Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Ketiduran


__ADS_3

"Kamu kenapa sayang?" Dimas heran melihat tingkah Ajeng yang berubah, dia bertanya-tanya kenapa Ajeng melepaskan genggamannya.


"Nggak Mas, nggak apa-apa" Ajeng menatap Dimas seperti seseorang yang meminta tolong meski Ajeng sebenarnya tidak merasa seperti itu, sehingga membuat Dimas merasa khawatir.


"Kamu sakit?" Dimas benar-benar sudah diluar pikiran Ajeng, lelaki itu benar-benar khawatir padahal dia hanya sedikit trauma dengan pasangan di meja itu sehingga menciptakan sikap anehnya tadi.


"Aku nggak apa-apa Mas"


"Kamu yakin?"


"Iya Mas" Ajeng mengelus bahu Dimas, menenangkan lelaki itu. Sekarang bukannya menunjukkan sikap takut untuk menyapa orang dari masa lalu itu tetapi Ajeng justru menunjukkan sikap dewasa seorang istri, Ajeng menggenggam kembali tangan Dimas dan membawanya bertemu orang-orang itu.


Dimas tidak mendengar lelaki di meja itu memanggil nama istrinya karena lelaki itu hanya bergumam pelan memanggil nama Ajeng. Dimas berpikir ingin membawa Ajeng pulang saja karena sebegitu khawatirnya tetapi sekarang perempuan itu menggenggam tangannya sambil tersenyum manis kearahnya.


"Ajeng, sudah lama ya kita nggak ketemu?" Dinda menyapa pertama kali tidak percaya perempuan itu ada di depannya setelah sekian lama, sementara Ajeng hanya membalas dengan senyuman.


"Aku nggak perlu takut, sebenarnya kan aku udah lama kehilangan perasaan sama Amar, aku sama sekali nggak tau apa aku suka atau nggak sama dia karena udah nggak pernah ketemuan aja, bahkan sekarang dia ada di depan aku tapi aku nggak merasakan apa-apa, aku bisa tetap tenang"


Dimas dan Ajeng duduk bersebelahan, semua orang melihat ke arah pasangan itu, ada rasa kagum juga rasa iri yang orang-orang tunjukkan terutama para kaum hawa yang diam-diam pernah mengagumi sosok Dimas. Sementara ketiga orang dari masa lalu Ajeng tidak yakin dengan apa yang mereka lihat, mereka memutuskan untuk menunggu kebenaran yang sesungguhnya.


"Dimas, dari dulu kamu nggak pernah mau sama aku, dulu kamu sama Sarah sekarang kamu dapat istri yang jauh lebih cantik, jahat sih kamu Mas" Salah seorang wanita yang merupakan teman satu sekolah Dimas dulu mengeluarkan kata-katanya dengan mulut cemberut.


"Iya, semua perempuan dulu kan iri sekali sama mereka, tunggu sampai mereka lihat sekarang Dimas punya istri cantik, makin kebakaran pasti mereka" tambah salah seorang wanita lainnya.


"Dimas, kamu nikah nggak undang aku!" Ajeng sedikit resah melihat sikap-sikap manja wanita-wanita terhadap suaminya dia takut Dimas merasa tidak enak, tetapi dia tetap membiarkannya.


"Bukan gitu, pernikahan kita memang cuma diadakan secara kecil-kecilan aja"


"Iya kita percaya!"


"Aku serius " Dimas merasa teman-temannya berpikir dirinya bercanda mengatakan semua kebenaran itu.

__ADS_1


"Dimas, kenapa kamu nggak sama aku aja, padahal aku bisa kasih kamu banyak anak " seorang wanita melihat Dimas cemberut dengan tatapan mata seolah menginginkan lelaki itu.


"Kamu nggak sopan ada Kakak ipar itu" seorang pria menegur wanita itu dengan sedikit bunyi candaan.


"Kakak ipar bagi suaminya dong!" Canda seseorang kepada Ajeng.


"Yang sopan kamu Na, minta maaf sama Ajeng, nanti aku bisa lupa kalau aku pernah bilang anggap kamu sebagai adik aku" Dimas merasa sedikit muak dengan semua percakapan yang dia anggap cukup sedikit kurang ajar itu.


"Iya maaf, aku minta maaf ya Kakak ipar"


"Iya, nggak masalah" Ajeng resah melihat Dimas yang terlihat marah.


Saat semua pembicaraan itu ada tiga orang yang mengambil kesimpulan yang sama dari apa yang mereka dengar, mereka sedikit terkejut juga heran dengan apa yang mereka dapati. Amar melihat Ajeng sebagai seorang gadis remaja yang duduk di bangku sekolah menengah, dan sekarang gadis itu telah berubah drastis menjadi seorang perempuan yang begitu dewasa juga istri yang dewasa.


