Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Tidak sendiri


__ADS_3

Setelah kembali kerumah aku memutuskan untuk pergi ke kasurku aku berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya? mungkin akan jadi sesuatu yang baik jika seseorang mengetahui apa yang sedang terjadi dalam rumah tangga kami. Ini mungkin akan jadi sesuatu yang baik untukku mungkin terdengar egois tapi aku juga tidak ingin hidup seperti ini atau mungkin aku hanya perlu bersabar untuk selamanya. Tidak, tidak mungkin aku melakukannya lagipula kami menikah tanpa cinta apakah aku harus mempertahankan ini semua?


Aku hanyalah perempuan biasa dan aku punya hati yang rapuh seperti wanita lainnya aku tidak ingin diperlakukan seperti ini seumur hidupku. Saat siang hari aku memutuskan untuk makan dan lanjut salat zuhur aku merasa sedikit segar dan sejuk setelah berwudhu dan memakai mukena, aku membuka jendela kaca sedikit sehingga ada sedikit angin yang berhembus, aku merasa ringan dan setelah selesai salat aku memakai kerudungku kembali. Karena merasa sedikit gerah seminggu ini mungkin membuatku tanpa sadar menginginkan sedikit udara segar aku memutuskan untuk tetap membuka jendela sepertinya aku tidak perlu menutupnya lagi.


Aku merasa nyaman dengan kondisi baru jendela kamarku aku tiba-tiba teringat tanpa sadar dengan sahabat satu sekolahku, Putri. Sepertinya aku sangat merindukannya, tidak, aku benar-benar sangat merindukannya. Aku melihatnya sedang aktif di salah satu aplikasi pesan aku mencoba mengirim pesan padanya karena aku benar-benar merindukan sahabatku yang satu ini uhh aku merasa senang tanpa sadar tersenyum membayangkan wajah manis Putri hahaha.


Aku sangat menyayangi sahabatku yang satu ini aku ingat jika sedang libur panjang aku akan sangat merindukannya dan suasana di sekolah juga. Kami memang perempuan yang aneh kami tidak begitu tertarik kepada pria karena kami sudah punya satu sama lain. Aku merasa sangat positif mempunyai sahabat seperti putri dia memiliki kepribadian yang cukup sama denganku yaitu tidak terlalu banyak bicara kepada orang lain tapi kami bicara banyak saat bersama aku mungkin lebih tinggi sekitar dua senti. putri berkulit hitam manis menurutku dia sangat manis, kulitnya sangat bagus menurutku matanya besar dengan kacamata hitamnya. Dia kadang mempunyai sifat yang aneh hahaha tapi itu yang aku rindukan.


Dia membalas pesanku dan kami berkirim pesan tidak tau waktu dia sedang ada di ibukota juga dia bekerja disalah satu perusahaan. Katanya sedang ada lowongan kerja disana aku ingin bekerja bersamanya mungkin akan sangat bagus jika aku bertemu dengan sahabat lamaku itu. Aku putuskan untuk melamar kerja di perusahaan Putri bekerja. Aku sangat senang dan banyak hal yang kupikirkan tentang besok sehingga membuat kepalaku sedikit sakit.


Setelah selesai dengan Putri aku kembali bangun dari kasur untuk mandi dan pergi salat ashar setelah selesai salat aku pergi ke dapur untuk memasak nasi aku melihat beras putih dan membasahinya. Hatiku benar-benar sedikit sejuk hari ini hanya dengan menyentuh beras yang basah bahkan membuatku merasa senang.


Aku mendengar sedikit suara dari luar aku berpikir mungkin aku salah dengar tapi seperti ada yang memanggil dari luar pagar aku segera menyelesaikan pekerjaanku dan pergi bergegas ke luar rumah. Ada seorang wanita paruh baya aku tidak terlalu ingat tapi sepertinya aku pernah melihatnya aku cepat-cepat menghampirinya dan membukakan pagar rumah.


"Bibi boleh masuk?"

__ADS_1


"Silahkan Bi" sepertinya dia seseorang yang datang di pernikahan kami aku tidak terlalu ingat karena banyak pikiran wajahnya terlihat serius membuatku sedikit takut.


