Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Saling menyakiti


__ADS_3

~Author POV~


Putri menginginkan jika Ajeng menerima Adrian, dia memberitahukan semua tentang masalah pernikahan Ajeng kepada lelaki itu, meski sudah mengetahuinya lelaki itu sama sekali tidak merubah perasaan yang sudah dia pendam lama itu, dia mengatakan kepada Ajeng, jika perempuan itu mau menerimanya dia akan menunggunya.


"Aku perlu memikirkannya Rian"


"Kalian udah sama-sama dewasa, aku pikir kalian sebaiknya memulai semuanya serius, kamu jangan mempermainkan Adrian Jeng"


"Aku belum tau Put"


"Nggak apa-apa, jangan terlalu buru-buru, aku bakalan nunggu kamu" Adrian menatap Ajeng penuh rasa, Ajeng melihat semua itu tapi dia tidak mau membenarkannya, dia berusaha mengacuhkan tatapan itu karena mungkin hatinya sudah diisi oleh orang lain yang juga tidak mau dia akui.


*****


Pukul sembilan malam di rumah, Dimas memikirkan tentang keberadaan Ajeng, dia tau jika perempuan itu hari ini pergi untuk bekerja. Itu merupakan pikiran positif yang dia tanamkan di pikirannya, dia tidak ingin berpikir jika perempuan itu pergi kabur dari rumah. Dimas merindukan perempuan itu, tidak tau sekarang dia melakukan apa di luar sana.


Dimas mengambil ponselnya, ada Sarah yang sudah tertidur disana, dia putuskan untuk pergi keluar dari dalam kamar. Dimas turun ke bawah mencoba melakukan panggilan dengan Ajeng, dia melakukan panggilan beberapa kali tapi tidak diangkat, dia merasakan kekhawatiran kepada perempuan itu.

__ADS_1


Jika dia bertemu dengannya dia akan langsung memeluk perempuan itu, menciuminya, memberikan perasaan dicintai olehnya, itu adalah hal yang dipikirkan oleh Dimas saat ini. Sekarang dia merasa sudah sangat merindukan perempuan itu meski baru satu hari tidak melihat wajahnya. Dimas masih belum mendapatkan jawaban dari istri pertamanya itu, tanpa dia sadari air matanya jatuh, mengingat yang terjadi kemarin.


Dimas bertanya-tanya apa yang perempuan itu lakukan saat dia meninggalkannya sendiri dan tidak menemaninya tidur kemarin. Apakah dia menangis disana? Dia semakin tidak bisa menahan rasa bersalahnya, Dimas berpikir mungkin dia sudah terlalu sering membuat perempuan itu merasa tidak diinginkan, dia tidak pernah ingin melakukan itu, dia bahkan tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.


Dimas menunggu Ajeng di meja makan, dia melihat ke arah pintu, menunggu pintu itu terbuka. Sesekali dia melihat ponselnya, apakah mungkin perempuan berkerudung itu membalas pesan yang dikirimnya. Dia mengirim beberapa pesan meminta agar perempuan itu cepat pulang karena malam sudah semakin larut.


Pukul sepuluh kurang sepuluh menit malam pintu itu terbuka, Ajeng sudah pulang. Ajeng berjalan tidak menghiraukan keberadaan Dimas, dia berjalan menuju tangga, kakinya belum sampai menyentuh lantai tangga tangannya sudah ditarik keras oleh tangan kekar milik Dimas.


"Dari mana aja? Hmm? Baru pulang pukul sepuluh, ngapain aja di luar?" Dimas terdengar marah, dia melupakan perasaan rindunya setelah melihat sikap acuh yang Ajeng tunjukkan. Ajeng sempat takut, tapi kemudian dia kembali dengan sikap acuhnya, dia mencoba berjalan saat merasakan tangan kekar itu sudah tidak berada di tangannya, tapi sayangnya sepertinya dia tidak bisa pergi begitu saja karena tangan kekar Dimas kembali menariknya kuat.


"Kamu nggak punya sopan yah? Pulang malam-malam, kamu ngapain aja di luar?" Dimas menggenggam tangan Ajeng kasar membuat Ajeng merasakan sakit.


Dimas mengejar Ajeng, dia tidak ingin melihat perempuan itu menangis karenanya. Dimas melihat Ajeng yang berbaring di ranjang menutupi dirinya dengan selimut, Dimas menutup pintu pelan kemudian datang menghampiri Ajeng di ranjang.


