
Dimas berlari keluar dan turun ke bawah diikuti Sarah, dia terlihat panik. Dimas mencari ponselnya di caku celananya dengan terburu-buru, dia membuka ponselnya mencari nomor ponsel Ajeng, dia mencoba melakukan panggilan tapi tidak dijawab. Dimas mencoba berkali-kali tapi tetap tidak ada jawaban, Dimas menarik nafasnya kasar.
Dimas seketika jadi bingung akan melakukan apa, Sarah yang melihat reaksi Dimas yang begitu khawatir benar-benar terbakar rasa api cemburu. Dimas segera keluar dari rumah menuju ke rumah Kak Aliya diikuti oleh Sarah. Dimas berteriak-teriak memanggil Kak Aliya, Dimas berteriak keras, siapa pun yang mendengarnya akan segera keluar untuk mencari sumber suara itu dan begitu juga dengan Aliya yang langsung keluar setelah mendengar namanya diteriak-teriakkan.
"Ada apa Dimas?" Kak Aliya segera keluar dari rumah bergegas menemui Dimas yang ada di luar pagar.
"Kakak tau Ajeng ada di mana?" Dimas terdengar begitu panik hingga membuat Aliya ikut jadi panik.
"Memangnya dia pergi kemana lagi, dia hilang lagi? Kenapa kamu tidak menjaga istri kamu?" Kak Aliya sekarang tidak hanya khawatir tapi terlihat sangat marah.
"Ibu pergi bukan berarti kalian berdua bisa seenaknya saja" Kak Aliya semakin marah dan kemudian berusaha menelpon Ajeng, dia meminta nomor Ajeng saat Ajeng datang bertanya mengenai Bibi. Aliya melakukan panggilan tapi tidak ada jawaban kemudian dia mencoba sekali lagi dan akhirnya ada getaran.
~Ajeng POV~
Sekarang sekitar pukul tujuh, aku dan Putri sedang bersama di rumah miliknya. Aku merasa ingin memeriksa ponsel ku, aku penasaran apakah ada yang mengkhawatirkan ku, aku tau mereka tidak akan peduli tapi aku tetap berkeinginan memeriksanya.
Aku menghidupkan ponsel ku kembali, aku sangat kaget melihat puluhan panggilan tidak terjawab dari Mas Dimas dan satu panggilan tidak terjawab dari Kak Aliya. Kak Aliya meneleponku hanya satu detik yang lalu kemudian ada getaran panggilan lagi, aku langsung menjawabnya, meskipun aku tidak mau lagi berhubungan dengan Mas Dimas tapi bukan berarti aku tidak mau berhubungan dengan Kak Aliya dan keluarga besar.
"Ajeng kamu dimana? Kakak khawatir sama kamu"
"Aku dirumah teman Kak"
"Kok kamu pergi tidak minta izin?" aku hanya bisa diam.
"Ya sudah, kasih alamat rumah teman kamu. Suamimu sudah sangat panik tadi"
__ADS_1
DEGG... Aku sama sekali tidak percaya mendengarnya. Apakah Mas Dimas benar-benar khawatir padaku? Aku langsung membuang semua pikiran berharap di otak ku.
Aku segera memberi alamat rumah Putri lalu memutuskan sambungan telepon. Putri berada di sampingku jadi dia mengetahui segalanya, aku melihatnya tanpa ekspresi dan dia juga melihatku tanpa ekspresi kemudian aku merapikan tas ku.
~Author POV~
Setelah mendapatkan alamat dimana Ajeng berada, Dimas langsung bergegas mengeluarkan mobilnya dari garasi. Dia pergi melaju sedangkan Aliya dan Sarah tetap tinggal, Dimas berkendara dengan kecepatan maksimal. Dia masih bertanya-tanya mengapa sang istri tidak meminta izin padanya, dia sedikit marah terhadap Ajeng yang masih mengulangi kesalahannya.
Padahal dia sudah jelas mengatakan waktu itu untuk meminta izin ketika ingin pergi tapi Ajeng tidak menghiraukan perkataannya. Dimas melihat ke arah rumah di depan jalan, dia segera turun dan mendatanginya. Terlihat ekspresi kesal di wajahnya, Dimas mengetuk pintu rumah pelan dan beberapa detik kemudian pintu terbuka.
"Suaminya Ajeng?"
"Iya, Ajeng-nya ada?"
"Iya, ada, tunggu sebentar" Putri langsung memanggil Ajeng yang hanya diam di sofa dengan membentuk mulutnya.