"Suami kamu mana?" dia memulai dengan cukup serius jadi aku segera menjawabnya.


"Mas Dimas lagi kerja Bi" sambung ku.


Dia segera masuk ke rumah dan duduk di sofa ruang tamu wajahnya terlihat sedang resah aku ikut duduk di sofa sebelahnya dia melihatku penuh rasa kasihan aku hanya memandangnya balik.


"Kamu tidak merasa kesepian tinggal sendirian disini Nak?" katanya lembut.


Setelah beberapa menit Kak Aliya juga masuk ke rumah aku semakin bingung. Sepertinya Kak Aliya memberitahukannya kepada Bibi itu hingga dia datang ke rumah.


Bibi bertanya apa aku sudah memasak lalu aku katakan jika aku belum lalu dia dan Kak Aliya mengajakku untuk masak bersama. Aku merasa senang sebenarnya dengan kedatangan Bibi dan Kak Aliya tapi aku juga sedikit khawatir kami memasak bersama Bibi benar-benar pandai memasak, sepertinya mie buatannya sangat enak.


Kak Aliya tersenyum padaku aku hanya membalas senyumannya dengan sumringah karena aku memang saat ini sedang senang. Dia mengajakku untuk menyiapkan meja makan untuk makan malam sepertinya kami akan makan bersama malam ini ditambah Bibi dan Kak Aliya.

__ADS_1


Bibi mengatakan untuk kami salat maghrib terlebih dahulu sambil menunggu mas Dimas dan Sarah pulang Bibi meminta Kak Aliya untuk salat bersama dengan kami dirumah aku meminjamkan mukena milikku pada Bibi karena aku memang punya dua sedangkan Kak Aliya mengambil miliknya dari rumahnya. Dirumah mas Dimas ada banyak sajadah jadi kami menggunakan apa yang sudah ada Bibi yang mengambilnya aku bahkan tidak tau, Bibi sepertinya tau banyak tentang rumah ini.


Setelah selesai salat kami bertiga kembali ke meja makan Bibi melihatku dengan senyum dan aku membalasnya. Mas Dimas belum juga pulang biasanya dia sudah pulang jam segini, mungkin mereka sedang bersenang-senang saat ini? Aku merasa senang ada Bibi dan Kak Aliya yang menemaniku di rumah ini.


"Sejak kapan?" tanya Bibi padaku dengan mata sayu nya aku hanya menunduk tidak tau ingin mengatakan apa-apa. Sebenarnya aku tidak bisa berkata apa-apa Bibi lalu mengelus tanganku dan mengatakan untuk jangan takut aku merasa nyaman dengan sentuhan Bibi dia kembali bertanya padaku lalu aku menjawabnya dengan sejujur-jujurnya.


Bibi terlihat sedih dia tiba-tiba meneteskan air matanya aku merasa kasihan padanya bahkan tidak memikirkan tentang perasaanku sendiri. Sepertinya akan terjadi perubahan besar di rumah ini Bibi mengatakan dia akan tinggal di rumah untuk beberapa bulan. Sepertinya Bibi sedikit khawatir tentang masalah rumah tangga keponakannya sehingga memutuskan untuk tinggal


aku merasa itu mungkin akan jadi keputusan yang baik untukku aku tidak akan lagi sendiri diantara hubungan mereka karena akan ada Bibi juga.


Setelah menunggu setengah jam terdengar suara mobil dari luar memasuki garasi Bibi melihat kearah pintu sepertinya menunggu kedatangan mas Dimas. Pintu terbuka dan terlihat mas Dimas masuk dengan Sarah mereka terlihat serasi dengan bergandeng tangan


aku tidak tau apa yang sedang kurasakan tapi sepertinya aku cemburu dengan perlakuan mas Dimas kepada Sarah.


Kami bertiga bersama-sama melihat kearah pintu saat mas Dimas dan Sarah masuk begitu juga mas Dimas dan Sarah. Mereka melihat kearah kami dengan terkejut Mas Dimas melihat kearah Bibi dengan tatapan yang aku tidak bisa artikan tapi sepertinya dia terkejut itu yang aku lihat. Sarah juga terlihat begitu terkejut membuatku sedikit tidak enak dengan suasana baru ini sehingga aku kembali melihat kearah meja makan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2