Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Awal baru, apa ini lebih baik untuk kami?


__ADS_3

Ajeng menekan dadanya begitu kuat, dia merasakan sakit di dada lagi. Air matanya jatuh sangat deras tapi tidak terdengar suara tangis dari perempuan itu membuat Aliya juga ikut terluka melihatnya. Aliya memeluk adik iparnya itu, mengelus-elus dada perempuan itu. Aliya berusaha menenangkan Ajeng begitu keras, setelah beberapa lama akhirnya dia berhasil menenangkan perempuan itu. Aliya menjadi sangat marah kepada Dimas dan Sarah, berani-beraninya kedua orang itu menyakiti menantu pertama di rumah ini.


*****


"Mas kamu pilih perempuan itu atau aku?!"


"Mas nggak bisa, nggak ada yang harus dipilih diantara kalian berdua"


"Mas, kok kamu jadi begini sih? Kamu berubah karena dia? Sekarang kamu udah nggak sayang lagi sama aku!"


"Bukan begitu sayang, Mas sayang sama kamu" Dimas memeluk Sarah berusaha membuatnya tenang, dia tidak tau jika istrinya itu berpikiran seperti itu. Sekarang pikirannya terbagi kepada kedua istrinya itu, dia khawatir terhadap Ajeng dia juga khawatir dengan Sarah sekarang.


"Kamu istirahat dulu yah sayang, kamu tidur di kamar yah? Hmm?" cara bicara yang lembut itu, Sarah hanya ingin Dimas berbicara seperti itu kepadanya.


"Mas, kamu nggak bicara kayak gitu kan sama Ajeng? Mas cuma bicara lembut sama aku kan?" Dimas semakin iba kepada istrinya itu.


"Ayo kita ke kamar sayang" Sarah mengikuti Dimas tanpa ada penolakan.


*****


"Apa yang mereka lakukan sama kamu Ajeng?" Aliya semakin khawatir melihat kondisi Ajeng.


Aliya menjaga Ajeng hingga perempuan itu terlelap dan berhenti menangis, hati Aliya begitu sakit melihat adik iparnya itu. Dia tidak menyangka jika sesuatu akan menjadi seperti ini, Aliya berpikir jika ini sudah terlalu keterlaluan. Dia tidak mengerti dengan cara berpikir Dimas dan Sarah, apa yang sebenarnya mereka inginkan dari perempuan polos ini. Aliya menatap adik iparnya begitu sedih, dia tidak akan membiarkan ini lagi.


"Jika sekali lagi mereka memperlakukan kamu seperti ini, Kakak akan mengatakan semuanya kepada Paman" Aliya berjanji kepada Ajeng yang sudah terlelap tenang, dia mengusap-usap rambut adik iparnya itu lembut.


~Ajeng POV~

__ADS_1


Aku semakin menyadari siapa diriku sebenarnya di rumah ini, aku tidak mempunyai peran disini. Kak Aliya menjaga ku dari aku sebelum tidur hingga aku terbangun, dia adalah satu-satunya yang bisa aku percayai disini, dia adalah satu-satunya yang tulus padaku. Aku akan menghormatinya lebih dari siapapun disini, sebenarnya dia adalah satu-satunya orang yang harus ku hormati disini.


Aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya, belum ada sama sekali yang terjadi. Kapan aku akan di usir? Aku mencoba untuk tertidur, ini sudah pukul sebelas malam tapi tidak ada yang datang untuk mengusir ku dari rumah ini. Aku bertanya kepada Kak Aliya apakah aku harus meninggalkan rumah ini tadi, dia mengatakan jika aku tidak boleh pergi.


Ini seperti neraka, aku merasakan lagi seperti tinggal di rumah orang, jauh dari orang tua dan keluarga. Rasanya sangat aneh, aku merasa sangat kesepian, aku ingin pulang rasanya tidak ada yang menginginkan keberadaan ku disini.


Besok aku harus memulai pekerjaan ku, aku tidak tau harus memulainya dengan tidak semangat atau menjadikannya semangat. Bukankah lebih baik jika aku fokus hanya kepada pekerjaan ku, aku akan melupakan semuanya dan bekerja. Aku sebaiknya tidur saja dan tidak memikirkan hal-hal yang tidak penting.


Ini sudah pukul empat pagi, aku lebih cepat bangun karena harus pergi bekerja. Aku membersihkan diri dengan air dingin agar lebih bersemangat, selesai membersihkan diri, aku mengambil wudhu. Selesai salat, aku memakai kemeja ku. Hari ini aku akan membeli sarapan di luar, aku akan melakukan ini untuk seterusnya.


