
~Ajeng POV~
Aku mungkin merindukannya tapi rasa ini juga akan pergi dengan sendirinya, aku hanya perlu bersabar dan mulai tidak memikirkan tentangnya lagi. Tidak baik rasanya aku tidur dengan air mata di seluruh wajahku, aku perlu membersihkannya agar aku tidur lebih nyaman.
Pagi hari, pukul empat pagi suara alarm berbunyi,aku memasang alarm itu sejak semalam karena mungkin aku akan sulit bangun akibat terlalu banyak menangis.
Selesai membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban ku, aku pergi ke dapur untuk memasak. Tidak seperti semalam, hari ini aku tidak melihat ada Mas Dimas dimana pun.
Aku mencoba untuk tidak memikirkan tentangnya, aku melakukan aktivitas harian ku seperti biasa.
Dihari berikutnya, aku tidak melihat sosok Mas Dimas lagi, apa mungkin dia menghindari ku? Aku sungkan untuk bertanya kepada Sarah mengenai keberadaan Mas Dimas, mungkin dia belum bangun? Atau mungkin dia sedang tidak bekerja? Karena itu dia tidak keluar dari kamar.
Lusa, aku kembali tidak melihat sosoknya, beberapa hari ini aku sangat tertekan karena tidak dapat melihat wajah itu. Apa mungkin dia benar-benar menghindari ku? Ini tidak mungkin sebuah kebetulan bukan? Aku sudah tidak melihatnya selama tiga hari. Kemana lelaki itu?
Aku mencoba membayangkannya di pikiran ku, tapi aku tidak kunjung melihat sosok itu dengan sempurna. Aku sudah tidak tahan, apa dia sebegitu tidak mau melihat ku? Aku ingin menangis, nafasku jadi sesak.
Apa dia harus memperlakukan ku seperti ini? Meski dia tidak menganggap ku istri dia tidak perlu melakukan ini semua, aku tidak suka diperlakukan seperti ini. Apakah aku terlalu egois berpikir seperti itu? Aku tetap ingin melihatnya meski aku mungkin sudah tidak memiliki hak, aku ingin mendengarkan suaranya.
Apa aku telah salah berpikir ingin bercerai? Karena hati ku mengatakan jika aku menginginkan lelaki itu. Aku sudah tidak bisa berbohong lagi, ini masih beberapa hari aku tidak melihatnya bagaimana jika aku tidak melihatnya selama satu bulan atau mungkin satu tahun, aku mungkin akan sangat menyesal.
__ADS_1
Aku sepertinya benar-benar merindukannya sekarang, aku menyesal sudah mengeluarkan kata-kata bodoh itu.
Aku tau dia tidak mungkin berpura-pura, aku harusnya bijak melihat semua hal tersebut. Bahkan saat melihat cara bergeraknya saja, aku tau jika dia adalah lelaki yang tulus.
Harusnya aku tidak sebodoh itu berfikir, akulah yang sudah bodoh melepaskan lelaki sepertinya. Aku mencintai Mas Dimas, aku mengakuinya. Aku ingin segera melihatnya, mendengar suaranya, saat itu juga aku akan langsung meminta maaf kepadanya, aku akan mengungkapkan perasaan ku, aku sudah tidak tahan lagi jauh darinya.
Aku mencoba bertanya kepada Sarah dimana keberadaan Mas Dimas, dia pasti mengetahuinya. Aku tidak ingin terlihat aneh bertanya hal itu kepadanya, meski sudah berniat akan memperlihatkan seluruh perasaan ku sebelumnya. Aku tidak akan sebodoh itu memperlihatkannya begitu jelas di depan Sarah.
"Kak, Mas Dimas ada dimana? Dia belum makan?" Aku berpura-pura tidak tau dengan bertanya apakah Mas Dimas sudah makan, jelas-jelas aku tidak pernah melihatnya di meja makan beberapa hari ini.
"Kamu kan lihat dia nggak ada di rumah, Mas Dimas ada di luar kota Jeng" aku menganggukkan kepala mengerti.
Kenapa dia pergi tanpa memberitahukan ku? Mungkin dia benar-benar sudah tidak menganggap ku istri lagi, tapi akulah sebenarnya yang memintanya. Aku harus menyalahkan siapa? Apakah ini memang karena kebodohan ku atau memang Mas Dimas sudah tidak memikirkan ku.
