Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Membaginya


__ADS_3

Setelah makan malam aku dan Mas Dimas salat bersama. Ini kali pertama kami melakukannya


aku bahagia bisa salat bersama dengan suamiku


sesuatu yang para wanita muslimah pasti idam-idamkan.


Sekarang aku sendirian di rumah, memainkan gawai ku.


Mas Dimas tadi mengangkat panggilan telepon lalu meminta izin untuk pergi keluar sepertinya itu adalah panggilan dari Sarah aku sempat mendengar suaranya dan kemudian Mas Dimas berlalu keluar dari kamar untuk berbicara dengan pemilik suara indah itu. Mungkin agar aku tidak dengar juga mungkin akan lebih nyaman berbicara berdua saja.


Aku melihat cinta dari senyum Mas Dimas saat berbicara dengan Sarah.


Bukankah cemburu itu normal? Aku harap itu adalah hal normal dan aku tidak perlu untuk merasa khawatir dengan perasaan aneh ini. Aku tidak akan jadi jahat karena perasaan ini bukan? Tapi sepertinya aku cukup bisa mengendalikan diri. Diam adalah solusi terbaik yang selalu kulakukan saat berpikir tidak bisa mengendalikan emosiku.


Lagipula sedari awal aku tidak pernah memiliki Mas Dimas dan itu adalah sesuatu yang selalu harus kusadari. Aku bersyukur Sarah mau berbagi cintanya denganku, sebenarnya aku sangat menyukai Sarah


aku mau menjadi adiknya karena aku hanya punya kakak laki-laki jadi aku juga berharap bisa mempunyai kakak perempuan sepertinya akan menyenangkan.


Sekarang aku punya kebiasaan baru berkirim pesan dengan sahabatku Putri, hari ini kuputuskan untuk melakukan panggilan video dengannya


Semua rasa kesepian hilang begitu saja saat aku berbicara dengannya. Semangat kami masih sama seperti saat sekolah menengah dulu meski sudah cukup berumur. Itulah sesuatu yang tidak pernah berubah dalam persahabatan kami.


Kami memiliki sifat yang sama yaitu tidak banyak bicara dengan orang-orang yang tidak terlalu akrab dengan kami tapi anehnya kami akan sangat banyak bicara saat bersama dan apa yang kusukai dari Putri adalah dia tidak suka membicarakan orang lain saat kami bersama. Oleh karena itu percakapan kami hanya sebatas percakapan penting dan dibumbui sedikit humor yang sama-sama kami miliki mungkin karena itu tidak banyak orang yang akrab dengan kami.


Dan sebenarnya Putri itu memiliki perasaan yang suka berubah-ubah tapi dia sangat perhatian. Aku ingat saat kami berteman dengan beberapa siswa di kelas tapi tidak lama kemudian siswa itu akan mencari teman baru dan kami berdua tetap bertahan satu sama lain. Tidak ada yang tahan berteman dengan kami karena mungkin kami sangat suka berbicara dengan bahasa tubuh daripada bersuara.


Tapi aku pikir semakin lama dan umur yang bertambah kami memiliki cara berinteraksi yang semakin baik. Pembicaraan kami benar-benar sangat menyenangkan hingga Putri mengingatkanku tentang seorang teman

__ADS_1


Aku belum mengatakan jika aku sudah menikah jadi dia katakan jika seorang teman mencari ku. Aku hanya bisa menggeleng-geleng kan kepala dan mau tidak mau harus memberi tahunya jika aku sudah menikah.


"Serius? Sama siapa? Kok aku nggak diundang?" dia histeris membuatku ingin tertawa.


"Iya" Aku hanya menjawab singkat tidak ingin menambahinya lagi.


"Aku jadi sakit hati" Dia terlihat kecewa aku ingin memberitahu yang sesungguhnya tapi aku juga merasa malu memberitahunya.


"Kenapa?" Suaranya mulai terdengar pelan dan khawatir. Dia memang begitu mengenal ku tapi aku harap tidak perlu harus mengatakan tentang permasalahan ku.


"Kamu yang jujur, kita itu sahabat kalau aku yang ada masalah pasti kamu akan bantu kan, sekarang kamu ceritain sama aku" Aku sebenarnya merasa tidak perlu menyembunyikan apapun dari Putri karena aku juga sudah lama ingin berbagi tentang permasalahan ini kepada orang lain.