Dimas membukakan pintu mobil untuk Ajeng lalu menutupnya setelah Ajeng masuk, dia juga bergegas masuk dan melajukan mobilnya. Dimas terlihat kembali kesal dia mengendarai mobil sangat cepat hingga membuat Ajeng gemetar takut, dia melihat jika istrinya itu gemetar tapi tetap melakukan mobilnya dengan kecepatan maksimal.
SSSTTTT... terdengar suara gesekan roda mobil yang tiba-tiba berhenti, Ajeng kaget dan bingung kenapa Dimas memberhentikan mobilnya. Ajeng kemudian melirik ke arah Dimas dan tiba-tiba Dimas memalingkan wajahnya menatap Ajeng tajam, Ajeng menciut kemudian menundukkan wajahnya.
"Kenapa pergi tanpa minta izin lagi?" terdengar suara tegas Dimas berbicara.
Ajeng tidak menjawab dan diam di tempatnya, dia merasa takut berada di jalanan sepi dan gelap yang jauh dari aktivitas masyarakat. Karena gemas tidak mendapatkan jawaban Dimas mendekat lalu meraih dagu lembut Ajeng untuk berbalik menatapnya. Mata mereka saling bertemu, Dimas menatap Ajeng tajam sedangkan Ajeng terlihat gemetar.
"Kenapa nggak minta izin sama Mas?" Dimas bertanya lembut membuat Ajeng yang sedang menunduk mengangkat kepalanya lagi menatap mata suaminya itu.
__ADS_1
"Hmm? kenapa sayang?" Dimas terdengar sangat lembut hingga membuat Ajeng tidak tau apa pikiran kotornya tentang Dimas itu benar atau tidak.
"Tadi pagi, kamu juga nggak nyalim Mas, kamu cuekin Mas tadi pagi, semalam juga nggak ikut makan malam sekarang kabur dari rumah, setelah ini mau ngapain lagi?" dengan pelan Dimas mencoba berbicara dengan istrinya itu tapi tetap tidak ada jawaban.
Sekarang tangan yang berada di dagu itu sudah bergeser membelai lembut wajah cantik Ajeng. Ajeng terlihat menutup matanya karena terbawa suasana, dia menerima belaian Dimas dengan mudahnya dan lupa alasan yang membawanya dalam situasi ini. Ajeng kemudian kembali memikirkan tentang perkataan Dimas yang mengatakan kalau dia lah yang mengacuhkan Dimas, tiba-tiba hatinya berontak ingin berbicara menyangkal.
"Kamu yang nggak peduliin aku Mas, tapi kamu bilang aku cuekin kamu" Ajeng menatap Dimas tajam dengan mata yang sudah berair.
Dimas seketika merasa bingung dengan maksud istrinya itu, dia melihat mata indah yang sudah mengeluarkan air mata itu.
"Kamu kenapa? Hmm?" Dimas langsung memeluk istrinya itu mencoba menenangkannya. Dimas mengelus-elus punggung istrinya itu dengan lembut.
"Udah, udah sayang" Dimas benar-benar bingung sebenarnya apa yang terjadi.
Ajeng akhirnya berhenti menangis, Dimas menghadapkan Ajeng untuk menatapnya dan kemudian mencium kening istrinya itu. Dimas memeluk Ajeng lagi sangat lama, Ajeng menjadi luluh dengan semua tindakan lembut Dimas, dia berpikir untuk melupakan semua pikiran buruk mengenai Dimas karena buktinya Dimas masih memberikan perhatian padanya dan juga saat Dimas memeluknya kemarin malam, dia berpikir jika Dimas benar-benar melakukan hal tersebut karena dia perhatian padanya.
Ajeng menatap Dimas, dia melihat ekspresi wajah suaminya itu, dia mencoba mencari ketulusan dari mata suaminya itu dan dia menemukan tatapan itu.
Dimas yang melihat tatapan dalam diri istrinya itu langsung beraksi. Cup.. bibir Dimas mendarat di bibir Ajeng dengan lembut dia kemudian menatap lagi istrinya itu dan melanjutkan ciumannya.
Dimas mencium lembut bibir milik Ajeng, dia merasakan rasa manis dari bibir merah muda itu. Dia kemudian menghentikan aksinya itu menatap Ajeng lagi.
"Kita pulang yah sayang" Ajeng menganggukkan kepalanya.
"Nanti kita bicara lagi di kamar" sepertinya Dimas ingin tau apa yang sebenarnya terjadi dan ingin mendengar cerita versi Ajeng, apa yang istrinya itu pikirkan hingga mencoba pergi dari rumah tanpa seizinnya. Dimas melajukan mobilnya dan berlalu pulang menuju rumah.
__ADS_1
Bersambung...