Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Perjalanan ke rumah mertua


__ADS_3

Hati begitu susah untuk ditebak hingga aku sendiri tidak tau apa yang benar-benar aku inginkan, aku mungkin akan menyesal kehilangan lelaki sepertinya. Aku akan menyerahkan semuanya kembali kepada Tuhan, hanya dia yang tau bagaimana akhir dari hubungan ini.


Aku adalah seorang wanita harusnya aku bisa menahan keinginanku, "hmm" aku hembusan nafas panjang karena aku sebenarnya tidak bisa merelakannya.


Aku ingin segera berbaring di kasur, hanya wajahnya yang terlihat olehku di dalam pikiran. Betah


pa menyiksanya ini, aku merindukan sentuhannya.


Aku kesepian tanpanya, tidak ada lagi yang memeluk ku dengan debaran kupu-kupu di hati, mungkin aku tidak akan merasakannya lagi.


Aku tidak tau kapan kami akan pergi menjenguk Ibu, Mas Dimas bahkan tidak memberi tahuku itu. Apakah sebenarnya dia berniat mengajak ku? Jika iya, bukankah seharusnya dia memberi tahu kejelasannya. Meski dia sudah tidak menatap mataku lagi sekarang tapi aku harap dia masih mau berbicara hal-hal dengan nyaman.


Aku tidak ingin merepotkan nanti, bagaimana jika dia tiba-tiba mengajak ku pergi besok dan aku belum siap? Aku harus segera mengemasi barang bawaan ku sekarang untuk berjaga-jaga.


Pakaian sudah siap, apakah aku juga sudah siap? Aku harus tenang menghadapi Ibu dan Ayah mertuaku, aku juga harus menghadapi Bibi, aku tidak boleh terlihat seperti sedang ada masalah nanti. Aku harus mengendalikan ekspresi dan emosi ku, Mas Dimas juga pasti menginginkan ku melakukan hal yang sama.


Pikiran ku kembali dengan lelaki itu, aku benar-benar terjebak. Apa yang dia lakukan sekarang? Apakah dia sudah tidur? Atau dia sekarang sedang bersama Sarah memperlihatkan cinta mereka? Aku sedih memikirkannya, sungguh sebenarnya aku mengikhlaskan mereka berdua, tapi aku juga ingin cinta Mas Dimas, meski hanya sedikit.


Aku akan sangat menerimanya, apakah aku sekarang berpikiran jernih? Apa maksud ku mau menerimanya? Aku juga ingin dicintai sepenuhnya, menjadi satu-satunya untuk seseorang. Mas Dimas tidak akan bisa menjadi seseorang itu, lagi-lagi aku harus menerima kenyataan bahwa dia sepenuhnya milik Sarah, sepenuh cinta yang ada padanya dia berikan kepada Sarah, aku tidak akan bisa menjadi parasit di dalamnya sekecil apapun aku.

__ADS_1


Aku melihat ranjang lekat-lekat tempat dimana dia berbaring menemani tidur ku. aku menghirup kuat berusaha menemukan aromanya yang tertinggal walau sulit untuk mendapatkannya, ku ciumi bekas tempat tubuh itu berada, tempat dia memeluk ku erat-erat. Aku merindukan pelukan itu, sangat-sangat merindukannya.


Kuputuskan untuk segera tidur karena malam yang sudah semakin gelap, aku harus kembali saat pagi nanti, aku perlu bangun sepagi mungkin untuk memastikan semuanya.


*****


Pukul empat pagi aku terbangun, aku masih sedikit mengantuk karena terlambat tidur. Aku segera berjalan menuju kamar mandi ku, ku bersihkan tubuhku lalu mengambil air wudhu setelahnya. Aku menjadi segar meski beberapa waktu lagi mungkin akan kembali mengantuk.


Aku berjalan melewati lantai pintu kamar Mas Dimas dan Sarah, ku turuni tangga pelan. Aku tidak melihat siapapun di dapur atau ruang tengah jadi kuputuskan untuk memasak saja.


