Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Kisah masa lalu


__ADS_3

"Mas! Aku kaget!"


"Serius?"


"Iya, kamu dari mana aja Mas? Aku udah berpikir tadi kalau aku salah lihat"


"Mas sengaja"


"Mas nakal!"


"Mas nakal? Hmm?"


"Iya"


"Jangan Mas, banyak orang" Ajeng secepatnya menghentikan pergerakan tangan Dimas di pinggangnya.


"Nggak ada orang"


"Mas buta ya?" Dimas tertawa tidak percaya dengan cara bicara istrinya yang tidak biasanya.


"Kamu juga bisa marah kayak gini yah?" Dimas menyentil hidung itu lembut.


"Kita pulang yah Mas?" Ajeng langsung menarik tangan kekar Dimas, namun dia sedikit kesulitan karena Dimas sengaja tidak mau bergerak, Ajeng tidak mempunyai kekuatan sebesar itu untuk menarik Dimas.


"Mas! Kita pulang"


"Kamu nggak mau keluar?"


"Keluar? Kita nggak dirumah aja Mas? Bagaimana kalau Kak Sarah nanti pulang?"


"Dia belum akan pulang" Ajeng masih berusaha menarik Dimas meski tanpa mereka berdua sadari, mereka saling serius mendengarkan satu sama lain meski tangan keduanya saling menyentuh penuh hasrat, Ajeng mengelus-elus tangan Dimas lembut begitu juga dengan Dimas, mata mereka saling bertatapan penuh rasa.


"Mas kita pulang" suara halus Ajeng setelah keduanya merasakan perasaan yang mendebarkan itu, Dimas mengiyakan begitu mudah seperti tersihir oleh suara itu.


Dimas dan Ajeng meninggalkan gedung dan menikmati getaran rasa yang mereka ciptakan sendiri, Dimas menggenggam tangan Ajeng kembali setelah keduanya duduk di kursi mobil seperti tidak ingin kehilangan sedikit pun momen berdua mereka.


"Mas kita mau kemana?" Ajeng tau betul jika Dimas mengarahkan mobil ke jalur yang berbeda.


"Teman-teman lama Mas ngajak kita ketemuan, kamu mau kan sayang?" Ajeng bingung kenapa Dimas malah mengajaknya bukan Sarah.

__ADS_1


"Mas kenapa perginya nggak sama Sarah?" Dimas langsung menatap Ajeng dengan tatapan tidak tergambarkan, mereka berdua bertatapan sesaat dengan mobil yang masih berjalan.


"Mas lihat ke depan" Ajeng takut dengan ekspresi itu, tapi dia sedikit lega karena tangan itu belum melepaskan genggamannya.


"Kamu kenapa tanya begitu? Kamu mau Mas pergi sama Sarah?" Hmm?" Ajeng benar-benar mulai merasa takut jika lelaki disampingnya itu kembali berubah sikap karena pertanyaan bodohnya.


Ajeng menundukkan kepalanya dalam benar-benar sedih dengan kesalahan yang dia buat, dia merasa seharusnya tidak perlu menanyakannya. Dia merasa menyesal menanyakan hal itu kepada Dimas padahal dia sendiri tau jika saat ini Sarah sedang merawat sepupunya yang berada di rumah sakit.


Dimas melihat jelas perubahan ekspresi Ajeng, dia sedih melihat perempuan itu masih tidak terlalu terbuka dengannya seharusnya sebagai istri dia bisa dengan santai menjelaskan apa maksud dari perkataannya tapi Ajeng tidak melakukannya, dan malah merasa bersalah dengan apa yang baru saja dia sampaikan. Dimas mengelus lembut tangan Ajeng yang dia genggam, mencoba membuat wanitanya itu kembali seperti sebelumnya.


"Sayang, kamu mau kembang gula?" mencoba mengembalikan momen yang sempat dia rusak.


"Hmm?" Ajeng sedikit bingung.


"Mas belikan dulu" Dimas keluar dari mobil dan pergi ke arah penjual kembang gula di pinggir jalan, Ajeng sedikit kehilangan kegelisahannya saat melihat Dimas keluar dari mobil dan pergi ke jalanan untuk membeli kembang gula, lelaki itu terlihat sangat menawan. Ajeng segera menghentikan pikirannya saat melihat gadis-gadis muda yang merayu dan mencari-cari pandang dari suaminya.


"Apa mereka tidak punya pacar sendiri?" Ajeng sedikit tidak suka dengan gadis-gadis itu dan segera keluar dari mobil menghampiri Dimas.


"Sayang" ini pertama kalinya Ajeng memberikan panggilan itu sehingga membuat Dimas sedikit heran tapi kemudian dia merasa biasa saja dan membalas Ajeng.


"Iya sayang, kenapa kesini?"


"Mereka tidak tau jika lelaki menawan ini sudah menjadi milik dari dua perempuan" Ajeng tertawa sendiri dengan pikirannya.


