Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Keputusan Bibi


__ADS_3

"Mari kita makan malam bersama" Bibi memecahkan keheningan.


Mas Dimas dan Sarah masih berdiri di pintu sepertinya mereka benar-benar terkejut aku tidak tau mengapa tapi aku merasa bersalah tapi ini bukan salahku. Aku tidak meminta Bibi untuk datang atau mengatakan sesuatu yang tidak-tidak aku mengatakan kebenaran a aku tidak tau bagaimana Bibi bisa tau. Mereka tidak akan menyalahkan aku bukan? Aku jadi takut dengan suasana baru ini.


Mas Dimas dan Sarah berjalan menuju meja makan


aku hanya bisa diam tidak perlu juga melakukan apapun. Aku sebaiknya mendengarkan saja apa yang akan terjadi selanjutnya.


Mas Dimas terlihat diam aku tidak bisa mengartikan ekspresinya setelah diam sesaat Mas Dimas kemudian melihat kearah Bibi sepertinya menunggu Bibi berbicara.


"Ada baiknya kita makan dulu, supaya kita punya lebih banyak tenaga membicarakannya nanti"


Kami akhirnya memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu keheningan tercipta dimeja makan. Sarah berada disamping Mas Dimas dia juga hanya diam sesekali melirik ke arah Bibi. Aku sebenarnya tidak mengharapkan suasana ini aku merasa sedikit bersalah seharusnya aku tidak keluar hari itu semua suasana ini tidak akan tercipta. Aku merasa sedikit harus menyalahkan diriku, ini memang ulahku


semua orang hanya mengetahui Sarah lah yang menjadi istri Mas Dimas berani-beraninya aku keluar dari rumah ini. Tidak tau apa yang orang pikirkan jika melihat aku keluar masuk dari rumah ini, rumah orang yang sudah menikah. Orang mungkin akan menganggap ku sebagai seorang perusak hubungan harusnya aku tetap diam.


Setelah selesai makan malam Bibi mengajak kami untuk berbicara di ruang tengah Bibi berjalan diikuti Kak Aliya dibelakangnya Bibi melihatku terdiam dimeja makan dan kemudian memegang tanganku lembut dan mengajakku berjalan bersamanya. Sarah terlihat menggenggam tangan Mas Dimas aku tidak bisa menjelaskan ekspresinya dia terlihat sedikit sedih aku merasa bersalah kepadanya.


Kami berada diruang tengah Bibi menatap kearah Mas Dimas dengan sedih matanya memerah bibirnya bergetar dan kemudian dia meneteskan air mata.


Aku merasa sedih melihat Bibi menangis, Kak Aliya memegang tangan Bibi yang sudah berkeriput Bibi kemudian mengelap air matanya.


"Bibi tidak percaya keponakan yang Bibi besarkan sewaktu kecil akan menjadi pria yang tidak adil setelah besar Bibi tidak menyangka anak yang Bibi sangat sayangi akan bersikap tidak adil seperti ini" Bibi berkata sedih.

__ADS_1


"Jika Aliya tidak mengatakan pada Bibi bagaimana nasib Ajeng? Kalian baru saja menikah dan kau sudah memadu nya dan tidak memberitahukan pada siapapun? Apa kau ingin menyiksanya? Bibi tidak pernah mendidik anak Bibi untuk bersikap tidak adil seperti ini, Ajeng masih sangat muda. Seharusnya Bibi tidak menyetujui perjodohan kalian jika tau akan seperti ini" kata-kata Bibi membuatku sakit di dada aku mulai kehilangan kekuatanku dan mengeluarkan air mata.


Aku segera menundukkan kepalaku jika Bunda dan Ayah tidak memaksaku untuk menerima perjodohan ini aku tidak akan perlu menjadi penghalang bagi hubungan Mas Dimas dan Sarah aku bisa menikah dengan pria yang kucintai. Apakah Bunda dan Ayah akan menyesali telah menikahkan putrinya dengan pria yang sama sekali tidak menatapnya? Apakah mereka akan sedih dan memeluknya karena merasa bersalah nanti? Akuq menjadi marah terhadap takdir yang sepertinya tidak adil padaku. Pernikahan ini seharusnya tidak perlu harus terjadi dan aku tidak perlu menjadi orang ketiga.