Ini bukanlah masalah yang begitu besar jadi aku memberitahukan semuanya pada Putri dari mulai perjodohan hingga aku dimadu oleh Mas Dimas seminggu setelah pernikahan. Putri tidak percaya awalnya dan kemudian dia memarahiku karena aku hanya diam dan menerimanya dia mengatakan jika aku bodoh mau menikah dengan lelaki seperti Mas Dimas.


Dia menghina Mas Dimas tanpa alasan jadi aku mencoba untuk membela suamiku sendiri. Aku katakan jika Mas Dimas adalah pria yang baik hanya saja dia sudah mencintai wanita lain lagipula kami dijodohkan dan aku juga menambahkan bagaimana Mas Dimas akhir-akhir ini memberikan perhatian yang besar untukku. Jadi dia berhenti menghina Mas Dimas


Putri katakan padaku untuk tidak menyembunyikan apapun jika masih ingin menjadi sahabatnya tentu saja aku menanggapinya tidak serius dan tertawa. Putri menyampaikan jika lowongan pekerjaan sudah dibuka dia menyarankan agar aku segera mendaftar. Aku sangat ingin sebenarnya tapi masih ada Bibi di rumah


aku putuskan untuk meminta izin saja padanya setelah dia kembali jika tidak diizinkan aku akan menurutinya.


Selesai berbincang dengan Putri kuputuskan untuk mencuci wajahku. Mas Dimas belum pulang juga mungkin dia akan bersama Sarah malam ini jadi kuputuskan untuk pergi beranjak tidur saja. Malam ini kurasakan kurasakan suasana yang tidak terlalu hangat lagi mungkin karena tidak ada Mas Dimas disampingku. Aku terlelap setelah beberapa menit berpikir tentang banyak hal.


*****


Saat aku bangun dari tidur aku merasa ada yang menimpahi ku di perut aku melihat Mas Dimas yang tertidur disampingku dengan satu tangannya berada di kepalaku dan satunya lagi merangkul tubuhku. Aku berdiam beberapa saat melihat ciptaan Tuhan yang begitu indah di depanku. Aku melihat mata yang tertutup dengan bulu mata yang indah wajah bersih dengan hidung mancung dan bibir tipis merona. Benar-benar sangat tampan.


Aku hanya berani menyentuh pelan alis hitam itu. Tapi sepertinya pemiliknya begitu sangat peka sehingga membuatku seketika terkejut dan sontak menghentikan kegiatanku aku terduduk ketika dua mata lain tiba-tiba terbuka dan menatapku.

__ADS_1


"Kenapa?" syukurlah dia terlihat belum begitu sadar


suaranya terdengar serak seperti orang baru bangun dari tidur biasanya.


"Nggak apa-apa Mas"


"Kenapa pegang-pegang alis?" Aku pikir dia tidak menyadarinya tapi ternyata aku salah.


"Alisnya bagus Mas"


"Beneran?"


"I iya Mas" Mas Dimas masih menatapku lekat membuat jantungku serasa akan lepas. Aku bergegas bangun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diriku lalu mengambil wudhu. Jantungku berdegup sangat kencang bahkan meski sudah di kamar mandi.


Aku keluar setelah selesai dan pergi menuju lemari lalu mencoba mengambil mukena dan sajadah ku. Belum juga tanganku menyentuhnya Mas Dimas langsung berbicara dari ranjang untuk menunggunya sebentar. Aku kenakan mukena ku sambil menunggu Mas Dimas sebentar, tidak lama kemudian Mas Dimas datang


lalu kami melaksanakan salat bersama.


Selesai salat aku langsung pergi menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, Mas Dimas sepertinya masih punya pekerjaan dia masih berada dikamar saat ini.


Bibi jika tidak berhalangan akan datang hari ini jadi aku harus tetap berada di rumah dan menyambutnya nanti.


Aku ingin memasak kue coklat seperti yang Bunda pernah ajarkan.


Ini masih sangat pagi jadi waktunya cukup untuk jam kerja Mas Dimas. Selesai membuat adonan aku kemudian memanggangnya di pemanggang kue.


Sambil menunggu kuputuskan untuk menyiapkan bekal makan siang untuk Mas Dimas. Aku tidak pernah membuatnya sebelumnya tapi Sarah selalu membuatnya jadi kuputuskan untuk menyiapkannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2