
~Ajeng POV~
*****
Mas Dimas benar-benar tidak mempedulikan ku
lalu mengapa dia memeluk ku saat tidur tadi malam?
dia memberi ku harapan palsu, dia sangat jahat, aku tidak bisa lagi menahan ini hiks hiks aku tidak mau lagi.
Aku masih bertahan karena peduli dengan Ibu yang saat ini sedang sakit tapi bukannya harusnya dia bersikap baik padaku untuk kesehatan Ibu?
Bahkan dia mengacuhkan ku tadi, dia hanya mencintai Sarah dia hanya memikirkan perasannya. Aku sangat membenci mereka berdua, aku tidak ingin lagi berhubungan dengan mereka. Ini juga adalah rumah ku,
aku berhak melakukan apapun, aku tidak akan diam saja dan bersikap seperti orang bodoh.
Hari ini aku akan pergi untuk wawancara, aku akan pergi ke alamat yang Putri berikan. Aku akan menghasilkan uang sendiri, aku tidak akan merepotkan Mas Dimas lagi jika sudah punya pendapatan sendiri.
pasti itu yang mereka berdua inginkan hiks hiks hatiku benar-benar sakit, sangat sulit menerima kenyataan ini. Sekejam itu kah mereka? Harusnya walaupun mereka tidak menginginkan ku di rumah tangga ini mereka tetap bisa bersikap baik padaku aku akan menerima hubungan dengan baik.
Aku tidak ingin menangis lagi aku akan mencuci wajahku dan bersiap-siap pergi. Aku sudah selesai bersiap-siap, aku sudah memesan jasa ojek tadi dan dia sudah sampai. Aku bergegas naik dan meninggalkan rumah yang penuh rasa sakit ini, aku merasakan angin sejuk saat sudah diluar, aku sangat senang setiap keluar dari rumah ini, seperti bebas dari penjara.
Aku sampai di alamat perusahaan yang Putri kirimkan, Putri sudah memberikan formulir ku kemarin dan aku akan diwawancara hari ini. Aku akan bekerja minggu depan setelah pemeriksaan medis, aku katakan pada Putri jika aku tidak ingin pulang dan hari ini dia sedang tidak bekerja, aku berharap dia bisa pergi keluar jalan-jalan dengan ku.
"Put, kamu nggak kerja kan hari ini?"
"Iya, kenapa Jeng"
"Aku nggak mau pulang hari ini"
"Kenapa? Ada masalah?"
"Nggak, aku mau keluar dari rumah aja"
"Kamu tetap mau pulang nanti malam atau mau nginap"
"Emang boleh?"
__ADS_1
"Boleh dong, aku juga nggak ada teman di rumah, suamiku lagi di luar kota. Kita makan siang dulu yah?" Aku mengangguk-angguk setuju.
Mungkin memang tidak akan dibenarkan jika seorang istri meninggalkan rumah tanpa seizin suaminya, tapi sekarang aku tidak merasa seperti menjadi seorang istri siapapun, kuputuskan untuk pergi saja dan aku sangat yakin jika mereka tidak akan peduli, mereka pasti akan senang jika aku pergi dari rumah.
"Hei kenapa?" Putri mengagetkan ku yang ternyata sedang melamun, aku cepat menggeleng-geleng kan kepala ku agar dia tidak bertanya lagi.
Kami berencana akan pergi ke rumah makan yang pernah kami kunjungi sebelumnya. Aku merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama Putri lagi. Dulu kami masih remaja, tapi pengalaman itu sangat-sangat lah indah aku tidak akan bisa melupakannya.
Aku sepertinya telah sedikit lupa tentang masalah ku,
aku merasa sangat bersyukur ada Putri disisi ku.
Kami sampai di rumah makan yang kami kunjungi sebelumnya, kami sudah tidak sabar ingin menyantap menu yang disediakan. Semua menu disini sepertinya sangat lezat, aku menyimpulkannya setelah memakan dalam porsi jumbo hari itu bersama Putri, menurut ku semua menunya sangat lezat.
Kami memesan lagi seperti sebelumnya, saat ini kami benar-benar lapar. Kami mungkin makan banyak karena nafsu yang meningkat saat sedang bersama. Sebenarnya aku jarang makan dalam porsi sebanyak ini tapi aku dapat mengonsumsi semuanya saat bersama Putri.
"Jeng, kamu masih ingat nggak sama Adrian?"
"Iya, kenapa?"