"Sayang" Dimas memanggil Ajeng lembut, Ajeng tidak tau apa yang sebenarnya lelaki itu inginkan, tapi dia sangat merindukannya.


"Kamu marah sama Mas?" Ajeng masih tidak bergeming. Dimas menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya kemudian ikut berbaring disebelahnya, Dimas memeluk Ajeng dari belakang tubuh perempuan itu. Dimas menggenggam tangan mungil Ajeng kemudian menciuminya, dia melakukan persis seperti yang dia ingin lakukan tadi. Dimas belum melihat wajah istrinya hanya dalam satu hari tapi dia sudah merasakan gundah.

__ADS_1


"Sayang Mas minta maaf" Baru dia ingin meminta maaf tapi Ajeng sudah bangun berdiri pergi meninggalkannya. Ajeng pergi meninggalkan Dimas di ranjang kemudian pergi memasuki kamar mandi, karena tidak tahan diperlukan seperti itu, Dimas memaksa Ajeng untuk membuka pintu dengan mengancamnya, Dimas mengancam akan menghancurkan pintu jika Ajeng tidak segera membukanya.


Dengan terpaksa Ajeng membuka pintu, Dimas menatap istrinya itu lekat-lekat, ada perasaan bersalah disana. Dimas menggenggam kedua tangan Ajeng, kemudian membuat kedua tangan itu memeluknya. Dimas memeluk Ajeng erat-erat seperti ingin memasuki tubuh itu. Ajeng mencoba melepaskan kedua tangan yang merangkul erat punggungnya, mengetahui itu Dimas pelan-pelan melepaskan pelukannya.


"Mas, mulai hari ini Mas nggak perlu anggap aku sebagai istri lagi, sekarang Mas nggak perlu pura-pura perhatian lagi sama aku. Sekarang Mas bebas, Mas Dimas hanya perlu jaga dan berikan perhatian Mas sama Sarah seperti yang kalian inginkan dari awal. Aku nggak akan ganggu hubungan kalian berdua lagi, sekarang Mas Dimas dan Sarah nggak perlu pikirin keberadaan aku di rumah ini lagi, anggap aja kalau aku nggak ada disini. Mas juga nggak perlu datang dan harus tidur di kamar ini, kamu nggak perlu pikirin tentang masalah dua minggu itu, Bibi juga nggak bakalan datang lagi" Ajeng berbicara sedikit ketus.


"Maksud kamu?"


"Dan Mas, Mas sebaiknya pelan-pelan beritahu keluarga kita soal hubungan kita, nggak hanya Mas yang mencintai perempuan lain, aku juga mencintai lelaki lain. Dan setelah Mas ceraikan aku, aku akan bisa bersama dengan dia lagi, aku harap Mas pertimbangkan itu" Mendengar itu semua, Dimas hanya bisa diam menundukkan kepalanya kecewa, karena sebenarnya dia sudah mencoba memberikan hatinya kepada perempuan di hadapannya itu, dan dia memberikannya meski sempat tidak menyadarinya. Keduanya diam beberapa saat hingga Dimas membuka suaranya.


"Asal kamu tau, Mas nggak pernah pura-pura sama kamu, dan kalau memang itu yang kamu inginkan, aku akan berusaha buat bebasin kamu dari hubungan ini" Dimas berbicara sedikit pelan serius masih terlihat sedikit kecewa di wajahnya. Ajeng tidak menghiraukan pernyataan Dimas, dia masih beranggapan jika dia bukanlah apa-apa dimata Dimas.


"Dan juga besok pagi kalau kamu mau pergi kerja, jangan pergi tanpa sarapan, aku nggak mau orang tua kamu nanti mengira aku nggak ngasih kamu makan disini, aku nggak seburuk itu" Ajeng terdiam mendengar kata-kata dari Dimas, dia mulai gundah dengan pikirannya namun kemudian dia kembali menyadarkan diri dengan apa yang dia percayai.


Dimas pergi meninggalkan Ajeng, dia sangat kecewa dengan semua yang dia dengar dari mulut perempuan itu, dia tidak percaya akan mendengar semua itu. Ada sedikit rasa sedih terlihat dari kedua mata lelaki itu.


Meski tetap dengan pendiriannya tetapi Ajeng juga terlihat seperti tidak punya semangat, dia sendiri tidak percaya dia berani berkata seperti itu kepada Dimas, dia tidak menyesalinya tapi dia merasa sedikit sakit di dadanya lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2