
Setelah hampir tiga menit melakukannya akhirnya Mas Dimas menghentikan bibirnya,, dia menatapku dan aku balas menatapnya nafas kami saling berburu sepertinya kami cukup kehabisan nafas setelah melakukan ciuman bergairah itu. Pelan-pelan Mas Dimas melepaskan kedua tangannya tapi sepertinya karena tubuh yang lemas kakiku seperti hilang hingga tubuhku akan jatuh Mas Dimas kemudian kembali merangkul tubuhku.
Mas Dimas memelukku agar tidak terjatuh dan menggendongku keatas ranjang. Aku masih terkejut dengan semuanya Mas Dimas mendudukkan tubuhku di atas ranjang aku terdiam dengan tatapan kosong masih sedikit syok. Mas Dimas memegang daguku hingga aku mendongak kearahnya dia menatapku lembut aku merasa itu lebih seperti tatapan kasihan aku benar-benar malu.
"Kenapa pipimu memerah" Dia membuatku semakin malu aku hanya bisa memegang kedua pipiku. Dan beraninya dia menertawakanku,, ah aku sangat malu benar-benar malu. Aku mencoba berjalan meski sedikit lemas aku berlari dari kamar menuju dapur meninggalkan Mas Dimas.
Meski lemas aku tetap membantu Bibi didapur sepertinya dia menyadari sesuatu yang aneh denganku dia menatapku dengan tatapan bertanya-tanya tapi dia tetap diam. Selesai memasak Bibi dan aku menyiapkan meja makan Mas Dimas terlihat sudah rapi menuruni anak tangga. Aku masih sedikit malu jadi aku hanya menundukkan kepalaku. Kami sarapan bersama dengan tenang.
"Bagaimana tidurnya semalam?" Bibi bertanya membuatku terkejut aku bingung tidak tau ingin menjawab apa kemudian aku menatap ke arah Mas Dimas ternyata dia juga sedang menatapku tapi terlihat tatapan yang begitu berbeda diantara kami. Aku memberikan tatapan kebingungan sedangkan dia memberikan tatapan tenang. Apakah hanya aku yang terkejut dengan pertanyaan Bibi? Aku semakin jengkel pada Mas Dimas sepertinya dia begitu menikmati ekspresi kebingunganku aku menatapnya tajam menunjukkan ketidaksukaan,,
Dia menertawakanku lagi.
~Author POV~
"Hari ini Bibi harus pulang ke Bandung untuk menemani ibumu berobat Bibi akan pulang setelah dua hari jaga istrimu baik-baik yah"
"Iya Bi"
"Jaga baik-baik" Bibi mengulangi perkataannya memperingatkan Dimas.
"Iya Bi" Dimas menekankan kalimatnya.
"Awas kalau Bibi melihat ada yang aneh sama Ajeng,, sedikit saja ada yang salah dimata Bibi habis kau" Bibi memperingatkan Dimas dengan tatapan tajam.
"Bi Bi gimana mungkin aku tau apa yang salah dimata Bibi" Dimas tersenyum menjawab perkataan Bibinya.
"Ajeng,, kalau Dimas menyakitimu katakan pada Bibi" Bibi berkata pada Ajeng sambil melirik ke arah Dimas yang membuat Ajeng ikut melihat kearah suaminya itu. Ajeng tersenyum melihat tingkah Bibi dan keponakannya itu.
__ADS_1
"Iya Bi" jawab Ajeng seadanya. sebenarnya jikapun Dimas menyakiti hatinya nanti dia sama sekali tidak punya niatan untuk memberitahu siapapun masalah yang dia hadapi.
*****
Sekarang sudah pukul dua belas siang dan Bibi sudah pergi ke Bandung. Ajeng sendiri lagi dirumah besar itu seperti seseorang yang sedang disandera.
Ajeng masih ingat ciuman subuhnya. Itu merupakan ciuman pertamanya dia tidak pernah membayangkan akan mendapatkannya dari Dimas dia bahkan tidak pernah membayangkan akan melakukan hal seperti itu seumur hidupnya. Dia sempat merona mengingat kejadian yang mendebarkan itu.
Ajeng bertanya-tanya mengapa Dimas mau melakukan hal itu dengannya. Mungkin itu hanyalah hasrat seorang pria dia menekankan itu dalam pikirannya dia tidak akan meminta lebih. Dia adalah istrinya dan harus melayaninya itu adalah pikiran yang dia simpulkan dibenaknya seorang Dimas tidak akan pernah memberikan hati dan pikirannya kepadanya. Untuk apa juga? Dia sudah memiliki Sarah, hanya Sarah.
