Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Sangat menawan


__ADS_3

*****


Mas Dimas menjemput ku selesai bekerja, aku melihatnya menunggu di depan gedung saat aku dan Putri baru saja keluar. Putri tersenyum padaku setelah melihat keberadaan Mas Dimas, tanpa aku memberi tahu apapun dia sudah mengerti apa yang telah terjadi. Meski kami sedekat ini ada banyak hal yang tidak perlu diceritakan atau dijelaskan kepada satu sama lain.


"Sana" dia tersenyum lebar padaku membuatku ikut tersenyum dan juga sedikit merasa malu.


"Iya, aku duluan yah"


"Iya, hati-hati dijalan"


"Iya, kamu juga" dia mengangguk masih tersenyum.


Aku berjalan menuju Mas Dimas, dia tersenyum padaku tentu aku membalasnya. Aku terbawa suasana oleh tatapannya, tatapan itu membuat ku menggigit bibir sendiri. Aku ingat saat dia pertama kali menatap ku disaat perjodohan, aku tidak bisa berbohong jika aku tidak bisa melupakan tatapan itu, dia terlihat begitu menawan siapapun pasti akan terbawa suasana.


Meleleh rasanya, kaum hawa pasti bisa merasakan apa yang aku rasakan, meski kau tidak mengenalnya kau pasti tidak akan menolak jika dijodohkan dengannya. Itu adalah perasaan yang aku rasakan sebelum Sarah datang dan menjelaskan semuanya kepada ku. Sayangnya lelaki yang menawan hati itu sudah benar-benar dimiliki oleh perempuan lain.


Aku rasanya ingin menaklukkan lelaki dengan tatapan tidak tertaklukkan itu, siapapun tidak akan bisa menang jika bertatapan dengannya. Bahkan Bunda juga sangat menyukai Mas Dimas, dia mengatakan jika Mas Dimas benar-benar sangat tampan saat sebelum kami bertemu di hari perjodohan, aku tidak peduli dengan apa yang Bunda katakan karena aku sama sekali tidak mengenalnya.


Tapi Bunda malah jauh tidak peduli dengan pendapat ku, dia memuji-muji lelaki itu tanpa henti. Meski aku menolak di dalam hati tapi aku tidak bisa menolak Bunda, melihat lelaki di depanku, aku beruntung tidak menolak permintaan Bunda.


Aku bergegas duduk di kursi depan melihat sekilas lelaki disamping ku, aku tidak tahan berada di dekatnya, jantung ku selalu berdegup kencang saat berada di dekatnya. Aku ingin mengobrol, aku selalu ingin banyak banyak bicara dengannya, tapi aku kadang tidak bisa berkata-kata, itu mungkin sudah sifat ku sedari dulu.


Jika dilihat-lihat Mas Dimas sangat mirip dengan almarhum Ayah, sebenarnya Paman lebih mirip bahkan sangat mirip, keluarga besar mengatakan jika Paman dan Ayah seperti pinang dibelah dua, aku sangat mengakui itu. Kedua Ayahku dan Paman hanya berbeda orang tua, mereka memiliki Kakek dan Nenek yang sama.

__ADS_1


Mas Dimas terlihat sangat menawan seperti Ayahnya, mereka sama-sama sangat pandai dalam hal penampilan. Aku memikirkan lagi tentang memiliki anak, jika aku mendapatkan anak laki-laki bukankah akan terlahir almarhum Ayah yang baru, dia akan mirip dengan almarhum Ayah sekaligus juga dengan Mas Dimas tentunya, anakku akan sangat tampan.


Mas Dimas sangat tampan tapi almarhum Ayah jauh lebih tampan, sesekali aku harus mengatakan tentang hal itu kepada Mas Dimas agar dia menyadarinya, tidak ada yang lebih tampan dari almarhum Ayah.


Dalam beberapa hari ini Mas Dimas akan tidur denganku, apakah aku harus berbicara mengenai permintaan Bibi atau aku sebaiknya tetap diam saja. Aku tentu sangat menginginkan anak setelah memikirkan tentang almarhum Ayah, tapi aku sadar jika aku tidak pintar untuk hal-hal seperti itu, memulai pembicaraan bukanlah keahlian ku.