Saat aku sedang mencuci tangan di keran, aku sekilas melihat bayangan dari atas di ujung mata. Betapa terkejutnya aku saat melihat Sarah dan Mas Dimas sedang menunjukkan cinta mereka, aku merasakan ada sedikit perasaan cemburu, aku pernah melakukan hal itu dengannya, apakah begini rasanya dimadu?


Aku menggigit bibirku tidak sampai berdarah seperti sebelumnya, aku mencoba menahan air mata, kedua mataku sudah sangat basah, ku coba memberikannya sedikit angin agar mengering. Sangat sulit menerima kenyataan, sangat sulit melihat seseorang yang kau cintai menunjukkan cintanya kepada orang lain.


"Ajeng, kamu jaga Mas Dimas yah?" Sarah menatap ku sambil menggenggam erat lengan Mas Dimas seperti tidak ingin lelaki itu meninggalkannya, Mas Dimas hanya melihat ke arah istrinya itu, aku benar-benar hanya jamur disini posisiku sangat memalukan.


Mereka berdua benar-benar berhasil membuatku terbakar rasa cemburu, aku masih menahan air mata ini. Selesai memasak, kami bertiga sarapan pagi seperti biasa dan ini benar-benar seperti biasa, seperti awalnya posisi ku disini, sama seperti pertama kalinya aku sarapan pagi di meja ini.


Melihat segala bentuk cinta mereka itu membuatku ingin cepat-cepat pergi, kami sepertinya pergi hari ini mendengar perkataan Sarah tadi. Aku sedikit sakit hati saat Mas Dimas langsung pergi keluar selesai sarapan tanpa menghiraukan ku, sedangkan Sarah keluar mengikutinya.

__ADS_1


Aku segera cepat-cepat naik ke atas dan mengambil barang-barang milikku, aku tidak ingin membuat Mas Dimas menunggu. Aku tersengal-sengal karena harus berlari dari kamar menuruni tangga hingga keluar dari rumah sambil membawa koper.


Aku melihat Mas Dimas yang sedang melihat lurus ke arah jalan sedangkan Sarah sedang melihat ku, aku langsung berjalan sedikit berlari menuju kursi belakang.


Aku duduk lega dan meletakkan koper ku dibawah, bahkan Mas Dimas tidak menunggu ku untuk meletakkan koper di bagasi atau mungkin aku yang tidak memintanya?


Mobil melaju terlihat Sarah sangat sedih, dia melambai-lambaikan tangan ke arah Mas Dimas, bukankah mereka begitu romantis? Aku sedikit mengantuk juga lelah, aku mencoba memejamkan mataku karena pasti perjalanan akan lama ditambah jalanan yang pasti akan macet.


*****


Aku bermimpi seseorang sedang menciumi ku, tangan hangat sedang menggenggam tangan ku lalu sebuah selimut menghangatkan tubuh ku lembut. Aku terbangun ketika mendengar suara klakson yang sangat keras, sepertinya itu adalah klakson truk besar. Saat aku terbangun aku merasa bingung karena mobil sedang berhenti di sebuah jalan dan Mas Dimas tidak ada di mobil.


Aku mencari-cari keberadaan Mas Dimas dari dalam mobil, aku tidak menyangka melihat selimut itu benar-benar sedang menyelimuti ku sekarang, ku pikir itu hanyalah mimpi tapi ternyata selimut itu benar-benar ada di tubuh ku, aku kaget membayangkannya, apakah mungkin Mas Dimas yang menyelimuti ku?


Setelah beberapa saat aku melihat Mas Dimas keluar dari sebuah minimarket, Mas Dimas melihat ku sekilas kemudian segera melihat ke arah jalanan lagi.


Aku sangat senang Mas Dimas melihat ku walau mungkin itu hanya sedetik tapi aku tetap senang.


Mas Dimas masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil kembali, Mas Dimas melemparkan banyak makanan ringan dan minuman dari depan, aku tidak percaya dia memberikannya padaku. Aku melihat aneh kantong itu sedangkan Mas Dimas tidak membuka suaranya sama sekali.

__ADS_1


Karena kantong itu ada di dekat ku, jadi aku mengambilnya dan coba untuk memakannya agar perjalanan ini tidak terasa hambar.


Bersambung...


__ADS_2