
Setelah melihat Mas Dimas sudah tidur aku berjalan pelan menuju ranjang dan dengan pelan menjatuhkan tubuhku dikasur.
Aku melihat sekilas Mas Dimas dia tidur membelakangi ku dia memutuskan untuk pergi terlebih dahulu kekamar tadi aku pikir itu adalah keputusan yang bagus. Mungkin dia tau suasana ini akan menjadi canggung dan lebih baik menghindarinya
aku senang, yah aku senang. Aku katakan jika aku merasa senang tapi tidak tau mengapa air mataku tiba-tiba menetes aku merasa sendirian lagi bahkan lebih merasa sendirian sepertinya aku benar-benar tidak punya siapa-siapa hiks hiks. Mas Dimas bahkan tidak berbicara padaku.
Apakah ini adalah keputusan yang terbaik? Aku sebaiknya bersabar saja aku akan membiarkan takdir Tuhan berjalan aku tidak boleh meragukan takdir Tuhan ini mungkin sudah menjadi ketentuan-Nya.
Aku putuskan untuk tidur dan tidak perlu bersedih memikirkan apapun.
~Author POV~
Ajeng akhirnya tertidur dengan pulas, dia tidur dengan posisi normal. Dikamar itu terdapat dua manusia yang tertidur tapi sepertinya hanya satu yang benar-benar tertidur. Dimas membuka matanya setelah mendengar suara nafas yang berirama normal dari wanita disampingnya hampir lima belas menit dia menunggu untuk memastikannya.
Dia memposisikan tubuhnya lurus melihat ke arah wanita disampingnya sesaat sebenarnya Dimas merasa jika istrinya itu sangatlah cantik dan baik hanya saja dia tidak punya perasaan terhadapnya dia hanya mencintai Sarah. Tetapi mungkin karena jiwa yang penasaran Dimas tiba-tiba mendekatkan dirinya.
Dimas melihat wanita disampingnya dengan sorot mata yang melemah mungkin rasa kantuk telah menghampirinya dan akhirnya kepalanya jatuh pelan di bantal tepat disamping kepala Ajeng yang sudah lelap terlebih dahulu.
Saat bangun subuh Ajeng merasa ada yang berat menimpahi perutnya dia kemudian membuka matanya dengan pelan-pelan dia mengumpulkan nyawanya.
Dengan terkejut Ajeng melihat tangan yang memeluk perutnya atau mungkin hanya sekedar menimpahi nya tanpa sadar.
Ajeng kemudian duduk dan sekilas menatap wajah tampan disampingnya suasana baru, yang baru pertama kali dirasakannya membuat hatinya berdebar tidak karuan Ajeng segera mengangkat tangan itu dan memposisikan nya kembali sesuai tempat yang seharusnya.
Setelah bangun dari tempat tidur Ajeng memutuskan untuk pergi mandi dan mengambil wudhu dan lanjut salat subuh setelahnya Ajeng mengambil kain putih di lemari dan memakainya dia dengan pikiran yang berusaha dikosongkan memulai salatnya dengan khusu.
Ajeng menyelesaikan ibadahnya dengan khidmat
__ADS_1
dia melepaskan kain putih itu dari tubuhnya melipatnya kembali dan meletakkannya di lemari. Saat ini Ajeng sedang tidak menggunakan kerudung atau apapun untuk menutupi rambutnya.
Saat berbalik untuk mengembalikan handuk yang digunakannya untuk mengeringkan rambutnya tiba-tiba Ajeng melihat dua buah mata sedang memandanginya.
Ajeng kaget dan pergi menunduk menutupi rambutnya berjalan secepatnya ke kamar mandi.
Jantung Ajeng melemah seketika dia belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya dia merasakan perasaan yang begitu tidak nyaman jantungnya berdegup begitu kencang sesuatu hal yang membuatnya semakin tidak nyaman.
Ajeng berada di kamar mandi hampir sepuluh menit. Karena merasa harus segera keluar dari sana Ajeng segera mengenakan kerudungnya meletakkan handuknya yang basah di gantungan agar segera kering.
Ajeng kemudian keluar dari kamar mandi dan juga dari kamar. Dengan mata elangnya dia jelas melihat mata seseorang dikamar itu sedang melihatnya saat berjalan keluar dari kamar. Ajeng mencoba menghiraukannya dan pergi meninggalkan kamar.
Saat menuruni anak tangga Ajeng melihat Bibi sendiri sudah ada di dapur.
