
Mas Dimas biasanya membeli makanan dari luar,
dan kami sama sekali tidak pernah makan bersama. Aku selalu makan lebih awal dan sepertinya dia juga menungguku makan terlebih dahulu kecuali pada pagi hari. Untuk sarapan pagi aku akan menunggunya makan terlebih dahulu karena dia akan pergi bekerja.
Aku ingin membeli dua bungkus, tapi aku takut jika Mas Dimas tidak akan memakannya. Tapi bagaimanapun juga aku membelinya dengan uang miliknya, meski kami jarang berbicara bahkan mungkin hampir tidak pernah tetapi dia selalu menafkahi ku dengan baik. Aku mendapatkan uang dari brankas di bawah
dia mengatakan aku bisa mengambilnya jika aku membutuhkan uang.
Mie ayam ku sudah siap, Mamang penjual nya sangat ramah, bercanda dengannya membuat ku dapat sedikit merasakan angin sejuk dalam hati. Saat Mamang penjual memberikan bungkusan aku melihat mobil milik Mas Dimas yang datang. Aku sangat terkejut, aku belum pernah keluar dari rumah sebelumnya selain saat baru datang setelah menikah, hal mendadak seperti ini membuat ku canggung.
Dia melihatku sesaat, kemudian menatap jalan kembali dan memasukkan mobil ke garasi rumah.
Aku jadi takut sendiri walau tidak berbuat salah, aku takut akan menemuinya. Aku malu dan tidak percaya diri, sebenarnya itu yang sedang aku rasakan. Aku menjatah mie ayam yang ku beli dan masuk kerumah.
"Apa yang kau lakukan diluar?" dia bertanya halus.
Aku hanya bisa diam, takut mengeluarkan suara karena tidak berani bicara padanya. Dia sebenarnya tidak terlihat menakutkan, dia sama sekali tidak menakutkan. Tapi aku sedikit malu berbicara dengannya.
__ADS_1
"A-aku tadi keluar sebentar dan melihat ada penjual mie a-ayam yang datang Mas"
"Kamu akan makan itu?"
"Aku membeli dua bungkus!" aku mengatakannya tanpa malu, itu adalah kata-kata yang sudah aku siapkan saat berjalan masuk tadi, aku ingin dia memakan mie ayam ini juga karena takut terbuang sia-sia. Dia menatap ku heran membuat ku sangat-sangat malu saat ini.
"Baiklah, kamu mau makan bersama?" Syukurlah dia berbicara, aku memaksakan pikiran ku jika dia sudah melupakan kalimat menyambar ku itu.
"Iya Mas" aku menjawabnya begitu cepat.
Aku menyiapkan meja makan sementara Mas Dimas pergi ke atas untuk membersihkan dirinya. Dia membawa makanan dari luar lagi, dia selalu melakukannya, setiap hari aku hanya perlu memasak nasi. Aku memasaknya sebelum dia bangun dan pada sore hari sebelum dia pulang bekerja.
~Author POV~
Dimas melihat Ajeng sedang berada diluar saat dia pulang dari kantor, dia bertanya-tanya kenapa istrinya itu tiba-tiba berada diluar rumah, dia sangat heran karena dia sendiri jarang melihat perempuan berkerudung itu berkeliaran di dalam rumah. Dimas masuk kedalam rumah dan meletakkan makanan yang dia beli di meja makan. Dimas ingin bertanya dan dia melakukannya.
Dimas melihat sosok Ajeng sebagai seorang wanita cantik yang taat agama, dia bahkan mengaguminya. Meski tidak ada rasa perasaan untuk wanita yang dia nikahi tersebut sebagai sepasang suami istri. Tapi tidak tau sebagai seorang wanita dan pria yang tinggal di dalam satu atap rumah.
__ADS_1
Malam itu Dimas ingin mengatakan jika besok dia akan menikahi Sarah secara sirih karena orang tuanya yang tidak menyetujui hubungannya dengan Sarah. Dimas tidak memberitahukannya kepada orangtuanya karena ibunya yang sedang sakit parah, dia akan membawa Sarah ke rumah besok dan tinggal bersama.
Selesai makan Ajeng membereskan meja dan pergi untuk mencuci piring. Dimas melihat ke arah bahu kecil tersebut, dia berdiri dan berjalan menuju Ajeng melihat kearah wanita berbalut kerudung itu.
"Ajeng" memanggil Ajeng pelan, Ajeng refleks berbalik dan menatap lelaki di belakangnya.
"Iya Mas" menjawab.
"Besok Sarah akan datang kemari"
"Iya mas" Ajeng hanya menganggukkan kepalanya menunduk paham.
"Kalau begitu Mas naik duluan" Ajeng menganggukkan kepalanya lagi mengiyakan.
Dimas naik ke atas, Ajeng pun berbalik dan kembali dengan piringnya, dia merasa sedikit sakit di ulu hatinya meski belum tau pasti perasaannya. Matanya memerah dan tiba-tiba mengeluarkan air mata, dia menangis pelan lalu menyelesaikan pekerjaannya, kemudian bergegas kembali ke kamarnya.
Ajeng merasa sedih, dia pergi ke kamar mandi lalu mencuci wajahnya, kemudian dia mengambil wudhu untuk beribadah.
__ADS_1
Bersambung...