
"Aku mau keluar Mas"
"Kenapa? Hmm? Mau Mas yang bukain" Dimas berbisik di telinga Ajeng lembut, mengalihkan perhatian wanita berkerudung itu kemudian menutup pintu.
"Mas aku malu" Ajeng terlihat gelagapan akibat sentuhan hangat bibir Dimas yang mendadak mendarat di bibirnya.
"Mas" Ajeng terdengar sedikit mendesah.
Dimas memulai ciuman yang begitu nikmat, meski sudah beberapa kali menerimanya, namun Ajeng masih saja sangat tidak biasa dengan hal-hal seperti itu. Dia mencoba melepaskan diri karena sudah kehabisan nafas, Dimas melepaskannya membuat Ajeng merasa lega tapi sayangnya Dimas hanya mencoba membiarkannya untuk mengambil nafas.
Dimas mengecup bibir merah muda itu lagi dengan lembut, menarik tubuh mungil itu ke bawah pancuran yang sudah dia nyalakan. Dimas dengan gairah mencoba membuka kancing baju Ajeng, wanita yang masih menggunakan kerudung itu melepaskan tangan yang berada di dadanya memberikan tanda pada suaminya, Ajeng melepaskan kerudungnya yang sudah basa itu. Dimas menarik tangan yang masih memegang kerudung itu, Ajeng menjatuhkan kerudungnya di lantai sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
Sepasang suami istri yang sedang penuh dengan gairah terlihat berpelukan hanya dibatasi pakaian dalam tipis dengan air deras yang mengguyur keduanya. Keduanya terlihat sangat menikmati tubuh masing-masing, terlihat murni dibumbui sedikit gairah. Ajeng sudah lupa dengan rasa malunya, dia membalas sentuhan Dimas dengan senang hati.
Setelah hampir sepuluh menit dalam gairah, Ajeng mencoba melepaskan genggaman Dimas, menjauhkan tubuh itu dari tubuhnya. Ajeng menyadarkan Dimas jika mereka harusnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu salat bukan untuk memuaskan gairah masing-masing. Akhirnya Dimas melepaskan Ajeng dan kembali ke tujuan awal mereka.
Selesai mengambil wudhu Dimas dan Ajeng melaksanakan salat pagi mereka. Sudah beberapa kali mereka melakukan salat bersama. Selesai salat Ajeng turun ke bawah sementara Dimas tetap berada di kamar. Ajeng turun terlebih dahulu kemudian setelah beberapa menit Sarah datang, mereka memasak hidangan bersama untuk sarapan pagi.
Selesai makan Ajeng dan Sarah memberikan salam ciuman di tangan suami mereka yang akan pergi untuk bekerja, terlihat begitu harmonis. Dimas terlihat tersenyum melihat kedua istrinya yang sebenarnya terlihat sangat cocok menjadi kakak dan adik, dia berharap ini akan menjadi sesuatu yang akan terjadi untuk selamanya. Dimas berpikir jika mempunyai dua istri sebenarnya bisa sangat menyenangkan, dia berencana akan menerima hubungan yang tidak pernah terbayangkan olehnya ini dan menjadi suami untuk kedua istrinya.
~Ajeng POV~
Aku sangat senang hari ini, sepertinya aku sudah mulai diterima dalam rumah tangga ini. Aku akan sangat bahagia bisa menjaga dan merawat Mas Dimas bersama dengan Sarah. Aku ingin mulai berteman dengan Kak Sarah, mengakrabkan diriku dengannya. Jarak umur kami tidaklah begitu jauh, sepertinya aku hanya lebih muda satu tahun darinya.
"Aku boleh panggil Kak Sarah 'Kakak'?" Aku ingin sedikit memberikan hormat karena Sarah lebih tua dariku.
"Iya, aku panggil kamu apa?"
"Ajeng saja Kak, Kakak hari ini ada kesibukan?" Aku sebenarnya ingin membersihkan seluruh rumah, tapi aku tidak tau apa bisa melakukannya sendiri
"Tidak, kenapa Jeng?"
__ADS_1
"Tidak sebaiknya kita membersihkan rumah Kak? Sepertinya rumah sudah lama tidak dibersihkan"
"Aku juga pikirnya begitu" Ternyata Kak Sarah memikirkan hal yang sama.
Setelah berbincang, Kak Sarah memintaku untuk mengganti pakaian ku dengan baju kaos. Setelah berganti pakaian kami putuskan untuk membersihkan halaman belakang terlebih dahulu. Ada banyak rumput liar di halaman belakang, kami mencabuti rumput panjang itu dan mengumpulkannya di keranjang sampah.