"Sekarang apa keputusan kamu Dimas? Bibi ingin kau bersikap adil, Bibi tidak mau anak Bibi melakukan dosa besar karena tidak berbuat adil kepada salah satu istrinya. Apa keputusan yang akan kau buat?"


"Aku tidak tau Bi" Mas Dimas menjawab sambil menggenggam tangan Sarah.


"Ajeng apa yang kamu inginkan Nak?" Bibi bertanya padaku dengan lembut menatapku sedih aku tidak tau ingin menjawab apa aku merasa tidak berhak memberikan keputusan disini aku hanya bisa diam tidak menjawab pertanyaan Bibi.


~Author POV~


Bibi bertanya kepada Ajeng dan hanya dibalas diam olehnya. Ajeng menundukkan kepalanya semua orang menatap kearahnya begitu juga dengan Dimas dia menatap ke arah Ajeng dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.


kamu harus mengingat itu, kamu lebih berhak dari siapapun" Bibi berkata demikian yang membuat Sarah merasa tersindir dia cemburu seketika dengan gelar yang dimiliki Ajeng sedangkan dia tidak mendapatkannya.


"A aku tidak tau Bi" Ajeng menjawab pelan terdengar getir yang sesaat kemudian tiba-tiba meneteskan air matanya, Ajeng menangis sesenggukan akibat berusaha menahan suara tangisannya.


Bibi melihat kearahnya dengan tatapan sedih dan menyesal Bibi berdiri dari duduknya dan pergi memeluk menantunya itu.


Dimas melihat kearah Ajeng tidak tau apa yang dipikirkannya.


"Bibi yang akan memutuskan" Bibi akhirnya berusaha menjadi hakim untuk keadilan rumah tangga keponakannya setelah melihat keponakannya yang sepertinya tidak tau atau mungkin tidak mau memberikan keputusan.

__ADS_1


"Dimas, mulai hari ini kamu akan tidur bersama Ajeng tidurlah dua minggu secara bergantian dengan kedua istrimu Bibi tidak ingin ada ketidakadilan dirumah ini Bibi akan tinggal disini selama dua bulan untuk memastikan jika kau benar-benar telah bersikap adil" Bibi menatap Dimas tajam.


"Baik Bi" Dimas menjawab pasrah setelah tidak tau harus menjawab apa mendengar keputusan yang Bibinya buat sambil menggenggam tangan Sarah.


Dimas melihat ke arah Sarah seperti ingin meminta izin


yang dilihat jelas oleh Bibi.


"Ini adalah keputusan bersama tidak ada yang lebih berhak atau sebaliknya kau tidak perlu meminta izin kepada istri yang satu untuk melakukan sesuatu dengan istri yang lain Bibi harap kau memahaminya dan tidak bersikap pilih kasih" Sarah terlihat kaget mendengarnya dalam hatinya dia tidak ingin berbagi Dimas pada siapapun karena dia tau jika Dimas sama sekali tidak mencintai Ajeng begitu juga Ajeng.


"Pergilah tidur" Bibi berkata pada Ajeng dan hanya mendapatkan tatapan memohon dari wanita berkerudung itu, Ajeng memperlihatkan ekspresi seperti memohon untuk tidak harus melakukan yang harusnya dilakukan.


"Pergilah Nak, kamu harus mendapatkan keadilan, dia juga suamimu, Apa kau ingin tidur di ranjang sendirian untuk selamanya? Apa kau ingin kesepian sendiri sementara mereka menunjukkan kebahagiaan mereka di hadapanmu? Kau harus bertindak dari sekarang Nak, jika kau membiarkannya, ini akan terus-terusan terjadi" Bibi berkata meyakinkan Ajeng.


Dimas pergi terlebih dahulu kekamar milik Ajeng. Dia melihat-lihat terlebih dahulu dia melihat gorden yang terbuka dan membiarkannya dia kemudian pergi kearah ranjang dan menjatuhkan tubuhnya.


~Ajeng POV~


Aku tidak berani pergi kekamar tapi aku harus tetap tidur. Selama tiga menit aku berdiri didepan pintu aku tidak berani membukanya. Mas Dimas sudah berada di kamarku dia pergi terlebih dahulu tadi.


Aku tidak bisa hanya diam saja. Pada akhirnya aku membuka pintu kamar dan masuk aku melihat Mas Dimas yang sudah tidur dikasur aku memberanikan diri untuk menyusul.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2