Aku keluar dari kamar, sangat sepi disini. Sepertinya Mas Dimas saat ini sedang bersama Sarah di kamar, ah aku tidak perlu memikirkannya, mulai sekarang sudah tidak ada peraturan dua minggu, aku tidak perlu banyak berharap, tidak, aku tidak akan berharap apapun dari lelaki itu lagi.


Aku harus cepat, aku keluar dari rumah. Aku berjalan dari rumah dan berhenti di jalan raya, hari ini aku tidak memesan jasa ojek karena ini terlalu pagi, aku akan menaiki kendaraan yang melintas saja.


Aku sangat senang bekerja di sini, aku bisa bertemu dan berbicara dengan Putri dan juga aku akan setiap hari bertemu dengannya.


*****


Satu jam kemudian kami menyelesaikan pekerjaan di kantor, kami putuskan untuk segera pergi makan malam. Kali ini kami tidak pergi ke rumah makan yang biasa kami datangi, Putri mengajak ku untuk pergi ke salah satu kafe di dekat perusahaan.


Sesampainya di kafe, aku dengan kagetnya melihat seseorang yang aku kenali disana. Dia adalah Adrian, aku sudah sangat lama tidak bertemu dengannya dan aku juga sudah melupakannya, sepertinya. Aku tidak menyangka dengan semua ini, Putri tersenyum padaku, sepertinya dia lah yang meminta lelaki itu datang kemari.


"Jeng, kamu nggak boleh sombong-sombong, Adrian masih sayang banget sama kamu" aku tidak tau ingin mengatakan apa-apa, aku sudah tidak merasakan perasaan apa-apa lagi terhadap lelaki itu, walau aku pernah sangat menyukainya.


Putri menarik ku duduk, aku bahkan sudah tidak terlalu ingat dengan wajah lelaki itu tapi sekarang aku mulai mengingatnya lagi, aku ingat wajah ini. Dia adalah lelaki yang sangat baik, seingat ku begitu. Sudah bertahun-tahun sejak saat-saat itu, sekarang aku bertingkah seperti seseorang yang belum menikah, aku lupa jika aku mempunyai suami di rumah, walau mungkin dia tidak menganggap ku begitu. Lebih parah lagi mungkin tidak ada yang menganggap ku begitu di kota ini, menyedihkan bukan?


"Ajeng, kamu nggak apa-apa?"

__ADS_1


"Hmm?" sepertinya aku melamun.


"Kamu memikirkan apa?"


"Ah nggak"


Aku tidak ingin memberikan harapan palsu padanya, aku tidak bisa memberikan apa-apa padanya. Aku hanya akan menjauh saja, bukannya aku tidak mau membalas tatapannya tetapi akan ada kesalahpahaman yang terjadi bahkan hanya dengan tindakan kecil saja, aku takut dia sakit hati dengan keacuhan ku tapi itu jauh lebih baik dibandingkan rasa sakit yang akan semakin dalam jika aku melakukannya di akhir, lebih baik aku menjelaskan semuanya di awal.


"Ajeng, Adrian jauh-jauh datang kesini buat ketemu kamu"


"Aku udah menikah Put"


"Kamu udah menikah?" sebaiknya aku membuat terang semuanya.


"Iya, aku udah menikah"


"Dia dijodohin, suaminya jahat tau dia maduin Ajeng padahal belum hampir satu minggu menikah, mereka nikah siri dan nggak ada keluarga yang tau, jahat nggak?"


"Kamu apa-apaan sih Put"


"Emang benar kan? Dia memang jahat"


"Kok kamu mau Jeng" tatapan Adrian masih belum berubah padaku meski sudah mengetahui jika aku sudah menikah, aku semakin khawatir jika dia tidak akan berhenti.


"Dia nggak cinta sama aku, dia cintanya sama perempuan itu, jadi itu haknya"


"Hak apaan coba? Kalaupun dia mau menikahi perempuan itu, harusnya dia nggak nutup-nutupin dari keluarga kalian kan? Dan sekarang kamu yang harus menderita, lebih baik kamu bilang semuanya sama keluarga kedua belah pihak, ceraikan dia, ada Adrian yang menerima kamu apa adanya" aku melihat tatapan yang benar-benar tulus dari pria itu, apakah ini memang hal yang akan lebih baik kepada kami semua? Tapi bagaimana dengan Bibi?

__ADS_1


"Bibi masih sakit, Mas Dimas nggak akan mau melakukannya, dia nggak akan ambil resiko untuk kesehatan Bibi"


Bersambung...


__ADS_2