas, Ajeng cuma sayang sama Mas Dimas" Ajeng menangis dalam pelukan Dimas, mereka berpelukan erat-erat menikmati sentuhan masing-masing tubuh yang tidak ada jarak.
"Mas juga sayang sama kamu" Dimas mengelus dalam punggung Ajeng, menciumi kening dan kepala istrinya itu.
"Mas benaran sayang sama Ajeng" Ajeng melepaskan pelukannya lalu menatap dalam bola mata itu.
"Iya sayang" Dimas menyentuh pipi Ajeng membuat perempuan itu hanya bisa terdiam, dia menatapi bibir yang sudah lama dia rindukan. Dimas melihat mata itu lagi lalu keduanya saling mendekatkan wajah, Ajeng meletakkan tangannya di pundak Dimas sedang Dimas merangkul pinggang kecil Ajeng. Bibir keduanya mulai mendekat hingga akhirnya bersentuhan.
Dimas mencium Ajeng dengan lembut, Ajeng sudah mulai belajar cara merespon gerakan Dimas, dia membalas ciuman itu. Hingga Dimas memasuki dalam mulut itu, menjilat, menciumi lidah Ajeng yang mulai kehabisan nafas. Ajeng membuka mulutnya, dia sangat menikmati ciuman yang Dimas berikan, hingga keduanya sama-sama sudah merasa cukup dan berhenti.
Nafas keduanya memburu karena ciuman yang cukup lama, Dimas memeluk Ajeng kembali dan menutup kedua matanya. Keduanya diam dalam posisi itu cukup lama hingga Dimas melepaskan pelukannya dan mengajak Ajeng untuk duduk di kursi depan bersamanya. Dimas kembali dengan kemudinya lalu berlalu menjalankan mobil menggilasi aspal.
__ADS_1
Bersambung...