Aku tertawa saat Kak Sarah berteriak ketakutan karena tidak sengaja menyentuh cacing di tanah, dia sangat lucu haha. Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan dari seekor cacing tanah. Tapi karena Kak Sarah takut, jadi aku coba menjauhkan cacing itu lalu membuangnya di tanah lain yang tersedia. Di halaman belakang hanya ada rumput hijau tapi kita masih bisa menemukan sedikit area yang gundul ditepi halaman.
"Halamannya kosong yah Jeng"
"Iya Kak"
"Kita pesan bunga yah, kebetulan aku punya teman jualan bunga nggak jauh dari sini" Kak Sarah mulai berbicara santai padaku, aku senang mendengarnya.
"Iya Kak, di halaman depan juga kelihatan kosong"
"Iya, kamu suka bunga apa Jeng?"
"Iya, aku juga mau lihat"
Kami mencari bersama bunga-bunga yang cocok ditanam di halaman rumah.
"Yang ini bagus Jeng"
"Ini juga Kak"
Kami sangat senang akan menanam banyak tanaman di rumah, Kak Sarah sudah memesan tanaman-tanaman yang kami pilih kepada salah satu kenalannya yang merupakan wirausaha tanaman hias. Kami berdua terlihat sangat antusias, kami sudah tidak sabar untuk menanaminya di halaman rumah.
Sementara menunggu kiriman bunga, kami putuskan untuk membersihkan dalam rumah. Rumah ini tidak terlalu sulit untuk dibersihkan jadi kami hanya butuh waktu sekitar tiga jam membersihkan semuanya. Kami menyelesaikan membersihkan rumah pada pukul sebelas siang. Setelah itu kami pergi membersihkan tubuh masing-masing.
Pesanan bunga akan datang sebentar lagi, jadi kami putuskan untuk menunggu di ruang tengah sambil menonton televisi. Awalnya memang kami menonton televisi, tapi pada akhirnya kami beralih berbicara mengenai Mas Dimas. Bukannya aku tidak mau membicarakannya, tapi aku takut akan melukai perasaan Kak Sarah, dan juga sekarang hubungan kami sudah lebih baik jadi aku tidak mau jika harus merusaknya.
__ADS_1
"Kamu udah ngapain aja sama Mas Dimas?"
"Hmm??" aku sangat kaget dengan pertanyaan Kak Sarah, aku tidak tau harus menjawab apa, jadi aku pilih untuk diam saja.
"Kalian udah tidur bersama lebih dari satu minggu kan?"
"Iya Kak"
"Masa nggak ngapa-ngapain" aku memutuskan untuk tidak menjawab saja.
"Ceritain dong Jeng, kalau aku sama Mas Dimas udah pengen lakuin hubungan .... dari sejak SMA haha, malu banget, tapi Mas Dimas nunggu sampai kita nikah dulu. Jadi waktu kita nikah, malam pertama langsung nggak ketahan, jadi nggak rapat lagi deh" Aku tau itu, aku jelas mendengar desahan Kak Sarah malam itu. Aku sedikit aneh mendengar cerita Kak Sarah, aku tidak tau harus bersikap, tapi aku tetap ingin mendengarkan ceritanya.
"Kamu gimana Jeng? Masih rapat nggak?"
"Hmm?" Aku sebenarnya tau yang dimaksud tapi aku tidak yakin juga.
"Kamu nggak paham? Itu loh" melirik milikku.
"Bilang aja Jeng, kalo kamu ada yang mau ditanya, aku bakalan jawab semuanya. Kita harus saling terbuka, kalau kamu mau tanya apa yang Mas Dimas suka aku bakalan ceritain, atau kamu mau tau bagian mana yang Mas Dimas paling suka?"
"Nggak perlu Kak"
"Kok gitu, jadi kamu belum ngapa-ngapain sama Mas Dimas" Aku tidak menjawabnya, aku hanya bisa menunduk dan sedikit menarik garis kedua ujung bibir.
*****
Pesanan bunga sudah datang, tapi aku tidak seantusias seperti saat pagi hari tadi. Aku tidak semangat, tapi aku tetap berusaha berjalan untuk melihat tanaman-tanaman itu. Kami mengangkat tanaman-tanaman yang sudah berdiri tegak di dalam pot ke halaman belakang, beberapa tanaman sangat berat, jadi beberapa pria yang merupakan pekerja dari penjual bunga itu membantu kami mengangkatnya.
Penjual yang merupakan kenalan Kak Sarah terlihat menatap ku aneh, aku tidak tau dari kapan dia menatap ku aneh seperti itu, tapi aku merasa sedikit tidak nyaman.
Bersambung...
__ADS_1