
~Ajeng POV~
Setelah mendengar yang mas Dimas katakan aku membersihkan diriku aku berharap mas Dimas bisa adil pada kami berdua aku tidak berharap dengan cinta mas Dimas saat ini. Aku merasa sedikit lemas meski tidak merasa ada yang sakit jadi kuputuskan untuk tiduran dikasur aku mencoba membaca sebuah novel di aplikasi membaca novel favoritku. Sedikit kebahagiaan yang bisa kudapatkan dari membaca.
Rasanya perasaanku tidak menentu aku ingin berubah sedikit apa aku tidak punya apa-apa sama sekali di dunia ini? itulah pertanyaan yang kutanyakan pada diriku sendiri bahkan aku tidak punya Ibu dan Ayah. Setidaknya aku punya Ayah dan Bunda dikampung sekarang aku tinggal jauh dari mereka selanjutnya aku berpikir ingin bekerja aku tidak ingin hanya bergantung pada mas Dimas. Aku tidak tau apa hal yang akan terjadi di masa depan aku harus menyiapkan diri.
Aku akan melamar pekerjaan besok. Tapi tidak, sebaiknya aku melakukannya setelah Sarah tiba dirumah apakah adil jika hanya Sarah dan mas Dimas yang memutuskan keputusan? Aku berdoa agar seseorang membantuku disini. Perasaanku benar-benar berombang ambing aku tidak berpikir jernih sekarang bagaimana besok? Sarah akan datang kemari dan tinggal disini dia pasti akan tidur satu ranjang dengan mas Dimas pikiranku memang sedang buruk.
tentu mereka akan tidur bersama mereka saling mencintai dan aku hanyalah parasit disini untuk itu harus kuputuskan mencari pekerjaan dengan komitmen kuat aku bisa berpikir seperti mereka tidak ada
itu yang akan kulakukan. Ini sudah malam jadi kuputuskan untuk segera beranjak tidur dan bangun pagi besok.
Setelah bangun aku pergi kekamar mandi untuk berwudhu setelah salat aku turun untuk memasak nasi selalu ada makanan yang disisakan untuk makan pagi jadi aku kembali kekamar. Aku mungkin terlihat seperti seorang istri yang tidak bertanggung jawab tapi bagaimana jika suamiku bahkan tidak memberikan uang untuk memasak. Tentu ada uang di brankas tapi aku tidak mungkin menggunakannya mungkin karena perasaan tidak diinginkan membuatku berpikir untuk menjauh saja lagipula sepertinya itu yang dia inginkan.
Mas Dimas sudah pergi, dia akan menikahi Sarah hari ini aku tidak berharap dia membawaku lagipula untuk apa aku ikut. Orang-orang disini hanya akan mengetahui Sarah sebagai istrinya aku akan melakukan seperti yang mereka inginkan. Tapi aku juga sebenarnya tidak tahan dengan situasi seperti ini tapi aku anggap saja jika aku belum menikah itu lebih baik.
Aku tertidur hingga pukul tiga sore aku tidak menyadari waktu yang sudah berlalu sepertinya mas Dimas telah pulang bersama Sarah. Apa yang harus kulakukan nanti? Aku lebih baik tetap dikamar. Tidak ada yang terjadi hingga malam hari, sepertinya mereka sedang ada dikamar mungkin mereka lelah setelah pernikahan aku putuskan untuk makan malam.
__ADS_1
Setelah selesai makan aku mencuci piring milikku lalu pergi keatas melangkahkan kaki di tangga
aku mendengar desahan wanita dari kamar milik Mas Dimas. Aku tidak berniat untuk menguping aku hanya sedang lewat aku merasa gemetar dan kembali ke kamar aku putuskan untuk segera beranjak tidur.
*****
tok.. tok.. "Ajeng" suara perempuan memanggilku dari luar mengetok pintu kamarku, suara Sarah yang lembut dia memang anggun siapa yang tidak jatuh hati padanya. Jika aku adalah lelaki aku pasti juga menyukainya dia adalah tipe perempuan yang para lelaki sukai, yah sepertinya begitu. Tentu saja para lelaki menyukainya.