Aku menyia-nyiakan beberapa hari itu karena diriku yang terlalu keras, Mas Dimas sudah berusaha menjadi suami yang baik tapi aku tidak membiarkannya, dan menolaknya, bukankah aku bodoh?
Aku berbaring di kasur mengingat kembali semua sentuhan yang baru pertama aku dapatkan. Aku masih sedikit ingat kenikmatan bibir lembut itu, tidak percaya jika aku sudah kehilangan bibir itu. Apakah mungkin aku bisa mendapatkan bibir itu lagi? Ya, aku pasti bisa, aku menginginkan bibir itu, aku menginginkan tangan kekar itu, suara lembut, mata indah, rambut hitam aku benar-benar merindukan semuanya.
Selama dua hari aku masih menunggu kepulangannya, sudah lima hari aku tidak melihatnya, aku ingin segera meminta maaf.
__ADS_1
Mas Dimas sepertinya sudah datang, aku melihat mobilnya yang sudah lima hari tidak ada informasi berada di garasi, aku sangat senang, lelah ku dari kerja terbayarkan oleh semua ini.
Aku masuk ke dalam rumah tidak ada sosok lelaki yang setengah mati ku rindukan itu, apa dia sudah benar-benar pulang? Aku sangat yakin jika dia sudah berada di rumah.
Aku ingin melihatnya, tetapi aku menyadari kembali posisi ku, aku ingat kembali jika kami sedang tidak berbicara satu sama lain. Mungkin melihatnya saja akan membuat ku baikan tetapi aku bahkan belum melihatnya, dia begitu kejam padaku.
Dia pulang langsung menghabiskan waktunya bersama Sarah, mereka memang cocok, aku harusnya tidak perlu cemburu. Bukankah mereka memang hidup untuk satu sama lain dan aku dan aku harus kembali mengingatkan diriku jika akulah yang menjadi penghalang cinta dari kedua sejoli itu.
Aku makan sendirian di meja makan, aku mendengar suara langkah kaki dari tangga. Aku melihat lelaki yang sudah kutunggu-tunggu itu akhirnya, wajah tampan itu berjalan tanpa menatapku, rasanya sakit sekali diacuhkan, meski aku yang menyebabkan semuanya terjadi.
Aku menyadari jika aku memberikan tatapan yang begitu terharu dengan kedatangannya, aku langsung menghentikan perasaanku saat itu juga dan melanjutkan makan ku.
Mas Dimas datang ke arah ku tapi dia sama sekali tidak menatapku.
"Besok kita akan pergi ke Bandung menjenguk Ibu, bersiap-siaplah" Hanya itu kata yang dia ucapkan, aku mungkin merasa sakit dengan semua sikap acuh itu, tetapi aku sangat bersyukur mendengar suara lembut itu, aku merasa ingin memeluk pemilik suara yang ada di depanku itu, aku ingin mendengar suaranya lebih lama. Aku bahkan tidak bisa mengungkapkan perasaanku meski sudah berjanji, aku kehilangan tekad ku ketika melihat Mas Dimas seperti seseorang yang tidak mengenaliku.
Aku baru tersadar dengan kata-kata Mas Dimas, besok kami akan pergi menjenguk Ibu. Kami harus pergi menjenguk Ibu meski masih dengan keadaan hubungan seperti ini, aku merasa bersalah kepada Ibu karena sudah merusak hubungan yang berusaha dibangun putranya, ini semua adalah kebodohan ku.
Tapi sepertinya dengan hal ini aku dan Mas Dimas tidak akan berpisah dengan segera, Mas Dimas tidak mungkin mengambil resiko untuk kesehatan Ibu bukan? Ya, pastinya dia tidak akan melakukan itu. Atau mungkin sebaliknya, apa dia mengajak ku kesana adalah untuk pelan-pelan mengungkapkan hubungan kami yang sebenarnya kepada keluarga besar lalu menceraikan ku?
__ADS_1
Aku takut dia akan melakukannya, tapi aku yakin dia tidak mungkin sejahat itu kepada Ibunya sendiri. Aku memberi kepercayaan kepada diriku jika dia tidak akan berniat begitu, apakah dia tidak memiliki perasaan sedikit saja untukku jikapun bukan untuk Ibu? Aku tidak akan percaya jika itu benar melihat diriku yang begitu dalam jatuh padanya, aku merasa tidak tau diri dan malu.
Bersambung...