Kembang gula yang dipesan oleh Dimas sudah jadi, Dimas memberikannya kepada Ajeng.


Ajeng menunjukkan ekspresi senangnya setelah menerima kembang gula pemberian Dimas, sementara Dimas membayar makanan yang membuat senang istrinya itu.


"Ini suaminya Neng?" seorang wanita kepala empat bertanya kepada Ajeng.


"Iya Mbak" Ajeng melirik Dimas.


"Tampan sekali suaminya, cocok sekali yah Pak? Pasangan muda yah?" Dimas dan Ajeng menyadari jika wanita itu ternyata adalah istri sang penjual kembang gula.


"Iya Mbak"


"Sudah punya anak?" Ajeng menggelengkan kepalanya.


"Cepat-cepat punya anak, jangan ditunggu-tunggu"

__ADS_1


"Iya Mbak, makasih Mbak"


"Sehat-sehat ya" wanita itu mengelus perut Ajeng yang masih datar, Ajeng memberikan senyumnya setelah mendapatkan doa dari wanita itu.


"Makasih banyak Mbak doanya"


"Iya, awas suaminya diambil sama orang lain" wanita itu tertawa kecil dengan pernyataannya sedangkan Ajeng hanya tersenyum dan menatap ke arah Dimas, sedangkan Dimas bersikap seperti tidak mendengarkan kata-kata itu.


Dimas menarik Ajeng pergi setelah mereka menyelesaikan percakapan dengan wanita kepala empat itu. Udara sedikit lembab karena itu Dimas merangkul tubuh Ajeng agar perempuan itu tidak merasa kedinginan, Dimas membukakan pintu untuk Ajeng lalu masuk ke dalam mobil.


Mereka meninggalkan jualan pinggir jalan itu, Dimas melihati istrinya yang begitu fokus dengan kembang gulanya. Dimas menghentikan mobil ketika Ajeng menggigit kembang gula dengan bibirnya, Ajeng seketika kaget dan melihat ke arah Dimas.


"Aaa" Dimas mengangakan mulutnya, Ajeng tidak tau betul apa yang Dimas lakukan dan hanya bisa diam melihat tingkah lelaki itu. Karena tidak kunjung mendapatkan respon, Dimas langsung menggigit kembang gula yang masih berdiam di bibir itu, Ajeng begitu terkejut dengan apa yang Dimas lakukan, Dimas sengaja menyentuhkan kedua bibir mereka dan menjilat bibir itu yang membuat Ajeng semakin histeris.


"Manis"


"Mas"


"Kenapa? Mau dicium?" Ajeng menggelengkan kepalanya tidak yakin yang membuat Dimas geleng-geleng heran sendiri.


"Mau atau nggak?"


"Mas kita kapan perginya? Nanti kita telat"


"Masih lama" Dimas bergerak mendekat dengan Ajeng.


"Mau" Dimas mengatupkan bibirnya menunjuk bibir merah muda itu, Ajeng tersenyum kecil lalu mendekat. Kedua bibir itu bersentuhan kemudian saling mengadu dalam kelembaban yang lembut, Ajeng mengeluarkan sedikit suara yang terdengar seperti desahan karena kehabisan oksigen, ciuman dari Dimas tidak pernah membuatnya nyaman untuk bernafas.


"Manis" Dimas merayu Ajeng setelah menghentikan ciumannya, pipi Ajeng berseri setelah mendengar kata rayuan Dimas itu ditambah dengan emosi luar biasa yang baru saja mereka rasakan.


Dimas kembali menyalakan mobilnya dan melaju cepat meninggalkan udara dingin jalanan, Dimas dan Ajeng sampai di salah satu kafe yang ada di kota. Dimas membukakan pintu untuk Ajeng setelah turun terlebih dahulu, Dimas menggenggam tangan Ajeng dan menariknya masuk ke dalam.


Dimas membawa Ajeng ke salah satu meja besar yang diisi oleh belasan orang, Ajeng tidak percaya jika teman Dimas sebanyak itu dan lebih kaget lagi saat dia melihat teman masa remajanya Amar, Dinda dan Farhan disana, dia tidak tau ada hubungan apa mereka dengan suaminya. Ajeng melepaskan genggaman tangan Dimas, dia sama sekali tidak ingin bertemu dengan orang-orang di masa lalu itu.


"Ajeng?" Ajeng melihat wajah heran Farhan setelah melihatnya, dia semakin ingin kabur setelah melihat laki-laki dan perempuan itu ikut menatapnya heran begitu juga dengan teman Dimas lainnya.


"Amar? Kenapa dia disini? Apa sekarang dia dan Dinda sudah menikah? Mereka kembali bersama ternyata, aku seharusnya tidak sakit hati karena sekarang aku sudah punya Mas Dimas, aku tau sangat sulit melupakannya, tapi aku harus tetap tenang"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2