Aku berjalan dan menyaut "Ayo makan jeng" panggilnya lagi. Aku turun dan pergi untuk membantu karena aku masih tau diri sedikit. Mas Dimas turun dan duduk dimeja makan Sarah duduk di kanan samping Mas Dimas dan aku duduk disebelah kiri. Aku tidak pernah sedekat ini dengannya saat kami makan malam bersama waktu itu aku duduk sengaja sedikit jauh karena aku tidak punya alasan duduk dekat dengannya aku duduk dekat dengannya karena Sarah yang meminta.
"Ajeng nggak nyalim mas?" Aku mendengar Sarah bertanya kepada mas Dimas dan Mas Dimas katakan "tidak perlu" ulu hatiku terasa seperti terjatuh
aku merasa lemas aku tau sesuatu hal seperti itu akan datang jadi aku harus menyesuaikan diri. Aku cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku dan pergi kembali kekamar.
Aku tidak tau mengapa tapi tiba-tiba air mata keluar dari kedua mataku aku merasa sedikit sakit hati aku tau jika mas Dimas tidak mengggap keberadaan ku dirumah ini. Aku serasa ingin pulang tapi aku tidak mungkin melakukannya aku baru satu minggu menikah bahkan sepertinya belum sampai.
Kuputuskan untuk membuat rencana melamar kerja besok, agar aku tidak hanya diam dirumah. Sepertinya itu adalah ide bagus dan jaga-jaga jika mas Dimas mengusirku nanti bagaimanapun juga kita tidak bisa memberikan kepercayaan untuk memberatkan orang tersebut dengan opini yang kita buat sendiri.
__ADS_1
Setelah suara adzan selesai aku pergi mengambil wudhu dan melaksanakan salat tidak ada orang dirumah. Sarah juga pergi bekerja aku hanya sendiri dirumah ini aku putuskan pergi keluar untuk mencuci mataku yang sepertinya jadi sedikit kaku karena tidak melihat cahaya matahari selama beberapa hari. Aku pergi berjalan ke arah pintu kemudian keluar berjalan ke garasi. Seorang wanita yang tinggal disebelah melihat kearah ku membuatku sedikit takut.
Wanita itu tiba-tiba datang ke arahku "Istrinya Dimas yah?" tanyanya padaku membuatku merasa lega.
"Iya kak" jawabku.
"Kenalin, aku Aliya sepupunya Dimas" menjabat kan tangannya. ternyata tetangga kami adalah anak dari Bibi Mas Dimas aku bahkan tidak mengetahuinya.
"Tadi aku lihat ada perempuan yang keluar dari rumah kalian semalam juga ada perempuan yang datang sama Dimas nggak mungkin kamu kan? yang aku lihat semalam dan tadi nggak pakai kerudung orangnya" Aku tidak tau ingin menjawab apa. Mas Dimas belum memberitahukan keluarganya karena Ibunya yang sedang tidak sehat dan juga tidak mendapatkan persetujuan dari orang tuanya.
"Ohh itu kak" Aku memutuskan untuk menjawab setengah kalimat saja kuharap dia tidak bertanya lagi.
"Oh jadi kamu kenal aku sempat pikir itu mantannya Dimas. Sarah tadi" DEGG... membuatku terkejut dan jadi sedikit takut.
Tapi aku berpikir tidak mungkin Mas Dimas membawa Sarah sedangkan ada saudara sepupunya disini aku tidak mengerti. Aku pikir sepertinya mas Dimas sudah merencanakan semuanya, Kak Aliya pergi kembali kerumah miliknya aku melanjutkan kegiatanku sebentar. Aku melihat kembali lagi kedalam rumah keberadaan saudara sepupu mas Dimas membuatku tidak ingin berlama-lama lagi disini.
Bersambung...
__ADS_1