
Dimas benar-benar tidak tau harus berbuat apalagi. Dia kebingungan,, dia mencoba mencari tempat untuk duduk menenangkan diri. Setelah lebih fokus dia kemudian ingat dengan kakaknya Aliya. Mungkin Ajeng sekarang sedang bersama dengannya karena hanya sendirian dirumah. Dimas bergegas pergi kerumah sebelah yang merupakan rumah kakak sepupunya sendiri.
Dimas berjalan keluar dari rumah dan pergi menuju rumah Aliya. Dia memanggil-manggil kakanya itu hingga Aliya datang untuk membukakan pagar yang terkunci. Aliya sedikit bingung melihat ekspresi khawatir adiknya dia kemudian bergegas berjalan tapi belum sampai beberapa langkah adiknya sudah bertanya padanya.
"Ajeng sama kakak yah?" Dimas terlihat yakin tapi juga penuh harap.
"Memangnya dia tidak ada dirumah? ,, Ajeng kemana?" Aliya bertanya ikut khawatir.
Dimas semakin khawatir mendengar jawaban kakaknya itu. Dia memegangi rambutnya kasar dia semakin bingung. Aliya yang sudah ikut khawatir segera membukakan pagar dan keluar ingin ikut membantu adiknya mencari sang adik ipar.
"Ini gimana? Dia tidak memberitahu apa-apa?" Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya dia menjadi frustasi. Dimas hanya diam setelah merasa kehabisan akal.
"Mungkin dia sedang pergi ini kan masih siang kamu juga cepat sekali pulangnya" Aliya mencoba menenangkan adiknya yang sepertinya benar-benar khawatir.
"Kita tunggu saja dulu" Aliya menenangkan sambil menepuk-nepuk bahu adiknya itu.
*****
Di rumah makan dua sahabat itu sudah menyelesaikan kegiatannya dan bersiap-siap pulang. Putri menawarkan tumpangan tapi Ajeng bersikeras menolaknya dengan banyak sekali alasan. Ajeng sudah memesan jasa ojek saat masih dirimah makan mereka sebenarnya menunggu kedatangan tumpangan yang menjemputnya dan memutuskan pulang setelah jasanya datang.
Ajeng berpikir mungkin ini masih terlalu awal untuk pulang setelah berada di perjalanan. Tapi dia berpikir lebih cepat lebih baik dia bisa mempersiapkan semuanya lebih awal dan juga dia hanya berdua dirumah mungkin Dimas akan merasa tidak enak jika harus makan bersamanya dia bisa membiarkan Dimas makan terlebih dahulu.
Mereka sudah dekat sebentar lagi akan sampai. Ajeng melihat ada mobil di depan rumah dia tau itu adalah mobil Dimas dia jadi bingung apa yang sedang terjadi dia bertanya-tanya apa yang dilakukan suaminya di jam segini.
Dia segera bergegas memasuki rumah dia merasa bingung apakah mungkin Sarah sudah pulang dia hanya memikirkan kemungkinan itu saat ini. Tanpa melihat ke sekitar dia memutuskan untuk pergi ke kamar saja.
"Dari mana aja?!" Ajeng sontak kaget mendengar suara Dimas yang sepertinya sedang marah.
Ajeng berbalik menatap ke arah suara itu dan melihat suaminya yang sedang memandanginya tajam berdiri di sebelah bangku ruang tengah. Dia menciut melihat tatapan itu bertanya-tanya apa kesalahannya apa karena dia pergi? tapi apakah salah jika dia pergi sekali-kali.
Dimas yang tadinya berdiri diam sekarang berjalan ke arah Ajeng. Ajeng sangat takut karena Dimas berjalan begitu cepat ke arahnya dan dengan tatapan marah. Seketika tubuh Ajeng melemas pondasi tubuhnya benar-benar runtuh walau sudah makan banyak tadi.
"Kamu dari mana?" Dimas sekarang mulai berbicara sedikit lembut karena merasa kasihan melihat istrinya yang ketakutan akibat gertakannya.
"A aku aku pergi keluar sama teman Mas"
"Lihat aku kalau bicara"
__ADS_1
"I iya Mas" meski takut akhirnya Ajeng memberanikan diri menatap mata suaminya.
Mereka bertatapan lama hingga Dimas beralih melihat ke arah bibir Ajeng. Dimas menatap bibir merah muda itu dengan gairah membuat Ajeng semakin takut. Dimas mendekatkan dirinya tiba-tiba menarik pinggang Ajeng mendekapnya tubuh mereka hanya dibatasi oleh kain yang mereka kenakan. Mereka begitu dekat mata mereka masih saling berhadapan Dimas menyentuhkan tangannya diwajah Ajeng mengelus-elus pipi lembut itu. Kemudian mendekatkannya dengan wajahnya
mereka bisa merasakan nafas satu sama lain.