"Ajeng!" Teriak Bibi dengan lembut.
"Kamu cepat sekali bangunnya Nak, sudah salat?"
Di dapur hanya ada Bibi dan Ajeng, Ajeng tidak tau mengapa Sarah belum bangun juga. mungkin dia masih tidur? Mungkin saja. Ajeng segera membantu Bibi memasak di dapur Bibi yang putuskan akan memasak apa dan Ajeng akan membantunya sekaligus belajar darinya,, kegiatan yang menguntungkan menurut Ajeng.
Selesai memasak Bibi memanggil Dimas yang sudah rapi memakai kemeja kantornya Dimas segera turun dan duduk di meja makan.
"Dimana Sarah?" Ajeng bertanya kepada Bibi.
"Bibi tidak tau. Dimas, dimana istrimu?"
"Dia pergi menjenguk orangtuanya Bi" Bibi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan Ajeng yang melihat ke arah Bibi akhirnya merasa tenang tadi dia sempat berpikir jika mungkin Sarah tidak datang untuk makan karena sakit hati.
__ADS_1
Sebenarnya Dimas meminta Sarah untuk pergi ke rumah orangtuanya saja sebelum memasuki kamar Ajeng semalam. Agar Sarah tidak perlu memikirkan tentang Bibi dan dirinya yang tidur satu ranjang dengan Ajeng dan berencana akan mengunjungi Sarah setiap hari yang membuat Sarah akhirnya mengiyakannya.
Bibi, Dimas dan Ajeng sarapan bersama.
Dimas menatap Ajeng beberapa saat dan kembali memandang sarapannya dia masih teringat subuh tadi pemandangan di depan wajahnya. Sesuatu yang benar-benar tidak terduga bagaimana untuk pertama kalinya dia melihat istrinya dengan rambut tidak tertutupi pertama kalinya dia melihat rambut istrinya. Melihat itu semua membuatnya untuk sesaat tadi bergelora. tidak hanya rambut dia juga melihat leher putih indah istrinya.
Bagaimanapun dia juga adalah pria normal bagaimana tidak mungkin pemandangan itu membuat darahnya bergelora. Ajeng menyadari jika tadi Dimas sedang memandanginya dia melihat ke arah Dimas sesaat dan tiba-tiba mata Dimas juga menatapnya mata mereka saling berpandangan membuat Ajeng salah tingkah dia langsung menurunkan matanya dengan tangan yang gemetar.
Bibi melihat semua itu tapi dia hanya diam dia tidak akan melakukan sesuatu yang merusak pemandangan langka itu. Dimas masih tetap memandangi istrinya yang salah tingkah itu membuat Ajeng semakin menciut mendalam kan undukan nya terlihat senyuman kecil di wajah Dimas melihat tingkah istrinya yang sedang malu itu.
Setelah menyelesaikan sarapan Dimas memutuskan untuk pergi bekerja dia mencium tangan Bibinya. Bibi melihat ke arah menantunya yang hanya diam berdiri di meja makan.
"Sini salim suamimu" seru Bibi kepada Ajeng. melihat Ajeng yang beberapa detik tidak bergerak membuat Bibi menarik tangan Ajeng dan memintanya untuk menyalim suaminya itu.
Ajeng hanya menyalim tangan suaminya dikening namun Bibi tidak membiarkannya begitu saja.
"Cium tangan suamimu Nak" minta Bibi sambil tersenyum simpul.
Akhirnya Dimas memulai dengan memberikan tangannya dan Ajeng menanggapinya dengan segera mencium tangan suaminya itu. Ini sesuatu hal yang baru untuk Ajeng dia benar-benar belum pernah berhubungan dengan pria membuatnya kaku dan salah tingkah.
Dimas sekilas melihat wajah sayu putih memerah itu membuatnya gemas sesuatu yang tidak ingin dia rasakan timbul dihatinya.
Dimas pergi meninggalkan rumah dan pergi untuk bekerja.
Sore hari setelah menyelesaikan pekerjaannya Dimas memutuskan akan pergi menemui Sarah di rumah mertuanya.
Tut.. Tut.. Tut.. Suara telepon mengguyurkan tujuannya sesaat ketika sedang berada di jalan menuju rumah mertuanya.
__ADS_1
Dimas membuka teleponnya ternyata Bibi yang menelepon Dimas pun segera mengangkat panggilan tersebut.
Bersambung...