Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Kecemburuan yang buta


__ADS_3

Sarah terlihat takut akan membuka pintu, dia tidak terlalu yakin apa yang terjadi di dalam. Dia percaya jika Dimas hanyalah mencintainya, tidak ada ada wanita lain di hati lelaki itu. Dia berpikir untuk pergi saja karena yakin tidak akan ada sosok Dimas di dalam kamar itu, tapi karena sedikit penasaran, dia memutuskan untuk membuka pintu.


Kagetnya dia saat melihat lelaki yang dicintainya memeluk erat tubuh perempuan lain, Sarah cemburu dan marah. Dia masuk ke dalam kamar cepat, menatap lekat-lekat dua orang yang sedang berbaring berpelukan di ranjang. Dia terlihat sangat emosi, kedua tangannya terkepal, matanya memerah. Terlihat tatapan kemarahan kepada perempuan itu.


"Mas!" Sarah berteriak membangunkan Dimas dan Ajeng, dia tidak percaya jika dua orang itu melakukan hal-hal seperti itu, mereka terlihat dekat. Sarah bertanya-tanya apakah kedua orang itu melakukan semua hal-hal itu saat dia tidur sendirian di kamarnya, dia semakin marah tidak percaya suaminya bisa berada di pelukan perempuan lain, dia tidak menyangka akan jadi seperti ini. Jika dia tau, dia tidak akan pernah membiarkan suaminya itu tidur dengan perempuan lain dari awal, dia juga akan memintanya untuk tidak mau menikahi perempuan itu saja, dia tidak akan pernah mau memberikan lelaki itu pada siapapun.


"Kenapa sayang, kamu kenapa?" Dimas dan Ajeng terbangun dari tidur mereka, Ajeng tidak tau apa yang terjadi dia melihat tatapan tajam dari Sarah seolah-olah perempuan itu akan memakannya. Dia mencoba duduk, sementara Dimas berdiri menghampiri Sarah.


"Kamu yang kenapa Mas?! Aku nggak rela kamu peluk perempuan lain! Kamu milik aku! Kamu cuma milik aku Mas!" Sarah berteriak diiringi tangisan, Dimas menatap Sarah aneh, dia tau betul apa yang saat ini istrinya rasakan, tapi dia tidak pernah berpikir jika istrinya akan bereaksi seperti ini. Sementara Ajeng yang duduk di kasur menatap Sarah takut, dia tidak menyangka jika Sarah bisa semurka itu.


"Ajeng juga istri Mas, sayang" Dimas mencoba menenangkan Sarah, memegang kedua lengan perempuan itu.


"Aku nggak mau! Dia nggak berhak Mas! Kamu cuma cinta sama aku! Kamu nggak cinta sama dia! Aku nggak biarin dia nikah sama Mas supaya jadi orang ketiga! Harusnya dia sadar!" Ajeng sangat sakit hati mendengar semua kata-kata Sarah, dia tidak pernah berpikir kata-kata seperti itu akan keluar dari mulut cantik perempuan yang dia kagumi dan anggap sebagai Kakak itu.


"Sayang, kalian berdua itu istri Mas, Mas mau memberikan cinta sama kalian berdua sebagai seorang suami yang baik"

__ADS_1


"Nggak, aku nggak mau Mas! Pokoknya kamu nggak boleh dekat-dekat sama dia lagi! Atau nggak kamu ceraikan aja dia!" kedua mata Ajeng sudah mulai berair, matanya memerah, dia sangat sedih jika akhirnya rumah tangganya akan berakhir seperti ini.


Dia awalnya sudah mulai menerima hubungan ini, dia sudah putuskan akan menjadi madu yang baik untuk Sarah, istri yang baik untuk Dimas. Dia berpikir jika mereka berdua akan merawat suami mereka bersama-sama, dan juga saling membagi cintanya setelah Sarah dengan tidak ada tekanan memintanya bercerita mengenai Dimas saat pagi tadi. Dia tidak percaya jika Sarah sebenarnya tidak bermaksud untuk mulai berbagi cinta Dimas dengannya, dia merasa bodoh sudah berani berpikir seperti itu.


"Mas nggak bisa, Mas harus adil sayang" Ajeng semakin sakit dengan semua perdebatan ini, dia merasa tidak ada yang benar-benar ikhlas menerimanya. Kedua pasangan di depannya sedang berdebat karena dirinya, dia merasa seperti bukan siapa-siapa disini, Ajeng menundukkan kepalanya dalam merasa bersalah karena harus merusak hubungan dari dua orang yang saling mencintai itu.