Dimas mengecup bibir merah muda itu dengan lembut lalu melepaskan bibir yang telah menyatu itu
memegang dagu istrinya membuatnya mendongak. Dimas menatap istrinya sesaat lalu meneruskan ciumannya, mereka berciuman dalam. Terdengar suara bibir yang sedang saling mengecup dan nafas yang berusaha dihirup dari hidung juga suara nafas yang berusaha dikeluarkan dari mulut yang mengakibatkan suara seperti desahan.
Setelah merasa kehabisan nafas Dimas menghentikan ciuman mereka. Dia memeluk istrinya yang sudah lemas untuk beberapa saat kemudian melepaskan pelukan itu,, namun karena merasa jika istrinya masih dalam kondisi lemas dia merangkul pinggang kecil itu menempel ditubuhnya.
"kenapa tidak minta izin?" Dimas bertanya lembut seperti berbisik sambil menatap mata Ajeng.
"Aku pikir itu nggak penting"
"kenapa nggak penting?" bertanya bingung.
"Apa kau pikir itu penting?"
"Maksudnya?"
"Kenapa?" tidak mau melepaskan rangkulannya kemudian memegang dagu Ajeng mendongakkannya untuk menatapnya.
"Apakah penting bagimu aku pergi kemana?"
DEG... kalimat itu seketika membuat Dimas mengingat bagaimana dia telah memperlakukan sang istri membiarkannya sendiri dirumah tanpa menghiraukannya betapa kesepiannya dia.
Ajeng segera melepaskan rangkulan suaminya lalu pergi berlalu menaiki anak tangga menuju kamar. Dimas masih terdiam ditempatnya
setelah selesai dengan pikirannya dia bergegas mengejar sang istri. Dimas berlari pelan menaiki anak tangga kemudian berjalan menuju kamar Dimas cepat-cepat membuka pintu kamar dan melihat istri yang sedang berganti pakaian.
Dimas masuk tanpa mengetuk pintu Ajeng benar-benar kaget dia tidak berpikir jika Dimas akan mengejarnya sehingga dia memutuskan untuk mengganti pakaiannya. Ajeng bersyukur karena hanya membuka kerudungnya dia menghentikan kegiatannya seketika dan melihat ke arah Dimas.
"Kamu udah makan siang?"
"Udah Mas,, Mas belum makan?"
__ADS_1
"Aku tadi mau ngajak kamu keluar" Ajeng merasa sedikit heran mendengarnya. Tidak menyangka jika Dimas ternyata masih memperhatikannya dia jadi merasa bersalah.
"Mas mau makan? Biar aku siapin yah?"
"nggak usah,, aku makan sendiri aja" Ajeng benar-benar merasa bersalah.
"Mas duluan aja ke meja makan,, aku bakalan datang
aku ganti pakaian dulu sebentar"
Mendengar itu Dimas segera keluar pergi lalu menutup pintu dan Ajeng segera mengganti pakaiannya. Ajeng cepat-cepat ganti baju dan langsung bergegas ke bawah dia melihat Dimas yang baru saja duduk. Ajeng cepat-cepat menyiapkan makan siang untuk suaminya itu dan duduk menemaninya makan.
"Kamu makan siang sama siapa?"
"Sama teman Mas" Dimas terlihat tidak begitu puas dengan jawaban istrinya.
"Lain kali kalau ingin keluar minta izin dulu atau nggak bilang sama Kak Aliya"
"Iya Mas" menganggukkan kepalanya.
"Kamu nggak mau makan lagi?" Ajeng menjawab dengan gelengan yang membuat Dimas mengernyit dengan ekspresi bingung.
"Kenapa?"
"Udah kenyang Mas" jawab Ajeng sangat yakin.
"Kamu mau dirumah aja? nggak mau keluar?"
"Emangnya Mas mau?"bertanya balik
"Kita bisa jalan-jalan kalau kamu mau"
"Beneran? Aku mau Mas" Ajeng terlihat begitu antusias dan bahagia diajak keluar oleh Dimas.
Ajeng merasa banyak sekali perubahan hari ini mungkin Dimas hanya ingin bersikap baik itu yang dia pikirkan
tidak mungkin Dimas melakukannya karena memiliki perasaan terhadapnya,, dia memutuskan untuk menikmati saja suasana baru ini dan tidak terlalu memasukkannya ke dalam hati agar tidak perih nantinya.
__ADS_1
Bersambung...