Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Pikiran aneh


__ADS_3

~Ajeng POV~


*****


Setelah bangun dari tidur aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, aku melihat diriku di kaca dan memberikan senyum kecil untuknya. Dia terlihat sangat baik, aku putuskan untuk menyalakan pancuran, aku akan pergi bekerja akan lebih lambat jika aku harus berendam. Air hari ini lebih dingin mungkin karena semalam hujan tiba-tiba datang membuat udara ikut terasa berubah.


Kubuka pintu berjalan pelan lalu membalut rambutku dengan tuala, lalu aku ambil mukena dari almari. Rambutku sudah sedikit lebih kering dan aku bisa melepaskan balutannya, dan segera memakai mukena untuk melaksanakan kewajiban ku.


Setelah selesai salat, aku memakai pakaian kerja ku.


Aku hanya mengambil cuti untuk dua hari jadi aku harus pergi bekerja hari ini, tidak baik untuk sering-sering meninggalkan pekerjaan disaat kita baru saja memulainya.


Aku turun ke dapur untuk memasak sarapan pagi ini, Sarah datang setelah aku baru saja memulai menyalakan api di pemanas. Dia memberikan senyuman anggun kepadaku dan aku membalasnya dengan senyuman tulus, dia terlihat sangat cantik, sampai sekarang aku masih sangat mengagumi keelokan paras itu, aku ingin memiliki anak berparas seperti itu nanti.


Yah jika anakku adalah perempuan, akan terlihat begitu manis dan cantik jika dia berparas seperti Sarah Ibunya dan Putri Bibinya, aku ingin tertawa membayangkan pikiran ku ini. Tetapi mungkin saja nanti Putri akan mengklaimnya sebagai putrinya, aku akan senang jika dia menyayangi putriku bukan? Yah sepertinya jika aku mendapatkan putri seperti yang telah aku bayangkan itu tidak akan membuatnya menjadi bukan putriku, aku akan dikenal sebagai Ibu kandungnya.


Tapi bagaimana jika aku mendapatkan anak laki-laki, mungkin rupanya akan sama seperti Mas Dimas, dia pasti akan setampan Ayahnya. Aku akan menerima apapun yang Tuhan berikan, seperti apapun dia nanti, aku hanya bisa senang membayangkan semuanya saat ini.


Aku menghentikan pikiranku dan mulai menyiapkan semua hidangan, aku hanya bisa melihat wajah Sarah lekat-lekat sambil tersenyum membayangkan tampang anak impianku. Bukannya aku tidak elok untuk memiliki anak serupa denganku, aku akan menjadi ibunya, bukankah tampangnya akan lebih mungkin selaras denganku? Aku hanya bisa berimajinasi untuk sekarang.


Kecantikan sepertiku mungkin akan membosankan, sebenarnya tidak juga, mungkin hanya perasaanku saja.


Tapi aku ingin memiliki anak yang manis dengan lesung pipi, berkulit coklat dan rambut hitam yang lurus. Aku akan merawatnya dengan baik, mengajarkan hal-hal baik untuknya. Cukup membayangkannya, aku harus menyelesaikan sarapan ku.


"Ajeng, kamu berangkat sama Mas yah?" Aku melihat Mas Dimas, tidak terlalu kaget karena sebenarnya dengan berangkat dengan Mas Dimas aku akan menghemat uang. Aku mengangguk mengiyakannya.


"Oh iya Mas, hari ini aku mau ke rumah, boleh yah?" sepertinya Sarah akan mengunjungi orang tuanya lagi, Mas Dimas dan aku akan pergi bekerja tentu saja dia akan sendiri di rumah ini.

__ADS_1


"Iya" tidaklah begitu susah untuk mendapatkan izin dari Mas Dimas, dia adalah suami yang luwes dan tidak kaku, aku tidak bisa membayangkan bagaimana tampang Dimas kecil dan Dimas remaja, para perempuan pasti akan dengan mudah jatuh cinta padanya, bisa dilihat dari hubungannya dengan Sarah. Ajeng kecil sedikit kurang beruntung tidak pernah bertemu dengan Dimas kecil sebelumnya.


Tetapi Ajeng sekarang harus bersyukur memiliki Ayah dan Bundanya yang telah mempertemukannya dengan lelaki ini. Aku harus berhenti berpikir konyol seperti itu lagi, aku hanya bisa tersenyum menertawakan diriku sendiri sekarang. Bukankah jika terlalu antusias menandakan jika akan segera mendapatkan kekecewaan, aku harus menghentikan semua perasaan yang berlebihan ini.