"Tadi aku bicara terlalu cepat, kamu bilang kalau kamu udah lama nggak ketemu sama kakak ipar? Kalian saling kenal?"


"Iya maksudnya apa?"


"Kamu sih main celoteh aja"


"Nggak tau nih Ana nggak punya akhlak" Teman-teman Dimas yang lain mengeluarkan suara.


"Kasih tau dong Din"


"Kita dulu satu kelas waktu sekolah menengah sama kayak kalian juga"


"Wah baru tau, Amar sama Farhan nggak pernah dekatin Kakak ipar? Kakak ipar kan cantik, kayaknya Kakak ipar pernah jadi perempuan rebutan di sekolah nih"


"Gimana mau jadi perempuan rebutan, kita nggak ada yang direspon" Amar mengeluarkan unek-uneknya karena tidak bisa mengatakannya secara langsung kepada Ajeng, jarang-jarang Amar bisa menyindir perempuan itu.


"Kakak ipar orangnya kayak gitu? Dimas kamu gimana? Kamu kayaknya sering ya ditolak sama Kakak ipar, kasihan kamu"

__ADS_1


"Kamu nggak perlu khawatir sama aku, istri aku ini selalu menuruti keinginan aku" Ajeng menatap Dimas tajam membuat Dimas berusaha menenangkan Ajeng agar tidak marah dengan mengelus-elus lembut kedua tangan perempuan itu.


"Serius?"


"Ihh parah umbar-umbar kemesraan! Berdosa tau umbar-umbar kemesraan sama orang-orang yang hidup sendiri kayak aku"


"Makanya nikah"


"Sayang, kamu kapan bersikap seperti itu ke aku"


"Kalau kamu tambah tunjangan aku, setiap hari aku mau puasin kamu"


"Hei! Aku masih kecil tau, aku nggak boleh dengar itu semua!"


"Makanya, kalian yang masih sendiri cepat-cepat nikah, lihat Dimas sama Kakak ipar Ajeng, kalian nggak iri?"


"Aku cemburu parah!"


Dimas membawa Ajeng pulang setelah sekitar empat jam lamanya berbincang dengan teman-temannya, Ajeng terlihat begitu mengantuk hingga dia tertidur tanpa dia sendiri sadari. Ajeng terlihat sangat pulas sampai-sampai tidak terganggu disaat Dimas menggendongnya naik ke kamar. Dimas membiarkan Ajeng tertidur dan tidak mencoba sama sekali membangunkan perempuan itu.


Dimas menaruh tubuh mungil Ajeng diatas kasur empuk mereka. Dimas menatap wajah pulas istrinya, perempuan itu memang sangat cantik, Dimas bertanya-tanya kenapa dulu dia menolak menikahi perempuan di depannya ini. Dia tidak pernah menduga jika perempuan ini akan benar-benar menjadi istrinya dan sekarang dia sendiri menaruh hati kepada perempuan itu.


Banyak hal yang terjadi memang tidak bisa diubah, Tuhan-lah yang berkehendak dan kita hanya menjalankannya saja. Dimas membuka kerudung Ajeng yang sedikit berantakan, mungkin perempuan itu akan lebih nyaman jika kerudungnya dibuka. Dimas pelan-pelan melepaskan kerudung Ajeng dan meletakkan kembali kepala itu di bantal empuknya.


Perempuan itu semakin cantik, Dimas tidak bisa berbohong, dia sangat jarang melihat Ajeng tanpa kerudung dan dia selalu terpukau dibuat rupa istrinya itu. Rambut coklat sedikit bergelombang, Dimas jarang menemui perempuan dengan rambut itu karena semua perempuan yang pernah bersamanya selalu berambut lurus termasuk Sarah, karena Dimas memang adalah lelaki yang sedikit pemilih.


Dimas melihat wajah pulas itu lagi, dia gemas melihatnya, Dimas segera mencium pipi lembut Ajeng. Dimas sudah takut jika Ajeng akan bangun karena begitu refleks melakukannya tetapi perempuan itu tetap diam di tempatnya. Dimas menarik selimut dan menariknya ke tubuh mereka berdua agar tetap hangat dari tusukan angin malam dari jendela kamar.


Dimas tidak ingin membuat istrinya itu merasa kedinginan dan terbangun karena merasa tidak nyaman. Dimas menempelkan kepalanya di kepala milik Ajeng, sesekali dia menempelkan wajahnya di pipi lembut Ajeng. Dimas juga memeluk perempuan itu sedikit longgar, agar Ajeng merasa tetap nyaman.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2