Sarah menatap Ajeng tajam, sangat marah kepada perempuan yang bersikap terlihat tidak berdosa itu. Melihat Sarah yang mulai tidak terkendali, Dimas menarik perempuan itu keluar dari kamar, meninggalkan Ajeng. Ajeng merasa seperti seorang parasit yang tidak dihiraukan, dia mengeluarkan air matanya yang tertahan tadi dengan deras. Dia sudah tidak tau harus berbuat apa lagi, dia merasa sangat bersalah.


Dia tidak pernah menyangka jika perhatian yang Dimas berikan sampai hari ini merupakan sikapnya sebagai seorang suami, dia tidak merasa marah dengan itu semua. Tapi dia merasa marah dengan semua sentuhan yang membuatnya berpikir demikian, dia berpikir jika Dimas sudah mulai memberikan perasaan padanya dengan semua sentuhan itu. Dia mulai berpikir jika mungkin itu semua hanyalah kebutuhan gairahnya, dia mungkin hanya menjadi pemuas gairahnya. Tentu tidak akan ada lelaki yang akan membiarkan perempuan tidur dengannya selama dua minggu tanpa menyentuhnya.


Ajeng sangat kecewa, dia tidak kecewa kepada Dimas karena lelaki itu hanya memanfaatkannya. Dia merasa kecewa kepada dirinya sendiri karena sudah membiarkan lelaki itu memasuki hati dan pikirannya, dan sekarang dia harus membuang semua perasaan yang sudah hinggap itu. Ajeng menggigit bibirnya kuat, hingga bibir itu mengeluarkan darah. Dia merasakan perih di bibirnya tapi rasa sakit itu tidak akan bisa disamakan dengan rasa sakit dihatinya.


Dia berlari menuju kamar mandi, dia menangisi dirinya dikaca. Ajeng menyiram wajahnya, menggosok darah yang masih tersisa di bibirnya juga darah yang sudah kering di jari-jarinya.


Wajah sembap Ajeng terlihat sudah mulai membaik, dia menggosok wajahnya dengan handuk lalu keluar dari kamar mandi. Dia mencoba menenangkan dirinya, tidak tau apa yang dia pikirkan akhirnya dia mulai lebih tenang.

__ADS_1


*****


Aliya mendengar keributan di garasi rumah milik adiknya, karena takut ada hal buruk yang terjadi. Aliya keluar dari rumahnya dan berjalan cepat menuju rumah adiknya itu. Dia melihat Dimas yang sedang bertengkar besar dengan Dimas, sepertinya Sarah ingin meninggalkan rumah dan Dimas berusaha menghentikannya.


"Kalau kamu Mas mau aku tinggal disini, kamu harus usir perempuan itu!" Mendengar itu Aliya jadi semakin takut, dia bertanya-tanya apakah perempuan yang dimaksud Sarah adalah Ajeng.


"Ada apa ini, kamu kenapa?" Aliya bertanya kepada Sarah yang terlihat sedang menangis, Sarah tidak menjawabnya dia masih dengan kemarahan dan tatapan tajamnya.


"Tidak apa-apa Kak" Dimas menjawab pertanyaan Aliya menggantikan Sarah. Wanita anggun ini sekarang sudah tidak terlihat anggun lagi sama sekali.


"Ajeng dimana? Jangan coba-coba kalian membawa-bawa Ajeng dalam pertengkaran kalian" mendengar itu Dimas mulai khawatir dengan Ajeng, dia harus meninggalkan perempuan itu sendiri di kamar untuk menghentikan kemarahan Sarah. Dia tidak tau apa yang sedang istrinya itu pikirkan, dia seperti ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini memeluk perempuan itu dengan erat.


Aliya pergi ke dalam rumah mencari keberadaan Ajeng. Dia sangat khawatir dengan perempuan berkerudung itu. Sepertinya Dimas bertengkar dengan Sarah karena Ajeng, itu yang Aliya saat ini pikirkan dari mendengar ucapan Sarah tadi. Dia cepat-cepat menaiki tangga dan pergi ke kamar milik Ajeng, saat membuka pintu Aliya melihat Ajeng yang sedang diam duduk di kasur. Aliya menghampiri perempuan yang tidak menghiraukan kedatangannya.


"Kamu kenapa? Kamu tidak apa-apa kan?" Aliya kemudian memeriksa seluruh tubuh Ajeng, dia mendapati bibir Ajeng yang terluka kemudian memegang bibir itu.

__ADS_1


"Bibir kamu kenapa? Sarah yang melakukan ini sama kamu?" Ajeng melihat sesuatu yang sangat tulus dari tindakan Aliya membuatnya menangis begitu sakit.


Bersambung...


__ADS_2