Setelah sarapan Mas Dimas mengajak ku untuk berangkat bekerja, Sarah memberikan salam kepada Mas Dimas dan aku memberikan senyum tanda bersahabat padanya. Aku ingin membuatnya bisa percaya padaku, agar tidak membuatnya merasa harus berantisipasi perkara Mas Dimas. Perempuan mungkin akan memiliki perasaan seperti itu, sangat penting untuk memberikan sikap bersahabat.


Maa Dimas membukakan pintu untukku, aku rasa itu tidak perlu jadi aku katakan padanya untuk tidak perlu melakukannya lain kali. Mas Dimas terlihat sangat menawan apakah Sarah tidak khawatir jika lelaki ini akan didekati perempuan lain di luar sana? Yah, jika untukku aku pastikan dia tidak perlu merasa khawatir, Mas Dimas hanya menjalankan tugasnya sebagai suami.


Aku senang bisa pergi berangkat bekerja bersama dengan Mas Dimas, aku harap ini akan terjadi terus-menerus, dia benar-benar mempesona hingga aku tidak bisa memalingkan pandangan ku, bukankah aku masih terlalu muda untuk semua perasaan ini? Kadang aku lupa dengan umur ku, meski kadang hatiku merasakan perasaan yang aneh tapi aku tidak sadar apa yang menyebabkannya, sekarang aku tau apa yang mengakibatkan perasaan aneh itu, tapi sepertinya aku akan segera terbiasa dengan perasaan itu.


"Kenapa?" Aku sangat terkejut ternyata Mas Dimas mengetahuinya, aku memang bodoh, apa mungkin dia tidak tau jika aku menatapnya seperti orang gila? Aku segera berbalik menempel di kaca.


"Kamu jatuh hati sama Mas yah?" Dia terdengar seperti mengejekku, aku tidak bisa berbohong, aku memang jatuh hati padanya. Aku hanya bisa memberikan senyum aneh padanya, membuatnya semakin menyadari perasaan ku. Aku sepertinya sudah gila, aku tidak berhenti menatapnya setelah dia membalas senyumku, Ajeng hentikan semua ini! Aku akhirnya bisa berhenti dan kembali memandangi jalanan dari kaca, sambil mengutuki diriku sendiri.


Mas Dimas mengantarkan ku tepat di di depan gedung perusahaan, aku sudah katakan tidak perlu membukakan pintu tapi dia tetap melakukannya, aku sangat bingung dengan perlakuan manis ini.


"Iya Mas, aku pulang pukul..."


"Mas tau" dia mengelus kepala ku, kerudung ku cukup kuat dan mudah diatur jadi tidak sampai harus kembali membenarkannya. Sepertinya jam kerja perusahaan merupakan sesuatu yang sudah umum.


"Sana masuk"


"Aku duluan yah Mas" Aku mencium tangan Mas Dimas lalu pergi memasuki gedung.


*****


Ini waktunya untuk makan siang dan ponselku berdering, sepertinya ada panggilan telepon. Aku segera mengambilnya lalu membukanya dan melihat, ternyata itu adalah panggilan telepon dari Mas Dimas. Aku bingung dan penasaran kenapa dia meneleponku, bukan apa-apa tapi dia sangat jarang melakukan panggilan telepon denganku, apalagi di jam-jam seperti ini.

__ADS_1


"Halo Mas" Aku segera menjawab panggilannya.


"Kamu udah makan siang"


"Ini baru mau pergi Mas"


"Mau makan siang dimana?"


"Dikantin aja Mas"


"Kamu benar cuma makan siang di kantin? Nggak bohong kan?"


"Benar Mas, Mas nggak percaya sama aku?"


"Bukan gitu sayang, kalau kamu mau makan siang diluar kamu bilang sama Mas"


"Iya Mas"


"Benar cuma mau di kantin?"


"Iya Mas"


"Huh, terserah kamu, kalau gitu Mas tutup yah? Jangan lupa makan yang banyak"


"Iya Mas, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" Aku sangat senang setelah berbicara dengan Mas Dimas, biasanya dia sangat acuh mengenai hal-hal seperti ini, tapi hari ini aku melihat sesuatu yang jauh berbeda dari sikap itu. Aku ingin merasakan semua perhatiannya dan aku dengan senang hati juga akan memberikan perhatianku untuknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2