Ajeng merasa sedih dengan pikirannya sendiri
dia sepertinya tanpa sengaja telah menaruh hati pada suaminya itu,, Ajeng menganggap Dimas sebagai lelaki yang baik sangat mudah untuk menyukainya siapapun pasti jatuh hati padanya,, termasuk wanita mudah sepertinya. Namun cukup menyimpan perasaan itu sendiri Ajeng memperingatkan dirinya.
Ajeng merasa bosan dirumah sendiri dia memutuskan untuk berkabar dengan sahabatnya Putri. Ternyata Putri sedang tidak sibuk juga mereka saling mengirim pesan hingga Putri mengajak dirinya untuk pergi menyegarkan mata sebentar. Mereka berencana akan pergi makan siang bersama di rumah makan yang Putri usulkan. Putri katakan jika itu merupakan rumah makan langganannya dia sangat suka masakan disana.
Ajeng berpikir tentang meminta izin kepada suaminya tapi dia berpikir mungkin suaminya tidak akan peduli juga dia melakukan apa. Ajeng berencana akan pulang cepat karena tidak ada orang dirumah Sarah juga sedang tidak ada. Jadi dia harus pulang cepat dan tetap memasak untuk suaminya itu.
Ajeng berangkat dan memesan jasa ojek. Dia merasa senang akhirnya akan bertemu sahabatnya karena sudah sangat lama tidak bertemu.
Sesampainya di alamat yang Putri berikan Ajeng kemudian melihat-melihat ke dalam rumah makan mencari tampang yang ingin dilihatnya.
"Ajeng!!" Teriak Putri membuat Ajeng terkejut sekaligus antusias. Mereka berlari dramatis memeluk erat satu sama lain.
"Ah aku rindu sama kamu loh,, cantik banget kamu sekarang" Putri berbicara setengah berteriak.
"Aku juga rindu,, kamu makin manis aja" ucap Ajeng tenang sambil mencubit pipi sahabatnya itu.
__ADS_1
"Harum banget,, beneran enak Put?"
"Iya,, kamu pasti suka masuk yuk!"
Kedua sahabat itu masuk kedalam rumah makan. Ajeng yang baru pertama kali datang seketika langsung mencium aroma makanan buatan yang membuat perutnya kelaparan.
"Wah harum banget,, apa yang enak Put disini" Ajeng bertanya tidak sabaran langsung ingin mencoba hidangan rumah makan itu.
"Tunggu aku pesan yah" Ajeng menganggukkan kepalanya setuju.
Hidangan yang dipesan oleh Putri pun datang. Putri memesan hidangan kesukaannya untuk Ajeng ingin sahabatnya itu ikut merasakan kenikmatan yang sudah dia rasakan terlebih dahulu. Ajeng sudah tidak sabar memakan hidangan tersebut mereka sama-sama meminta satu porsi nasi putih juga memesan satu porsi nasi goreng spesial.
"Bumbunya pas kan"
"Iya" Ajeng mengangguk-anggukkan kepalanya sangat setuju.
Mereka menghabiskan kenikmatan yang jarang itu. Semua hidangan yang dipesan habis oleh dua orang wanita muda itu. Beberapa orang melihat ke arah mereka tadi saat hidangan baru tiba. Tidak percaya jika dua wanita cantik akan menghabiskan makanan sebanyak itu tapi mereka benar-benar berhasil menyelesaikannya. Mereka berdua tertawa melihat apa yang telah mereka berdua lakukan. Karena bersama mungkin membuat hormon-hormon mereka sangat bersemangat hingga selera makan mereka bertambah.
*****
Dirumah pukul dua sore seseorang sudah pulang. Dimas sudah pulang bekerja berencana mengajak istrinya yang sendirian untuk pergi makan siang bersama. Dia merasa kasihan kepada istrinya itu karena selalu berdiam diri dirumah. Dia tidak memasukkan mobilnya ke garasi karena akan pergi juga agar tidak repot. Dimas memasuki rumah berjalan kearah kamar Ajeng.
"Jeng Ajeng" panggil Dimas
dia sudah antusias memikirkan akan betapa bahagianya istrinya diajak keluar. Namun tidak ada jawaban membuatnya bingung juga sedikit khawatir. Dimas membuka pintu kamar melihat sekeliling tetapi tidak ada siapapun disana dia mencari kedalam membuka kamar mandi tetapi kosong.
"Ajeng" teriak Dimas dia mulai khawatir. Dimas turun kebawah mencari kesemua tempat namun benar-benar tidak ada siapapun disana rumah itu benar-benar kosong. Dia mulai memegangi kantongnya mencoba mengambil telepon genggamnya. Dia mencari-cari nomor milik istrinya tapi baru sadar jika dia tidak memilikinya.
__ADS_1
Bersambung...