"Dia nanyain kamu loh" Aku hanya bisa diam lalu melanjutkan makan siang ku.
"Apa?"
"Adrian udah dari lama cari kamu, dia sayang loh sama kamu"
"Aku udah nikah Put"
"Emangnya, kamu menganggap dia sebagai suami kamu? dia menikahi wanita lain padahal baru beberapa hari nikah sama kamu, dan dia nggak memberi tahu siapa-siapa. Kamu mau merasakan rasa sakit sendiri? Aku nggak mau kamu diperlakukan seperti itu walaupun kata kamu dia lelaki baik-baik"
"Kapan aku bilang dia baik?" aku seperti ingin menarik kata-kata ku yang pernah aku katakan pada Putri, aku menyesal telah membelanya, aku memang bodoh.
Putri melihat ku dengan bingung, dia pasti ingat kalau aku pernah mengatakan jika Mas Dimas adalah pria yang baik tapi sekarang aku menariknya, tapi sepertinya dia sekarang sadar maksud ku, Putri benar-benar sangat memahami ku.
"Kalau gitu aku kasih tau Adrian yah? Kamu nggak usah mikirin mereka yang nyakitin kamu"
"Nggak perlu, aku nggak mau kasih harapan palsu sama dia, nanti aku sama jahatnya sama Mas Dimas" Putri menatap ku dengan tatapan bersimpati.
__ADS_1
"Kita selesain makan siangnya yah?" ucapku cepat saat melihat Putri akan berbicara lagi.
Kami lanjut makan dan menghabiskan semua hidangan, sebenarnya Putri lah yang menghabiskannya. Aku sedikit kehilangan nafsu saat membicarakan tentang Mas Dimas tadi. Selesai makan siang kami putuskan untuk pergi berbelanja, Putri mengatakan jika kami akan membuat dan memasak banyak makanan, aku tentu sangat setuju dengan rencana itu.
Kami segera pulang ke rumah Putri, dia mengajak ku berbelanja di supermarket terdekat dengan rumahnya,
kami membeli adonan instan untuk membuat kue coklat, mie instan, dan banyak makanan ringan lainnya,
sepertinya kami akan sangat betah berdua nanti.
Selesai berbelanja kami segera pulang, kami sampai di rumah Putri, ini pertama kalinya aku datang ke rumahnya disaat dia sudah menikah aku sangat senang untuknya
Kami menghabiskan semua makanan yang kami beli,
sekarang sudah pukul enam sore aku pikir tidak ada masalah hingga saat ini, aku yakin tidak akan pulang hari ini. Saat ini aku dan Putri sedang menonton di ruang tengah, kami menghabiskan waktu dengan baik.
~Author POV~
Dirumah, dari selesai sarapan pagi Sarah tidak melihat keberadaan Ajeng tapi dia tidak ada pikiran jika Ajeng sedang tidak ada di rumah jadi dia membiarkannya.
Dimas pulang pukul enam sore, Sarah menyambutnya dan mengajak suaminya itu untuk pergi berganti pakaian di kamar milik mereka berdua.
Dimas membersihkan tubuhnya dahulu kemudian memakai pakaian yang disiapkan oleh Sarah.
Selesai berganti pakaian mereka berdua turun untuk makan malam, Dimas terlihat mencari-cari keberadaan Ajeng karena sejak dia datang dia tidak melihat gadis berkerudung itu.
"Ajeng dimana?"
"Mungkin dia di kamar Mas, aku nggak lihat dia dari tadi"
"Kamu serius?" Sarah terlihat kaget dengan tanggapan yang diberikan oleh Dimas.
Sarah tidak pernah berpikir Dimas akan bereaksi seperti itu perkara tentang Ajeng, Dimas langsung berdiri dan pergi menaiki anak tangga, dia sedikit berlari berlalu menuju kamar milik Ajeng, Sarah mengikuti Dimas naik ke atas.
"Ajeng" Dimas memanggil tapi tidak mendengar ada jawaban.
Karena tidak mendengar adanya jawaban Dimas memutuskan untuk masuk, dia membuka pintu dan tidak terlihat ada siapapun disana. Dimas masuk diikuti Sarah mencari ke dalam tapi ruangan itu benar-benar kosong, Dimas mencoba melihat isi kamar mandi tapi juga tidak ada siapapun disana. Seketika Dimas menjadi khawatir, Sarah melihat ekspresi suaminya itu dan menjadi takut sekaligus cemburu.
__ADS_1
Bersambung...