Meski aku sering mencoba untuk melakukannya tetapi aku tidak tau kenapa aku selalu berhenti dan merasa tidak percaya diri, apalagi untuk mencoba berbicara dengan Mas Dimas, itu benar-benar bukan keahlian ku, aku bahkan tidak berani lama-lama bertatapan dengannya, sebaiknya aku lihat apa yang akan terjadi selanjutnya saja.


Aku banyak sekali berpikir tentang lelaki disamping ku ini hingga aku tidak sadar jika kami sudah sampai di komplek perumahan. Apakah aku boleh mencuri pandang dari suamiku sendiri? Aku ingin dilihat olehnya, aku bahkan ingin lama-lama ditatap olehnya, apakah aku boleh melakukannya? Bukankah aku terdengar sangat serakah? Aku benar-benar serakah, sebaiknya aku mengubur semua keinginan itu.


"Kenapa?" Aku sepertinya telah berhasil mencuri pandang darinya, aku memang bodoh, sekarang aku tidak tau harus melakukan apa, dia menatapku sedalam itu, harusnya aku berpikir sebelum bertindak. Apa yang harus aku lakukan sekarang, sebaiknya aku diam saja.


"Ada apa sayang?" Aku lebih baik menggelengkan kepala agar semuanya selesai.


Mobil bergerak sangat pelan sambil Mas Dimas menatap ke arahku, akhirnya kami sampai di rumah. Aku menghela nafas lega tapi sepertinya Mas Dimas melihat tindakan ku itu, aku sepertinya semakin dalam bahaya, aku harap Sarah sudah pulang. Aku takut berada sendirian di rumah, maksud ku selain Mas Dimas tentunya.


Aku hanya bisa tertawa dengan pikiran ku, apa mungkin aku sendiri berpikir jika aku bisa merayu seorang pria apalagi jika dia adalah seorang Mas Dimas, aku tidak sepengalaman itu, aku tidak punya pengalaman-pengalaman itu dalam hidupku dan sepertinya Sarah sudah pulang.


Tidak mungkin dia mau membiarkan aku dengan Mas Dimas berduaan di rumah bukan? Bukannya aku berpikir yang tidak baik tentangnya tetapi semua perempuan pasti akan berpikir hal yang sama meski mereka berkata tidak ada masalah dengan itu.


Aku sebaiknya segera turun untuk makan malam, ini masih tepat waktu untuk memasak. Aku segera keluar dari kamar membuka pintu, aku seketika menciut ketika melihat Mas Dimas sudah berdiri di depan pintu sepertinya dia baru akan masuk, beruntungnya aku segera keluar dari kamar jika tidak, aku tidak tau apa yang akan terjadi di dalam.


"Mau kemana?"

__ADS_1


"Ma-mau masak Mas" aku benar-benar buruk dalam hal berkata-kata, hanya satu kalimat itu saja bahkan aku tidak bisa menaklukkannya.


"Kamu nggak mau lakuin hal yang lain?" Aku bingung mendengarnya, tapi apakah kata-kata itu ada kaitannya dengan pikiran kotorku? Aku harap aku hanya salah memahaminya.


"Aku harus bantuin Sarah, Kak Sarah masak"


"Dia belum pulang"


"Pasti sebentar lagi pulang Mas"


"Sarah lagi pergi ke acara sepupunya"


"Ohh, kalau gitu aku masak sendiri aja Mas, Mas belum makan kan?" aku berusaha mengalihkan suasana ini ke kegiatan yang sedikit lebih positif agar aku tidak melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan.


"Nanti aja masaknya, kamu nggak mau punya anak?"


"Hmm?? Maksudnya Mas?" aku pura-pura bersikap tidak memahami perkataannya.


"Kamu nggak paham atau pura-pura nggak paham?" Aku sepertinya benar-benar sedang dalam masalah, aku belum siap melakukannya.


"Mas bukannya kita lebih baik makan dulu"


"Kenapa nggak buat dulu aja baru makannya nanti" Mas Dimas mulai mendekat membuat ku sedikit merasa pasrah.

__ADS_1


"Mas, bukannya kita sebaiknya tanya pendapat Sarah dulu" Mas Dimas akhirnya menghentikan tindakannya, dia sepertinya memikirkan hal yang sama seperti yang aku pikirkan saat ini.


Bersambung...


__ADS_2